ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 62



Pagi yang sangat terik dirasakan oleh Afita, baru saja dirinya melangkahkan kaki memasuki ruangan kerjanya, nampak Naura sang sekretaris masuk kedalam ruangannya.


"Ada pertemuan penting hari ini?" Tanya Afita.


"Bukan Nona, ada yang ingin bertemu anda" jawab Naura.


"Siapa?" Tanya Afita.


"Emm.. itu Nona"


"Itu siapa, yang jelas kalau ngomong, kamu kira aku tau isi hatimu?" Sahut Afita merasa jengah dengan sikap Sekretarisnya.


"Nona Eliza" jawab Naura pada akhirnya, dan sedikit membuat Afita terkejut. "Kalau nona Afita tidak ingin bertemu, saya akan membuat alasan agar dia tidak bisa menemui anda Nona"


"Tidak usah, biarkan dia masuk!" Ucap Afita yang merasa ini saat yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada wanita yang sudah berani mengganggu Suaminya.


Naura segera keluar dan tak lama kemudian munculah Eliza dengan pakaian ketatnya yang kurang bahan.


"Pagi nyonya Zafian" ucap Eliza.


"Pagi, ada apa kamu kemari se awal ini?" Tanya Afita yang sudah berdiri dan beranjak ke sofa tamu yang ada didepannya.


"Tentu saja ada hal penting yang harus kamu tau" ucap Eliza dengan senyum yang memuakkan.


"Katakan, ada apa?" Tanya Afita masih dengan ekspresi santainya.


"Apa kau tau apa yang sudah dilakukan Zafian untukku?"


"Apa?" Tanya Afita dengan wajah datar-datar saja.


"Oh, sepertinya Zafian sengaja menutupinya dirimu, memang begitulah seharusnya, mungkin dia harus membohongi mu terus menerus untuk menjaga hatimu agar tidak terluka, bukankah begitu?"


"Aku masih belum tau apa maksud perkataan mu Eliza, katakan saja dengan jelas" ucap Afita menatap lekat sosok wanita yang ingin sekali di tendangnya.


"Zafian adalah laki-laki dari keluargaku, akan aku perjelas, maksud nya, dia tidak akan pernah bisa meninggalkan keluargaku, dengan kata lain, hidupnya tentu saja untuk kepentingan keluarga ku juga, apa kau tau hal itu?" Tanya Eliza dengan senyuman puas.


"Tidak, yang aku tau, dia adalah suami ku, jadi hidupnya adalah untukku dan juga Bunda, apa aku salah?"


"Tentu saja kamu salah, karena Zafian akan selalu ada dalam keluargaku, dia harus mau membantu semua yang kami inginkan, karena_"


"Kau anggap dia berhutang Budi, apa seperti itu?" Sahut Afita melipat tangannya di depan dada.


"Wow.. sepertinya ada yang sudah tau, syukurlah kalau begitu.. jadi ingatlah akan hal itu"


"Tentu saja, semua sudah aku tau, bahkan bagaimana keluargamu memanfaatkan Zafian untuk kepentingan bisnis keluargamu, aku juga tau, dengan mengatas namakan hutang Budi bukan?"


"Kau_, tapi kenyataannya memang begitu " sahut sinis Eliza yang tidak Terima.


"Aku peringatkan padamu Eliza, jangan berani lagi memanfaatkan Suamiku karena aku tidak akan tinggal diam kali ini, cukup terakhir kau dengan tidak tau malu meminta Zafian melunasi hutang mobil mewah mu, setelah ini, jangan lagi berharap dia akan mendengarkan ucapanmu bahkan hanya sekedar menoleh mu, apa kau mengerti?" Ucap dingin Afita yang sukses membuat Eliza terkejut dan takut dengan tatapan tajamnya.


"Ka kau mengancam ku?" Sahut Eliza merasa terintimidasi.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku mengancam wanita sepertimu, yang tidak punya otak sama sekali"


"Afita!, Jangan mulutmu, jangan kurang ajar!" Teriak Eliza penuh murka.


Afita hanya tertawa senang, melihat wajah panik dan kesal dari Eliza saat ini.


"Justru kau yang kurang ajar!, Menganggu suami orang bahkan meminta uang untuk melunasi hutang, dimana harga dirimu ha!" Teriak Afita tidak mau kalah.


"Kau, akan menerima akibatnya!, Keluargaku akan segera datang ke sini, siap-siaplah untuk menghadapi mereka!" Ucap Eliza dengan pedenya, berharap Afita takut dan menciutkan nyalinya.


"Tentu saja, aku dan suamiku akan datang ke Mansion mu, berikan kabar kedatangan mereka padaku, aku jamin kita akan menepati janji bertemu dan membicarakan banyak hal, ingat, yang datang bukan hanya Zafian tapi juga aku" ucap Afita dengan tegas.


"Kau benar-benar wanita gila, rasakan sendiri akibatnya nanti!" Teriak Eliza.


Brak.


Pintu di banting oleh Eliza yang merasa kesal dan kini sudah melesat pergi.


"Dasar wanita kurang bahan!" Ucap lirih Afita lalu segera melanjutkan kegiatannya kembali.


**


Sosok wanita yang tengah kesal kini kembali ke sebuah apartemen mewahnya, saat dirinya masuk, dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Papa!" Teriak Eliza kegirangan.


"Hallo sayang?" Ucap sosok laki-laki setengah baya yang langsung mendapat pelukan dari Eliza.


Tidak ingin membuang waktu begitu saja, Eliza langsung menceritakan tentang Zafian dan juga Afita, terutama bagaimana Afita menghina dirinya.


"Sepertinya aku harus memanggil dan menyadarkan Zafian yang sudah lupa akan siapa dirinya, dasar anak anjing yang sudah tidak bisa patuh lagi!" Ucap laki-laki yang tak lain adalah papa Eliza yaitu Edric Ricardo.


"Aku benar-benar tidak terima dengan sikap dan kata-kata istrinya Pa, kurang ajar sekali dan merendahkan ku" sahut Eliza.


"Tenang saya sayang, sebentar lagi aku akan memberikan pelajaran yang berharga, agar mereka tau siapa keluarga kita sebenarnya"


"Thanks Pa, bagaimana kabar Mama dan Kakak disana?" Tanya Eliza.


"Sepertinya hanya nasibku yang kurang beruntung" ucap Eliza.


"Apa kau tidak sedang bahagia?" Tanya Edric menyelidik.


"Tentu saja bahagia Pa, berpisah dari laki-laki bre-ng-sek seperti Bimo Trihatmodjo bukan masalah bagiku, dia pantas menerimanya, apalagi saat ini dia menjadi laki-laki yang tidak berguna sama sekali, beruntung beberapa aset sudah bisa aku ambil alih"


"Bagus, jangan kau sia-siakan apapun yang ada dalam genggaman mu" ucap Edric dengan senyuman liciknya.


Dan tak lama kemudian, perbincangan berhenti dan Edric segera memberikan perintah ke beberapa pengawalnya untuk memanggil Zafian datang ke Mansion nya.


**


Zafian yang baru saja selesai menandatangani beberapa berkas penting, dikejutkan dengan kedatangan sang sekretaris yang mengatakan ada beberapa orang suruhan dari Edric Ricardo.


Segera dirinya keluar dari ruang kerja menuju ke ruangan dimana seseorang itu ditempatkan.


"Katakan, apa pesan dari Tuan Edric" ucap Zafian datar.


"Anda di perintahkan untuk datang secepatnya ke Mansion tuan Edric"


"Tuan mu masih tetap sama rupanya, Arogan!" Sahut Zafian dengan sinis.


"Saya hanya menyampaikan pesan, dan saya harap tuan Edric jangan sampai anda kecewakan Tuan Zafian"


"Hem, kembalilah, akan aku pikirkan" ucap Zafian lalu melangkah pergi meninggalkan tamu yang menyampaikan pesan.


Setelah lama berdiri menghadap ke jendela dengan pemandangan kota Surabaya yang begitu ramai, Akhirnya Zafian menghubungi istrinya untuk memberitahu apa yang sudah terjadi.


"Kita akan pergi hari ini juga, lebih cepat lebih baik yang, aku sendiri juga tidak ingin mereka menganggap mu sebagai alat yang bisa di perintahkan untuk menuruti keinginannya begitu saja" ucap Afita di dalam perbincangan saluran handphone.


"Okey yang, aku akan menjemput mu" jawab Zafian, lalu segera menutup handphonenya dan bergegas pergi.


Kini keduanya sudah berada dalam mobil menuju ke sebuah Mansion milik keluarga Ricardo.


Afita dan Zafian segera turun dan melangkah dengan bergandengan mesra menuju ke dalam mansion dan diantarkan oleh pengawal yang berjaga di pintu masuk.


"Wow, selamat datang Zafian, lama kita tidak bertemu, dan aku harap kau masih mengingatku" sambut seorang laki-laki yang tak lain adalah Edric Ricardo.


Zafian hanya tersenyum, "Tentu saja saya selalu mengingat anda Tuan Edric" ucap Zafian lalu mengajak sang istri untuk duduk di sampingnya.


Afita masih terdiam, hanya mengamati sosok laki-laki yang ada di depannya, menelisik dan menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum.


Ada sebuah tato di tangannya, dan itu adalah salah satu lambang persatuan bela diri Aliran keras yang dulu pernah di temuinya.


"Apa kau sudah tau kenapa aku memanggil mu?" Tanya Edric.


"Itu yang ingin saya tanyakan" jawab Zafian.


"Ini soal dirimu yang sepertinya sedikit lupa akan keluarga Ricardo" ucap Edric menatap tajam Zafian.


"Maaf Tuan, saya tidak pernah melupakan bagaimana keluarga Ricardo sudah sangat membantu ku di masa lalu" sahut Zafian.


"Benarkah, tapi dari keterangan Eliza, kau sudah berani menghinanya, lebih tepatnya istri mu sudah berani berbuat kurang ajar!"


"Maaf Tuan, jangan pernah bicara kasar dengan istri saya, karena saya yakin Eliza lah yang sebenarnya ber ulah" sahut Zafian tidak terima.


"Kau berani menyalahkan ku!" Ucap Edric terkejut dengan sikap Zafian yah seolah berani membantah.


"Saya hanya membenarkan saja Tuan, agar tidak terjadi kesalahpahaman" sahut Zafian.


"Aku tidak suka dibantah, kau tau benar akan hal itu bukan, jadi mulai hari ini, jangan pernah menolak keinginan putriku Eliza, kau harus menuruti semua kemauannya, jangan sampai membuatnya sedih!" Ucap Edric dengan nada yang tinggi.


"Maaf Tuan, itu tidak mungkin di lakukan!" Sahut Afita yang sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.


"Lancang, siapa yang mengijinkan mu bicara disini ha!" Jawab Edric yang semakin emosi.


"Saya punya mulut dan akal pikiran, tentu saja akan saya gunakan dengan baik, apa hak anda mengatur saya menggunakannya" sahut Afita.


"Diam!, dan jangan ikut campur, ini urusanku dengan Zafian!" Teriak Edric membentak.


"Jangan berani berlaku kasar kepada istri saya tuan!" Sahut Zafian membuat Edric terkejut kembali kali ini.


"Kau berani membangkang?!" Teriak Edric yang kini telah berdiri dan menunjuk muka Zafian dengan tidak sopan.


"Sebaiknya saya pulang, anda sudah berlaku tidak sopan" ucap Zafian ikut berdiri dan menggandeng tangan Afita untuk bersiap pergi.


"Berani kamu melangkahkan kaki dari sini, aku akan membuatmu kehilangan kaki!" Teriak Ricardo dengan emosi.


Afita sangat terkejut dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut seorang Edric Ricardo, tentu saja kali ini Afita benar-benar sangat marah.


"Kau benar-benar manusia kurang ajar yang harus di beri pelajaran" gumam Afita yang sedang menahan emosinya, dan kini berbalik menatap tajam.


Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA ya.


Bersambung.