
"Dia laki-laki yang sangat baik, walaupun berasal dari orang biasa, Al Faradz, namanya Zaenal Al Faradz" Reno menjelaskan kembali.
DEG.
Seketika Anita berdiri, ucapan yang tertangkap telinganya membuat tubuhnya terasa bergetar.
"Bun, tenanglah, sebaiknya kita masuk dulu" ucap Zafian kini memegangi Anita.
"Tidak, katakan padaku, apakah Mama mu bernama Monica?" Tanya Anita dengan tubuh mulai bergetar.
Reno terkejut melihat perubahan sorot mata Anita yang kini terlihat tak bersahabat, bahkan nampak amarah ada di sana, hingga membuat dirinya tetap terdiam.
"Bun, sudahlah, Ayo masuk, hentikan perbincangan ini" ucap Zafian yang melihat sang Bunda tidak sedang baik-baik saja.
"Katakan, apa dia bernama Monica!" Ucap Anita sedikit keras.
"Pergi dari sini, kembali ke kamarmu!" Sentak Zafian memberikan perintah ke Reno.
"Maaf" ucap Reno segera berdiri dan pergi secepatnya.
Kini Anita menangis dalam pelukan Zafian, merasakan lukanya kembali ternganga dan terasa sangat perih.
"Sayang, ada apa?" Tanya Afita yang tergopoh-gopoh mendekati.
"Nanti aku jelaskan, kita bawa Bunda masuk dulu" ucap Zafian.
Afita segera ikut menopang tubuh Anita dan membawa masuk ke dalam kamar, Zafian memberikan obat penenang yang biasa didapatkan dari dokter saat Anita mengalami kegelisahan.
"Ada apa yang, apa yang terjadi dengan Bunda?" Tanya Afita.
"Kita ke kamar dulu" ucap Zafian setelah salah satu asisten rumah tangga sudah menemani Anita.
Afita menutup kamarnya perlahan, lalu melihat Zafian yang kini nampak terdiam dan duduk di pinggiran tempat tidur, nampak sekali sedang memikirkan sesuatu.
"Yang, ada apa?" Tanya Afita yang kini sudah berdiri di depan Zafian dan memeluknya.
Zafian menyandarkan kepalanya di perut Afita, seolah tengah melepaskan bebannya saat ini.
"Reno" ucap Zafian lirih namun masih terdengar oleh Afita.
"Ada apa dengan Reno?" Tanya Afita.
"Dia mempunyai Ayah yang sama denganku" ucap Zafian dan tentu saja mengagetkan Afita.
"Apa?!" Sahut Afita.
Keduanya terdiam, baik Zafian dan Afita seolah sedang berbicara dengan hatinya masing-masing.
"Lalu, bagaimana dengan Bunda?" Tanya Afita setelah beberapa menit terdiam.
"Tentu saja bunda shock saat ini, aku juga masih tak percaya dengan semua ini" sahut Zafian.
"Apa yang harus kita lakukan Sayang, kalian membutuhkan Reno di sini" ucap Afita nampak khawatir.
"Aku juga bingung, mungkin Bunda juga sama, yang jelas, keberadaan Reno dengan kenyataan orang tua yang membuat kami benar-benar terluka sebenarnya tidak aku inginkan, kalau bisa sejauh mungkin aku akan menyingkirkannya saat ini"
"Tapi yang_"
"Aku tau, itu tidak bisa aku lakukan, demi anak kita Fian, aku harus melepaskan egoku" ucap Zafian.
"Terimakasih yang, maaf kalau kamu harus memilih hal ini" ucap Afita.
Zafian menatap sang istri dengan tatapan begitu dalam, baginya anak dan istrinya harus mendapat perlindungan penuh darinya.
*
*
Sementara itu, di dalam kamarnya, Reno duduk menatap keluar jendela, merasakan kehidupan yang baginya begitu lucu, tidak pernah menyangka akan menemukan saudara tirinya dalam keadaan yang seperti ini.
"Kenapa harus Zafian, menyebalkan, aku bahkan ingin sekali menghancurkannya dan menginginkan Afita" ucap lirih Reno berbicara dengan dirinya sendiri.
Nampak dalam pelupuk matanya, bagaimana Anita yang awalnya begitu ramah, berubah menjadi wanita yang penuh amarah sesaat yang lalu, dimana mengetahui siapa dirinya.
"Sebaiknya aku segera pergi dari sini" batin Reno menatap keluar jendela dengan langit yang sudah gelap sedari tadi.
*
*
Zafian keluar dari kamar disaat ada teriakan dan suara yang gaduh dari lantai bawah, begitu juga dengan Afita yang kini langsung melesat lari dan lebih tepatnya setengah terbang menghampiri.
"Jangan mendekat sayang!" Teriak Afita ke Zafian yang mulai paham apa yang terjadi.
"Sh-it!" Teriak Zafian kini segera melesat keluar mansion untuk menjaga jarak dari sang putra sejauh-jauhnya.
BRUG.
Di saat yang sama, tubuh Zafian hampir saja bertabrakan dengan seseorang.
"Dad?!" Ucap Zafian terkejut melihat kedatangan Alex dan juga Reyna.
"Apa yang terjadi?" Tanya Alex saat melihat cahaya terang dari dalam Mansion dan juga suara kegaduhan.
"Fian_!" Ucap Zafian serba bingung harus berbuat apa, itu karena tidak mungkin untuk berada berdekatan dengan Fian saat ini.
"Oh my God, Cucuku!" Teriak Reyna tak peduli lagi dan segera melompat dengan mengeluarkan tenaga dalamnya.
"Hati-hati honey!" Terik Alex.
"Dan kau, pergilah lebih jauh lagi Zaf!" Teriak Alex yang kini mengikuti sang istri.
"Sial, kemana Ba-ji-ngan itu pergi, berani sekali dia melanggar perintahku!" Um-pat Zafian yang kini segera mengajak beberapa anak buahnya untuk ikut bersamanya mencari keberadaan Reno.
Semua di amankan, bahkan Anita sudah berada di luar Mansion bersama para asisten rumah tangga, sementara Afita, Reyna dan Alex berusaha mengendalikan kekuatan Fian yang rupanya mulai bisa di tekan, mungkin karena Zafian juga semakin berada jauh darinya.
"Sayang, lihat ini Mommy!" Ucap Reyna berusaha menyadarkan Fian dengan tubuh yang masih melayang.
"Ini sepertinya tidak akan berhasil" batin Alex yang merasakan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Reyna mulai tampak panik.
"Kekuatan ini akan meledak, kalau tidak segera ada yang menekannya, tubuh kecil cucu kita tidak kuat"
"Oh my God, tidak!, Carikan cara honey, tolong!" Teriak Reyna panik sambil terus mengeluarkan tenaga dalamnya menekan kekuatan Fian.
Afita yang mendengar hal ini merasa tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi, dengan kekuatan penuhnya berusaha meraih tubuh Fian dengan kekuatannya, namun apa yang terjadi?, Justru tubuhnya terlempar kuat, beruntung Alex dengan cepat menyambar tubuhnya.
"Dad?" Ucap Afita.
"Jangan ulangi lagi, kau bisa terluka Sayang" ucap Alex sambil menurunkan tubuh Afita perlahan.
"Tapi Fian Dad?" Ucap Afita dengan air mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
Alex terdiam, saat ini benar-benar membutuhkan pertolongan, demi nyawa cucu satu-satunya yang dalam keadaan bahaya, Reyna sudah menghubungi sang keponakan, berharap akan ada yang datang sebentar lagi, entah siapapun yang bisa membantu.
Disaat semua sedang berpikir keras, terjadi hal diluar dugaan, cahaya dari tubuh Fian semakin membesar dan membentuk bola api yang semaki tampak mengerikan.
"Sh-it!, Apa Zafian mendekat kembali?" Tanya Alex memikirkan kemungkinan.
"Aku tidak tau Dad, apa yang akan kita lakukan?!" Teriak Afita kini benar-benar panik.
"Kalian menyingkir lah!" Suara teriakan terdengar dan mengejutkan mereka.
"KAISAR!" ucap Alex terkejut dengan kedatangan seseorang yang kini sudah melesat dengan awan yang menyelimuti tubuhnya.
Ada rasa lega sejenak dihari semuanya, Kaisar berhasil mendekat dan mengamati keadaan Fian saat ini, lalu menggunakan kekuatannya untuk mencoba meraih tubuh Fian yang terselimuti oleh cahaya Api.
"My God, kekuatan hitam ini benar-benar langka, dan ini sangat berbahaya, lebih dari apa yang ada dalam diri Zafian" batin Kaisar yang kini sudah berpikir lebih keras lagi.
Awal yang baik, Kaisar mampu hampir saja bisa meraih tubuh Fian dengan kekuatannya, namun apa yang terjadi, rupanya kekuatan hitam itu serasa hidup sendiri dan menyerang Kaisar dengan cepat.
BRUG.
Kaisar langsung terjun dan terlempar cukup keras, semuanya bahkan di buat terkejut dengan kejadian itu.
"Tidak, Fian!" Teriak Afita begitu paniknya melihat tubuh Fian semakin bergerak cepat memutar dengan sinar api yang semakin membesar.
"Kita harus keluar dari sini, CEPAT!" Teriak Kaisar.
"Tidak Paman, aku tidak bisa!!" Teriak Afita yang tak mau beranjak.
"Jangan bodoh, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, ledakannya akan membunuh kita semua!" Ucap Kaisar berusaha menarik Afita.
Dan di saat yang genting dan hampir saja terjadi hal yang tak diinginkan, tiba-tiba saja terlihat seseorang melesat dan menembus cahaya api yang menyelimuti tubuh Fian.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.