ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 115



Tiga tahun telah berlalu.


Nampak seorang wanita cantik tengah tertawa bermain dengan anak kecil yang tengah memutarinya.


"Ayolah jagoan kecilku jangan membuatku pusing!" Teriaknya sambil terus tertawa.


Sementara sang anak malah semakin melakukan hal yang dilarangnya, hingga kemudian akhirnya terjatuh.


Brug.


"Astagfirullah, apa kau baik-baik saja sayang?" Ucap wanita cantik itu yang tidak bisa bergerak dengan cepat menolong sang anak, karena tubuh yang harus berada di atas kursi roda saat beraktivitas.


"Hehe, Fian baik-baik saja Bunda" ucap anak kecil itu tanpa menangis sedikitpun.


"Ya sudah, Fian hebat, lain kali jangan begitu lagi ya, Bunda pusing ini"


"Siap!" Teriak anak kecil yang rupawan nan lucu.


Wanita itupun tersenyum, melihat pertumbuhan anak kecil itu begitu membuatnya bahagia, walaupun ada sebagian kenangan masa lalu yang tidak bisa diingatnya.


"Cukup kehadiranmu membuatku sangat bahagia bocah kecil yang lucu" ucapnya lirih, lalu menghela nafasnya.


Menjalankan kembali kursi roda canggihnya, wanita itu menuju ke ruangan yang lain untuk membersihkan setumpuk piring kotor yang nampak di ruangan dapur, tentu saja setelah memastikan sang bocah kecil kesayangan Aman berada di tangan seseorang yang membantu mengasuhnya.


Tak lama kemudian, terdengar sebuah handphone yang tergeletak tak jauh dari tempatnya mencuci, hingga kemudian terjadilah perbincangan yang membuatnya tertawa sendiri.


"Benar-benar menyebalkan, bekerja di perusahaan ini membuatku darah tinggi!" Seru sebuah suara di dalam ponsel sebelum sang pemilik bertambah kencang tertawa.


"Jangan tertawa Naura!, Aku serius!" Ucap seorang wanita dalam panggilan ponsel sedang memerintah.


Seketika dirinya menahan tawa, rupanya kali ini ucapan wanita yang sedang berbicara begitu serius tengah mengalami kekesalan yang luar biasa.


"Maaf Nona Afita, aku hanya membayangkan wajahmu saat ini" ucap Naura yang kini kembali tertawa tanpa suara.


"Menyebalkan, sudah ku bilang jangan panggil Nona!" Teriak Afita makin kencang.


"Oh sorry, maaf Kak!" Seru Naura.


"Bagus, maaf diterima, lalu di mana bocil kesayanganku?" Ucapnya.


"Fian sedang meminum susu dan bersiap untuk tidur siang" jawab Naura sambil menyembulkan kepala di pintu untuk melihat apakah sang bocah sudah tertidur.


"Apa dia membuat kerusuhan hari ini?" Tanya Afita lagi.


"Tentu saja, kepalaku di buat berputar karenanya" jawab Naura.


Kini suara tawa itu berganti di dalam ponsel Naura, "Jangan tertawa Kak, ingat, tugasmu menumpuk dan harus bersiap bekerja di bawah tekanan, hahaha"


"Si-al, kau menyebalkan Naura, ya sudah, aku akan pulang agak malam hari ini, Bos memberikan setumpuk pekerjaan yang membuatku ingin menghilang!" Ucap Afita begitu malas mengingat apa yang harus diselesaikan, dan setelah itu perbincangan pun terputus.


"Heh.. aku tak tau apa yang terjadi, hanya saja aku berharap suatu saat nanti hatimu terbuka dan mau kembali ke tuan Zafian, aku benar-benar tidak mengerti kenapa anda melakukan ini semua Kak, dan Aku_, kenapa ingatan penting itu justru menghilang" ucapnya lirih, berusaha mengingat kejadian, namun bukannya berhasil, semakin membuat kepalanya bertambah berat, hingga akhirnya Naura kembali melanjutkan pekerjaannya.


Berada di luar pulau Jawa membuat kehidupan Afita dan Naura berubah, semua identitas disembunyikan oleh Afita dengan bantuan seseorang yang dipaksa bersumpah untuk menyembunyikan keberadaannya.


Tepatnya di kepulauan Kalimantan Timur di mana pusat pemerintahan berada di Sangata Kabupaten Kutai Timur, dengan jumlah empat ratus ribuan jiwa membuat kota itu tak seramai tempat mereka sebelumnya, namun membuat kehidupan mereka terasa tenang walau kadang merasa ada yang kurang.


Tak ingin keberadaannya terusik, Afita kini bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Batu Mulia, tugasnya sebagai Asisten sekretaris yang mengatur segala jadwal dan pekerjaan penting yang membutuhkan bantuan nya.


Sekretaris perusahaan itu yang bernama Sinta Pratiwi, lebih tepatnya biasa di panggil Bu Tiwi, terkadang membuat Afita bergidik ngeri kalau sudah kumat ajian ngomel yang tiada henti, kadang ingin sekali meminta bantuan Evan untuk membuat dirinya menghilang.


Dan sore ini, suara bu Tiwi kembali merdu mendayu terdengar dari pojok ruangan depan sampai belakang di tempat kerja.


"Jangan gunakan kecantikannya untuk menarik perhatian para Bos yang akan kita temui, ingat, mereka semua kadang berubah jadi Cicak" ucapnya Bu Tini ngawur dan tidak dimengerti oleh Afita.


"Kok Cicak Bu?" Tanya Afita yang ingin tau arah tujuan pembicaraan wanita setengah baya ini.


"Ya kalau belum ketemu mangsa masih Cicak, kalau lihat yang bening-bening kayak kamu, mereka loncat ke air, mengembang, lalu jadi Buaya" ucapnya.


"Oh.." sahut Afita ingin tertawa tapi tentu saja tak berani dilakukan dari pada harus mendapat surat peringatan dan potong gaji.


"Sudah kau bawa semua arsip penting yang di butuhkan?" Tanya Bu Tiwi memastikan.


"Sudah Bu" ucap Afita.


"Masa?, Sini aku periksa" ucap Bu Tiwi yang sudah melihat satu persatu arsip yang awalnya sudah tersusun rapi, tentu saja membuat Afita memutar matanya jengah setengah mati.


"Ya sudah, bereskan cepat ya?!" Ucapnya, lalu keluar dari ruangan untuk pergi sebentar ke kamar mandi.


"My God, demi apa, aku bisa mendapat Bos aneh bin ajaib seperti ini, sabar Afita, demi kelangsungan hidupmu di Kota ini, lakukan semua dengan semangat!" Teriaknya untuk diri sendiri.


Ceklek.


"Cepat rapikan, kita pergi!" Suara nyaring Bu Tiwi seketika menghentikan yel yel yang akan dilakukan untuk menghibur diri.


Lalu Afita segera melesat sebelum gendang telinganya akan pecah mendapat Omelan di siang hari.


Memasuki mobil yang tidak mewah dan biasa saja tentunya, membuat Afita ngantuk, kecepatan yang sedang-sedang saja, seolah mengayun tubuhnya untuk ber Nina Bobo.


"Hey, jangan merem Afita, enak saja, pelajari itu berkasnya, kalau ada yang di minta dari Bos kita nanti, kamu bisa dengan cepat mengambilnya, aku butuh keahlian mu itu, mengerti!"


"Iya Bu" Ucap Afita, sungguh dirinya harus berpura-pura membuka satu persatu, padahal tanpa di minta, semua hal itu sudah dengan jelas menempel di kepalanya.


"Ayo aku tes!"


"Ha, apa Bu?!" Ucap Afita kaget, saat matanya merem melek menahan kantuk dengan tangan yang membuka tutup beberapa berkas tak jelas.


Lalu Bu Tiwi melontarkan beberapa pertanyaan yang mengharuskan Afita harus secara acak menyerahkan berkas sesuai apa yang di bicarakan.


"Bagus" kembali Bu Tiwi Senang.


Tapi tidak bagi Afita yang lagi-lagi harus menata berkasnya kembali.


"Dasar wanita Aneh, menyebalkan dan ingin sekali aku_"


"Jangan mengatai ku, atau mengumpat dalam hatimu, itu bisa menghambat rezeki mu" suara sakti dari Bu Tiwi.


Afita terkejut dan membelalakkan mata, mengerutkan kening sedikit curiga, "Orang ini keturunan dukun atau apa, bisa tau persis aku sedang mengu-tuknya, ataukah dia punya kekutan pikiran seperti Ethan?, Oh no, tidak mungkin, kalau seperti itu, pasti aku sudah di pecat dari dulu" batin Afita sambil tersenyum sendiri.


Walaupun begitu, jauh di lubuk hatinya, Afita begitu menikmati pekerjaannya saat ini, banyak pengalaman yang di dapat, menjadi bawahan ternyata tidak melulu harus susah dengan beban tugas yang di berikan, tapi banyak warna yang membuat semuanya terasa hidup dan menyenangkan.


Yuk kita Lanjut ya Gaes, Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya dong.


Bersambung.