ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
169. Firman_Sarah 23



Afita dan Anita berbincang, lalu kemudian keduanya menidurkan Fian karena hari sudah hampir tengah malam.


Sementara itu ada tiga laki-laki yang kini juga asik dalam sebuah perbincangan.


"Kalian sudah mempunyai hubungan yang sah, aku tidak khawatir lagi saat Kalian sedang berdekatan kapanpun juga" ucap Zafian.


"Tentu saja, Apa itu artinya malam ini aku boleh menemani Naura?" Firman berharap.


"Kalau itu, tanyakan sendiri kepada Naura, aku melihat sepertinya dia masih sangat ketakutan denganmu" sahut Reno dengan senyum tipisnya.


"Ck, takut apa maksudmu?" Tanya Firman.


"Naura itu wanita yang sangat polos, Aku bisa membaca hal itu dari dulu, mungkin dia masih ketakutan dengan keganasan mu" jawab Reno.


"Jangan asal bicara, aku tidak seganas dirimu, dasar!" Jawab Firman.


Reno tertawa lumayan keras, sementara Zafian ikut tersenyum melihat pertikaian dua orang yang ada di depannya.


"Ini sudah malam, sebaiknya kita segera beristirahat, aku juga sangat merindukan istriku" ucap Zafian sengaja.


"Dan aku sepertinya mengalami hal yang sama denganmu Zaf, Aku pergi dulu!" Sahut Firman sambil mengerlingkan sebelah matanya ke Reno.


"Dasar kalian!" Ucap Reno keras, membuat Firman dan juga Zafian yang sudah beberapa langkah berjalan akhirnya tertawa.


*


*


Naura terkejut saat pintu kamarnya terbuka perlahan, dan dilihatnya ada Firman di sana.


"Kenapa ke sini?" Pertanyaan yang membuat Firman memutar matanya.


"Baru beberapa jam yang lalu kita ijab qobul, sekarang kamu sudah lupa kalau aku suamimu?" Jawab Firman yang sudah melangkah mendekati Naura.


"Tunggu-tunggu, maksudmu malam ini kita tidur bersama?" Tanya Naura dengan wajah yang bengong.


"Tentu saja, Apa gunanya kita menikah kalau aku harus tidur sendirian Hem?" jawab Firman.


"Oh my God, maksudnya kamu akan meminta hal itu sekarang juga?" Ucap Naura mulai panik.


"Hal itu apa?, Bisa kamu jelaskan lebih spesifik lagi?" Jawab Firman sengaja.


"Ck, kamu seorang dokter yang, tentu sangat paham dengan apa yang aku maksudkan, Jangan membuatku ketakutan" ucap Naura yang tentu saja membuat Firman seketika tertawa.


"Bukankah kata orang-orang melakukan hal itu sangat menyenangkan?" Tanya Firman yang kini semakin mendekati Naura.


"Iya, tapi banyak juga teman-temanku yang sudah menjalaninya mengatakan kalau itu sangat menyakitkan, Liana juga pernah menceritakan hal itu saat malam pertamanya" ucap Naura.


"Oh ya, Bagaimana kalau aku punya cara untuk membuat semua itu terasa lebih nyaman" Firman kini menarik pinggang Naura hingga jatuh dalam pelukannya.


"Tapi aku masih_, Emmh.." seketika Firman membungkam bibir Naura dengan ciuman yang lembut dan dalam.


Gerakan Firman berlanjut, ciumannya gini berubah menjadi begitu menuntut, bibir manis Naura yang membuatnya begitu candu tidak bisa menghentikan apa yang sudah dia lakukan.


Begitu juga dengan Naura yang sudah mulai bisa menerima lidah Firman yang kini menyusuri bagian dalam mulutnya dengan lembut.


Hijab yang dikenakan Naura akhirnya terlepas begitu saja, nampak rambut indah Naura semakin menyempurnakan paras cantiknya, hingga kemudian Naura dikejutkan dengan sebuah sentuhan yang kini berada di kedua aset berharganya.


Terasa aneh pada awalnya, namun Naura merasakan sensasi yang berbeda, tubuhnya begitu menerima dan terus menginginkannya, hingga saat tangan Firman semakin turun ke bawah, Naura seketika membelalakkan mata teringat akan sesuatu.


"Tunggu!" Ucap Naura.


"Kenapa?" Firman terkejut saat tangannya kini sudah digenggam erat oleh Naura.


"Aku sedang berhalangan hari ini" ucap Naura.


"Berhalangan?, Maksudnya?" Firman masih tidak mengerti.


"Siklus rutinku sayang, menstruasi"


"WHAT!" Firman langsung terkejut dan terlihat frustasi.


"Sorry.." ucap Naura lagi.


Firman memang merasakan kecewa, tapi dirinya bukanlah seseorang yang egois, dengan tetap tersenyum, Firman kembali ******* bibir Naura, lalu kemudian merapikan bajunya.


"Tidak apa-apa, aku juga tidak harus memintanya sekarang, kita nikmati saja kebersamaan kita" jawab Firman.


"Terima kasih atas pengertiannya sayang" jawab Naura yang ini sudah tersenyum lega.


"Ini sudah lewat tengah malam, kita segera beristirahat dan aku akan memelukmu sampai pagi, kamu tidak keberatan bukan?" tanya Firman.


*


*


Pagi hari menyapa dengan indah, Naura menyadari bahwa Firman sudah tidak ada di dekatnya, dan mengedarkan pandangan lalu menatap takjub seseorang yang tengah berdoa di akhir ibadahnya.


"Sangat tampan, terima kasih sudah menjadi suamiku" batin Naura yang masih menatap suaminya tak berkedip.


Firman mengusap wajahnya dengan Kedua telapak tangan di akhir doanya, merasa ada yang mengamatinya, dirinya segera menoleh dan ternyata wajah cantik itu sudah tersenyum begitu indah dan membuatnya segera berdiri untuk mendekati.


"Selamat pagi sayang"


CUP


"Pagi, terima kasih morning kiss-nya sayang" jawab Naura yang kini sudah tersenyum manja di pangkuan suaminya.


"Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit, banyak pasien yang sudah menunggu jadwalku kembali, maaf kalau nanti aku tinggal agak lama, mungkin aku akan pulang sore, kamu mau ikut?" Firman menawari.


"Tidak perlu sayang, bukankah aku masih harus banyak beristirahat, aku ingin kakiku segera sembuh karena aku sudah tidak sabar ingin bekerja kembali" jawab Naura.


"Hem, Baiklah, baik-baik di sini, kita masih ada waktu untuk berpelukan, setidaknya untuk menghangatkan tubuhku pagi ini" ucap Firman yang kini sudah berada di atas ranjang dan memeluk Naura dengan erat.


Tak lama kemudian, terik matahari sudah menyapa, Anita seperti biasanya sudah sibuk di dapur bersama dengan asisten rumah tangga, sementara Afita yang kelelahan masih belum nampak di sana, begitu juga dengan Naura yang rupanya tertidur kembali setelah mendapat pelukan hangat suaminya.


"Semuanya belum turun Bun?" Tanya seseorang yang mengejutkan Anita.


"Reno?, Mengejutkan saja, mereka semua sepertinya kelelahan" sahut Anita yang sudah tersenyum ke arah Reno.


"Hem, aku memakluminya" jawab Reno yang kini tak tahan lagi untuk mencicipi masakan Anita.


"Sepertinya kamu sudah lapar sekali?" Tanya Anita sambil tersenyum.


"Masakan Bunda selalu menggugah selera, Aku tidak tahan lagi dan rasanya ingin segera sarapan pagi" jawab Reno.


"Jangan berani melakukannya!" Seseorang yang rupanya Zafian sudah melangkahkan kaki mendekat.


Anita menoleh dan tertawa begitu juga dengan Reno yang hanya mengulas senyum lalu memeluk wanita dan mencium pipinya.


"Hei!, Kamu sengaja merampas perhatian Bunda!" Teriak Zafian.


Suasana di dapur seketika menjadi ramai, candaan Reno dan Zafian membuat Anita dan beberapa pelayan yang ada di sana ikut tertawa.


"Kenapa Om Reno tidak mengajakku tertawa bersama?" Suara anak kecil yang lucu terdengar dan membuat perhatian mereka semua teralihkan.


"Oh Pangeran tampanku, rupanya sudah terbangun, Bagaimana tidurmu tadi malam sayang, nyenyak?" Ucap Reno yang kini sudah menyambar tubuh Fian dan menggendongnya.


"Tentu saja Om, sekarang Fian lapar" ucap bocah kecil itu yang kini sudah turun dari gendongan Reno dan mendatangi sang Daddy untuk mencium pipinya.


Zafian tersenyum, kemudian memeluk erat anaknya, Fian tersenyum senang saat Anita menyiapkan susu hangat untuknya.


"Wah sudah ramai rupanya, apa Aunty tidak akan mendapat pelukan juga?" Suara Naura membuat Fian seketika menoleh setelah meminum susunya.


"Selamat pagi aunty" ucap Fian yang sudah tersenyum riang lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Naura.


"Apa Uncle juga boleh?" Ucap Firman yang rupanya sudah ada di belakang Naura.


"Tentu saja Uncle Firman" Fian berganti memeluk Firman.


Sementara Reno hanya menatap aneh Naura saat memperhatikan langkah Naura yang terlihat biasa saja.


"Jangan menatap istriku seperti itu, atau kau akan berurusan denganku" ucap Firman yang tentu saja membuat Reno seketika tertawa.


"Suami yang posesif" sahut Reno.


"Tentu saja, ada masalah?" jawab Firman.


"Tidak, hanya perlu kau tahu, Naura itu seperti adik kandungku, jadi kamu tidak perlu khawatir, dan sepertinya malah aku yang harus khawatir" ucap Reno membuat Firman mengerutkan kening.


"Apa yang kamu khawatirkan?"


"Sepertinya kamu belum berhasil menembus gawang Naura?" Bisik Reno di telinga Firman.


"Oh Sh-itt!, Dasar otak mu!" Jawab Firman dengan sorot mata memperingatkan.


Reno tertawa kembali, sementara Naura menatap aneh dua orang yang sedang berinteraksi, sedangkan Zafian hanya menggelengkan kepala karena tahu pasti apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya.


"Jaga ucapan kalian, di sini ada Fian" Zafian memperingatkan.


"Jangan khawatir, kita aman" jawab Reno yang masih terkekeh di sebelah Firman.