ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
154. Firman_Naura 8



Waktu terus berjalan, di sebuah perusahaan sedang bingung untuk memulai Rapat penting karena semua bahan untuk presentasi ada pada Naura yang tak kunjung tiba.


Sang wakil direktur tak mau mengambil langkah yang salah, segera melaporkan ke atasan yang berada di luar negeri, dan tentu saja Farah sangat terkejut lalu segera menghubungi Firman untuk minta bantuan.


"Ada apa Mom, aku baru saja istirahat" jawab Firman yang baru saja sampai di Apartemen miliknya.


"Tolong Mommy, ada keadaan gawat, dan Naura tidak bisa di hubungi sama sekali" Ucap Farah.


"Apa?!"


Firman yang baru saja merebahkan tubuhnya segera bangkit kembali dan duduk dengan wajah serius mendengarkan penjelasan Mommy nya.


Firman segera beranjak dan menekan tombol yang lain untuk menghubungi seseorang.


"Apa?!, Jawab seseorang yang berada dalam sambungan ponselnya.


"Iya Zaf, mangkanya aku bertanya padamu, apa Naura sudah berangkat kerja?"


"Sudah, malah pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan Mansion pamit bekerja karena ada meeting kolega penting" jawab Zafian.


"Oh God, lalu di mana Naura, handphonenya tidak bisa di hubungi sama sekali" ucap Firman begitu panik dan terpaksa akhirnya memutuskan sambungan lalu pergi ke perusahaan Farah untuk melihat keadaan.


Bukan hanya Zafian, berakhir dengan Afita juga yang nampak bingung, lalu segera memberikan perintah ke beberapa pengawal untuk mencarinya.


*


*


Naura nampak begitu cemas, bukan tentang keadaan dirinya saat ini, namun pekerjaan penting yang sudah menanti membuatnya resah saat berada dalam perawatan.


"Apa Jahitan saya terasa sakit Nona?" Tanya dokter wanita yang tengah menjahit luka di kaki Naura.


"Oh, tidak dokter, apa sudah selesai?" Tanya Naura.


"Sudah, perlu saya ingatkan, sebaiknya Nona Naura melakukan rawat inap dulu, darah yang keluar dari luka anda tadi begitu banyak, jadi anda butuh istirahat yang cukup"


"Tidak apa-apa dokter, biar saya istirahat di Rumah saja, saya merasa sudah baikan sekarang" Naura tetap mempertahankan keinginannya untuk Rawat Jalan.


"Baiklah, beristirahatlah dengan baik, mungkin saat ini luka jahitan tidak akan terasa, tapi saat anastesi nya habis, anda akan merasakan sakit, untuk menguranginya, Nona Naura bisa segera minum obatnya, jangan lupa ya?" Sang dokter memberikan penjelasan sebelum akhirnya Naura segera memesan Taksi online dan pergi.


Ada sedikit bercak darah di celana panjangnya, beruntung warna celana hitamnya membuat samar dan tak begitu nampak, bagi Naura saat ini adalah dirinya segera berada di perusahaan untuk ikut dalam meeting penting dengan perusahaan asing.


Naura mengingat sesuatu, lalu segera merogoh benda pipih itu yang sebelum berangkat dimatikan dahulu agar perjalanan tak terganggu, dirinya terkejut saat melihat banyaknya jejak panggilan dan juga pesan yang masuk.


Satu persatu orang-orang yang mencarinya di beritahu, tentu saja yang pertama adalah Afita yang kini sudah merasa lega, begitu juga dengan Zafian.


"Naura baru saja menelpon, ada kerusakan di mobilnya dan dia terpaksa kehabisan waktu, sekarang dia sedang menuju ke Perusahaan" ucap Zafian memberitahukan ke Firman tentang kabar Naura.


"Hem, thanks Zaf, aku akan menunggu dia datang dan memastikan masalah di perusahaan Mommy ter atasi" Jawab Firman sedikit lega dengan kabar yang di berikan.


"Harusnya dia bisa berpikir cerdas, bisa kan memakai taksi online agar tak sampai terlambat seperti ini, menyusahkan saja" batin Firman yang sengaja menunggu di ruangan Naura.


Naura segera masuk dengan terburu-buru, Naura tau bahwa dirinya jelas terlambat dan membuat banyak orang di perusahaan cemas.


Rasa nyeri di kakinya kini sedikit mulai terasa, terus melangkah Naura seolah tak peduli, hingga diapun sedikit terpincang dan sesekali meringis dalam langkahnya.


"Bu Naura, anda tidak apa-apa?" Tanya salah satu pegawainya yang datang menjemput Naura.


"Aku baik-baik saja, bagaimana meeting nya?" Tanya Naura dengan wajah pucat tak seperti biasanya, bahkan keringat di wajah beberapa kali di usapnya.


"Tenang Bu, anda memang terlambat, tapi susunan acara sudah kita rubah, jadi Bu Naura akan berada di jadwal akhir untuk menyampaikan rencana kerjanya"


"Oh God syukurlah, terimakasih" ucap Naura yang tiba-tiba saja merasa pusing dan hampir terhuyung.


"Bu!, Anda tidak apa-apa?, Anda nampak pucat dan kurang sehat" beruntung pegawai itu segera sigap membantu Naura untuk berdiri dengan benar kembali.


"A aku tidak apa-apa, antar saja aku ke ruangan meeting, kepalaku sedikit pusing" ucap Naura yang kini berjalan didampingi salah satu pegawai.


Tiba di ruangan meeting Naura mengucap salam dan memohon maaf, lalu duduk sebentar untuk minum dan menguatkan tubuhnya yang seolah tidak mau kompromi.


Hingga di akhir meeting yang berjalan dengan baik dan sesuai yang diinginkan, wakil direktur merasa puas akan apa yang dilakukan oleh Naura.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar" ucap lirih Naura yang memijit kepalanya sejenak sebelum akhirnya berdiri dan melangkah ke ruangannya untuk beristirahat.


Ceklek.


Naura sangat terkejut melihat sosok yang kini tengah duduk di Sofa ruang kerjanya sambil memainkan handphone di tangannya.


"Dokter Firman?" Ucap Naura menyapa.


"Hem, sudah datang rupanya, kau dari mana saja, jangan menghilang tanpa kabar apapun ditengah hal penting yang harus kamu lakukan, Mommy sampai menghubungiku karena cemas akan keadaan mu" sahut Firman.


"Iya maaf Dokter, saya sudah menghubungi Ibu Farah dan meminta maaf akan hal ini"


"Baguslah, bersikaplah Profesional saat bekerja, menyusahkan saja" sahut Firman yang merasa kesal karena berjam-jam tadi di buat begitu cemas, namun tak tau harus berbuat apa.


"Iya, maaf" ucap Naura yang merasa bersalah dan juga merasakan tubuhnya semakin tak kuat lagi.


Melihat ada sesuatu yang lain dengan Naura, Firman berjalan mendekati.


"Apa kau baik-baik saja, wajahmu terlihat pucat" ucap Firman, dan membuat Naura sedikit mundur dengan memegang tembok yang ada di dekatnya.


"A aku baik-baik saja, sungguh, tidak apa-apa" jawab Naura yang kini menguatkan diri untuk mendongak dan berusaha tersenyum di tengah rasa nyeri yang semakin menjadi.


"Benarkah?, Kenapa wajahmu begitu berkeringat?" Ucap Firman sedikit menelisik karena dia mengenal betul ketidak beresan tubuh saat terjadi sesuatu.


"Oh ini, mungkin aku tadi berlarian sampai disini, karena tidak ingin sampai telat di meeting penting itu" jawab Naura masih berusaha menutupi.


"Baiklah kalau begitu, aku rasa tak perlu lagi aku mencemaskan mu, kau juga seperti tak membutuhkan hal itu dariku, selamat bekerja, aku pergi dulu" ucap Firman lalu segera pergi dari ruangan kerja Naura.


Naura bernafas lega, dengan berjalan tertatih menuju ke kursi kerjanya untuk mengistirahatkan tubuh, lukanya semakin nyeri dan kepalanya juga bertambah pusing, tubuhnya bahkan seperti orang yang tiba-tiba kehilangan tenaga.


"Oh my God, kenapa air putihku di letakkan begitu jauh" gumam Naura yang kini harus berdiri mengambil air untuk meminum obatnya.


Gelas itu sudah di tangannya, saat Naura hampir meminumnya, tiba-tiba saja pintu terbuka dan membuatnya sangat terkejut karena Firman ada di sana.


PYAR


Gelas itupun berakhir lepas dari tangan Naura, jatuh pecah berantakan dimana-mana.


"Awas!!" Teriak Firman segera berlari dan menarik tangan Naura, bahkan tanpa sadar kini Naura berada dalam pelukannya.


"Banyak pecahan kaca!" Ucap Firman sedikit keras saat Naura berusaha mendorongnya untuk mengatur jarak.


"Maaf, aku tak sengaja menjatuhkannya" jawab Naura lirih, karena merasa tubuhnya tiba-tiba saja semakin lemas.


"Aku yang minta maaf, sudah membuatmu terkejut, aku hanya mau mengambil handphone ku yang tertinggal" Firman memberikan penjelasan, namun merasa aneh saat Naura kini menempelkan kembali kepalanya ke dada bidangnya dan terdiam.


"Naura?" Panggil Firman ketika merasakan Naura semakin memeluknya.


"Maaf, aku tak kuat lagi" suara Naura begitu lirih.


"Are you okey?" Tanya Firman mulai khawatir.


Firman melihat ke bawah, nampak tak ada respon apapun dari Naura, dan yang paling mengejutkan saat dia mengamati celana bagian kanan kaki Naura yang nampak rembesan darah disana.


"NAURA!!" Teriak Firman.


Jangan lupa memberi HADIAH,VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Mampir juga di Novel Author tentang si kembar tiga di THE TRIPLETS.


Yuk bergabung di Channel YouTube: Sinho Novel/Sinho Channel untuk melihat cerita lebih seru.


Bersambung.