ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 75



Sementara Afita telah berlalu, kini Ailina berjalan maju dan terpaksa harus bertemu dengan kakak sepupunya yang pernah mempunyai masalah hati yang keliru dengannya.


"Bagaimana kabarmu?" Saat keduanya sudah berdekatan.


"Alhamdulillah kak, aku baik, bagaimana kabar kak Aftan?" Tanya Ailina sedikit canggung karena masa lalu yang dihindarinya.


"Aku masih sama seperti dulu, hanya_" ucap Zafian tertahan.


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, sebaiknya aku menyusul kak Afita, aku ingin membantu suaminya saat ini" sahut Ailina.


"Maafkan aku, dan aku tau aku salah, tidak sepantasnya perasaan ini ada untuk mu Ai" sahut Aftan.


"Kak.., kita saudara, tidak mungkin perasaan kakak itu harus ada untukku, ini keliru, dan tidak mungkin aku menganggap mu lebih dari seorang kakak bagiku, sama seperti kak Ethan dan juga kak Evan, dan aku mohon kak, buka hatimu untuk wanita yang seharusnya, ini terakhir kali aku bicara soal hati dengan mu" ucap Ailina.


"Aku tau, dan aku juga tidak pernah meminta punya perasaan ini Ai, aku sangat tersiksa dengan semua ini" Aftan menyesali perasaannya dengan sangat terluka.


"Jangan lagi kita bertemu, sampai kak Aftan benar-benar menemukan hati yang benar untuk berlabuh, maaf kalau aku dengan sengaja menghindari mu, jangan sampai orang tua kita tau akan hal ini atau mereka akan membunuh mu kak!" Ucap Ailina.


"Aku tau, dan maaf, aku telah keliru" jawab Aftan.


"Cukup kak Afita dan kedua kakak ku saja yang tau semua ini, mereka sangat menyayangi kak Aftan sebagai keluarga dan saudara, begitu juga dengan ku" ucap Ailina, lalu segera pergi dari hadapan Aftan yang begitu tampak terluka.


Begitulah kisah mereka, beberapa tahun yang lalu, entah seperti apa kejadiannya, Aftan tiba-tiba saja mempunyai perasaan yang berubah terhadap Ailina, rasa cemburu, sayang dan cinta dirasakan tumbuh bukan lagi sebagai seorang saudara melainkan kekasih.


Aftan akhirnya tak tahan dengan perasaan nya, hingga kemudian nekat mengatakan semuanya ke Ailina, tentu saja Ailina sangat terkejut, tidak pernah menyangka akan semua perasaan Aftan bis menjadi seperti itu.


Bahkan kedua kakaknya yang tau menjadi murka dan sempat memberikan pelajaran ke Aftan, dua lawan satu tentu saj tidak seimbang, kekutan mereka sangat luar biasa dan hampir seimbang, hingga pada akhirnya tubuh Aftan penuh luka.


Belum sampai disitu, Afita sebagai adik kandungnya juga merasa kecewa dengan apa yang dilakukan kakaknya, sempat memberikan tamparan keras, saat Aftan ngotot membenarkan perasaannya, namun demikian, baik Ethan, Evan dan Afita menyembunyikan rapat-rapat semua hal itu dari pantauan orang tua mereka.


Hingga jalan keluar harus di putuskan oleh Ailina dengan melanjutkan kuliahnya ke Luar negeri untuk menghindari permasalahan ini.


*


*


Alina telah kembali berkumpul dengan keluarga di ruangan tunggu yang khusus disediakan, sementara Aftan sengaja keluar untuk membuat keadaan hatinya kembali nyaman.


"Bagaimana keadaan disana?" Tanya Reyna menanyakan apa yang sudah di lakukan oleh Afita dan juga Ailina saat menyelamatkan anak buah Zafian yang dilindungi dan sedang Coma.


"Baik Mom, kita sudah membereskannya kembali, dan kali ini di pindahkan ke tempat yang lebih aman dengan pengawalan yang bertambah ketat dari sebelumnya" jawab Afita.


"Bagus" sahut Alex yang juga mendengarkan penjelasan putrinya.


"Maaf Dad" ucap Ailina yang memang memanggil Alex dengan sebutan Daddy sedari kecil.


"Ada apa?" Tanya Alex.


"Mungkin Ailina tidak bisa lama lagi disini"


"Ayolah sayang, kamu baru saja tiba kemaren bukan?" Sahut Reyna langsung mendekat seolah tidak mau terpisah dulu.


"Mom, maaf, Ailina banyak sekali urusan yang harus di selesaikan di Belanda"


"Iya Mom, Ailina sebenarnya juga tidak sengaja datang ke Surabaya, pasti mommy sudah mendengar bukan?"


"Oh my God, hati-hati lah disana sayang, terkadang hati kami sebagai orang tua tidak merasa tenang mengingat kalian selalu diselimuti banyak masalah yang mengerikan, kenapa kalian tidak pernah senang kami sebagai orang tuan membantu masalah kalian?!" Ucap Reyna antara prihatin dan juga protes dengan sikap anak-anak mereka.


Adit dan Ailina tertawa melihat wajah lucu Reyna yang tengah protes saat ini.


"Maaf Mommy, itu karena kami bukan wanita biasa, iya kan Ai?"


"Yuhuu.. mungkin Mommy lupa akan hal itu" sahut Ailina dengan mengerjapkan matanya menggoda Reyna, begitu juga dengan Afita.


"Kalian ini, jangan seperti itu, Mommy tambah cemas melihat pesona mata dan kecantikan kalian" seru Reyna.


"Heh.., aku lebih suka kalian para perempuan keluarga Nugraha memakai cadar saja, hindari mengeksplor wajah kalian saat di luaran sana, mengerti?!" Sahut Alex yang tidak memungkiri sebagai laki-laki sangat tau nilai kecantikan putri-putrinya yang diatas rata-rata.


"Siap Daddy!" Jawab serempak Afita dan Ailina.


*


*


Disebuah Mansion mewah, terlihat sosok laki-laki tengah menatap jauh ke depan seolah melihat pemandangan alam, tapi nyatanya pikiran tertambat di sebuah wajah yang membuatnya penasaran saat awal pertemuan.


"Hem, Afita Khaira, siapa sebenarnya dirimu?" Batin Laki-laki yang tak lain adalah Elonar Ricardo.


Sudah tida hari semenjak kejadian yang terakhir kali dirinya mampu melukai Zafian seperti yang diinginkan, bibirnya tersenyum miring seolah puas dengan keadaan Zafian yang sekarang didengarnya.


"Aku sebentar tidak rela kak" suara seorang perempuan mengagetkannya.


"Eliz?" Ucap Elonar membalikkan badan dan menoleh ke sumber suara.


"Kenapa harus Zafian kakak buat Cima seperti itu?"


"Apa seharusnya aku langsung membu-nuhnya?" Sahut Elonar.


"Bukan begitu kak, aku masih_"


"Cari laki-laki lain yang lebih kata, aku yakin kau Asti bisa mendapatkannya, urusanku dengan Zafian belum selesai, dan aku pastikan sebentar lagi dia tinggal nama"


"Kak!"


"Cukup Eliza, ingat, dia sudah berani melukai papa sampai seperti itu, Zafian tidak pantas mendapatkan pengampunan, kau mengerti!" Ucap tegas Elonar.


"Harusnya perempuan itu!"


"Jangan berani menyentuhnya!" Sahut Elonar dengan tatapan tajam.


"Oh ya Tuhan, kakak membelanya?"


"Bukan membelanya, tapi dia bukan wanita biasa"


"Iya, lebih tepatnya wanita ib-lis yang punya kekuatan aneh, begitu bukan?"


"Jaga bicaramu, kau tidak paham apapun soal hal itu, yang perlu kau tau, jangan menyentuh Afita, dia bagianku" ucap Elonar.


"Cih, apa kakak menyukainya?"


"Itu urusanku, jauhi Afita, atau kau sendiri yang akan meregang nyawa di tangannya, cam kan kata-kata ku!" Sahut Elonar sedikit kesal dengan kelakuan Eliza yang sering ke kanak-kanak kan.


Eliza segera pergi dari hadapan kakaknya dengan hati yang kesal, sementara Elonar segera duduk kembali di ruang kerjanya dan memikirkan bagaiman cara untuk menyingkirkan semua bukti yang memberatkan tuntutan terhadap papanya.


"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri, menyusahkan!" Gumamnya lalu segera beranjak dari duduknya.


*


Tiga hari telah berlalu, Afita yang tengah berbincang dengan Firman dan duduk di sebelah Anita, di kejutkan dengan kabar baik dari Dokter, dimana Zafian mulai sadar perlahan.


"Ini sebuah keajaiban Nyonya, Semoga saja tuan Zafian akan segera pulih lebih cepat dari yang kami perkirakan"


"Iya dokter, Alhamdulillah"


"Terimakasih bantuannya kawan" sahut Firman kepada teman seprofesinya di rumah sakit itu.


"Sama-sama, jangan sungkan, kami sangat berterimakasih di beri kepercayaan untuk merawat sahabatmu dengan kasus yang cukup rumit" sahut dokter itu lalu segera pamit karena mendapat panggilan darurat.


"Sebaiknya kamu segera menemui Zafian, ini saat yang penting baginya setelah tidur panjang selama beberapa hari di Rumah Sakit ini" ucap Firman memberi saran ke Afita.


Begitu juga dengan Anita yang lebih dulu berada di dalam sana menemui putranya, nampak tetesan air mata mengering di pipinya, Zafian tersenyum dan menatap lemah sosok sang bunda yang kini sudah ada disampingnya.


Afita membantu kabar kepada Alex dan Reyna terlebih dahulu sebelum menyusul Anita masuk ke dalam untuk melihat keadaan suaminya.


Afita langsung memeluk Zafian dengan perlahan, senyuman bahagia langsung mengembang di bibir Zafian saat mendapati sang istri dalam pelukan.


"Apa kau merindukanku?" Tanya lirih Zafian.


"Tentu saja, kenapa kau tega meninggalkanku berhari-hari yang" sahut Afita masih dalam pelukan Suaminya.


"Maaf, nanti aku akan menggantikan jatah di ranj-ang berlipat-lipat"


"Yang!" teriak Afita kesal.


"Ha ha ha" Zafian langsung tertawa melihat wajah merenggut istri cantiknya, Anita yang melihat kekonyolan anaknya ikut tertawa bahagia.


"Bun, aku seperti mimpi dan bertemu dengan seorang laki-laki yang sepertinya tidak asing bagiku, tapi aku tidak bisa mengingat itu siapa?"


Deg.


Anita sangat terkejut, cemas dan berharap apa yang di khawatirkan tidak akan terjadi kepada Zafian.


Makin Penasaran?, Yuk jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA.


Bersambung.