
Naura membuka matanya, ketika merasakan tubuhnya sedikit tak enak karena posisi tidur yang tak biasa, setelah menangis beberapa saat, Naura tertidur sendiri hingga sekarang terbangun dan terkejut mendapati seseorang sudah menatapnya.
"Selamat Siang" ucap Pria tampan nan rupawan yang sempat membuatnya sakit hati tadi pagi.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Naura dengan wajah lelah dan suara serak, khas orang yang habis menangis.
"Jam satu siang, dan waktunya untuk makan" jawab Firman.
"My God, aku tertidur cukup lama rupanya" ucap Naura.
"Hem, kamu kelelahan, ayo aku bantu ke kamar mandi, setelah itu aku akan mengganti perban di lukamu" ucap Firman.
"Iya" jawab Naura yang kini segera beranjak dan di papah oleh Firman disampingnya.
Firman mengantar kan Naura sampai ke kamar mandi, lalu kembali duduk di sofa yang tak jauh dari sana, sejenak melihat tissue yang bertebaran di lantai, lalu perlahan Firman memungutnya dan di masukkan ke dalam tempat sampah.
"Jadi dia tadi menangis?" Tanya firman dalam hati.
Firman merapikan tempat tidurnya dan berapa barang yang terlihat kurang rapi, Naura tidak mungkin sempat membersihkannya karena kondisi dan juga tadi yang tertidur setelah kelelahan.
Beberapa menit kemudian, Naura sudah nampak keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrob milik Firman yang dipinjamkan.
"Itu Bathrob yang kemaren aku kasih, ambilah yang baru lagi, ada banyak di lemari" ucap Firman.
"Tidak usah, ini juga masih bersih, hanya terkena air untuk mandi saja, tidak lebih" jawab Naura yang sesungguhnya menyukai bathrob yang pernah dipakai Firman dan meninggalkan harum bau tubuhnya.
"Duduklah disini, biar aku merawat lukanya lebih nyaman" ucap Firman.
Naura duduk disamping Firman yang kini mulai mengangkat kakinya untuk diletakkan di atas pangkuannya.
"Apa tidak bisa kakiku di letakkan diatas sofa saja?" Tanya Naura.
"Tidak bisa, aku kurang nyaman merawatnya" jawab Firman dan membuat Naura terdiam.
Perlahan Firman menyingkap bawahan yang menutupi kaki kanan Naura, lalu segera membuka bekas dari luka itu dan kini sudah memeriksa keadaan luka jahitannya.
"Bisa tidak jangan terlalu ke atas membuka bawahanku?" Tanya Naura.
"Ck, nanti juga semua akan terbuka" jawaban yang membuat mata Naura melebar seketika.
"Maksud dokter apa?" Tanya Naura lagi.
"Tidak usah di bahas sekarang, itu ranah masa depan" ucap Firman lagi.
"Ck, aku semakin tidak mengerti maksud dokter" jawab Naura kesal.
Firman kini hanya terdiam, mengamati dengan teliti dan mengobati dengan hati-hati.
"Apa masih sakit?" Tanya Firman saat melihat Naura sedikit meringis.
"Hem, tapi nyerinya sudah tidak seberapa walau masih ada" jawab Naura dan tidak sengaja tertegun akan wajah tampan dokter Firman.
Firman membalas tatapan mata Naura tanpa di duga, seketika Naura memalingkan muka untuk menghindari.
Firman tersenyum tipis, lalu perlahan membuka perban yang ada sebagian menempel cukup susah untuk di lepas.
"Sakit?" Tanya Firman saat menarik perban itu agar terlepas.
"Sedikit, aku bisa menahannya" jawab Naura.
Firman sekali lagi menatap mata indah Naura, membuat mata wanita itu mengerjap beberapa kali, hingga kemudian salah tingkah karena jarak wajahnya yang begitu dekat.
"Jangan terlalu sering berjalan dengan kaki dulu, gunakan saja kursi roda yang aku berikan, biarkan luka di kakimu ini benar-benar sembuh" Firman menjelaskan agar Naura mudah paham.
"Baik, walaupun itu terlalu sulit bagiku yang sudah terbiasa kesana kemari sendiri" jawab Naura.
Setelah kurang lebih setengah jam, perawatan luka itu selesai, Firman membereskan peralatannya, lalu duduk kembali di samping Naura.
"Kira-kira, kapan aku di perbolehkan pulang?" Tanya Naura lagi.
"Oh syukurlah"
Lalu kemudian sebuah pesan masuk di ponsel Firman, segera diangkat dan ternyata panggilan dari Dokter Ana.
"Aku akan mengangkat panggilan dari Ana dulu, sepertinya ada hal penting" Firman meminta ijin.
Mendengar nama Ana di sebut, entah kenapa hati Naura menjadi tak nyaman, sementara Firman berjalan keluar kamar sambil menempelkan ponsel di telinganya dan membawa kotak peralatan pengobatan yang selesai di gunakan.
"Heh, aku tak harus sakit hati begini, mereka memang sangat cocok" batin Naura yang kini merebahkan tubuhnya kembali.
Tak lama firman datang kembali, seketika itu juga kesempatan Naura untuk berbicara.
"Nanti aku bisa pulang sendiri" ucap Naura memberitahu.
"Aku tidak mengijinkan, aku pastikan aku sendiri yang akan mengantarmu pulang" jawab Firman seolah tak peduli perkataan Naura.
"Ayo kita pergi makan, siang ini kita makan dirumah, dan tidak usah pergi kemanapun" ucap Firman.
Firman mengulurkan tangan untuk membantu Naura berdiri karena terlihat masih susah untuk berdiri, namun Naura tak menyambutnya, lalu berdiri sendiri dan keluar dari kamar dengan menggunakan kursi rodanya meninggalkan Firman tanpa berkata apapun lagi.
Firman mengikutinya dari belakang, keluar kamar menuju ke ruang makan, kemudian keduanya kini sudah sama-sama duduk di meja makan.
Beberapa asisten rumah tangga datang menyapa dan menyiapkan menu makanan yang sudah di masaknya.
"Terimakasih" ucap Naura dengan senyumannya.
Sebelum sempat berdoa, terdengar bel Apartemen berbunyi, firman dan Naura saling pandang.
"kamu janjian dengan seseorang?" tanya Firman.
"enggak, mungkin tamu dokter sendiri kali" jawab Naura.
lalu Firman segera beranjak dan membuka pintunya.
Firman terkejut mendapati ketiga teman Naura yang dulu pernah dilihatnya.
"Siang Dokter firman?" Ucap teman wanita Naura yang bernama Liana, sedangkan Leon dan Mark hanya mengangguk memberi hormat.
"Siang, ada apa kalian kemari?" Tanya Firman.
"Mencari Naura tentu saja, kami tau kabar tentang Naura dari Nona Kirana" jawab Liana.
Tidak ada lagi cara Firman menolak kedatangan mereka tanpa alasan yang jelas, hingga kemudian mereka bertiga segera ikut bergabung di meja makan untuk menikmati hidangan.
Leon dan Mark Memberikan senyuman di saat melihat Naura sudah berdiri menyambutnya.
"Kalian datang?" Ucap Naura begitu nampak senang.
"Tentu saja, maaf, baru bisa kesini sekarang, karena aku juga baru mendapat kabar dari salah satu pegawai di tempatmu bekerja" ucap Leon.
"Kau keterlaluan Naura, kenapa tidak mengabari kami" sahut Mark.
"Untung saja Nona Kirana mengatakan keberadaan mu, kami bertiga semalaman memikirkan mu" ucap Liana tak kalah protes.
"Ehem!" Suara Firman membuat keadaan tenang kembali.
"Kita mulai makan siangnya, dan maaf, bisakah kalian berdua bertukar tempat?, Kursi kalian ada di sini" ucap Firman segera berdiri sambil menatap leon dan Mark.
Naura dan Liana hanya saling menatap, sikap konyol Firman yang berebut tempat duduk dengan kedua sahabat laki-lakinya membuat Liana dan Naura menahan tawa.
"Ikuti saja" bisik Liana di samping Mark.
"Seandainya ini rumahku, akan aku buat dokter Firman makan di luar saja, mengganggu!" Lirih suara Mark yang nampak kesal.
Begitu juga Leon, hanya menghela nafas, saat dirinya kini duduk jauh di depan Naura.
Sementara Firman sudah tersenyum senang, kini memimpin doa sebelum semuanya akhirnya makan siang dengan tenang.