
Suasana semakin ramai saat terlihat keributan, dan Elonar tidak mungkin lagi untuk melanjutkan aksinya karena bisa menghancurkan tempat hiburan yang tak lain adalah milik temannya.
Sementara di pihak sang lawan juga berpikir demikian, tidak mungkin bagi seorang Evan Eagle Nugraha akan membuat keributan dan menunjukkan jati diri yang sesungguhnya dengan menampakkan kekuatannya.
"Kau masih beruntung kali ini" ucap Elonar dengan tatapan tajamnya.
"Oh ya, bukankah kata itu pantas untuk mu?" Sahut Evan tersenyum sinis, lalu pergi bersama dengan teman yang di tunggunya.
Kembali melanjutkan bisnis hiburan yang tengah di lakoni, Evan akhirnya masuk di sebuah ruangan khusus yang telah di sediakan.
"Bisakah kalian membicarakan bisnis kita di tempat yang lebih menarik, ini terlalu biasa dan kotor" ucap Evan dengan moodnya yang telah rusak.
"Sorry, sementara disini tempat yang paling eksis saat ini" sahut sang manajer yang sudah mulai melakukan pembicaraan dengan kolega bisnisnya.
Evan hanya mendengarkan dan sesekali menoleh ke bawah, terlihat berbagai model manusia yang tengah menikmati minuman yang memabukkan dan tarian dari wanita-wanita yang setengah tellanjjang.
"Membosankan.." lirih kata itu keluar dari Evan yang sudah lama bergelut dalam dunia hiburan.
Menjadi sosok artis idola dalam sebuah Band yang dipimpin olehnya, menjadikan namanya sangat terkenal, namun demikian, dengan rapi dia bisa menyembunyikan identitas asli hingga kini, selain parasnya yang diatas rata-rata turunan dari keluarga besarnya, Evan juga mempunyai kelebihan suara yang begitu membuat orang akan terhanyut mendengarnya.
Sementara itu, di sudut ruang yang lain, tampak Elonar juga tengah duduk sambil membuka handphone canggih yang ada di tangannya, mulai berselancar mencari informasi tentang laki-laki yang telah buatnya penasaran beberapa saat yang lalu.
"Oh, jadi dia adalah artis terkenal itu, akan aku cari tau siapa sebenarnya dirimu bre-ng-sek!" Ucap Elonar dengan penuh kekesalan.
Jari jemarinya masih terus bergerak, banyak informasi yang didapat tentang Evan, namun tak satupun muncul silsilah keluarga atau masa bersama dengan keluarga, hanya seputar karier dunia hiburan yang melejit di dapatkan, dan beberapa lomba yang telah di menangkan, di bumbui dengan rumor wanita-wanita cantik yang pernah dekat dengannya.
"Sh-it, apa ini, bagaimana mungkin tidak ada akses sama sekali soal keluarganya?" Ucap lirih Elonar makin kesal dan melempar handphonenya begitu saja di kursi sofa untuk melampiaskan kekesalannya.
*
*
Malam berjalan cukup membosankan bagi Evan, dan perbincangan itu terjadi cukup panjang, namun detik berikutnya senyuman langsung merekah dari bibirnya, disaat melihat seseorang dengan wajah kesalnya masuk ke dalam tempat hiburan yang di pastikan tengah mencari keberadaannya.
"Aku senang sekali, hahaha" tiba-tiba saja Evan tertawa dan pembicaraan langsung berhenti, semua melihat ke arahnya.
"Ck, kalian lanjutkan saja, aku akan turun sebentar" ucap Evan segera beranjak pergi.
Berjalan dengan cepat sambil tersenyum bahagia, menuju ke sosok laki-laki yang kelihatan jengah menunggunya.
Brug.
Evan langsung menubruknya dengan pelukan erat.
"Kau ini, dasar!" Ucap Laki-laki itu nampak kesal, namun berbalik memeluk dengan erat Evan penuh kerinduan.
"Maaf kak, sepertinya kau kesal padaku?" Ucap Evan sambil tertawa dan melepaskan pelukannya.
"Tentu saja, kenapa juga kau menyuruhku menjemput di tempat seperti ini, tidak adakah tempat yang lebih layak lagi, menyebalkan!" Ucap laki-laki yang tak lain adalah Aftan.
"Hahaha, aku sengaja, biar kak Aftan lebih mengenal dunia yang penuh dengan wanita cantik dan sekksi disini, bagaimana?" tanya Evan sengaja menggoda.
"Ck, aku justru pengen muntah, pemandangan yang menji-jikan" sahut Aftan dengan wajah yang menggelikan bagi Evan.
"Itu karena dipikiran kak Aftan hanya ada si mata biru, aku dengar dia baru saja mampir ke Surabaya, apa kakak bertemu dengannya?" Tanya Evan dengan senyuman yang ingin sekali di tendang oleh Aftan.
"Berhentilah tersenyum seperti itu, aku tidak suka" sahut Aftan memeringatkan.
"Hahaha, jadi benar kak Aftan sudah bertemu dengan wanita tercantik di dunia?" goda Evan.
"Ev, kau ingin aku benar-benar menendang mu?!" Ancam Aftan yang makin kesal dengan kelakuan sepupunya.
Kembali Evan tertawa, begitulah jika kedua saudara ini bertemu, Evan memang berbeda dari semua saudaranya, dia bahkan terkenal yang paling nakal walaupun masih berada dalam batasan yang benar.
Tak lama kemudian Evan akhirnya mengalah, keluar dari tempat itu untuk melanjutkan perbincangan yang nyaman dengan Aftan, tepatnya di sebuah Restoran yang lumayan jauh dari tempat semula.
"Jadi kak Aftan akan di kota ini agak lama?" Tanya Evan mengawali perbincangannya kembali.
"Hem, kamu sendiri?" tanya Aftan.
"Aku akan disini beberapa Minggu, setelah konser, lanjut ke Jepang untuk memenuhi undangan tampil di kedutaan" jawab Evan.
"Keren, karirmu semakin bagus rupanya?" Ucap Aftan.
"Begitulah, semua berkat dukungan berbagai pihak, termasuk keluarga besar kita yang sudah memberi restu" Jawab Evan dengan senyuman.
"Lama kita tidak ketemu ya kak, aku sangat merindukan masa kecil dulu saat kita berkumpul dan latihan bersama, sangat menyenangkan" ucap Evan, terlihat begitu merindukan keluarganya.
"Hei, jangan terlalu melo seperti itu, kita bisa melakukannya kalau nanti semua sudah ada waktu lenggang, usahakan saat lebaran nanti semua aktivitas di hentikan, waktunya untuk keluarga kita"
"Tentu saja kak, wajib hukumnya, atau orang tua kita akan murka" sahut Evan.
"Bagaimana kabar kak Zafian, aku dengar Daddy Alex masih stay disini bersama mommy Reyna" ucap Evan.
"Hem, Alhamdulillah, Zafian membaik dengan cepat, Daddy yang membantu pengobatannya, mommy tentu saja ikut tinggal, mereka berdua tidak akan pernah bisa dipisahkan kalau terlalu lama" jawab Aftan.
"Hahaha, semua keluarga kita selalu seperti itu terhadap pasangan, lihat saja mommy dan Daddy ku, Sama persis bukan?"
Aftan langsung ikut tertawa, mengingat Edward yang begitu posesif akan Alena.
"Jadi benar tentang kak Zafian yang mempunyai kekuatan yang tersegel?" Tanya Evan melanjutkannya.
"Hem, kau sudah mendengarnya?" tanya Aftan.
"Iya, dan aku dengar almarhum kakek buyut kita yang melakukannya, sungguh tidak terduga" ucap Evan lalu menyeruput coklat hangatnya.
"Hem, dan tugas ku sekarang adalah membantu menyempurnakan dan mengenalkan kekuatan itu pada Zafian, karena dia tidak tau sama sekali" ucap Aftan.
"Wow, berat juga tugas kak Aftan, kekuatannya pasti sangat dahsyat, dan itu kenapa Kakek buyut kita menyegelnya, bukan begitu?" tanya Evan.
"Seperti yang kau perkirakan, tapi aku sendiri juga belum tau seberapa besar kekuatan yang ada dalam tubuh Zafian, setelah kepulangannya nanti, kami semua akan membantunya untuk bisa mengendalikan dan menggunakan kekuatannya" Aftan menjelaskan.
"Aku akan membantu kalau masih ada waktu"
"Itu yang aku harapkan, kau sudah bertemu dengan Zafian bukan?" tanya Aftan.
"Tentu saja sudah kak, bahkan dia sempat cemburu padaku waktu itu"
"Apa?!, Bagaimana bisa?" Tanya Aftan penasaran.
"Yah begitulah, wanita dari keluarga Nugraha adalah wanita special dan tidak bisa dilepaskan begitu saja, siapa yang tidak cemburu melihat kak Afita memelukku begitu hangat" ucap Evan sambil tertawa mengingat waktu itu.
"Apa kalian ribut?"
"Awalnya, tapi setelah dijelaskan, kami pun berbincang dengan nyaman"
"Oh, syukurlah, ingat, Zafian dan keluarganya sudah menjadi bagian dari keluarga Nugraha, kita wajib melindungi mereka" ucap Aftan.
"Tentu saja kak, aku tau hal itu, dan nanti akan aku sempatkan tinggal di Mansion kak Zafian bersama dengan kalian untuk membantunya"
"Thanks Ev, merepotkan mu"
"Tentu saja tidak, aku sangat senang bis ikut berkumpul bersama keluarga, yah.., walupun tidak begitu lengkap, tapi aku bisa berlatih dengan bebas bersama kalian semua" senyuman langsung mengembang dari bibir Evan seketika.
Tak lama kemudian, keduanya segera meluncur bersama ke Rumah sakit tempat dimana Zafian dirawat.
*
*
Hampir 2 Minggu Zafian menjalani perawatan, dan akhirnya dia sudah bisa di pulangkan karena dokter sudah memastikan keadaan Zafian aman untuk melanjutkan rawat jalan.
Dan sudah saatnya Zafian menggali keluaran tenaga dalamnya yang lama telah disembunyikan dalam tubuhnya.
"Bersiaplah" ucap Alex saat Zafian sudah duduk bersila memunggungi Alex yang menggunakan kekuatannya untuk membuka sebagian segel yang masih menghalangi.
Afita, Aftan dan Evan juga berada di dekat mereka, bersiap menyalurkan tenaga dalam saat dibutuhkan oleh Alex, karena masih belum tau pasti sebanyak apa kekuatan yang di butuhkan untuk membuka seluruh segel dalam tubuh Zafian.
Awal yang biasa saja, semua masih nampak tenang, namun tiba-tiba saja tubuh Alex bergetar dan makin kencang.
"Bantu Aku!" Teriak Alex kemudian.
Sontak Aftan dan Afita langsung bertindak, menempatkan kedua tangan di punggung sang Daddy yang membutuhkan bantuan, keadaan tenang kembali.
"Sebentar lagi akan selesai, kekuatannya sangat besar" ucap Alex lirih dengan penuh konsentrasi.
Tampak ketiganya kini mulai berkeringat, Evan masih dengan serius mengamati, tampak kecemasan disana, sepertinya Evan bisa membaca bahkan kekuatan Zafian yang masih murni mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat untuk di kendalikan.
Hingga semua di kejutkan dengan sesuatu yang membuat ketiganya langsung terpental ke belakang.
Brak
Alex, Aftan dan Afita sejenak mundur dan melepaskan tangannya, tubuh Zafian mengeluarkan hawa panas dan juga Api merah yang makin lama makin membesar.
"Oh Sh-it!, Ini bisa membakar apapun yang ada disini!" Teriak Evan lalu melompat.
Yang makin penasaran.. Yuk VOTE dulu di hari Senin.. Jangan lupa ya..biar Author makin semangat nulisnya.
Bersambung.
.