ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 57



Afita sangat terkejut saat tubuhnya tertarik disebuah tempat yang tersembunyi, tentu saja reflek perlindungan dirinyapun muncul.


Dag.


"Awh, yang!, Ini aku!" Ucap lirih suara seorang laki-laki yang kesakitan karena menangkis pukulan Afita yang cukup keras.


"Yang, kamu _" terkejut Afita melihat bahwa itu adalah suaminya.


"Iya, sstt" sahut Zafian.


Keduanya kini terdiam mengamati kembali, dan benar saja, Bimo Trihatmodjo kini sedang berdiam diri di depan pintu kamar hotel menunggu Cintia membukanya.


Tak lama kemudian terlihat Bimo tersenyum senang dan masuk ke dalam kamar.


"Mereka benar-benar menji-jikkan" gumam Zafian.


"Kita mendekat?" Tanya Afita.


"Hem" Zafian meng iyakan, lalu keduanya perlahan keluar dari tempat persembunyian.


Keduanya hampir sampai di pintu yang di tuju, namun tiba-tiba saja ada empat orang pengawal Bimo muncul begitu saja, sontak Zafian langsung menarik kembali Afita untuk sembunyi di pintu darurat yang kebetulan tempat terdekat.


"Hampir saja!" Ucap lirih Afita.


"Hem, sepertinya mereka di jaga" ucap lirih Zafian.


Keduanya terdiam beberapa detik, Zafian tersenyum senang saat baru saja menyadari posisinya yang menempel begitu menguntungkan.


Cup.


"Yang!" Teriak Afita terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Bibirmu terlalu menggoda" ucap Zafian, sedangkan Afita tidak bisa berbuat apapun karena ruangan itu memang sangat sempit.


"Jangan aneh-aneh, agak mundur yang" ucap Afita protes.


Bukannya menuruti apa yang diinginkan, justru Zafian menempelkan bibirnya kembali dengan sedikit memaksa lidahnya menerobos masuk ke dalam sana.


Afita memberontak pada awalnya, namun beberapa detik kemudian tidak mampu menolak kenik-matan yang di berikan suaminya.


Zafian sendiri berpikir, tidak mungkin untuk saat ini bertindak mendekati Cintia, selain ada penjaga, dirinya tidak ingin gagal lagi menangkap basah kelakuan sekretarisnya, hingga lebih baik memanfaatkan momen bersama istrinya.


Ceklek


Tangan Zafian sudah mengamankan pintu dengan menutupnya rapat, Afita terkejut dan tidak menyangka suaminya akan se mes-um ini, bahkan di tempat yang asing.


"Ingin sensasi baru, hem?" ucap Zafian sambil mengamati istrinya yang sudah men-de-sah tidak karuan karena usapan tangannya yang sudah mere-mas di beberapa titik sensitifnya.


"Hen ti kan, yang.., emh.." ucap Afita yang ingin menolak tapi tak mampu menghentikan Zafian.


Zafian tersenyum, melu-mat kembali bibir ranum istrinya yang selalu menggoda, menyibak bawahan Afita perlahan, lalu mendapati bagian yang sudah basah seakan siap untuk di tempati.


"Yang, jangan, oh.." ucap lirih Afita saat sentuhan lembut tangan suaminya berada di bawah sana.


"Nikmati sensasinya yang" ucap Zafian lirih tepat ditelinga sang istri.


"Oh my God, di sini?" Tanya Afita di tengah desa-han nya.


"Yes baby"


Lalu kemudian, Zafian memasukkan miliknya perlahan dengan membalikkan tubuh istrinya terlebih dahulu.


"Akh!, Yang!" Afita terpekik. Sensasi yang pertama kali di rasakan membuatnya terkejut.


"Sstt.." kode Zafian.


Menarik pinggul istrinya sedikit merendahkan tubuh, hingga miliknya kini bisa masuk dengan sempurna.


"Sshh, yang.." Afita mende-sis.


Zafian segera menggerakkan tubuhnya perlahan, membuat pemandangan indah disana, dimana miliknya mulai aktif keluar masuk membuat sang pemilik sedikit merin-tih di awal, lalu menikmatinya.


Hampir setengah jam mereka menikmati semuanya, hingga pada akhirnya Zafian benar-benar menumpahkan benihnya tanpa sisa.


"Yang, kau gila!" Ucap Afita dengan posisi masih tetap berdiri dengan pelukan Zafian dari belakang.


Zafian terkekeh, pengalaman pertama di tengah pengintainya yang mendebarkan.


"Bagaimana rasanya hem?" Tanya Zafian lirih sambil menggigit telinga sang istri.


"Yang, hentikan!" Teriak Afita berusaha menghindar.


Kembali Zafian tertawa, lalu segera merapikan baju bagian bawahnya, begitu juga dengan Afita yang kini sudah mengatur nafasnya kembali.


Zafian tersenyum menatap istrinya yang tengah sibuk merapikan bajunya, lalu mencium kening dan kembali membuka pintu perlahan melihat situasi di luar.


"Aman?" Tanya Afita.


"Mereka sudah tidak ada, kita mendekat" ucap Zafian.


"Okey, Akh...!" Ucap Afita meringis saat melangkah.


"Sakit yang?" Tanya Zafian langsung mendekat kembali.


"Ish, ini gara-gara kamu yang, milikku sedikit nyeri" ucap Afita merengut kesal karena tidak bisa bebas bergerak.


"Sorry, hehe" sahut Zafian.


"Biar aku yang mengetuk pintunya" ucap Afita, dan tentu saja Zafian segera bersiap di sampingnya.


Pintu terbuka dan Afita langsung menerobos masuk begitu saja, Zafian segera mengikuti dan menutup pintu dengan cepat.


"Kalian!" Teriak Bimo sangat terkejut.


Sementara Cintia langsung di buat terduduk di sofa terdekat dengan paksa.


Tidak terima dengan yang dilakukan, Bimo yang tengah dalam keadaan polos segera menyahut bathrobe di sampingnya dan menyerang Zafian.


Zafian terkejut, tapi kekuatan Bimo memang dari awal tak sebanding dengannya, hingga dengan mudah Zafian membuat Bimo tak berdaya.


"Lepaskan aku, bre-ng-sek!" Teriak Bimo meronta di bawah pijakan kaki Zafian.


Sementara itu Cintia sudah berkeringat dingin ketakutan.


"Jangan berani bergerak, atau aku bukan hanya membuatmu duduk, tapi juga tidak bisa berdiri lagi" ancam Afita.


Melangkahkan kaki, Afita mendekati meja, dan benar seperti yang di duganya, bahwa ada berkas umpan yang di berikan oleh Zafian, itu artinya Cintia sudah berkhianat dari perusahaan.


"Dasar wanita tidak tau diri" ucap Afita lirih.


"Tidak Pak Zafian, saya tidak sengaja melakukan itu, saya khilaf pak!" Teriak Cintia masih membela diri.


"Diam, kau benar-benar kurang ajar Cintia!" Ucap Zafian begitu marah akan pengkhianatan yang dilakukan Sekretarisnya.


"Katakan padaku, apa kau juga yang memberikan berkas-berkas penting hotel itu?" Tanya Afita dengan tatapan tajamnya ke Cintia.


"Sa_, saya, tidak, tidak Nona Afita" ucap Cintia terbata.


"Katakan jujur saja Cintia, keluar dari perusahan Zafian dan ikutlah dengan ku!" Sahut Bimo dengan congkak.


Cintia terdiam, masih berpikir keras akan apa yang harus diputuskannya.


"Oh ya, kau pikir bisa dengan mudah melakukan semua itu, tidak akan aku biarkan" sahut Afita yang sudah tersenyum penuh misteri.


"Hahaha.. Apapun yang kamu lakukan tidak akan merubah keadaan, karena berkas-berkas itu sudah kembali padaku, kalian tidak akan bisa berbuat apapun!" Teriak Bimo dengan tawa puasnya.


"Diam, kau benar-benar Ba-ji-ngan, dan aku tidak menyangka sama sekali kalau kau berani mengkhianati ku Cintia" ucap Zafian.


"Saya melakukannya karena tuan Bimo lebih melihat ku dari pada anda Tuan Zafian" ucap Cintia dengan nada ketakutan.


"Apa maksud mu?" Tanya Zafian tidak mengerti.


"Tuan Bimo menghargai saya, sedangkan anda, maaf_, anda tidak pernah menghargai saya sama sekali"


"Apa kau bilang?, jadi apa yang dilakukan Bimo sekarang ini kau anggap menghargai mu, apa kau tidak sadar, Ba-ji-ngan ini justru telah merusak mu!" Terik Zafian makin emosi.


"Cukup!, Aku rasa, tidak ada gunanya sama sekali kamu mempertahankan wanita ini di perusahaan sayang, pecat saja, aku lebih suka kamu melakukan hal itu sebelum menimbulkan kerusakan yang parah di perusahaan mu" sahut Afita yang semakin geram.


"Apa yang anda lakukan nona Afita?!" Teriak Cintia terkejut di saat melihat Afita mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang.


Dan tak lama kemudian, di balik pintu hotel terdengar suara kegaduhan, sontak Bimo Trihatmodjo mulai panik, berpikir bahwa Afita dan Zafian telah melakukan sesuatu.


Zafian tersenyum miring, melepaskan Bimo dan menyambar tangan sang istri untuk segera membuka pintu kamar hotel.


"Surprise!" Ucap Zafian dengan nada yang begitu dingin.


Pintu pun terbuka, keduanya berjalan keluar dan membiarkan para wartawan masuk ke kamar hotel begitu saja.


Sementara terjadi keributan didalam sana, Zafian dan Afita melangkah pergi dengan senyuman.


"Rasanya puas sekali" ucap Afita.


"Hem, mereka pantas mendapatkannya" sahut Zafian.


"Sebentar lagi Berita akan tersebar" ucap Afita.


"Aku sungguh tidak perduli lagi"


"Bahkan dengan pasangan sah Bimo Trihatmodjo?" Tanya Afita dengan senyuman.


"Tentu saja, wanita itu hanya masa laluku sayang" jawab Zafian.


"Oh ya, syukurlah"


"Apa kau cemburu?" Tanya Zafian.


"Emm, tergantung" sahut Afita.


"Sepertinya aku akan menambah jatah lagi dari rumah"


"Jangan harap, aku saja masih merasakan tidak nyaman setelah apa yang kamu lakukan tadi yang" Afita memperingatkan.


"Tapi aku tadi mendengar jeri-tan kenikmatan dari mu yang" sahut Zafian terkekeh.


"Dasar, tidak tau tempat" ucap Afita.


Zafian makin terkekeh, lalu kemudian merangkul sang istri, berjalan berdampingan menuju ke mobil Zafian yang sudah terparkir.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.