ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 143



Reno kini duduk bersama dengan canggung, terus terang tidak menyangka dirinya kan ikut merasakan sarapan pagi bersama dengan seseorang yang bisa di bilang telah menyan-dera nya saat ini.


"Apa anda yang bernama nak Reno?" Tanya Anita mengawali pembicaraan.


"I iya, saya Reno Bu" jawab Reno sedikit gugup, bukan karena apa, didepannya sudah ada Afita yang sedang duduk di samping Zafian, sedangkan di sebelah kirinya, ada Alena yang sedang menyiapkan sarapan dalam piringnya.


"Maaf kalau Zafian memperlakukan kamu dengan tidak nyaman, silahkan sarapan dan semoga kamu suka" ucap Anita sambil tersenyum.


Reno mengangguk setelah itu Anita mengambil piringnya dan menatap makanan diatasnya.


"Dia bisa sendiri Bun, tidak perlu repot mengurusnya" sahut Zafian seolah tak terima.


"Ck, kamu ada Afita, istrimu sudah melayani mu, apa salahnya bunda membantu nak Reno" sahut Bunda Anita.


Reno terdiam, tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan sehangat ini dari keluarga Zafian.


"Jangan berisik di meja makan, mari kita mulai" sahut Alena yang mengakhiri perdebatan.


"Aku mau di dekat Paman!" Teriak Fian mengejutkan semuanya.


"Tidak usah, Fian disini saja ya?" Ucap Zafian merayu.


"Gak mau Dad, aku mau sama Paman!" Teriak Fian lagi.


"Tapi_"


"Sudahlah" Sahut Alena,


"Fian bisa tukar tempat disini sayang" ucap Alena lagi.


Seketika Fian tersenyum senang, dan Alena segera berdiri untuk pindah ke sisi Fian yang kini sudah duduk di samping Reno.


"Hai jagoan, terimakasih sudah menemani ku, dan panggil aku Om saja ok" ucap Raka menyapa Fian yang sedang tersenyum di sampingnya.


"Siap Om" sahut Fian.


Yang lain nampak biasa saja dengan interaksi Reno dan Fian, kecuali Zafian yang sebenarnya tidak suka melihat keduanya berdekatan.


"Heh, sudahlah" ucap Zafian menghela nafas panjang, membuat Afita yang mendengar suara lirihnya menoleh.


"Ada apa?, Kamu tidak suka dengan kedekatan mereka?" Tanya Afita.


"Tidak" sahut Zafian malas.


"Ayo Zaf, pimpin doa, kita semua sudah kelaparan" ucap Anita menyela.


Sesuai yang diperintahkan, Zafian memimpin do'a, berharap semua makanan yang dinikmati menjadi berkah dalam tubuh, lalu semuanya menikmati sarapan pagi.


Ada rasa haru dalam hati Reno, sesekali menatap semua orang yang ada di meja makan, entah kenapa hatinya seperti kembali saat keluarganya utuh, seperti sebuah rasa yang terlepas dari rasa dahaga yang begitu panjang.


"Seperti keluarga yang utuh" batin Reno tersenyum tipis sambil melanjutkan sarapannya.


Setelah sarapan pagi, terlihat Alena sedang berbincang dengan Anita mengatakan kalau tidak bisa lama lagi tinggal di Surabaya.


"Maaf, saya harus kembali ke Jakarta, ada hal penting yang harus diselesaikan disana" ucap Alena.


"Tapi, bagaimana dengan Fian?" Tanya Anita nampak cemas.


"Dia akan aman, selagi ada orang itu di dekatnya Bu Anita, jangan khawatir" jawab Alena.


"Tapi, kita tidak mungkin membuat nak Reno tinggal disini selamanya bukan?"


"Tentu saja Bu, dan saat ini, saya sedang mencari jalan keluar yang terbaik bagi Fian, namun itu butuh waktu, semoga saja kita akan segera menemukan jalan, dan untuk sementara waktu, Reno harus tinggal disini" Alena memberikan penjelasan.


Anita mengerti, lalu kemudian berjalan masuk kembali ke Mansion bersama dengan Alena yang akan segera bersiap menuju badara sebelum pesawat pribadinya akan segera tiba.


Sementara itu, nampak seseorang tengah mengamati apa yang terjadi di luar Mansion melalui jendela kamarnya, entah kenapa Reno merasa tidak asing berada di Mansion Zafian.


"Kenapa aku ku merasakannya kenyamanan berada di sini, Sial!" Ucap Reno masih menatap kepergian Alena yang di kawal oleh beberapa orang dan diantarkan langsung oleh Afita.


Namun dirinya kemudian terkejut saat tiba-tiba ketukan pintu kamarnya terdengar.


"Siapa?" Tanya Reno.


"Saya Nak Reno, apa ibu boleh masuk?" Ucap Anita dari balik pintu.


Reno mengerutkan kening, lalu berjalan mendekati pintu dan membuka perlahan.


"Maaf, ada Bu?" Tanya Reno di depan pintu.


"Apa Nak Reno ada waktu untuk kita berbincang sebentar di luar kamar, ada yang ingin ibu tanyakan?" Tanya Anita.


"Baik" sahut Reno kemudian menutup pintu dan mengikuti langkah Anita.


Selama perjalanan, Reno menggunakan kesempatan untuk memperhatikan semua tempat yang dilewatinya, sementara Anita terus berjalan tanpa mencurigai apapun juga.


"Kita berbincang disini" ucap Anita berhenti dan segera duduk di kursi terdekat.


Begitu juga dengan Reno yang kini ikut duduk disana.


"Apa yang ingin ibu bicarakan?" Tanya Reno.


Reno hanya mengangguk, lalu kemudian mengalihkan pandangan sejenak sebelum akhirnya Anita memulai perbincangan kembali.


"Bisa ibu menanyakan sesuatu yang lebih privacy lagi?" Tanya Anita.


"Maksud Ibu?" Sahut Reno nampak mengerutkan kening.


"Asal usul mu, siapa nama kedua orang tuamu?" Tanya Anita.


Reno tersentak, terdiam sesaat dan berpikir tentang pertanyaan yang diajukan, dan kenapa soal ibu Anita ingin mengetahui tentang dirinya yang hanya seorang sandera saja saat ini.


"Saya_"


"Om!, Fian mau bermain sama Om baik!" Sebuah teriakan dari bocah kecil mengejutkan keduanya.


Reno segera menoleh, dan seperti biasanya, Fian bagai magnet yang tak dapat di tolaknya, semua tentang anak itu membuat Reno tak berdaya.


"Halo jagoan, kemari lah!" Sahut Reno tersenyum mendapati Fian berlari mendekat, sedangkan di belakangnya ada Zafian yang terus melangkah dan memperhatikan.


"Bunda ada disini?" Tanya Zafian,


"Iya, aku hanya ingin berbicara dengan Nak Reno, ada yang ingin Bunda tanyakan" jawab Anita.


"Apa itu penting?" Tanya Zafian nampak tak suka melihat kedekatan sang Bunda dan Reno saat ini, namun Reno tak peduli, menuruti kemauan Fian berlarian di taman belakang.


"Zaf_"


"Bunda tidak tau siapa Ba-ji-ngan itu, dia hampir saja menyentuh Afita dan juga menginginkannya, belum lagi dengan berani telah menculik Fian, aku benar-benar ingin menghajarnya dan menjebloskan ke penjara"


"Apa, menculik Fian, tapi lihat mereka!" Sahut Anita tak percaya dengan kedekatan Reno dan Fian saat ini..


"Aku juga tidak tau kenapa Fian merasa nyaman bersama dengan laki-laki bre-ng-sek itu" sahut Zafian.


"Jangan terlalu keras dengan Nak Reno Zaf, bagaimana pun kehadirannya di dekat Fian sangat kita butuhkan, kamu tau sendiri alasannya bukan?"


Zafian menatap sang Bunda sekejab, lalu mengalihkan pandangan melihat dia orang yang sedang asik bermain di halaman, lalu Zafian menghela nafas panjang.


"Apa bunda melihat wajah Reno dan mengingat seseorang?" Pertanyaan Zafian yang sontak membuat Anita terkejut.


"A apa kau juga merasakan hal itu Zaf?" Tanya balik Anita tidak langsung menjawab karena takut salah paham.


"Hem, setelah aku perhatikan, dia begitu mirip seseorang yang sangat aku benci di dunia ini, apa Bunda juga begitu?" Ucap Zafian.


Anita terdiam, tidak mengatakan apapun, hanya luka yang di rasakan kembali saat mengingat orang itu, hingga kemudian keduanya terdiam melihat kedatangan Fian yang semakin dekat.


"Apa Fian tidak capek, bagaiman kalau istirahat dulu, kasian Om Reno" ucap Anita sambil tersenyum dan mengusap keringat yang ada di wajah Fian.


Reno duduk sambil menata nafasnya, lalu Fian berlari kembali menghampiri Afita yang baru saja datang dan ikut bergabung.


"Jaga Matamu, dia Istriku apa kau paham!" Ucap Zafian mengagetkan Reno.


"Ck, aku tau, tidak perlu kau jelaskan lagi" sahut Reno dengan Malas.


"Bagus" sahut Zafian.


"Dan aku akan menatapnya sesukaku kecuali aku kau biarkan bebas dan pergi dari Mansion ini" sahut Reno.


"Jangan berharap untuk saat ini" ucap Zafian.


Reno terdiam, kini lebih menatap Fian dari pada harus berurusan dengan Zafian, lalu kembali Anita menanyakan hal yang tadi sempat tertunda.


"Siapa nama orang tuan Nak Reno?" Tanya Anita.


Reno menghela nafas, seolah berat mengingat kenangan masa lalu saat harus memperkenalkan orang tuanya.


"Mamaku bernama Monica Trijaya, tentunya kamu tau bukan, siapa Trijaya dalam dunia bisnis?" Ucap Reno ke Zafian.


"Aku tau, dan beliau punya hubungan apa denganmu?" Tanya Zafian.


"Kakekku, ayah dari mamaku, sedangkan papaku_" ucap Reno menghentikan sejenak kata-katanya, seolah sangat sulit mengatakannya.


"Kenapa, apa kau lupa dengan papamu sendiri?" Sahut Zafian.


"Ck, bukan, hanya aku sebenarnya tak ingin mengingatnya"


"Kenapa?" Tanya Zafian.


"Aku sangat merindukannya, hanya dia pria paling dekat denganku, namun takdir berkata lain, terjadi kecelakaan dan papaku meninggal di saat usiaku masih sembilan tahun" ucap Reno menunduk terdiam, sangat terlihat hal itu membuat luka yang teramat dalam.


"Siapa nama Beliau?" Tanya Zafian makin penasaran.


"Nama yang sama dengan mu" ucap Reno.


DEG.


Zafian terkejut akan jawaban Reno. "Apa maksud mu?" Ucap Zafian menuntut penjelasan.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.