
Makan pagi pun berlanjut dengan cukup tenang, semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama untuk menikmati sarapan.
Fian segera berangkat sekolah diantar oleh sang sopirnya, terjadi sedikit perbincangan sebelum semua beranjak dari meja makan.
"Apa aku boleh membawa Naura ke Apartemenku?" Tanya Firman.
"Apa kamu juga menginginkan hal itu Naura?" Tanya Afita.
"Aku terserah Firman saja kak"
"Kalau begitu keputusan ada di tangan kalian, Kami sebenarnya tidak keberatan, hanya saja status kalian belum diumumkan secara resmi, aku takut ada suatu hal yang membuat nantinya akan terjadi kesalahpahaman" ucap Afita.
"Aku juga memikirkan hal itu, Bagaimana kalau kamu saja yang sementara mengalah untuk tinggal di sini bersama kami Fir, aku rasa itu lebih efektif untuk berjaga-jaga" zafian menjelaskan.
"Tidak masalah, aku bisa tinggal di mana saja asal bersama dengan Naura" jawab Firman.
"Apa ini salah satu tanda dari yang namanya bucin?" Sahut Reno.
"Jangan mulai Reno" ucap Firman memperingatkan.
"Aku hanya bertanya, berbagi pengalaman Tidak ada salahnya bukan?" Ucap Reno sambil tersenyum.
"Cari saja wanitamu sendiri, jangan mengganggu ketenangan orang lain, kelakuanmu semakin meresahkan, mereka perlu tenang juga berada di rumah ini, jangan terlalu menggoda mereka" sahut Zafian.
"Bagaimana semalam Naura?" Bukannya berhenti, Reno malah bertanya sesuatu yang membuat Naura membelalakkan mata.
"Kak Reno!" Teriak Naura.
PLAK PLAK
"Awh!, Sh-itt, kenapa kalian mengani-aya ku!" Teriak Reno tak terima saat dua pukulan dari Zafian dan Firman melayang hampir bersama.
Afita dan Anita hanya terkekeh, melihat tingkah konyol ketiga laki-laki yang ada di hadapannya.
Keseruan itu tidak berlangsung lama karena Firman harus segera pergi ke rumah sakit begitu juga dengan Zafian dan Afita yang harus segera mengurus perusahaannya.
"Jadi aku dan Naura yang hanya berada di rumah ini?" Tanya Reno seolah tengah merencanakan sesuatu.
"Ada aku Reno" sahut Anita.
"Aku tahu Bun, Tapi Bunda adalah orang yang paling aman dan pasti akan membelaku bukan?" ucap Reno.
"Jangan macam-macam dengan Naura, kau akan menerima akibatnya" Firman memperingatkan.
"Ish, kau ini, selalu saja berpikiran negatif padaku, aku hanya akan memberikan tips kepada Naura Bagaimana menaklukkan laki-laki sepertimu di atas ranjang" jawab Reno.
"RENO!!"
Teriak Firman dan Zafian dengan keras, membuat Anita, Afita dan juga Naura sampai ter jingkat.
"Astagfirullah Kalian!!" Teriak Anita sudah tak tahan.
Afita dan Naura menahan tawa, melihat ketiga laki-laki kekar dan berwibawa tak berkutik di tengah teriakan sang Bunda.
*
*
Semua kembali pada aktivitasnya masing-masing, seperti yang di bilang sebelumnya, bahwa kini Firman sudah berada di jalanan bersama dengan mobil yang menuju ke Rumah Sakit.
"Aku meninggalkan mu hanya beberapa hari saja, kenapa begitu banyak masalah yang menumpuk seperti ini?" Ucap Firman sambil mengamati beberapa berkas riwayat kesehatan pasien yang sudah ada di meja kerjanya.
"Jangan menyalahkan ku, semua itu karena pasien fanatik mu, mereka tidak mau aku sentuh karena aku bukan dokter Firman" jawab Ana dengan senyum tertahan karena melihat betapa Firman di buat pusing oleh ulah pasiennya.
"Ya sudah, lalu siapa yan akan membantuku?" Tanya Firman.
"Tentu saja aku, siapa lagi?" Jawab Ana yang kini sudah berjalan dan duduk di samping Firman untuk menyambut pelayanan pasien yang akan segera dimulai.
Satu Pasien masuk, dan bukan hanya melempar senyum, namun juga beberapa protes karena tidak di periksa sendiri oleh dokter Firman beberapa hari.
Hanya helaan nafas panjang yang bisa Firman lakukan, harus menjelaskan berapa kali lagi agar mereka semua paham, namun sepertinya semua juga percuma.
"Tinggal berapa orang lagi?" Tanya Firman seolah berharap pekerjaan yang segera selesai.
"Tenang saja, masih ada 10 orang yang menunggumu dokter Firman, jadi persiapkan tenagamu, oke?" Jawab Ana sambil tertawa melihat Firman tampak kelelahan.
"Oh my_, ini sangat melelahkan, dan aku sudah sangat merindukan Naura saat ini" batin Firman lalu kemudian segera mempersilahkan Ana untuk memanggil pasien berikutnya.
BRAK
Firman sangat terkejut ketika satu pasien ini masuk dengan mendorong pintu cukup keras.
"Saya ingin mengajukan keluhan, dalam daftar penjelasan awal yang diberikan, sudah tertulis bahwa saya memilih dokter Firman untuk melakukan perawatan, tapi apa yang saya dapatkan, dua kali perawatan di awal justru saya mendapatkan dokter yang lain, ini sudah termasuk penipuan bukan?"
"Maaf Pak, saya ada cuti mendadak dan semua sudah saya limpahkan, Saya rasa tidak ada prosedur yang melanggar ataupun masuk dalam penipuan" jawab Firman.
"Tapi apa yang saya dapatkan tidak sesuai dengan perjanjian di awal, dan ini bisa saya bawa ke ranah hu-kum, karena saya membayar cukup mahal biaya pengobatan saya di sini" ucap pasien tersebut tidak mau kalah.
"Sepertinya saya harus menjelaskan ulang sehingga Anda akan mengerti, Dan tolong dipikir kembali karena bukan hanya anda yang bisa menuntut di sini" jawab Firman berusaha tenang menahan emosi.
"Jadi Dokter Firman mengancam saya?"
"Siapa yang mengancam siapa, seharusnya anda paling mengerti dalam situasi saat ini" jawab Firman dengan tatapan yang tegas.
Firman mengambil berkas pasien tersebut kemudian membukanya dan membaca inform konsen di awal pasien datang, di sana sudah tertulis jelas bahwa jika dokter pertama yang dikehendaki mengalami suatu masalah dan tidak bisa hadir maka pelayanan kesehatan selanjutnya akan digantikan dengan dokter kedua.
Bahkan semua penjelasan itu terdapat tanda tangan pasien yang sudah dianggap mengerti dan menyetujui, pasien tersebut membaca kembali kemudian berdiam merasa bahwa kebenaran ada di pihak dokter Firman.
"Bagaimana, semua terserah anda, jika akan memprotes pelayanan yang ada di rumah sakit ini silakan, kami dengan tegas akan menindaklanjuti, tentunya dengan cara yang mungkin akan membuat anda jera" jawab Firman dan membuat pasien tersebut diam.
Ana tersenyum dan bernafas dengan lega begitu juga dengan Firman, kini keduanya bisa beristirahat karena semua pasien sudah terlayani dengan baik.
"Apa dokter Firman akan segera pulang?" Tanya Ana.
"Aku rasa begitu, bukankah tugasku sudah selesai, selanjutnya akan aku serahkan lagi padamu" jawab Firman.
"Baiklah, maaf aku harus mengganggu cuti mu, permasalahan darurat yang memaksaku untuk melakukan itu, Aku harap kamu tidak keberatan" ucap Ana.
"Tentu saja tidak, hanya Aku berharap kamu bisa menangani masalah dengan baik, dan aku akan bersedia membantu kapanpun, apalagi nama baik rumah sakit ini dipertaruhkan" jawab Firman.
"Aku tahu, terima kasih atas bantuannya"
Kemudian anak pamit untuk keluar dari ruangan dan melanjutkan tugasnya kembali, sedangkan Firman masih meregangkan otot tubuhnya sejenak di atas kursi sebelum dirinya menggapai ponsel karena sudah merindukan seseorang.
"Apa tugasmu sudah selesai?" suara Naura terdengar dalam sambungan ponsel.
"Baru saja, Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Apa kamu merasakan seperti yang aku rasakan?" Tanya Firman sambil tersenyum.
"Memangnya apa yang kamu rasakan?" Ucap Naura.
"Aku sangat_"
"Kalian sudah datang!" Tiba-tiba saja terdengar Naura berteriak sebelum Firman melanjutkan kata-katanya.
"Yang?!" Panggil Firman namun tidak ada sahutan, tiga kali Firman memanggil Naura lagi dan masih belum ada jawaban.
"Maaf yang, teman-temanku sudah datang, Aku tutup dulu teleponnya ya, aku juga sangat merindukanmu, bye!" Ijin Naura lalu kemudian mengucap salam dan segera menutup sambungan teleponnya.
"What!, Yang!, Sayang!, Naura!" Teriak Firman yang rupanya dibuat kesal.
"Apa ini, Kenapa dia lebih mementingkan teman-temannya, Ck, padahal aku sangat merindukannya, Sial!" Firman berbicara sendiri melampiaskan kekesalannya.
Rasa cemburu menyeruak dalam hatinya, Firman segera melangkah cepat menyusuri lorong menuju pintu keluar rumah sakit, namun tidak menduga melihat Ana kini tengah berdebat dengan salah satu pasien yang ada di depan kamar operasi.
"Ada apa?" Tanya Firman yang tidak bisa berlalu begitu saja.
"Keluarga tidak terima jika operasi hari ini dilakukan oleh dokter penggantimu" ucap Ana.
"Oh my God, masalah apa lagi ini?" Firman segera masuk ke dalam ruangan bersama dengan Ana.
"Lalu?" Lanjut Firman.
"Semua tim operasi sudah siap, dan mereka mencabut persetujuan operasi jika yang melakukan tindakan bukan dirimu" Ana menjelaskan.
"Apa sebelumnya tidak diberitahukan?" Tanya Firman lagi.
"Sudah, istri dan anaknya sudah setuju dan bertanda tangan, lalu tadi ayah dan ibu pasien datang dan mempermasalahkan hal itu" jawab Ana.
Belum selesai Firman berujung lagi, terdengar suara ribut di luar ruangan, firman dan ana segera keluar, seperti yang telah diduga ternyata keluarga besar pasien sedang mengajukan protes dengan penuh emosi.
Firman berusaha untuk melerai, begitu juga dengan Ana yang tampak panik dan kebingungan, hingga tanpa diduga emosi salah satu keluarga pasien mendorong kuat tubuh Ana.
"Akh!" Teriak Ana.
BRUG.
"Maaf!' Ana terkejut saat dirinya bukan terdorong jatuh, melainkan ada seseorang yang sudah menangkap tubuhnya.
"Apa kau butuh bantuanku Firman?" Sahut laki-laki yang sudah menolong Ana dalam dekapannya.