
Deg.
Bunda terdiam, hanya memandang mata biru nan cantik dan sangat menenangkan.
"Sungguh sangat cantik, tatapan gadis ini mengandung sesuatu yang tidak biasa" batin Anita.
"Maaf, Bunda tidak bisa menjawabnya sekarang, semuanya membuat luka yang teramat dalam" ucap Anita yang tidak dimengerti oleh kedua wanita cantik yang sekarang sudah ada didepan matanya.
"Bunda, maaf, tidak apa-apa kalau Bunda tidak menceritakannya" sahut Afita segera memeluk Anita dengan kabut kesedihan yang teramat jelas di wajahnya.
Ailina pun tersenyum, lalu dirinya duduk di kursi terdekat, menerima sebuah pesan dari handphonenya dan itu berasal dari sang kakak, rupanya Evan dan Ethan yang sedang sama-sama berada di luar negeri dengan kepentingannya yang berbeda, sedang menanyakan keadaan Afita yang bisa di rasakan.
Ailina pun membalas isi pesan dengan menyampaikan keadaan yang Sebenarnya, bahkan apa yang dirasakan tentang Zafian juga di ungkapkan walaupun sedikit saja.
Entah karena terkejut, keduanya kini segera melakukan panggilan bersama, tampak perbincangan ketiganya di dalam handphone.
"Apa benar kau bisa merasakannya?" Tanya Evan.
"Benar kak, aku bisa memastikan hal itu, seharusnya dia sudah bisa bertahan mendapat serangan seperti itu"
"Oh my God, apa kau sudah mengabari keluarga di Jakarta?" Ucap Ethan.
"Belum, kak Afita memintaku untuk merahasiakannya dulu" jawab Ailina.
"Itu tidak mungkin, yang aku dengar mereka sudah menuju ke Surabaya" ucap Evan.
"Tentu saja, aku sudah menduganya" sahut Ailina.
"Beruntung kau datang tepat waktu Ai, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai terlambat" ucap Ethan.
"Aku datang kesini juga suatu urusan kak, tentu saja tidak bisa lama, aku masih mencari penyebab kematian Profesor, dan aku tidak akan tinggal diam" Afita menjelaskan.
"Aku tau, apa kau tidak butuh bantuanku?, Berada di negeri orang sendirian dengan menyelesaikan masalah serumit itu sangat berbahaya" ucap Evan begitu cemas.
"Aku bisa mengatasinya sampai saat ini, jangan khawatir" jawab Ailina.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan kak Zafian?" Tanya Ethan kembali ke topik terpenting saat ini.
"Akan aku lihat setelah sadar nanti, kalau waktuku tidak ada, Daddy Alex yang akan mengambil alih dan aku akan segera kembali" Ailina menjelaskannya.
"Hem, sebentar lagi pasti akan lebih aman, Aku dengar kak Aftan juga menuju ke sana" sahut Evan.
Tak lama kemudian percakapan pun dihentikan, tepat seperti yang di harapkan keluarga yang lainpun datang, Alex dan Reyna sudah nampak berlari menghampiri Afita dan memeluknya, begitu juga dengan Anita yang kini sedang menangis dalam pelukan Reyna.
Ailina tersenyum, sudah bisa tenang kembali setelah kedatangan keluarganya, perlahan mendekati dan Reyna segera memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Maaf sayang, merepotkan mu" ucap Reyna.
"Hei, Mommy Reyna jangan berkata begitu, aku yang minta maaf datang terlambat dan tidak bisa menolong kak Zafian diwaktu yang tepat, dan harus berakhir seperti ini" jawab Ailina.
"Tidak, apa yang kau lakukan lebih dari cukup, biar kami yang menangani sisanya sayang, mommy tau, kau sedang dalam masalah besar juga saat ini, apa kami bisa membantumu?" Tanya Reyna penuh harap.
"Tidak Mom, Ailin masih bisa mengatasinya"
"Syukurlah kalau begitu, hati-hati sayang, berada di negeri orang tidaklah mudah, apalagi kamu di terpa masalah" sahut Alex yang kini juga bergantian memeluk keponakannya.
"Makasih Daddy, Ailin akan mengingat pesan Daddy" jawab Ailina.
Reyna dan Alex meminta ijin untuk menemui Zafian yang tengah terbaring dengan tenang, keduanya di perbolehkan masuk secara bergantian, satu persatu kini berada di samping Zafian, tiba Alex yang menyentuh Zafian untuk mendeteksi keadaannya.
"Benar Apa yang di katakan Ailina" batin Alex lalu menoleh ke jendela kaca tepat bertemu dengan sorot mata Ailina seolah memberikan isyarat yang sama.
Alex melanjutkan lagi gerakan tangganya, menyentuh beberapa titik syaraf dengan kekuatan tenaga dalamnya, tampak tubuh Zafian sedikit bergerak dan membuat Alex tersenyum senang.
"Kamu akan bangun sebentar lagi Zafian, Kuatlah Nak, akan ada kejutan yang besar untuk mu" ucap lirih Alex, lalu kemudian segera beranjak keluar dari ruang ICU.
Saat Alex ingin mengatakan sesuatu, Afita tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari handphonenya, salah satu pengawalnya mengabarkan bahwa keberadaan seseorang yang dilindungi sedang dalam bahaya.
"Aku akan kesana!" Teriak Afita.
"Aku Temani!" Sahut Ailina menyusul dan berlari di belakang Kakaknya.
"Mobil atau kita melesat?" Tanya Ailina.
"Yang tercepat Ai"
"Aku tau kak"
Dan kini segera melesat di sela-sela atap gedung bangunan, keduanya berlompatan dengan cepat karen waktu tidak memungkinkan lagi menggunakan kendaraan dan terjebak dalam kemacetan, beruntung hari sudah gelap, dan semakin memudahkan kedua untuk melakukan aksinya dengan bebas.
Tepat ditempat yang dituju, keduanya segera masuk dan seperti yang dikabarkan, kini kedua pengawal khusus yang ditugaskan berjaga untuk melindungi anak buah Zafian yang sedang Coma sedang melawan musuh-musuhnya.
Afita segera membantu datang menyerang tanpa menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, begitu juga dengan Ailina yang kini sudah melesat cepat merobohkan beberapa orang yang berakhir di lantai tak bergerak lagi, detik berikutnya.
"Selesai!" Ucap Ailina.
Pertarungan bisa diselesaikan dengan cepat dan tidak membuang waktu, seketika itu juga Afita memerintahkan untuk memindahkan anak buah Zafian ke tempat yang lebih aman dengan perawatan khusus yang di butuhkan.
"Aku rasa, saatnya kita kembali" ucap Ailina lagi.
"Baik Ai, apa kau masih belum lelah?" Tanya Afita.
"Baiklah, apa ini tentang suamiku?"
"Tepat sekali" Jawa Ailina.
"Kalau begitu, ayo!" Sahut Afita, dan keduanya menuju ke tempat parkir mobil salah satu anak buahnya.
Sudah berada di jalanan malam kota Surabaya, Afita mengemudikan mobil dengan tenang, sambil bersiap mendengarkan penjelasan Ailina.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Afita memulai pembicaraan.
"Kak Zafian punya kekuatan tenaga dalam"
"Apa?!"
CIIT
Brug
"Oh, ya ampun kak, jangan berniat membunuhku!" Teriak Ailina yang kini tengah menggodok jidatnya yang terantuk bagian mobil saat Afita mengerem dengan tiba-tiba.
"Sorry-sorry Ai, kau tidak apa-apa?" Tanya Afita sambil mengusap sayang bagian kepala sang adik yang terbentur karena perbuatannya.
"Tidak apa-apa, nyeri sedikit" ucap Ailina sambil tersenyum senang menatap Afita yang mencemaskannya.
"Jangan menatapku seperti itu, seandainya aku laki-laki pasti sudah lama jatuh hati padamu, dan aku iri dengan semua itu, kenapa mata birumu sangat indah Ai, Ah.. menyebalkan!" Teriak Afita yang selalu kesal saat teringat dia tidak memiliki mata biru keturunan keluarga Nugraha.
Ailina terkekeh, begitulah saat Afita bertemu dengannya, selalu saja mengagumi mata birunya dan juga kesal karenanya.
Ailina kembali melanjutkan penjelasannya, mengatakan bahwa Zafian mempunyai kekuatan yang luar biasa berada dalam tubuhnya.
"Aku tidak tau pasti jenis kekuatan seperti apa, dan aku rasa, sebenarnya Bunda tau akan hal ini sejak lama" ucap Ailina lagi.
"Maksud mu, Bunda sengaja menyembunyikannya?" Tanya Afita tampak heran.
"Hem, begitulah"
"Kenapa?" Tanya Afita lagi.
"Hanya Bunda yang bisa menjelaskan hal itu, mungkin saja ada trauma tersendiri dari kekuatan yang dimiliki Kak Zafian disa lalu, bisa aja kan?"
"Trauma masa lalu?, Aku semakin penasaran Ai, dan aneh, kenapa aku tidak bisa merasakannya setelah sekian lama bersama, justru kamu_"
"Itu karena segel kekuatan Kak Zafian sebagian terbuka, mungkin karena serangan kekuatan tenaga dalam yang menghantam tubuhnya saat itu"
"Oh, iya, sepertinya begitu, aku benar-benar tidak menyangka sama sekali kalau Zafian punya kekuatan tenaga dalam juga, dan itu berarti_"
"Keluarga kita akan semakin kuat, kita lihat saja, sebesar apa kekuatan suami kakak nanti"
"Hem, tapi masalahnya, Zafian sepertinya tidak menyadari dan Bunda juga tidak menginginkan Zafian mempunyai hal itu, terbukti dengan Bunda menutupinya selama ini"
"Jangan berprasangka dulu, mungkin ada kesalahpahaman disini kak, Tugas kakak nanti membuka tabir ini perlahan, dan untuk saat ini, kita fokuskan ke pemulihan keadaan kak Zafian"
"Aku tau Ai, terimakasih atas bantuan mu, sungguh, kakak tidak tau lagi harus bagaimana seandainya kamu tidak datang"
"Itu berarti kak Afita mengakui kekuatan penyembuh ku lebih hebat kan?"
"Oh my God, iya-iya, dan itu menyebalkan!" Teriak Afita lagi merasa kesal karena terjebak dalam ucapannya sendiri.
Ailina nampak teringat sesuatu, lalu kemudian menanyakan tentang laki-laki yang sudah menyerang Zafian dengan kekuatan yang begitu hebat.
Cerita pun bergulir, bagaimana sosok laki-laki yang bernama Elonar Ricardo dari keluarga mantan tunangan Zafian itu telah membuat kekacauan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.
"Jadi laki-laki itu adalah kakak mantan tunangan kak Zafian?, Berarti semua anggota keluarganya pasti mempunyai kekuatan tenaga dalam juga bukan?" Tanya Ailina terkejut.
"Tidak, lebih tepatnya dia adalah anak angkat yang dibesarkan sejak kecil, dan memasukkan namanya dalam kartu keluarga Ricardo" jawab Afita.
"Oh, jadi begitu, kak Afita tau kekuatan apa yang dimilikinya bukan?" Tanya Ailina lagi.
"Iya, telapak tangan kanannya mampu menghancurkan apapun, saat menyerang aku sangat fokus dengan telapak tangannya itu, karena itu sangat mematikan"
"Hem, hebat juga kekuatan seperti itu, tapi aku rasa, kakak masih bisa mengatasinya bukan?"
"Semoga saja, karena waktu itu, aku berhasil memukul mundur dan membuat dia berlari pergi, tapi aku juga tidak tau pasti, bisa juga dia melakukan hal itu karena ingin menyusun strategi baru untuk mengaburkan aku dan Zafian" ucap Afita.
Ailina mengangguk tanda mengerti, dan memberikan saran agar sang kakak harus lebih berhati-hati lagi.
Kini keduanya sudah sampai di Rumah sakit lagi, tempat Zafian tengah dirawat dan belum sadarkan diri, berjalan masuk dengan percakapan dan senyum yang mengembang, tiba-tiba saja Ailina langsung terdiam, melihat sosok laki-laki yang sudah ada di depannya dan pernah berbuat salah menentukan sikap akan dirinya.
"Jangan membuat kekacauan disini Ai, atasi masalah kalian dengan baik, dan aku juga sudah memberikan pelajaran padanya diwaktu itu"
"Ck, menyebalkan, kenapa dia harus datang disaat aku belum pergi" sahut Ailina malas dan di sambut tawa dari Afita.
"Kalau seperti ini, aku sangat bersyukur tidak mempunyai mata birumu yang membuat seseorang sampai tidak bisa mengendalikan hati..ha ha ha ha"
"Kakak!" Teriak Ailina kesal.
SIAPA laki-laki ini ya?, Bagaimana dia bisa salah menempatkan hati?...Yang makin kepo dan penasaran.. yuk segera kasih VOTE, HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA juga bisa.
Bersambung.