
Afita berkedip beberapa kali, seorang laki-laki yang tak lain adalah suaminya, kini tengah berjalan maju untuk mendekati.
"Ini salah paham, aku_"
"Hmph.. yang, tunggu.. hmph.. " kembali Afita menahan sesuatu yang semakin liar menerjangnya.
"Aku tau dia pasti keluarga, tapi jangan lagi berpelukan seperti itu, aku tidak kuat melihatnya" ucap Zafian saat memberi kesempatan Afita untuk menghirup udara.
"Maaf, aku_, hmph.. "
Mulut Afita langsung diserang kembali dan kini menjadi bungkam menikmati luma-tan yang sedikit kasar dan menuntut.
Tidak sampai disitu, Zafian bergerilya ditempat-tempat sensitif milik istrinya, tepat di kedua bukit kembarnya, kini tangannya mere-mas pelan dan berulang.
"Oh.., yang" teriakan lolos dari mulut Afita begitu saja, saat sensasi nikmat di dapatkannya.
Semakin memanas keadaan di sana, Zafian segera menyingkap bawahan Afita dan kini tangannya menyusuri inti istrinya.
"Yang, hentikan, ini di_"
Kembali Zafian melu-mat habis bibir Afita hingga tidak bisa berkata-kata, dan bersama itu juga, Afita memekik saat merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam miliknya.
Rupanya satu jari Zafian sudah menyapa hangat milik istrinya, membuat gerakan yang membuat Afita makin tak tertahan, sekali tarik, kain penutup yang tadi menghalangi kini telah terlempar ke lantai, melihat sang istri makin bergerak liar, membuat Zafian segera mengangkat tubuh Afita diatas meja kerja.
"Yang, apa yang kau lakukan!" Teriak Afita terkejut dan kini sudah berada di atas meja dengan bagian bawahnya yang sudah terekspos apik.
Kembali Zafian memberikan sentuhan di kedua bukit kembar istrinya, membuatnya kembali bergerak indah menahan has-rat, disaat itu juga Zafian segera membebaskan area bawahnya.
Afita terkejut, ingin menahan apa yang akan di lakukan oleh suaminya, namun berakhir dengan suara indah dari mulutnya, saat sang pusaka kini sudah menyapa pintu masuk miliknya.
"Ah.., Yang!" Teriak Afita.
Lalu kemudian, Zafian sudah tidak bisa menahan lagi, posisi Istrinya saat ini begitu indah dan menggoda dimatanya, dengan pancaran sinar langsung dari jendela besar, membuat kulit putih Afita begitu berkilau bak berlian yang menggiurkan.
Bagian bawah istrinya terlihat memerah kecoklatan, begitu ranum tampak di pandangan, dan saat ini juga Zafian menginginkan bibir dan lidahnya menyentuh dengan lembut.
Afita terkejut, membelalakkan mata tak percaya saat lidah Zafian menyapa di bagian bawahnya, namun rasa nikmat yang luar biasa, tidak bisa membuatnya protes lagi.
"Emh.. yang, aku, oh.. " seketika tubuh Afita menegang, rupanya pelepasan pertama sudah dia dapatkan, dan tentu saja membuat Zafian tersenyum senang.
"Katakan, siapa laki-laki itu?" Tanya Zafian setelah melepaskan pagu-tannya.
"Dia Ethan" jawab Afita masih terengah-engah mengatur nafasnya, serangan yang di berikan Zafian, sungguh hampir saja menghabiskan oksigen yang berada dalam dirinya.
Zafian terdiam sejenak, namun detik berikutnya menekan tubuh Afita kembali hingga membuat istrinya menjerit.
"Akh!"
Dan sang pusaka kini sudah berada didalam sana, membuat Afita kembali menggeli-at manja merasakan sensasi terkejut sekaligus nikmat yang bersamaan.
"Oh, ini sangat nikmat sayang" ucap lirih Zafian yang tengah bergerak perlahan merasakan hangat sang pusaka yang bekerja di dalam milik istrinya.
Zafian kini menerjang Afita dengan kuat, bahkan membuat ritme gerakan tubuh istrinya begitu terlihat, sang pusaka keluar masuk begitu aktif dan semakin cepat.
"Yang, aku ingin_!" Teriak Afita tertahan.
"Bersama" sahut Zafian memasukkan miliknya dengan dorongan penuh.
Lalu kemudian keduanya berteriak hampir bersama mendapatkan puncak nikmat yang tiada tara.
"Siapa Ethan?" Tanya Zafian berlanjut.
"Keluarkan dulu milikmu yang, mengganjal sekali, ini tidak nyaman" ucap Afita masih duduk menahan tubuhnya diatas meja dengan peluh yang bercucuran, begitu juga dengan Zafian yang terkekeh mendengar keluhan sang istri.
"Oh my God, harusnya kamu menghubungi ku sebelum bertemu, membuatku cemas saja, aku hampir saja mati karena rasa penasaran dan juga cemburu, lagi pula, kenapa kalian harus berpelukan seperti itu?!"
"Maaf, handphone ketinggalan di kantor, aku keluar tadi juga tidak sengaja bertemu dengannya, dia seperti hantu, bisa datang dan pergi dengan cepat" sahut Afita yang kini duduk kembali di kursi sofa sambil memijit kepalanya.
"Apa kau sakit?" Tanya Zafian berjalan mendekati istrinya, lalu duduk dan memijit tengkuk Afita dengan pelan.
"Kepalaku pusing dengan sesuatu diluar sana, menyebalkan" Jawa Afita teringat akan pemburu berita yang tengah berkumpul di depan hotel mencari kebenaran berita akan dirinya.
"Breng-sek, siapa yang berani menyebarkan berita seperti ini, aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidiki hal ini, aku harap identitas mu dan juga_, aku harus memanggilnya siapa?"
"Ethan" sahut Afita mengingatkan lagi.
"Oh, Ethan?" Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.
"Hem, pastinya, dia salah satu dari tiga besar yang menduduki pengusaha sukses muda di kawasan Asia, dan sepuluh the best di Eropa, dengan usia jauh di bawah kita tentunya"
"My God, mungkinkah dia Ethan Eagle si manusia bertangan besi?" Tanya Zafian mantap istrinya dengan penasaran.
"Hem, tepat sekali"
"Apa dia masih ada disini, aku ingin bertemu dengannya yang" ucap Zafian berapi-api seakan lupa akan masalah yang di hadapi oleh istrinya.
"Ck, kamu lebih mementingkan Ethan dari pada aku?!" Seru Afita kini berubah di mode marah.
"Sorry-sorry, aku kelepasan, sudah lama aku ingin bertemu dengannya, dan soal berita ini pastinya akan_"
"Ethan tidak akan perduli, tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, wajahnya juga tertutup masker waktu diambil gambarnya, tapi aku, lihat saja, mereka keterlaluan!" Sahut Afita makin kesal.
Zafian tersenyum, menarik tubuh istrinya.
"Kita mandi dan bersuci dulu, lalu kita akan menghadapi bersama, aku pastikan identitas kalian tidak akan terekspos"
Afita tersenyum lega, lalu berjalan masuk ke sebuah bathroom mewah yang ada dalam ruangan kerjanya bersama dengan Zafian.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah rapi kembali dengan tubuh yang lebih segar, duduk kembali di sofa dan melanjutkan pembahasan, disaat yang sama, Naura mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan.
"Syukurlah Nona, semua sudah terkendali, tidak ada pemburu berita lagi yang membuat keributan di depan hotel" lapor Naura sambil menatap horor meja Afita yang tampak begitu berantakan.
"Ehem.., laporan diterima, dan terimakasih, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu" sahut Afita cepat saat menyadari sang sekretaris menatapnya curiga.
"Apa perlu saya membantu anda merapikan ini semua Nona?"
"Tidak!, Keluarlah" sahut Afita seketika wajahnya memerah dan langsung membereskan meja kerjanya sendiri.
"Baiklah, sepertinya anda berdua bekerja keras yang menguras keringat disini tadi, saya permisi tuan Zafian.." ucap Naura sambil menahan senyumnya, lalu berjalan keluar dan menutup pintu kembali.
"Kamu kenapa yang?" Tanya Zafian yang juga menahan tawa melihat wajah panik istrinya.
"Ini gara-gara kamu yang, Naura tau apa yang kita lakukan, aku malu!" Sahut Afita kesal.
"Kenapa malu, apa yang kita lakukan hal wajar sebagai suami istri, atau kamu ingin lagi?"
"Jangan berani mendekat!" Sahut Afita langsung takut dan menjaga jarak, seketika itu juga Zafian tertawa.
Namun semuanya berubah diam, saat Naura mengangkat handphone dan mendengar seseorang berteriak memperingatkan.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.