ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 70



Brug.


"Pakai hijab mu, jangan lagi keluar kamar dengan menunjukkan Auratmu!"


Dan sebuah hijab tertarik keluar dari kamarnya yang langsung mendarat di wajah Afita.


"Oh, sial!" Sahut Afita yang baru tersadar dengan apa yang di lakukannya.


Afita segera memakai hijab yang sudah berada di tangannya, tanpa berkedip sedikitpun melihat sosok yang ada didepannya.


Bersama itu juga, cadar terbuka, dan tentu saja Afita jengah dengan kelakuan saudaranya. "Sudah ku duga" ucap lirih Afita.


"Maaf kak, aku harus datang menemui mu dengan cara seperti ini"


"Ck, aku tau, hanya orang-orang dengan kekuatan khusus bisa menembus dua pengawal kiriman Daddy" ucap Afita.


"Hem, mereka lumayan kuat, aku butuh berpikir dan menggunakan tehnik khusus untuk sampai disini tanpa mereka sadari"


"Tidak bisakah kau datang dengan cara yang biasa saja, dan tidak membuat aku terkejut Ethan Eagle Nugraha!" Sahut Afita dengan kesal.


"Awalnya aku ingin datang sepert itu, tapi waktu tidak memungkinkan, aku harus datang cepat menyampaikan sesuatu, dan satu jam lagi aku harus berangkat keluar negeri untuk bisnisku" Jawa Ethan.


"Apa?!, Secepat itu,?" Tanya Afita seolah belum rela harus berpisah dengan saudaranya.


"Begitulah, ada kondisi darurat yang mengharuskan aku untuk segera berada di Belanda" Jawa Ethan.


"Heh..okey, lalu apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Afita.


"Akan datang seseorang dengan kekuatan tenaga dalam, mungkin juga kekuatannya begitu dahsyat, aku tidak bisa memastikan hal itu"


"Maksudnya?" Tanya Afita.


"Orang yang aku lumpuhkan saat menolong kak Zafian adalah orang-orang yang punya kekutan tenaga dalam, walaupun itu tidak seberapa, dan mereka adalah kaki tangan dari seseorang"


"Apa?!, Itu artinya _"


"Hem, Tuan mereka bisa jadi seseorang yang mempunyai tenaga dalam dengan kekuatan yang tidak bisa kakak remehkan"


Afita terdiam, terkejut mendengar kabar itu, sekaligus bertanya-tanya siapa dan bagaimana sosok orang yang di maksudkan oleh Ethan.


"Ada informasi yang lain?" Tanya Afita lagi.


"Mereka semakin dekat, kak Avita harus berhati-hati" sahut Ethan.


"Aku tau hal itu" ucap Afita.


"Bagus, lebih baik bersiap dan perketat pengawasan anggota keluarga yang mempunyai titik lemah" Ethan memperingatkan.


"Aku tau" jawab Afita.


"Kalau begitu aku pergi dulu, maaf, waktuku tidak banyak" ucap Ethan.


"Tidak bisakah setidaknya kau memelukku?" Pinta Afita yang tentu saja sangat menyayangi adik sepupunya.


Ethan tersenyum, mendekat dan memeluk memberikan ketenangan yang dirasakan Afita, lalu segera melayang kembali dengan ringan dan menghilang di kegelapan malam.


Begitu juga dengan Afita, segera kembali ke tempatnya, masuk ke dalam kamar tanpa membuat suara sedikitpun agar suaminya tetap tenang dalam tidurnya.


**


Pagi yang sangat di dingin tentunya, Zafian terbangun dan terkejut tidak mendapati sang istri disampingnya, segera bangun dari tempatnya, lalu bergerak masuk ke bathroom untuk membersihkan diri.


"Masih gelap, dimana Afita?" Tanya Zafian dalam hati, lalu bergegas pergi untuk mencari pujaan hati.


"Yang, dimana kamu?!" Teriak Zafian saat sudah keluar dari kamarnya.


Nampak Anita ikut terkejut disaat Zafian sedang mencari istrinya di pagi buta. "Memangnya Afita kemana?" Tanya Anita.


"Aku juga tidak tahu Bun, tidak biasanya dia meninggalkan ku pagi-pagi begini, bunda tidak melihat nya?" tanya Zafian.


"Tidak"


"Okey, aku cari di taman belakang" ucap Zafian segera melesat pergi.


Dan rupanya sosok cantik yang sedang dicari sedang duduk bersila di sebuah batu besar di Taman belakang yang masih begitu sepi, Zafian mendekat dari jarak beberapa meter merasakan hawa hangat yang menyentuh kulitnya.


Sejenak Zafian berhenti, lalu dua pengawal khusus datang mendekati dari jarak yang sedikit jauh.


"Kalian kenapa?" Tanya Zafian melihat dua orang itu seolah tidak berani mendekat.


"Terlalu panas tuan, anda jangan mendekat lagi"


"Panas?, Aku hanya merasakan hangat saja" sahut Zafian.


"Apa?!" Kedua pengawal itu saling pandang, dan merasa aneh dengan apa yang dirasakan Zafian sebagai orang biasa yang sama seperti mereka.


"Maaf Tuan, kekuatan Tenaga dalam Nona Afita sedang di keluarkan untuk mengasah ketajaman instingnya, dan biasanya kami selalu menjaga jarak karena hawa panas luar biasa yang di timbulkan, kecuali_"


"Sama-sama orang yang punya kekuatan tenaga dalam, mereka tidak akan merasakan panas yang berlebihan, jadi_, apa Tuan_?"


"Ck, aku seperti kalian, tidak ada tenaga dalam yang aku punya" Zafian terus bergerak maju, namun tidak merasakan hawa panas apapun, bahkan sekarang sedang menunggu Afita menyelesaikan apa yang dilakukan dan duduk santai berada didekatnya.


"Aneh" ucap salah satu pengawal khusus itu.


"Aku juga heran" sahut teman yang satunya.


Lalu keduanya segera pergi dari sana dengan raut wajah yang masih heran dengan fenomena yang terjadi dengan Zafian.


Afita membuka mata dan sangat terkejut, langsung menyimpan kembali kekuatannya dengan rasa heran dalam dirinya.


"Yang, kau tidak apa-apa?" Tanya Afita, sambil celingukan mencari pengawal yang disuruh untuk menjaganya.


"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Tanya Zafian yang juga merasa heran dengan pertanyaan istrinya.


Afita terdiam, melihat lekat suaminya dengan heran, "Zafian tidak merasakan hawa panas yang aku keluarkan, bagaimana mungkin, atau karena aku pernah memasukkan kekuatan Tanaga dalam penyembuhku dalam dirinya?, Tapi itu_" kalimat dalam benak Afita tidak diteruskan.


Ponsel Afita yang berada jauh di atas meja taman berbunyi. Segera Afita menghampirinya dan menerima panggilannya.


"Benarkah?, Mendadak seperti ini?" Tanya Afita.


Perbincangan berlangsung sedikit lama, Zafian menghampiri dan kini membuat sang istri duduk di pangkuannya, detik berikutnya Afita menutup kembali handphone yang ada di tangannya.


"Ada apa?" Tanya Zafian, sambil mengusap lembut punggung istrinya.


"Ada urusan ke luar kota, dan aku tidak mungkin meninggalkan Surabaya saat ini, masalah masih begitu rumit di sini yang, aku khawatir" jawab Afita.


"Apa tidak bisa di gantikan?" Tanya Zafian.


"Oh iya, sebaiknya Naura saja yang aku bisa percaya untuk berangkat ke sana"


"Hem" selanjutnya Zafian begitu menikmati bau harum tubuh Istrinya walaupun saat ini sedang berkeringat.


Afita segera beranjak dari pangkuan, sebelum tangan sang suami semakin bergerak membuat dirinya panas dingin di pagi hari, Zafian tersenyum penuh arti lalu menggandeng istrinya untuk kembali masuk ke dalam Mansion.


"Yang, jangan macam-macam!" Ucap Afita saat tiba dalam kamar dan melihat Zafian tergesa mengunci pintunya.


"Aku hanya ingin satu macam sayang!'


"Hentikan yang, aku belum mandi dan berkeringat!" Teriak Afita lagi.


"No, ini sangat se-ksi" sahut Zafian.


"Akh!" Jeritan Afita akhirnya terdengar, tidak kuasa lagi menolak apa yang di lakukan oleh sang suami.


Kini tubuh Afita mulai terguncang mengikuti gerakan Zafian yang sudah membuat pusakanya keluar masuk dalam miliknya, dengan posisi masih berdiri menghadap tembok, Afita merasakan sesuatu yang semakin nikmat hingga detik berikutnya keduanya saling berteriak melakukan pele-pasannya.


Pagi hari yang di awali dengan sesuatu yang panas, berakhir di guyur dengan air yang begitu segar, berangkat berangkat kerja bersama, dan kini Afita sudah sibuk dengan persiapan Naura.


"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" Tanya Afita.


"Oh ya Tuhan nona, aku harus berada di luar kota tiga hari?" tanya Naura yang merasa tak sip tapi tidak bis protes lagi.


"Sudah, jangan mengeluh, bersiap saja, dan segera aku antar ke Bandara" ucap Afita.


Naura pun tidak bisa berbuat apa-apa, lalu segera menyiapkan diri dan kini sudah melesat pergi diantar oleh Afita ke Bandara.


Sampai juga ditempat tujuan, sekitar 15 menit, akhirnya Naura kini sudah bisa terbang untuk menunaikan tugasnya, Afita segera keluar dari Bandara menuju ke tempat kerjanya lagi, Karena terlalu cepat berjalan tanpa sengaja menabrak seseorang hingga tubuhnya hampir saja oleng.


Burg


"Akh!" Ucap Afita dan langsung sebuah tangan menahan lengannya.


"Maaf" ucap Afita tanpa menoleh.


"Hati-hati Nona" terdengar suara laki-laki berucap.


Afita segera mendongak, melangkah mundur sejenak, lalu melepaskan lengannya dari pegangan laki-laki yang beda didepannya.


"Maaf" ucap Afita lagi.


"Oh, saya juga minta maaf" ucap laki-laki berkaca mata hitam dengan masker itu melepaskan tangannya, dan terpaku melihat sosok wanita cantik yang ada di depannya.


Segera Afita menundukkan pandangan, lalu pergi begitu saja, namun tidak dengan laki-laki itu yang terasa mimpi saat melihat tatapan mata seorang wanita yang begitu menembus relung hatinya.


"Cantik" ucapnya lirih.


Namun detik berikutnya, dia disadarkan dengan suara untuk melanjutkan kembali perjalanannya keluar dari Bandara.


Senin waktunya VOTE, VOTE, VOTE, jangan lupa ya.


Bersambung.