
Hampir saja Naura tiba di Mansion, seketika dirinya menghentikan langkah saat mendengar ponselnya berbunyi, rupanya Afita sedang menghubungi.
Terjadi perbincangan antara keduanya, kini Naura sudah duduk di kursi tengah dengan santai.
"Kenapa Kak Afita menyuruh dokter Firman untuk pindah ke sini?" tanya Naura.
"Aku hanya tidak tega melihat Firman harus bolak-balik melihat keadaan kalian, Dia seorang dokter, jadwalnya pasti sangat padat, dengan dia berada di sana setidaknya tidak membuatnya terlalu kerepotan" jawab Afita.
"Tapi itu membuatku tidak enak kak" sahut Naura.
"Tenanglah, dokter Firman belum mempunyai kekasih, Jadi kau tidak perlu merasa tidak enak pada siapapun, atau jangan-jangan kau belum mengerti hal ini" jawab Afita lagi.
"Mungkin Kak Afita ita yang tidak mengerti" sahut Naura.
"Maksudmu?" Tanya Afita.
"Ada wanita cantik seorang dokter yang bernama Ana, dan mereka nampak sangat serasi, bahkan sekarang mereka sedang asik berdua" jawab Naura.
"Itu tidak mungkin, Firman pernah membicarakan soal dokter Ana, dan mereka hanya bersahabat saja, kebetulan keduanya bekerja dalam satu rumah sakit yang sama" Afita menjelaskan.
"Tapi aku melihat semuanya itu berbeda kak, dokter Ana begitu bahagia saat bersama dengan dokter Firman, dan aku rasa mereka juga sangat cocok" jawab Naura.
"Jadi kamu merelakan Firman?" tanya Afita.
"Apa?!" Naura sangat terkejut dengan pertanyaan Afita.
"Jangan kau kira Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatimu, setidaknya aku bisa merasakan sedikit, Apa kau tidak bisa merasakan bagaimana dokter Firman masih menaruh hati padamu?" ucap Afita.
"Tapi Kak, aku tidak pantas untuknya"
"Hal itu tidak akan berlaku jika Firman ternyata memutuskan kamu adalah yang terbaik untuknya" sahut Afita.
"Kak?"
"Ambil semua kesempatan yang sudah datang padamu Naura, kita tidak tahu bagaimana rencana Sang Pencipta untuk membuat kita bertemu dengan pasangan, jangan sampai kamu kehilangan kesempatan dan menyesalinya" ucap Afita.
Tak ada jawaban apapun dari Naura, hingga kemudian Afita memutuskan untuk menghentikan pembicaraan sampai di sini saja, setidaknya Afita sudah merasa lega karena Fian dan Naura dalam keadaan baik-baik saja.
Perlahan Naura memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Afita, mengambil segelas air putih untuk diteguk dan juga menenangkan pikirannya.
"Apa aku harus membuka hatiku untuknya?" batin Naura dengan semua kebimbangan yang masih ada dalam hatinya.
"Tapi aku dan dokter Firman sangat jauh berbeda, mungkinkah semua ini tidak akan menimbulkan masalah di belakang hari nanti" batin Naura lagi dan semua berkecamuk dalam pikirannya.
Masih cukup serius Naura memikirkan segalanya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kedatangan Firman bersama dengan Ana.
"Aku mengucap salam sampai tiga kali, apa kamu tidak mendengarnya?" Tanya Firman yang kini sudah menyusul Naura berada di ruang tengah bersama dengan Ana.
"Maaf" ucap Naura kemudian membalas ucapan salam dari Firman.
Melihat firman dan Ana pulang bersama ke Mansion membuat hatinya merasa tidak enak, lalu Naura memutuskan untuk menjaga jarak dari keduanya.
"Mau ke mana?" Tanya Firman saat Naura ingin melangkah pergi.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian" jawab Naura.
"Kami tidak merasa terganggu, jadi tetaplah berada di tempatmu, setidaknya perbincangan akan semakin seru dengan lebih banyak orang bukan?" Ucap Firman.
Naura tak lagi melanjutkan langkahnya, dia kembali dan duduk di tempat semula, sementara Ana hanya melihat dan mengamati interaksi keduanya.
Perbincangan pun dimulai, awalnya semua biasa saja, namun karena Naura lebih banyak diam akhirnya Firman pun lebih sering berbincang dengan Ana, hingga tanpa terasa masuk ke dalam topik pembicaraan yang ada di seputaran lingkungan rumah sakit.
"Bagaimana dengan lukamu Naura?" Tanya Ana berusaha untuk melibatkan Naura dalam perbincangan.
"Sudah membaik dokter Ana, terima kasih" jawab Naura.
"Aku orang yang tidak bisa diam begitu saja, tidak nyaman rasanya kalau harus berada di atas tempat tidur saja" jawab Naura tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Firman.
"Tapi kamu butuh istirahat, lukamu itu akan sangat serius jika tidak segera disembuhkan, aku sudah sering memberitahukan bukan?" sahut Firman.
"Aku rasa proses penyembuhannya sudah sangat cepat, jadi dokter tidak perlu khawatir lagi" jawab Naura.
"Lihat sendiri kan, selalu saja membantah" ucap Firman memberitahukan kepada Ana.
"Tidak perlu memojokkanku, aku rasa memang harus pergi dari sini, silakan perbincangan kalian dilanjutkan kembali, Saya permisi dulu dokter Ana" sahut Naura lalu kemudian segera berdiri dan pergi.
Firman ingin sekali memanggil kembali Naura untuk tak beranjak dari tempatnya, tapi melihat bagaimana ekspresi dan langkah Naura yang begitu cepat, akhirnya Firman hanya membiarkan Naura pergi begitu saja.
Sedangkan Ana juga masih terdiam, merasakan bagaimana Naura merasa tidak nyaman dengan apa yang sudah dilakukan firman dan juga keberadaan dirinya.
"Ini sudah siang, sebaiknya aku segera pulang, tidak ada lagi hal penting yang harus kita bicarakan, dan selama satu minggu ini aku harus menggantikanmu bukan?" ucap Ana.
"Iya tentu saja, maaf aku harus tiba-tiba mengambil cuti ini, seperti yang aku jelaskan tadi aku harus menjaga dua orang di Mansion ini, sekalian aku gunakan untuk berkomunikasi dengan para pejabat tinggi rumah sakit tentang masalah yang harus segera diselesaikan" jawab Firman.
"Iya aku tahu, dan satu lagi pesanku, sebenarnya Naura menyukaimu tapi ada sesuatu yang salah pada dirinya, cobalah cari mengerti dan bersikaplah sabar menghadapinya" Ana memberi saran.
Tak lama kemudian Ana segera pamit dan undur diri, Firman kembali masuk ke dalam Mansion, masih duduk di ruang tengah dirinya berusaha untuk mencerna kata-kata Ana tentang Naura.
Merasa tak enak hati, Firman melangkahkan kaki menuju ke kamar Naura untuk meminta maaf jika sudah menyinggungnya.
"Ada apa?" Naura membuka pintu kamar dan mendapati Firman sudah ada di sana.
"Apa kamu tersinggung dengan kata-kataku?" Tanya Firman.
"Kata-kata yang mana?" Jawab Naura dengan pertanyaan.
"Aku juga tidak tahu makanya aku bertanya"
"Tidak" jawab Naura kemudian berniat menutup pintu.
Firman menahan pintu itu hingga Naura kembali menatapnya dengan aneh.
"Ada apa lagi?"
"Kamu terlihat sangat kesal, Apa itu ditujukan padaku?" Ucap Firman.
"Bisakah kamu pergi dan tidak menggangguku, aku harus banyak istirahat bukan?, Kalau aku tetap berdiri di sini itu berarti akan mengganggu kesembuhan luka di kakiku, dan dokter akan memberitahukan ke Ana lagi kalau itu adalah salahku, hingga aku akan semakin tampak bodoh di depannya, aku sadar aku bukan sosok wanita hebat seperti dokter Ana, tapi bukan berarti kamu bisa merendahkanku di depannya bukan?" Jawab Naura nampak sekali emosi di matanya, Firman terkejut dan baru kali ini melihat Naura melakukan hal itu.
"Apa kau bilang?!"
"Kalau Anda Tuli, tidak usah bicara lagi"
"Kau kasar sekali Naura"
"Tidak perlu bersikap lembut kepada seseorang yang sudah berbuat kasar"
"Maksudmu aku berbuat kasar padamu?"
"Apa hal seperti itu juga harus aku jelaskan padamu?"
"Naura!"
"Jangan membentakku, aku tidak suka, jadi pergi saja jangan menggangguku lagi!" Jawab Naura, tangannya segera meraih pintu dan berniat untuk menutupnya kembali.
Namun dengan cepat Firman justru menarik Naura dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan!" seru Naura terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Firman.