ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 88



Elonar tersenyum sinis, melihat sejenak berkas yang ada di hadapannya tanpa menyentuh sama sekali.


"Bisnis adalah bisnis, aku ingin mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari Hotel yang kumiliki, tentunya butuh partner yang terbaik untuk menjalankannya, dan aku memilih Afita Khaira, seorang wanita yang sangat kompeten di bidangnya, lalu_dimana letak salahku?" Ucap Elonar.


"Tidak ada yang salah seandainya cara yang kau gunakan dari awal itu benar" sahut Zafian.


"Dan apa menurutmu Afita mau membantuku, seandainya itu ku lakukan?"


"Kau pikir aku peduli dengan hal itu?" Ucap Zafian.


"Oke, semua sudah terjadi, dan kontrak kerjasama ini nilainya sangat tinggi, selain itu, aku tidak berniat untuk menyudahi" Elonar memberikan penjelasan, lebih tepatnya seperti sebuah keputusan.


"Jangan memaksaku Elonar" sahut Zafian dingin dan menusuk.


"Oh ya, semua sesuai prosedur, tidak ada yang melanggar disini"


"Jangan terlalu percaya diri" sahut Zafian dengan senyum miringnya.


Tampak Elonar mulai bimbang, wajahnya begitu serius mengamati Zafian, perlahan duduk dan melihat berkas yang terjatuh di mejanya dan tidak tertata.


"Apa maksud mu?" Tanya Elonar.


"Baca saja, kau akan mengerti" ucap Zafian yang kini sudah ikut duduk dan berhadapan dengan Elonar yang terhalangi meja kerjanya.


Elonar membaca satu persatu, ada keterkejutan di balik itu semua, rupanya Zafian tidak main-main kali ini.


"Kau ingin menu-ntut ku?"


"Tentu saja, apa yang kamu lakukan bisa termasuk dalam penipuan, dan jangan bilang kau tidak paham akan hal itu"


Elonar tertawa, rupanya dia sudah menyiapkan hal ini jauh-jauh hari, dengan mengeluarkan surat kontrak kerjanya, dia menunjukkan sesuatu kepada Zafian, dimana itu menampakkan kontrak kerja yang berbunyi nyata bahwa dia adalah pemilik sah dari hotel yang bekerja sama, jadi secara hu-kum, posisinya kuat dan tidak ada yang salah dalam hal ini.


Zafian mengeratkan rahang, kali ini dia berpikir keras mencari celah untuk nyerang Elonar, lebih tepatnya untuk membebaskan istrinya dari kontrak kerja sama yang mempunyai nilai salah dimata Zafian.


"Baik, kau memang benar dalam hal ini, namun perlu kau tau, tidak ada paksaan salah satu pihak untuk memutuskan kontrak bukan?" ucap Zafian.


Deg.


Elonar terdiam, terkejut mendengar hal itu, rupanya Zafian tidak akan peduli lagi dengan apa yang tertera di surat kontrak kerja, dan kali ini, uang berapapun tidak akan menjadi masalah baginya.


"Maksudmu, Afita akan memutuskan kontrak kerja denganku?" Ucap Elonar.


"Rupanya kau sudah paham"


"Hahaha, dua Mil-yar, bukan uang yang sedikit Zafian Al Faradz" ucap Elonar mengentengkan.


"Tapi juga bukan hal yang sulit bagiku untuk melemparkan ke wajahmu" sahut Zafian dan membuat Elonar langsung terdiam dengan raut wajah menahan emosinya.


"Aku tidak menyangka, seorang Afita Khaira sangat tidak profesional saat bekerja" sahut Elonar berusaha mencari celah untuk menyerang Zafian.


"Dengan orang seperti mu, aku akan mendukung istriku untuk menjauhi mu, itu adalah profesionalisme menjaga keutuhan rumah tangga, jangan kau pikir aku tidak tau kemana arah tujuanmu ingin bekerjasama dengan istriku, aku laki-laki sama sepertimu, dan instingku tidak pernah salah dalam hal ini Elonar" ucap Zafian dengan mata tajam yang menembus manik mata laki-laki yang ada di depannya.


Elonar terdiam, merasa tidak bisa berkutik lagi, mau tidak mau harus menerima surat pemutusan kontrak sepihak, namun ada senyuman sekilas nampak disana.


"Kau menang kali ini Bre-ng-sek, tapi kau juga akan rugi membayar ku dengan jumlah yang tidak sedikit" batin Elonar terpaksa menandatangani surat sesuai yang diinginkan Zafian.


Dua Mil-yar terbayarkan, Zafian hanya tersenyum sinis, lalu membawa semua berkas itu pergi, tidak lama setelah masuk di mobilnya kembali, segera dirinya menghubungi seseorang.


"Jalankan tugasmu, lakukan hal yang aku rencanakan di perusahaannya, dan kita akan segera melihatnya shock dengan besarnya kerugian yang akan dia alami, beraninya berbuat ulah denganku" ucap Zafian dengan senyum yang dingin.


Kembali Zafian memutuskan sambungan, duduk santai merebahkan kepalanya masih tersenyum.


"Kau ingin bermain-main denganku?, Akan aku turuti Elonar Ricardo" ucap Zafian dalam hati.


*


*


Sorang wanita tengah menata hidupnya kembali setelah porak poranda akan kehilangan satu-satunya orang yang dia punya selama ini, siapa lagi kalau bukan Naura Hamzah.


"Terasa sangat berat kalau aku hanya diam saja" ucapnya lirih, lalu segera beranjak dari kamarnya, mencoba untuk mencari kesibukan ditengah hari rehat masa berkabung yang di berikan oleh Afita.


Menguncir rambutnya tinggi-tinggi, lalu mengambil kain pembersih untuk merapikan semua ruangan yang ada di rumah kontrakannya.


Rumah berukuran sedang itu adalah tempat ternyaman bagi Naura saat ini, karena hanya itu yang dia punya untuk berteduh dan beristirahat setelah rasa capek mendera dengan sejuta aktivitas yang biasa dia lakoni.


Dari ruangan satu ke satunya lagi, hingga Rungan yang di gunakan untuk memasak adalah tempat terakhir yang belum di bersihkan, dengan gerakan tangan yang lincah Naura mulai merapikannya.


Namun suara ketukan pintu membuatnya harus menghentikan aktivitasnya, menyangka kali itu adalah tetangga yang mungkin ingin mengucapkan bela sungkawa, Naura keluar begitu saja dengan kain bersih yang bergelantungan di bahunya, belum lagi rambut yang berantakan walaupun sudah di tali dengan rapi pada awalnya.


Ceklek


Naura langsung membelalakkan mata, me ngerjap beberapa kali untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak salah melihat.


"Dokter Firman?" Ucap Naura.


Firman sebenarnya ikut terkejut melihat penampilan Naura, wanita yang ada di depannya saat ini begitu alami tanpa make-up, dan itu justru terlihat bahwa Naura memang berbeda, wajah aslinya jauh lebih segar dan muda.


Ucapan salam pun terlontar dari mulut Firman, Naura menjawab dengan tergagap, lalu segera menutup kembali pintunya saat tersadar bahwa keadaannya sungguh mengerikan baginya.


"Tunggu, saya merapikan diri dulu Dokter!" Teriak Naura dengan jujur, dan tentu saja itu membuat Firman tertawa.


Tak lama kemudian, baru Naura kembali membuka pintu lebar-lebar dan sengaja tidak menutupnya kembali, mempersilahkan Firman masuk, lalu duduk dengan jarak yang lumayan jauh.


"Maaf atas ketidak nyamanan nya dokter" ucap Naura yang kelihatan sudah rapi kembali.


"Aku suka dengan dandanan kamu yang apa adanya tadi, langka" sahut Firman membuat Naura tersentak, tidak menyangka akan perkataan yang baru saja didengarnya.


"Apa itu tandanya dokter Firman sedang mencari sosok Asisten rumah tangga?" Jawab Naura membuat sekali lagi Firman tertawa.


"Tentu saja tidak, kenapa kau berpikir begitu?"


"Ya karena saya tadi terlihat berantakan dan mungkin lebih berantakan dari asisten rumah tangga dokter Firman" jawab Naura membuat Firman tersenyum.


"Aku tidak pernah punya asisten rumah tangga, di Apartemen ku, semua aku kerjakan sendiri" ucap Firman.


"Apa?!, Benarkah, saya tidak menyangka, maaf dokter"


"Tidak apa-apa, banyak orang yang berpikiran sama dengan mu Naura" sahut Zafian.


"Memang anda tidak capek, bukankah kesibukan anda luar biasa?" Tanya Naura heran.


"Hem, tapi aku lebih suka melakukan semuanya sendiri, kalaupun tidak ada waktu, mungkin satu minggu sekali memanggil jasa pembersih rumah, tapi itu jarang kulakukan"


"Oh, begitu" sahut Naura mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang di jelaskan.


Bagaimana kabarmu Nau?" Ucap Firman selanjutnya,


"Saya baik-baik saja Dokter, terimakasih" ucap Naura.


"Hem, syukurlah" sahut Firman merasa lega.


"Ngomong-ngomong Dokter Firman kesini ada apa?" Tanya Naura yang masih heran dengan kedatangan Firman.


"Aku, oh, ini, kebetulan tadi habis melihat keadaan pasien di dekat sini" ucap Firman seketika panik membuat alasan.


"Oh, dari mana dokter tau kontrakan saya?" Satu pertanyaan Naura lagi yang membuat Firman harus berpikir keras.


"Oh itu, tadi kebetulan aku lewat dan melihatmu" alasan yang sangat tidak tepat, karena sesungguhnya dia mencari tau alamat Naura dari data yang ada di rumah sakit saat almarhum ibunya di rawat.


"Melihat saya?" Seketika Naura ikut berpikir karena merasa tidak keluar rumah sama sekali.


"Iya, begitulah" jawab Firman.


"Tapi, saya tidak keluar rumah dari tadi"


Gubrak


Semakin panik lah Firman dengan pernyataan wanita yang ada di depannya.


Tidak akan bisa menjadi seorang Dokter kalau otak Firman tidak bisa segera membuat alasan, hingga dia mengatakan lagi kalau yang dilihat adalah tetangganya yang mengenal dirinya saat dulu besuk di rumah sakit.


"Itu maksudku" ucapan terakhir Firman menutup penjelasan bohong nya yang di buat untuk menutupi kekonyolan nya.


Naura pun mengerti, lalu melanjutkan obrolan yang tidak berlangsung lama, karena Firman tau kondisi Naura yang sekarang berada di rumah sendiri, terlihat juga Naura tidak nyaman lama-lama berdua saja walaupun pintu dan jendela di buka lebar-lebar.


*


*


Sore yang panas, Elonar kini tengah murka karena mendengar kabar tidak mengenakkan tengah terjadi di salah satu perusahaan miliknya.


"Rupanya Zafian sudah menyiapkan hal ini, Ba-ng-sat, aku akan membuat perhitungan denganmu!" Teriaknya murka.


"Maaf tuan, saya juga tidak tau kalau mereka adalah anak perusahaan di bawah kendali AFIAN group"


"Keluar!" Teriak Elonar semakin murka melihat wajah anak buahnya.


Kini Elonar duduk dan mengendorkan dasi, berusaha mengatasi emosinya namun tidak bisa, kekuatannya di lampiaskan hingga membakar perangkat elektronik yang ada di ruangannya.


"Aku akan membalas mu Zafian!" Teriak emosi penuh den-dam dari Elonar.


Baru tadi pagi, dia setidaknya merasa menang karena telah mendapatkan uang 2 Milyar dari Zafian, walaupun sempat kecewa karena harus menandatangani persetujuan pemutusan kerja dengan wanita yang diinginkan.


Dan sekarang harus mendengar kabar bahwa, salah satu perusahaan yang mempunyai saham terbesar di perusahaannya, tiba-tiba saja mengundurkan diri, sontak semua aset uang yang masuk harus di kembalikan, dan bukan hanya itu, dampak proyek yang di kerjakan harus terhenti.


Berapa kerugian akibat semua ini?, Wow tentu saja sangat fantastis, hampir 10 M Elonar harus kehilangan pundi-pundi uangnya.


"Aku tidak akan tinggal diam" gumam Elonar segera mengambil handphone dan menghubungi seseorang dengan seringai liciknya.


"Hallo, siapa yang harus aku hab-isi?" Terdengar suara seorang wanita di balik ponsel Elonar.


Bersambung.


Jangan lupa dukungannya dong..