ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
179. Firman_Naura 32



Firman di sambut oleh Ana dengan wajah panik.


"Maaf, aku menganggu mu, tapi pasien dengan indikasi untuk di operasi melebihi dugaanku, jadi tenaga kita kurang, dan keadaan ini darurat" ucap Ana sambil berjalan cepat disamping Firman.


"Tidak apa-apa, sudah tugasku dengan keadaan emergency seperti ini, apa sudah dipersiapkan semuanya?" Tanya Firman yang kini sudah memasuki Ruang Operasi.


Ana mengangguk, lalu dengan cepat ikut menyiapkan diri, namun sesuatu tiba-tiba terjadi, dimana Firman tanpa sengaja menjatuhkan alat medis yang tak jauh dari dirinya.


Semua orang di sana nampak terkejut, begitu juga dengan Firman yang merasakan hatinya begitu tidak nyaman, seketika itu juga Firman teringat akan Naura.


"Maaf_" ucap Firman kepada seluruh tim operasi yang seketika menatapnya.


"Tidak apa-apa dokter, masih ada satu set peralatan yang sudah kita siapkan sebagai pengganti" ucap salah satu perawat, kemudian segera membereskan semua alat, dan menggantikan dengan yang baru.


"Terima kasih, sekali lagi aku minta maaf" udah Firman merasa bersalah.


Ana mendekat, memberikan kode agar Firman segera bersiap, tak lama kemudian semua tim sudah menuju ke kamar operasi.


"Kenapa Aku merasa sangat khawatir dengan keadaan Naura, my God, semoga semuanya baik-baik saja dan ini hanya perasaan sementara" badan Firman sambil terus melangkah.


*


*


Sementara itu, Naura terbangun dan melihat sekeliling dengan rasa terkejut.


"Di mana aku?" Ucap Naura lirih, sambil melihat sekeliling.


Seketika itu juga Naura sedikit demi sedikit mengingat kejadian yang sudah menimpanya beberapa waktu yang lalu, tentu saja itu membuat dirinya kini sangat panik dan takut.


Naura segera bangkit dengan tubuh yang terhuyung menahan pusing di kepalanya, berjalan tertatih menuju pintu dan berusaha untuk membukanya.


"Tolong!, Buka pintunya!" Teriak Naura berharap ada seseorang yang membantunya.


Tidak ada yang terjadi, serasa apa yang dilakukan oleh Naura percuma saja, hingga Naura merasa lemas sendiri setelah berteriak beberapa kali.


Baru saja Naura duduk kembali di tempat tidur yang berada di ruang itu, dirinya dikejutkan dengan sebuah langkah yang terdengar mendekati pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka, kemudian terlihat sosok laki-laki yang membuat Naura begitu terkejut melihatnya.


"Kau?" Ucap Naura.


"Bagaimana kabarmu, syukurlah kau sudah tersadar tanpa aku harus menyiram tubuh dengan air"


"Kau benar-benar keterlaluan, belum cukupkah apa yang sudah kau lakukan dulu!" Teriak Naura dengan rasa takut dan juga kebencian.


"Tentu saja itu tidak cukup, satu hal lagi yang harus kamu selesaikan, dan sesuai janjiku, setelah itu kita tidak akan saling bersinggungan, kamu tau apa maksud ku bukan?" Ucap Dimas dengan senyum liciknya.


"Aku tidak akan mau melakukannya, kali ini kau yang harus menerima kekalahan mu, almarhum kakek tidak akan kecewa lagi padaku" jawab Naura dengan tegas, walaupun dengan suara yang bergetar.


"Benarkah?" Sahut Dimas berjalan mendekati Naura dengan sorot mata yang sangat mengerikan.


"Apa yang kamu lakukan, jangan berani mendekat!" Naura segera mundur melihat Apa yang dilakukan oleh Dimas.


Dimas mengeluarkan berkas kemudian menaruhnya di atas meja di dekat Naura.


"Tanda tangan di surat pengalihan wasiat ini, dan aku akan mengembalikan mu tanpa harus menyakitimu" ucap Dimas.


"Aku tidak akan melakukan hal itu!" Jawab Naura tegas.


"Kalau begitu, jangan salahkan aku!" Ucap Dimas dengan cepat mendekati Naura dan menamparnya dengan keras.


Naura terkejut dan tidak sempat menghindar, akan bertahan pun dirasa percuma, karena tenaga Dimas lebih kuat saat tangannya dengan cepat menyentuh wajahnya dan membuat dirinya terpelanting di atas tempat tidur.


"Bagaimana rasanya ha!, Apa aku perlu mengingatkan kembali apa yang sudah aku lakukan dulu padamu dan juga ibumu?!" Dimas berkata dengan keras.


Ditengah panasnya wajah yang dirasakan, Naura semakin membulatkan tekad, untuk kali ini dirinya tidak akan menyerah dan mengikuti keinginan Dimas begitu saja.


"Sudah cukup kau dulu menindasku dan membuatku tidak bisa melakukan apa-apa, kali ini aku tidak akan pernah menyerah padamu lagi!" Jawab Naura yang sudah bangkit dan menatap Dimas.


"Kau!"


"Jangan berani menyentuh ku!" Teriak Naura yang tentu saja mengejutkan Dimas yang hendak kembali menamparnya.


"Semakin Kau menyiksaku, Aku jamin semua rencanamu tidak akan pernah berhasil, dan disaat suamiku dan keluargaku menemukan tempat ini, aku pastikan, tamatlah riwayatmu!" Kini Naura begitu berani memberikan ancaman dan membuat Dimas sangat terkejut.


"Apa?, Berani kau mengancamku!" Ucap Dimas yang siap melayangkan pukulannya kembali.


"Maaf Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan!" Apa yang mau di lakukan Dimas terhenti saat anak buahnya berada di ambang pintu.


"Maaf Tuhan, informasi penting yang harus saya sampaikan, terkait dengan Nona Naura"


"Katakan dan jangan berbelit-belit, kau sudah membuang waktuku" sahut Dimas dengan kesal.


"Nona Naura masuk dalam salah satu anggota keluarga Tuan Zafian Al Faradz, pengusaha muda dan milyarder di negara ini"


DEG


"Apa?!" Ucap Dimas begitu terkejut dengan apa yang dikatakan anak buahnya.


Dimas segera mundur dan berjalan mendekati anak buahnya.


PLAK.


"Kenapa informasi sepenting ini baru saja kau sampai ha!, Dasar tidak becus!" Teriak Dimas.


"Maaf Tuan, tapi ada lagi yang harus sampaikan dan ini_"


"DIAM!" sahut Dimas dengan amarahnya.


"Ikut aku!" Bentak Dimas lalu menoleh ke arah Naura yang kini menatapnya.


"Urusanku dengan mu belum selesai, jangan senang dulu Wanita sia-lan!" Ucap Dimas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.


Seketika Naura bisa bernafas dengan lega, nafas yang dari tadi terasa sesak, rasanya sudah terbebas, dan dirinya segera duduk di kursi dekat meja dan memandang berkas yang ada di atasnya.


Dimas yang kini sudah berada di ruangan bersama anak buahnya tak sabar lagi dan ingin mendengar kabar apa lagi yang belum sampai di telinganya.


"Katakan, ada apa lagi?" Ucap Dimas membuat sang anak buah ketakutan.


"Sa saya menemukan informasi kembali, bahwa_"


"Lanjutkan, kenapa kau berhenti, kau ingin mati!" Terik Dimas begitu kesal.


"I iya Tuan, maaf, Nona Naura telah masuk dalam keluarga orang terkuat di negara ini, hal itu sebelum menikah dengan suaminya"


"Maksud mu keluarga Al Faradz?, Bukankah itu sudah kau katakan tadi, tidak perlu mengulanginya, aku sudah kau buat pusing dengan hal itu, dan tentu saja aku harus bersiap untuk menghadapinya, bre-ng-sek!" Ucap Dimas.


"Bukan hanya itu Tuan"


"Maksudmu?" Dimas bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Ada keluarga NUGRAHA"


"Nugraha?, Maksudmu Nugraha yang mana?" Tanya Dimas yang rupanya otak nya sudah penuh dan oleng.


Pengawal itu tak mau salah memberikan penjelasan, langsung menyodorkan ponselnya untuk dilihat sendiri oleh Dimas yang makin penasaran dibuatnya.


"NUGRAHA?"


"APA?!" Ucap Dimas sangat terkejut, dan kali ini tubuhnya hampir saja tak seimbang saking kagetnya.


"Maaf Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya akan buah Dimas nampak khawatir.


"Keluar!" Teriak Dimas lalu membanting pintu sangat keras.


"Sial, bre-ng-sek!, Bagaimana mungkin wanita seperti Naura bisa masuk dalam keluarga Nugraha, ini tidak mungkin, Sh-it!!" Teriak Dimas yang dengan kekesalannya melempar apapun yang ada didekatnya.


Otak Dimas berpikir keras, bisa dikata Nasi sudah menjadi bubur, dan tentu saja dirinya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menguasai seluruh warisan Naura.


"Mundur pun saat ini percuma, dan aku harus membuat Naura tidak bisa mereka temukan" ucap lirih Dimas lalu segera menghubungi seseorang .


"Siapkan pesawat, besok kita segera pergi dari negara ini, Cepat!" teriak Dimas memberi perintah di sambungan ponselnya.


*


*


Firman begitu panik, berlarian di dalam Apartemen megahnya dan tidak menemukan istrinya di ujung manapun.


"Sh-it!, Apa yang terjadi, my God, handphonenya juga tertinggal disini, apa yang terjadi, tidak mungkin Naura pergi tanpa membawa barang pribadinya sama sekali" ucap Firman sambil mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan karena berlarian kesana kemari sejak tadi.


"Mungkinkah Naura bersama dengan Afita?" Ucap Firman segera menghubungi.


"Apa!" Terdengar teriakan Afita setelah beberapa kata terucap dari Firman.


"Aku benar-benar bingung, tidak bisa menemukan Naura dimanapun, Pintu Apartemen bahkan masih tertutup seperti biasanya saat ku datang, apa yang harus aku lakukan?" Ucap Firman tampak panik.


"Tunggu disana, aku dan Zafian akan ke tempatmu!" Jawab Afita.