
Sorot mata Dimas kini beralih ke sosok laki-laki yang berada tepat di depan Naura.
"Oh, jadi dia calon suamimu?, Aku dengar rumor kalian akan tinggal satu Apartemen rupanya?" Ucap Dimas dengan sinis.
"Kalau anda tidak tau apapun, jangan berani ikut campur urusan kami, dan aku peringatkan, sekali lagi mengganggu ketenangan istriku, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan padamu" jawab Firman yang menahan emosi dengan Sikap Dimas yang tak menyenangkan.
"Istri?, Jadi kalian sudah_, oh pantas saja, kau semakin punya nyali Naura, ternyata otakmu cerdas juga, menggaet pria kaya untuk melindungi mu" ucap Dimas.
"Kau benar-benar laki-laki Ba-ji-ngan!" Firman berteriak.
"Jaga sikapmu, bagaimana pun aku adalah paman dari istrimu" sahut Dimas tak terima.
"Paman?, Kamu lebih pantas disebut parasit!" Jawab Firman dengan kesal.
"Apa, bre-ng-sek!" Teriak Dimas penuh emosi.
Dimas hendak maju, Tapi melihat bagaimana tubuh kekar Firman yang pastinya terjaga dengan baik, membuat nyalinya ciut dan kembali ke tempatnya.
"Aku tidak ada urusan denganmu anak muda, aku hanya butuh bicara dengan istrimu saja, setelah itu, urusan kita selesai dan aku tidak akan mencari kalian lagi" ucap Dimas.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku harap, kita tidak akan bertemu lagi, kalaupun itu terpaksa, anggap kita tidak saling kenal" jawab Naura yang kini sudah bersiap pergi.
"Kakekmu sudah meninggalkan dunia ini!" Seru Dimas membuat seketika Naura berhenti dan membalikkan badan kembali.
"Apa?!" Ucap Naura terkejut.
"Dia meninggal beberapa bulan lalu, dan meninggalkan beberapa hal yang harus kau tau Naura, untuk itu aku datang mencari mu" ucap Dimas tersenyum miring merasa puas bisa menarik perhatian Naura pada akhirnya.
Naura masih terdiam, bayangan sang kakek yang waktu itu mati-matian pernah membela dirinya dan sang ibu masih melekat kuat di ingatannya, bisa di katakan bahwa hanya sang kakeknya lah di waktu itu yang berusaha berada di pihak sang ibu, walaupun hal itu tidak membawa keputusan yang berarti.
"Kita masuk ke dalam sayang, tenangkan dirimu dulu" ucap Firman mengetahui bahwa saat ini sang istri tidak dalam kondisi baik-baik saja.
"Tunggu, sudah ku bilang aku Ingin bicara!" Sahut Dimas melihat Firman membawa sang istri dalam rangkulannya.
"Pergi dari sini, atau aku akan menghajar mu sekarang juga!" Sahut Firman dengan nada begitu dingin.
Sontak Dimas terkejut, merasakan kemarahan dalam kalimat Firman yang membuatnya takut, hingga akhirnya pergi dari tempatnya.
Naura kini duduk terdiam diatas Sofa, segelas air sudah berada ditangan sang suami.
"Minumlah yang, ini akan membuat mu lebih tenang" ucap Firman sangat tau bagaimana perasaan Naura saat ini.
"Kakek" ucap Naura lirih setelah meneguk air dalam gelasnya.
"Apa ada yang ingin kamu beritahukan padaku?" Tanya Firman.
Naura terdiam sesaat, kemudian menatap sendu wajah Firman yang seketika memberikan ketenangan.
"Hanya kakek waktu itu yang berusaha mempertahankan kami, tapi_" Naura terdiam, air matanya menggenang, dadanya terasa sesak saat harus mengingat kembali masa di mana kenangan pahit sebelum dirinya dan sang Ibu harus bertahan hidup.
Firman hanya terdiam, seketika merengkuh sang istri dan memeluknya dengan erat.
"Kalau hal itu sangat menyakitimu, lebih baik tidak usah kamu ceritakan, aku tidak sanggup melihat air matamu terus menetes sayang" ucap Firman.
"Tidak apa-apa, aku harus menceritakan segalanya padamu sayang" jawab Naura.
Lalu kemudian Naura melanjutkan kembali apa yang ingin diceritakan, tentu saja Firman sangat terkejut di mana mendapatkan kenyataan bahwa sebenarnya Naura berasal dari keluarga yang sangat berada.
Namun karena keserakahan sang paman untuk menguasai harta warisan dan juga beberapa perusahaan milik keluarga besarnya, membuat Naura dan sang Ibu akhirnya harus menderita.
"Lalu kenapa pamanmu itu sekarang mencarimu?"tanya Firman penuh curiga.
"Aku tidak tahu, tapi kabar yang di bawahnya bahwa kakek sudah tiada terus terang membuatku sangat terkejut, aku belum sempat meminta maaf padanya" jawab Naura menunduk.
Kembali Firman memeluk Naura saat melihat butiran air mata kembali jatuh.
"Aku tahu, setelah semua harta warisan dan juga perusahaan beralih ke tangannya, Aku kira semuanya sudah selesai, tapi sepertinya ada sesuatu yang membuatnya harus mencariku" jawab Naura.
"Aku akan menyelidikinya, jadi aku harap kamu berhati-hati saat berada di luar tanpa pengawasan ku" ucap Firman.
"Hem, terima kasih sayang" ucap Naura yang kini semakin mempererat pelukannya.
*
*
Sementara di tempat yang lain, terlihat sosok Dimas tengah duduk di kursi kerjanya setelah melempar beberapa berkas yang membuatnya begitu frustasi.
"Sial, kalau seperti ini aku pasti susah untuk menekan Naura seperti aku melakukan hal itu dulu pada ibunya" batin Dimas dengan wajah cemasnya.
Dimas menatap beberapa berkas yang berserakan di atas mejanya, merasa kesal sendiri kenapa harus berurusan lagi dengan sosok Naura yang dulu sudah berhasil diusir dari keluarga besarnya.
"Bre-ng-sek, mau tidak mau aku harus membuatnya menandatangani semuanya, sebelum aku benar-benar tidak bisa memiliki apapun lagi" ucap lirih Dimas sambil memijit pelipisnya.
Keesokan harinya, Dimas segera beranjak dari tempatnya, setelah mendapatkan informasi tentang nomor ponsel Naura, dirinya segera melakukan rencana untuk bertemu secepatnya.
Kali ini Naura yang merasa penasaran dengan apa yang diinginkan Dimas setelah kepergian kakeknya, menyetujui untuk bertemu di suatu tempat, dan tentu saja atas izin dari suaminya.
"Sebaiknya tunggu aku setelah mengadakan rapat penting sayang" ucap Firman saat Naura meminta izin.
"Tidak apa-apa yang, Aku sekarang sudah siap menghadapi nya, jadi jangan khawatir, aku akan bertemu dengan nya di tempat yang ramai" jawab Naura.
"Tapi yang_"
"Percayalah padaku sayang, Aku ingin segera menyelesaikan urusanku dengan orang itu, dan berharap setelah itu tidak akan lagi bertemu dengannya" Naura meyakinkan keinginan nya.
"Baiklah, aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengawalmu, Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Firman yang terpaksa tidak bisa menemani Naura karena ada rapat penting yang tengah berlangsung.
"Tentu saja tidak" jawab Naura kemudian segera bersiap untuk bertemu dengan Dimas di tempat yang sudah dipesannya.
Naura tidak sama dengan Naura yang dulu tentunya, kini dia lebih bisa mengendalikan dirinya dari rasa takut trauma akan masa kecilnya.
"Aku hanya punya waktu setengah jam saja untuk berbicara denganmu, jadi jangan membuang waktu dan bicaralah pada poinnya" ucap Naura dengan tegas dan tatapan tajam ke Dimas.
"Baik, Aku sebenarnya juga tidak sudi melihatmu kembali, kalau tidak karena keputusan gila yang diambil oleh kakekmu tentang semua warisan yang ada, sudah kupastikan melupakan wajahmu bahkan dirimu yang dulu pernah menjadi anggota keluarga kami" jawab Dimas.
"Bagus, itu lebih baik, jadi katakan sekarang juga" ucap Naura.
Dimas mengeluarkan map hitam yang berisi beberapa berkas, kemudian menyodorkan kepada Naura untuk dibacanya.
Naura mengerutkan kening, dengan otak cerdasnya dia sudah bisa membaca bahwa sebenarnya laki-laki yang berada di depannya hanya ingin merubah keputusan almarhum kakeknya.
"Lagi-lagi harta yang kau permasalahkan" ucap sinis Naura lalu melanjutkan membaca kembali beberapa berkas yang sudah ada di tangannya.
Naura tersenyum miring.
"Pantas kau begitu mencari dan memburu ku, rupanya kakek membuatmu panik dengan semua surat warisannya" ucap Naura.
"Jangan banyak bicara, Aku menginginkan mu bertanda tangan di sana dan semua aset yang ada akan jatuh ke tangan yang semestinya" ucap Dimas tanpa tahu malu.
"Yang semestinya?, Bukankah apa yang kakek tuliskan di sini adalah hal yang semestinya?" Kembali Naura bertanya dengan senyum tipisnya.
"Jaga ucapan mu, aku yang selama ini menjaga kakekmu, dan aku yang selama ini membuat semua perusahaannya berjalan dengan baik, lalu semua itu akan diberikan padamu?, Sungguh menggelikan!" Jawab Dimas dengan mimik wajah yang tak ramah.
"Lalu apa yang kau inginkan?!"
"Tanda tangan di surat yang sudah aku buat, setelah itu semuanya aku anggap selesai, kita tidak akan pernah bertemu lagi, bukankah itu yang kau inginkan?" ucap Dimas.
"Bagaimana kalau aku berubah pikiran?" Jawab Naura tentu saja membuat Dimas terkejut seketika.