
Tak lama wanita itu kini sudah keluar kembali, beruntung Reno tidak menyuruh Afita untuk mengantarkan kepergiannya, sekilas Reno pun melihat Afita nampak masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Berapa persen kau kerjakan tugasmu?" Tanya Reno yang kini sudah mendekat.
"Sudah lima puluh persen pak, satu sampai dua jam lagi selesai" jawab Afita tanpa menoleh dan tetap menatap layar komputer dengan jari yang tidak berhenti bergerak.
"Aku suka matamu, apa kau memakai softlens untuk membantu penglihatan mu?" ucap Reno yang masih memperhatikan Afita.
"Sesuai perintah Pak Reno" jawab Afita masih dengan kesibukannya.
"Hem, bagus, aku suka" ucap Reno lirih sambil pergi untuk kembali ke kursi kerja, tentu saja perkataannya masih bisa di dengar oleh Afita dengan jelas.
"Aku yang tidak suka" gumam Afita dengan ekspresi datarnya.
Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan waktu dimana Afita harus sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik, sebelum Reno mendatanginya, Afita sudah lebih dulu berada di meja kerja sang Atasan.
"Ini pak, bisa di cek dahulu sebelum nantinya bapak bawa untuk rapat" ucap Afita.
"Kamu yang akan membawanya bersamaku" ucap Reno dengan lirikan tajam sebelum membaca satu per satu pekerjaan Asistennya.
"Kenapa harus saya pak, ada Bu Tiwi yang lebih berpotensi" sahut Afita.
"Kalian berdua Tim yang baik, jadi ikut aku semua nanti, tidak ada protes lagi" ucap Reno dengan tatapan tajam dan berakhir dengan memberi perintah Afita untuk memberitahu Bu Tiwi agar bersiap.
Afita mendengus kesal, dirinya tidak pernah ingin ikut andil dalam suasana rapat para pebisnis besar karena keadaannya saat ini yang disembunyikan, beberapa kali Afita merengek kepada Bu Tiwi untuk membantunya lolos dari masalah ini.
"Tolonglah Bu, bantu saya, Bu Tiwi saja yang ikut pertemuan itu seperti biasanya, saya ingin di ruangan kerja saja membantu pekerjaan yang lain" ucap Afita.
"Ck, aku bisa apa Fita, kalau pak Reno sudah bicara, tak ada yang berani menolaknya, apalagi aku" jawab Bu Tiwi.
"Tapi bu_"
"Sudahlah, memangnya kenapa, bukannya itu bagus buat pengalaman mu nantinya?" Ucap Bu Tiwi nampak heran.
Afita terdiam, alasan apa lagi yang harus di utarakan agar Bu Tiwi membantunya, sudah kehilangan akal rasanya, hingga tiba waktu yang sudah di beritahukan, dan berakhir dengan terpaksa Afita mengikuti apa yang perintahkan atasannya.
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, Afita masih duduk di kursi kerjanya dengan keadaan yang sudah pasrah.
"Apa aku bisa meminta bantuan mu?" Tanya Reno menatap Afita yang sudah melihat kearahnya.
"Apa yang bisa saya bantu pak?" Tanya Afita.
"Belikan aku Coffe kesukaanku di restoran sebrang jalan" ucap Reno yang membuat Afita tercengang tak menyangka.
"Kenapa diam, kau keberatan?" Ucap Reno melanjutkan lagi.
"Oh, ti tidak pak, baiklah" ucap Afita yang tentu saja tak bisa menolak walaupun dia sangat tau kalau itu tugas OB yang ada di perusahaannya.
Berjalan begitu saja keluar dari ruangan dengan perasaan yang begitu kesal namun tak bisa berbuat apapun, kini Afita berjalan kaki untuk membeli apa yang diinginkan Reno, tiba di tempat Afita segera memesan karena tak ingin membuang waktu.
"Coffe apa kak?" Tanya seorang pegawai.
"Ha, apa?!" Sahut Afita seketika terkejut akan pertanyaan yang di ajukan.
"Disini banyak pilihan kak" sahut pegawai Resto itu lagi.
"Oh my God, mati aku, kenapa aku tadi lupa menanyakan" batin Afita.
"Tunggu sebentar mbak" ucap Afita segera merogoh sakunya, namun apa yang terjadi?, dirinya menyadari kalau handphone ketinggalan di meja kerja karena pergi dengan terburu-buru.
"Si-al!, Menyebalkan!" Teriak Afita kesal sendiri.
"Maaf mbak, saya pergi tanya dulu ke Atasan, handphone saya juga ketinggalan" ucap Afita segera berjalan cepat menyebrang jalan.
Hingga kemudian.
CIIT
"Maaf Tuan!" Teriak Afita tanpa menoleh dan segera melesat pergi.
Laki-laki itu masih tak percaya dengan penglihatannya, jantungnya bahkan terasa berhenti berdetak saat melihat sosok Afita yang baru saja terlihat olehnya, hingga bunyi klakson mobil di belakang mengejutkannya.
"Sh-it!, Aku yakin itu tadi Afita!" Ucapannya segera menepi dan keluar dari mobil untuk mengedarkan pandangan mencari sosok yang hampir saja di tabrak nya.
Namun tidak seperti yang di harapkan, wanita yang di carinya tidak dia lihat lagi, sedikit mengerutkan kening saat membaca nama perusahaan yang ada di depannya.
"Perusahaan JAYA ABADI?, Bukankah ini perusahaan tempat tujuan Zafian?" Ucap lirih laki-laki yang kemudian segera mengangkat handphonenya.
"Maaf ada sedikit kendala, saya akan segera tiba di Rumah Sakit lima menit terlambat" jawab laki-laki yang masih sempat mengedarkan pandangan sekali lagi, lalu kemudian segera masuk ke dalam mobil dan akhirnya melaju kembali.
*
*
Di tempat yang lain, Afita sudah terkena Omelan dari Bu Tiwi karena keteledorannya saat tidak bertanya dahulu sebelum pergi, memang konyol bagi Afita, bahkan dirinya harus kena semprot pekerjaan yang seharusnya bukan tugasnya.
Reno yang seketika badmood karena tidak mendapat Coffe yang diinginkan, sedangkan tak mungkin lagi menyuruh ulang karena pemilik perusahaan besar yang akan bekerjasama telah datang.
"Saya gimana Bu?" Sebuah pesan di ketik oleh Afita setelah mengambil handphone di meja kerjanya.
"Di luar saja, acara baru di mulai, jangan masuk dan merusak konsentrasi!" Perintah Bu Tiwi yang tentu saja di sambut senyuman lebar dari Afita.
"Rupanya membawa berkah juga pak Reno menyuruh ku tadi, jadi aku gak usah ikut acara rapat perusahaan" batin Afita yang sudah tersenyum senang.
Tak masuk kembali ke ruangan kerjanya, melainkan menunggu di ruang Kerja Bu Tiwi seperti yang di perintahkan, kini Afita membantu pekerjaan Bu Tiwi yang belum selesai, dan barangkali di butuhkan saatnya nanti.
Jari-jari Afita bekerja kembali, hampir satu jam berada di ruang Bu Tiwi untuk membantu menyelesaikan tugas, hingga pintu utama ruangan rapat terbuka, langkah kaki seseorang membuat Afita menghentikan gerakan tangannya, hatinya tersentak, telinganya tajam mendengar dan bau parfum itu, sepertinya sangat tak asing baginya.
"Terimakasih atas kesepakatan yang telah di buat Tuan" terdengar suara Reno.
"Hem, semoga berjalan baik" sebuah suara menjawab.
DEG.
Afita terkejut, seketika tubuhnya bagai tertarik di kehidupan masa lalu, serasa nafasnya pun berhenti untuk beberapa detik saat mendengar dengan jelas jenis suara yang tertangkap telinganya.
"Itu, suara_" ucap Afita, perlahan sekali berdiri dan membalikkan badan untuk melihat seseorang dari dalam ruangan.
Namun sayang, kerumunan banyak orang di sana menganggu pandangannya, Afita tak berani berbuat jauh, berharap apa yang ada di pikirannya adalah salah, dengan memegang dadanya yang menahan degupan kencang jantungnya, Afita masih berada di tempatnya.
Hingga akhirnya kerumunan itu menjauh, seiring dengan kepulangan investor perusahaan besar yang diantar langsung oleh Reno Trijaya dan beberapa staf perusahaannya.
BRUG.
Afita terkejut, tersadar dari alam pikirannya yang tengah mengembara, saat Bu Tiwi masuk dan memberikan setumpuk berkas padanya.
"Apa ini Bu?" Tanya Afita.
"Ini tugasmu!, Kerjakan segera dan perusahaan kita akan semakin melaju pesat!" Jawab Bu Tiwi tersenyum senang.
Afita hanya menggelengkan kepala, lalu segera membawa setumpuk berkas itu untuk di bawa masuk ke ruang kerjanya.
Banyaknya tumpukan itu membuat Afita merasa kesusahan saat menaruh berkas di atas mejanya, hingga salah satu berkas terjatuh.
Dan_
Terlihat Tulisan AFIAN GROUP di sana.
Apakah sebentar lagi terjadi pertemuan?, yuk jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.
Bersambung.
"