
Hingga sore menjelang malam, Afita sudah menyelesaikan semuanya, lalu kemudian bergegas ingin mengetuk pintu kamar Reno, dan disaat yang sama orang yang ingin di panggilnya tengah membuka pintu.
"Ada apa?" Tanya Reno dengan tatapan yang lekat memperhatikan Afita.
"Saya pamit pulang pak, semua sudah saya selesaikan"
Reno tidak langsung menjawab, lalu kemudian mengedarkan pandangan, melihat ruangan tengah apartemennya yang terlihat sudah rapi.
"Hem, lumayan" ucap Reno lagi lalu berjalan maju, hingga membuat Afita mundur perlahan untuk menjaga jarak.
Reno tampak tersenyum miring, kembali melangkahkan kaki dan dengan tindakan yang sama, Afita pun mundur kembali.
"Kenapa?" Tanya Reno setelah menghentikan langkahnya.
"Maaf pak, saya harus pulang, bisa bapak membuka pintu Apartemennya?"
"Aku bertanya, dan kau belum menjawabnya"
"Saya rasa tidak perlu jawaban dari pertanyaan pak Reno, dan harapan saya, Bapak tidak bertindak lebih jauh dari ini"
"Kalau aku menginginkanmu?"
"Saya tidak"
"Di Apartemen ini tidak ada siapapun, dan aku bisa berbuat apapun" ucap Reno dengan tatapan tajamnya.
Afita terdiam, kali ini tak lagi menundukkan pandangan, perlahan menatap lekat mata laki-laki yang ada di depannya, dengan wajah tenang namun penuh dengan hawa peringatan yang sangat dirasa oleh lawan bicaranya.
Reno terkejut, mata itu begitu indah, wajah itu kini juga nampak begitu cantik bisa di lihatnya, kesempurnaan yang memukau bisa di pandangnya, namun ada sesuatu yang dirasakan tidak biasa.
"Kau berani menatapku?"
"Saya peringatkan, silahkan bapak membuka pintu, atau saya sendiri yang akan melakukannya, dan jangan salahkan saya jika itu terjadi" sahut Afita.
Reno terkejut, lalu tertawa, menganggap perkataan Afita terlalu tidak mungkin dan lucu baginya, hingga kemudian melihat Afita membalikkan badan dengan cepat menuju pintu Apartemennya.
Reno tersenyum, melihat dengan penasaran apa yang kini bisa di lakukan oleh wanita yang merasa sudah ada di genggamannya saat ini.
Afita bersiap, lama tidak menggunakan kekuatannya membuat dirinya masih sedikit kaku mengeluarkan tenaga supranatural dari tangannya, terpaksa kali ini Afita menggunakannya, sebenarnya dirinya sangat tidak ingin menggunakan kekuatannya.
"Aku berharap, tidak akan pernah menggunakan kekuatan ini" batin Afita, berharap sesuatu terjadi tanpa harus menggunakan kemampuannya, mengingat hal itu akan memudahkan siapapun yang punya kekuatan supranatural akan mendeteksi keberadaannya.
Lalu kemudian _
Tiba-tiba suara bel pintu Apartemen terdengar, seketika Afita terdiam, memejamkan mata mengucap syukur dalam hatinya, Afita membalikkan badan melihat ke arah Reno yang masih berdiri jauh dibelakangnya.
"Ck, sial!" Ucap Reno, yang mau tidak mau berakhir dengan menekan tombol buka di remote pintu Apartemen yang sudah di pegangnya.
Pintu pun terbuka, dan rupanya seseorang dari perusahaan tengah mengantar beberapa berkas yang diinginkan oleh Reno.
Tentu saja keberadaan Afita di sana membuat seseorang itu terkejut, lalu Afita menyapanya sebelum kemudian berakhir dengan langkah cepat keluar Apartemen tanpa berpamit kembali ke pemilik Apartemen.
*
*
Berakhir dengan kondisi hujan deras, Afita sudah berada di dalam taksi online yang sudah di pesan sebelumnya, hingga tak berapa lama sampai di rumah ternyaman baginya saat ini.
Senyuman segera terbit disana, semua rasa menyesakkan dan tidak mengenakkan seketika hilang saat membayangkan wajah sang putra tercinta.
"Alhamdulillah, sampai juga" ucap Afita yang kini bersiap lari menuju ruang depan rumahnya dengan guyuran air hujan yang tak bisa di hindari.
"Mommy!" Teriak Fian yang sudah membuka pintu.
"Jagoan mommy!" Teriak Afita, lalu memeluk sang anak setelah ucapan salam menyusul sebelumnya.
"Bajumu basah"
Deg
Afita terkejut saat mendengar suara seseorang menyapa.
"Paman?!" Ucap Afita saat mendongakkan wajahnya.
"Hem" sahut seorang laki-laki sambil tersenyum.
"Surprise!" Teriak Naura dari dalam sambil membawa kue buatan yang akan di hidangkan untuk tamu istimewa.
"Kapan paman Raka datang?" Ucap Naura dengan Rona bahagia.
"Kita sudah bermain hampir setengah hari, iya kan Boy?" Jawab Raka.
"My God, kenapa tidak memberitahu ku?" Pertanyaan Afita untuk semua yang ada di sana tentunya.
Fian menyahut, bahwa Naura dan kakeknya melarang untuk menghubungi Afita.
Afita tersenyum melihat kedekatan anak dan pamannya, lalu kemudian segera masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.
Sementara Raka kini menikmati kue buatan Naura di ruang tengah bersama dengan Fian yang masih bergelayut manja.
"Apa Afita sering seperti itu?" Tanya Raka.
"Maksud paman kehujanan?" Tanya Naura.
"Iya, aku tidak tega melihatnya"
"Tenang saja Paman, Kak Afita bukan wanita lemah, kami belajar hidup dengan baik disini dengan berbagai keadaan" jawab Naura.
"Aku tau, tapi tetap saja itu bukan hal yang bisa aku abaikan begitu saja, dan justru itu yang membuatku cemas, karena kalian benar-benar sendiri saat ini"
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, paman sendiri kenapa datang mendadak seperti ini, bukankah rencananya bulan depan?" Tanya Afita, yang baru saja keluar dan ikut bergabung.
Naura tau akan ada pembicaraan serius selanjutnya, lalu dengan sigap mengajak Fian untuk melakukan aktivitas yang lain di ruangan yang berbeda, tentunya dengan alasan yang membuat naura harus memutar otak dengan keras, mengingat betapa kritis Fian saat ini.
"Ada kabar apa Paman, keluarga besar ku baik-baik saja bukan?" Tanya Afita.
"Hem, Alhamdulillah, justru aku mengkhawatirkan mu saat ini"
"Tentang apa?" Tanya Afita.
"Pertama, ambil ini" ucap Raka sambil memberikan kunci mobil yang di pakainya saat ini.
"Kunci mobil paman?"
"Sekarang menjadi milikmu dan tidak ada kata penolakan, karena itu hanya mobil biasa, mengerti?"
"Tapi Paman _"
Afita menghentikan penolakannya, saat tatapan tajam Raka seolah memberi peringatan keras padanya.
"Baiklah, aku terima paman"
"Bagus, karena ada yang harus lebih kamu cemaskan saat ini"
"Apa?" Tanya Afita lagi.
"Yakin kamu belum mengetahuinya, atau kamu pura-pura tidak ingin tau?" Sahut Raka.
"AFIAN GROUP" Ucap Afita sambil menghela nafasnya.
"Jadi kamu sudah mengetahui kalau perusahaan Zafian sudah bekerjasama dengan perusahaan di tempat mu bekerja?" Tanya Raka.
Afita mengangguk, dan Raka pun memijit pelipisnya, nampak sekali kekhawatiran disana.
"Itu artinya, ada kemungkinan Zafian akan berdekatan dengan Fian" ucap Raka.
"Apa sebaiknya kami pindah?" Tanya Afita.
"Aku tidak tau, mengingat Alena juga belum mendapat solusi akan keadaan Fian sampai saat ini, tapi aku tidak tega melihat Fian dan kalian seperti ini"
"Paman, tidak apa-apa, aku akan melindungi Fian dengan segenap jiwa dan Ragaku, kalaupun tidak ada jalan keluar yang lain, cukup paman saja yang menjadi jembatan untuk aku mengetahui kondisi keluarga ku yang lain"
"Kau kira itu mudah?, Aku bahkan tidak enak makan maupun istirahat saat keluargamu datang bergantian untuk mengetahui keberadaan mu, kalau aku bisa membantu Fian dengan mengorbankan apapun, pasti aku lakukan!" Ucap Raka yang terlihat sekali menahan air matanya.
Afita tersentak, meraih tangan Taka dan menggenggamnya dengan erat.
"Terimakasih Paman sudah melakukan yang terbaik untuk kami sampai saat ini, maaf kalau kami membuat paman bersedih"
"Jangan berkata seperti itu, aku akan mencarikan tempat yang baru, dan Kalian harus segera pindah, kalau memang keadaan semakin membahayakan Fian, hanya itu saat ini yang bisa aku lakukan"
"Baik Paman, aku tau itu bukan hal mudah, menyembunyikan identitas kami butuh waktu yang tidak singkat, di sela itu, aku akan sangat berhati-hati"
"Hem, gunakan mobil jika kemanapun, itu lebih aman, dan gunakan kartu yang pernah aku berikan jika kau membutuhkan, aku serius" ucap Raka.
"Iya Paman, jangan khawatir"
"Justru dengan tidak pernah menyentuh uang itu, aku menjadi khawatir"
"Tenang paman, gaji ku di tempat bekerja masih lebih dari cukup untuk hidup kami saat ini"
"Jangan kira aku tidak tau, kau begitu membatasi kebutuhan mu untuk mencukupkan penghasilan mu" sahut Raka.
Afita hanya tersenyum, merasa bersyukur ada orang yang begitu tulus membantu dan bahkan mencintainya seperti anak sendiri, lalu kemudian perbincangan itu terhenti dan segera bersiap untuk melaksanakan ibadah sebelum makan malam kemudian.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.