ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 114



Melihat yang terjadi dengan sang istri, akhirnya Zafian segera pergi dari ruangan itu, bahkan Firman dan teman sejawatnya seorang dokter kandungan segera melakukan tindakan untuk menenangkan Afita.


Obat penenang terpaksa di berikan dengan dosis yang aman untuk Afita dan juga janin yang berada dalam kandungannya, Firman bahkan meminta tolong kepada salah satu Perawat untuk menjaganya di dalam kamar perawatan sampai nanti salah satu keluarga sudah ada yang datang, dan tentunya bukan Zafian.


Tak lama kemudian, Datang Edward dan Aftan lebih dulu, Firman yang sudah mengabarkan keadaan tak stabil dari Afita kepada keluarga besarnya, menyambut tak heran kedatangan keduanya, bahkan dirinya sudah merasa lega.


"Om, Aftan?" Ucap Zafian yang terkejut melihat kedatangan mereka.


"Dimana Afita?" Tanya Edward, sedangkan Aftan masih terdiam.


"Mari saya antar Om" ucap Zafian.


"Jangan, biarkan aku yang mengantar mereka Zaf, tetaplah disini" ucap Firman mencegah apa yang akan dilakukan Zafian.


Zafian terdiam, tersenyum kecewa yang di paksakan, Edward mengerut kan kening berusaha membaca apa yang telah terjadi, begitu juga dengan Aftan yang kini sudah berjalan di samping Firman.


"Apa yang terjadi?" Tanya Aftan tak sabar lagi.


"Nona Afita menolak melihat suaminya" jawab Firman, sejenak langkah ketiganya berhenti.


"Kenapa?" Tanya Aftan lagi.


"Mengetahui apa yang sudah di lakukan Zafian, Pemban-taian itu, dan apa yang terjadi dengan Tuan Alex yang saya tidak tahu, dan juga Naura yang masih terbaring di ICU" Firman menjelaskan.


"Lalu?" Kini Edward yang melanjutkan pertanyaan.


"Nona Afita harus kita rawat, dia histeris dan emosinya tak terkendali, kami memberikan obat penenang dengan dosis yang aman"


"Bagaimana dengan bayinya?" Kembali Edward melontarkan pertanyaan.


"Alhamdulillah, keadaannya baik-baik saja, baru saja dokter spesialis kandungan telah memeriksanya"


"Hem, syukurlah " jawab Edward, dan mereka melanjutkan langkah memasuki kamar perawatan Afita.


Aftan membuka pintu kamar itu, melihat sang Adik tertidur dengan raut wajah terlihat penuh beban, Edward pun mendekat dan menyentuh tangan keponakannya untuk mengetahui keadaan.


"Dia baik-baik saja" ucap Edward


"Tidak dengan jiwanya" sahut Aftan.


Edward terdiam, sangat mengerti perasaan Aftan yang tidak terima melihat keadaan saudara kandungnya begitu memprihatinkan.


"Aku tau, kamu ikut terluka dengan semua yang terjadi, tapi Aku mohon Af, jangan menyalahkan Zafian sepenuhnya, dia adalah orang yang paling menderita saat ini, apa kau paham?" Ucap Edward.


Aftan masih terdiam, membelai wajah ayu adiknya, lalu menci-um dengan lembut punggung tangan yang aman, tanpa alat terpasang di sana.


"Aku tidak mengerti kenapa semua ini tejadi dengan Afita Om" ucap Aftan seolah protes dengan takdir hidup yang di lakoni adiknya.


"Banyak rahasia Ilahi untuk umatnya, bisa ini adalah ujian, Cobaan atau apapun itu, yang perlu kau Yakini adalah, pasti ada Hikmah yang berharga dari setiap kejadian, tidak ada satu hal sekecil apapun yang terjadi di kehidupan manusia itu akan sia-sia, tergantung sikap masing-masing orang melihat semua itu dengan bijak"


DEG.


Aftan seketika beristighfar, menyadari dirinya begitu salah kalau sampai memprotes takdir yang sudah di gariskan.


Edward tersenyum, menepuk bahu Aftan, lalu duduk di samping keponakannya.


"Aku yakin Afita adalah wanita special dari keluarga Nugraha, apa kau ragu akan kekuatan hatinya?"


"Aku tidak tau Om, hanya tidak tega melihatnya seperti ini"


"Jangan salah, justru ini yang akan menjadikannya lebih kuat lagi" sahut Edward.


"Hem, terimakasih Om" ucap Aftan yang mulai merasakan lega dan ikhlas menerima semua cobaan yang di hadirkan dalam keluarga nya.


Sesaat keadaan hening, lalu kemudian disusul dengan Alena dan Reyna yang sudah tiba di sana, keduanya segera mendekat untuk melihat keadaan Afita.


"Kenapa Zafian tidak diizinkan masuk oleh Dokter Firman?" Tanya Alena heran.


"Afita tau segalanya, dan dia histeris saat melihat Suaminya" jawab Edward.


"Apa?!" Kedua wanita itu sangat terkejut, rupanya apa yang di khawatirkan telah terjadi juga.


Belum selesai keterkejutan Alena, dia di kagetkan lagi dengan luka memar di lengan Afita yang tercetak jelas bekas cengkraman.


"Apa ini?" Tanya Alena lirih berbisik di telinga suaminya.


"Akan kita tanyakan lagi ke Dokter Firman yang tau kejadiannya" ucap Edward yang tidak bisa lirih sama sekali.


"Kejadian apa?" Sontak Reyna terkejut dengan perkataan Edward.


"Jangan membohongi ku Alena" ucap Reyna disusul dengan Aftan yang menatap aneh.


"Oh ayolah, okey, lihat luka memar ini" ucap Alena yang akhirnya menyerah juga dan memperlihatkan lengan Afita yang berada di sisinya.


Sontak keduanya terkejut, dan di saat yang diharapkan, orang yang bisa menjelaskan semua ini akhirnya datang.


Firman terkejut disaat dirinya baru saja sampai dan mendapat tatapan tajam dari semua orang.


"Maaf, ada apa ya?" Tanya Firman nampak gugup.


"Jelaskan tentang hal ini" ucap Alena yang sudah menunjuk pergelangan tangan Afita.


Firman terkejut, tapi tak mungkin lagi dirinya bisa mengelak, hingga kemudian menceritakan semua yang terjadi.


Dari sini Edward semakin yakin, kekuatan Zafian harus segera di segel atau kalau perlu dimusnahkan karena membahayakan dirinya dan juga orang lain.


"Sebaiknya hal itu segera dilakukan Honey" ucap Alena.


"Aku setuju, kebetulan ada Daddy Abraham juga di sini" sahut Reyna.


"Dan aku tidak sanggup bersama Zafian lagi" sebuah suara mengejutkan mereka semua.


"Afita?!"


Hampir semuanya terkejut melihat Afita yang rupanya sudah terbangun.


Semuanya kini terdiam, setelah mendengar apa yang di jelaskan oleh Firman, keputusan Afita masih masuk akal karena ketakutannya.


Namun semuanya berusaha untuk menenangkan Afita, mengingatkan bahwa ada janin yang harus di jaga, hingga Afita kembali tenang terkesiap dalam pelukan Mommy-nya.


Semuanya kini kembali untuk melakukan tugas pentingnya masing-masing, keluarga Nugraha tidak akan tinggal diam jika salah satunya mengalami masalah.


Alena dan Edward memberikan bantuan ke Naura dengan tenaga dalam untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Alex sebelumnya, Firman sangat berterimakasih keadaan Naura semakin membaik walau belum sadar.


Sementara, Abraham berusaha untuk memeriksa keadaan Zafian sebelum dilakukan penyegelan, dan ke empat cucunya sedang membantu pemulihan keadaan Alex agar lebih baik.


Tak terasa tiga hari telah berlalu, Afita masih dalam masa perawatannya di rumah Sakit, Alex masih keadaan lumpuh namun sudah bisa beraktifitas walaupun terbatas, sedangkan Zafian telah bersiap untuk melakukan penyegelan kekuatannya.


Hingga sebuah kejadian besar di sore itu, membuat keadaan merubah segalanya. Berawal dari Firman yang terkejut mendapati Naura sudah tidak ada di tempat pembaringannya.


Di lanjut dengan Afita yang juga menghilang seperti di telan bumi, Firman berlari hampir terjatuh diikuti oleh beberapa petugas yang ikut kebingungan mencari-cari, hingga akhirnya menghubungi sahabat dan juga keluarga besar Nugraha.


Abraham bahkan sampai turun tangan untuk mencari keberadaan cucunya, semuanya kehilangan jejak tak tau lagi harus mencari dimana, dan berakhir dengan_"


"TIDAK!!" jeritan menggelegar terdengar.


Seketika Mansion berubah panas seolah berada di tengah lautan Api.


"Ikuti aku Edward!" Teriak Abraham melesat keluar mencari sumber suara, dan diikuti Edward di belakangnya.


Terlihat Zafian begitu murka, kembali di kuasai sisa kekuatannya yg tersegel.


"Si-al!, Ini harus di hentikan atau kita semua akan terpanggang!" Teriak Edward.


Abraham berusaha menembus kekuatan Api di tubuh Zafian yang kian membesar, tubuhnya kembali melayang di udara.


"Jangan ada yang mendekat, tunggu perintahku!" Teriak Abraham lagi.


Seketika Edward berhenti, disusul dengan Jasmine dan Alena yang sudah berada di dekatnya.


"Zafian Hentikan Nak!" Teriak Anita terdengar dan segera diamankan oleh Reyna.


Satu hentakan keras dari tangan Abraham mampu menembus kekuatan itu dan tepat memukul keras perut Zafian, seketika kekuatan api itu menyurut perlahan.


"Sekarang waktunya Edward!" Teriak Abraham.


Edward melesat, kembali membantu menyegel kekuatan itu, Zafian berteriak, meronta kesakitan dan ingin menolak, Alena tak tinggal diam, menghantam Zafian dengan kekuatan dahsyatnya hingga akhirnya terjatuh ke tanah.


"Sayang, kekuatan murni mu, aku butuhkan sekarang!" Teriak Abraham memberikan kode ke Jasmine.


Secepat kilat Jasmani terpaksa mengeluarkan tenaga murninya yang bertahun-tahun hanya dia simpan, dan Berakhir sudah tugas berat mereka dengan Luka dalam luar biasa yang dialami oleh Zafian.


Mau lanjut, apa Tamat ya?, Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.