
Percakapan di dalam jaringan ponsel tengah terjadi, suara seorang perempuan terdengar jelas oleh Elonar, dan ada sebuah kesepakatan yang terjadi diantara mereka.
Sambungan handphone terputus, Elonar kembali duduk lalu terdiam menatap pemandangan luar.
"Kau akan menjadi milikku, atau tidak ada yang bisa memilikimu sama sekali, itu pilihanmu Afita" ucapnya lirih penuh dengan obsesi yang mengerikan.
Tak lama kemudian, sang sekretaris memberitahu akan kedatangan Edric Ricardo, Elonar menyiapkan diri untuk menjelaskan semua yang telah terjadi.
Tanpa di duga, Edric menerobos masuk penuh amarah, berjalan cepat lalu menghampiri, dan_
PLAK
Sebuah tamparan keras di dapatkan sempurna di pipi Elonar.
"Apa yang kau lakukan dengan salah satu dari perusahaan ha!, Kerugian kita sangat besar!" Bentak Edric.
Elonar terdiam, pipinya terasa panas, begitu juga dengan hatinya, namun dia masih menghormati Edric sebagai seorang ayah baginya.
"Maaf Pa, aku terlalu ceroboh"
"Ceroboh katamu, bagaimana bisa ini terjadi, jelaskan padaku!" Ucap Edric masih penuh dengan emosi.
"Zafian, yang merencanakan ini semua, dan aku lengah, tidak tau telah bekerjasama dengan salah satu anak perusahaan di bawah kendali AFIAN group" Elonar menjelaskan.
"Apa?!, Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, bre-ng-sek!" Ucap Edric sangat terkejut dan langsung terduduk di kursi.
"Aku akan segera mengatasi hal ini Pa" Elonar menempatkan diri di depan Edric yang tengah memijit pangkal hidungnya.
"Kenapa Zafian sampai berani mengusik perusahaan kita, apa ada yang sedang kau lakukan?" Tanya Edric menyelidik.
Elonar terdiam, tidak menjawab, dan hanya menatap Edric, seolah memberikan pertanda bahwa ada sesuatu yang sudah dia lakukan.
"Oh ya Tuhan, selesaikan hal ini Elonar, aku tidak mau tau, beri pelajaran Zafian yang setimpal, kalau perlu buat dia jadi gembel dan tidak berani lagi menyentuh dunia bisnisku, kau mengerti!" Ucap Edric kembali, lalu segera beranjak dan pergi tanpa permisi.
Elonar terdiam di tempatnya, melihat kemarahan Edric Ricardo, membuatnya semakin menguatkan tekad untuk membalas dendam kepada Zafian.
Segera Elonar memanggil sekretarisnya untuk masuk ke dalam.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu dengan suara yang mendayu.
"Siapkan satu Apartemen mewah, akan ada tamu khusus yang datang untuk membantuku, jangan sampai mengecewakannya" ucap Elonar menatap sekretarisnya yang menarik mata dan pikirannya untuk melakukan kebaikan lebih.
"Iya tuan, hanya itu saja?"
"Lepaskan semua pakaian mu, sekarang!" Ucap Elonar yang membuat senyuman dari wanita se-ksi yang ada didepannya langsung mengembang.
Seolah sudah paham dengan apa yang diinginkan oleh atasannya, sekretaris itupun segera melayani apa yang diminta, seperti biasa, Elonar melampiaskan has-rat nya hingga membuat wanita itu berteriak, setelah terpuaskan, memerintahkan keluar begitu saja.
*
*
Zafian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, begitu serius kembali berkutat di tengah berkas-berkas bisnis yang harus dia teliti kembali.
Tak terasa hari sudah siang, terdengar suara sang Pencipta memanggil, Zafian segera menghentikan kegiatannya, lalu melangkah pergi menunaikan ibadah sebelum akhirnya keluar untuk makan siang.
Menghubungi sang istri tentu saja, menanyakan apa bisa makan siang bersama, namun sayang sekali, Afita yang masih bekerja sendiri karena Naura yang masih cuti, tidak bisa melakukan seperti yang di harapkan suaminya.
"Sorry yang, tidak bisa makan siang denganmu" ucap Afita menyesal karena keadaan.
"Tidak apa-apa, yang penting jangan lupa makan, istirahat lah sejenak" sahut Zafian memaklumi.
Sambungan terputus, Zafian tidak ingin melanjutkan perjalanan, berniat memesan makanan untuk dinikmati di dalam ruangan kerjanya saja.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu, tak menyangka pesanan secepat itu, perut yang keroncongan langsung memberontak, dan seakan ada yang bersorak senang makanan telah datang.
Ceklek
Pintu terbuka, seseorang masuk dan membuat tatapan Zafian berubah.
Rupanya seorang laki-laki tengah tersenyum, lebih tepatnya tertawa melihat ekspresi sang direktur pemilik perusahaan besar dan ternama.
"Ada apa Zaf, aneh sekali tatapanmu?" Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Firman.
"Heh, aku kira makanan yang datang, ternyata hama makanan" sahut Zafian, lalu beranjak berpindah tempat, duduk di samping sahabatnya.
"Hahaha, sorry, ternyata kelaparan bisa merubah persahabatan" sahut Firman.
Plak
Zafian memukul lengan Firman dengan keras.
"Jangan konyol, aku sedang lapar, tumben bisa kesini, waktumu Longgar sekali dokter Firman" ucap Zafian menyindir.
"Ck, hari ini sengaja aku minta libur, pikiranku sedang tak tenang"
"Apa?, Hahaha" Zafian terkejut dan langsung tertawa mendengar kata-kata yang langka keluar dari mulut sahabatnya.
"Kenapa kau tertawa, memangnya apa yang aku katakan itu lucu?" tanya Firman.
"Sangat, bukankah kamu seorang dokter dengan kuasa menulis resep, obati sendiri ketidak tenangan mu, dengan obat tidur misalnya?"
"Aku serius Zaf, jangan bercanda" Firman memperingatkan.
Ceklek
"Cukup, tahan keseriusan mu, dan kita lanjutkan urusan penting ini dulu, aku lapar" Zafian menginterupsi.
Firman menggelengkan kepala, lalu terdiam melihat kesibukan zafian yang tengah menata makanannya di atas meja.
"Jangan hanya melihat ku, bantu aku menghabiskannya" ucap Zafian.
"Iya, aku juga butuh asupan untuk tegar menghadapi hidup"
Zafian tergelak, melihat tingkah konyol sahabatnya, lalu keduanya makan siang bersama dengan tenang, setelah itu segera melanjutkan perbincangan karena jam istirahat masih tersisa.
"Jadi bagaimana menurut mu?" Ucap Firman setelah memberitakan tentang perasaannya akan sosok Naura.
"Aku kurang begitu paham membedakan itu rasa kasihan atau kasih sayang yang mendalam, kamu sendiri masih beberapa hari mengenalnya" sahut Zafian.
"Aku juga ragu Zaf, bingung sendiri" ucap Firman.
"Tidak usah bingung, jodoh datang tepat pada waktunya, kadang caranya juga aneh, walaupun jarak usia kalian lumayan jauh dan perasaanmu juga masih belum jelas, tidak ada salahnya di coba perlahan"
"Aku pikir juga begitu, entahlah" sahut Firman dalam kebimbangan, membiarkan masalahnya seperti ini dulu, lalu Firman teringat akan kabar yang sudah sampai di telinganya.
"Aku dengar kamu sedang ada masalah dengan Keluarga Ricardo" ucap Firman.
"Hem, lebih tepatnya Elonar"
"Elonar?" Tanya Firman memperjelas penasarannya.
"Dia menjebak Afita dan Naura dalam hubungan kontrak kerjasama bisnis"
"What!, Lalu?"
"Aku beri dia pelajaran yang setimpal, mengganti uang pelepasan kontrak sepihak dua Mil-yar yang ku berikan, dengan kerugian perusahaannya lima kali lipat"
"What!, Good, aku bangga padamu Zaf, Elonar harus di beri pelajaran, biar dia berpikir kembali sebelum berani mengusik mu"
"Hem, tentu saja"
"Tapi tunggu!" Ucap Firman yang merasa heran.
"Apa?"
"Apa maksud Elonar menjebak Afita, bukannya harusnya kamu Zaf?, Atau jangan-jangan, dia menginginkan_"
"Tepat sekali pikiranmu, aku tau dia menginginkan dekat dengan Afita, dasar Ba-ji-ngan!" Zafian nampak begitu geram.
"Tentu saja, siapa yang tidak menginginkan istri cantikmu itu"
Plak
"Sh-it, sorry Zaf, maksud ku, wajar kalau laki-laki normal menginginkan wanita seperti Afita, dia Cantik dan_"
"Aku peringatkan, jangan memuji istri orang, ingat perasaan mu yang masih bimbang dengan Naura, dasar!" Zafian makin kesal.
"Iya, iya, posesif sekali, dasar!' balas Firman sebelum mendapat pukulan yang siap melayang.
Perbincangan itupun segera dihentikan, Zafian terpaksa harus pergi untuk menemui klien penting karena sudah ter agendakan.
*
*
Sementara itu, Afita di tengah kesibukannya, terpaksa melakukan segala aktivitas sendiri, setelah bertemu dengan beberapa orang penting untuk membahas penyewaan gedung hotel salah satu miliknya, dirinya segera masuk kedalam mobil menuju ke tempat kerjanya kembali.
"Buah terasa sangat segar sekali, kenapa akhir-akhir ini aku begitu suka ya?" Batin Afita, lalu berhenti di minimarket terdekat untuk mencarinya.
Terpaksa harus antri, dan seperti biasa, Afita tidak akan pernah mau saat di bantu oleh pengawalnya, justru akan merasa risih karena akan menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.
Baru saja Afita hendak naik ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas dan berhenti tepat di sampingnya, membuka pintu tanpa melihat dan hampir saja mengenai tubuh Afita.
Sang pengawal dengan sigap menghadang pintu agar tak menyentuh majikannya, Afita sempat terkejut dan langsung kesal seketika.
Dilihatnya seorang wanita dengan memakai kacamata hitam, turun dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, menatap Afita.
"Minggir, kau menghalangiku" ucap wanita itu dengan songong.
"Hei, jaga sikapmu nona, justru kau yang hampir saja melukai_"
"Sudah_, biarkan saja, kita masuk!" Sahut Afita yang tidak ingin berurusan dengan orang yang tidak penting baginya.
Wanita itu membuka kaca matanya, lalu tanpa di duga menyambar tangan Afita.
"Aku paling tidak suka orang berpaling saat aku sedang bicara!" Ucapnya lirih namun penuh dengan tekanan.
Tentu saja Afita reflek menepis dengan kuat, membuat wanita itu nampak sangat terkejut, Afita segera pergi bersama dengan pengawalnya.
"Dia punya sesuatu yang _?" Ucap lirih wanita itu di tengah keterkejutannya.
Hayuk, mana ini Komennya..kasih ide donk.. jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan tonton IKLAN nya.
Bersambung.