
Pagi yang masih sangat gelap, tepatnya hampir subuh Afita terbangun dari tidurnya, perlahan dirinya beringsut dari tempatnya.
"Oh my God, aku benar-benar bisa tertidur tanpa busana" gumam Afita yang terkejut mendapati tubuhnya polos di bawah selimut yang kini digunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Akh!" Teriak Afita saat pertama melangkahkan kaki, rupanya area sensitifnya terasa sangat sakit juga ngilu, dan lebih terkejut saat terlihat ada bercak darah di sana.
"Oh God, aku berdarah?" Ucapnya lirih nampak sedikit khawatir.
"Yang, Sakit?" Tanya Zafian yang sudah melompat tanggap didekat sang istri.
"Shh, lumayan, rasanya gak nyaman buat jalan" ucap Afita sambil meringis lalu duduk dipinggiran tempat tidur.
"Maaf" ucap Zafian, mencium puncak kepala istrinya.
"Yang, kamu berdarah?" Tanya Zafian juga terkejut melihat beberapa noda darah di bagian bawah Afita, lalu tersenyum dan segera membopong sang istri masuk ke dalam kamar mandi.
"Kita benar-benar polos saat ini" ucap Afita tersenyum melihat bagaimana sang suami begitu memanjakan dirinya, selain di saat ini memang dirinya sedang butuh bantuan untuk berjalan.
"Kenapa Hem, pemandangan yang indah bukan?" Sahut Zafian mencium bibir istrinya.
"Dasar!" Ucap Afita.
Zafian mendudukkan Afita di atas closed, mencium kening sang istri sebelum akhirnya melangkah dengan tubuh polosnya menuju ke bathtub dan mengisinya dengan air hangat.
Afita mengalihkan pandangan, terus terang keadaan Zafian yang teramat menggoda baginya justru membuatnya takut.
"Tidak bisakah memakai handuk untuk menutupi tubuhmu, yang?" Ucap Afita.
Zafian tersenyum, tidak peduli dengan perkataan sang istri, segera mengangkat tubuh Afita kembali dan membawanya masuk ke dalam bathtub untuk mandi bersama.
"Akh!" Lirih Afita mende-sis saat area sensitifnya bersentuhan dengan air hangat dan terasa perih.
Zafian mengamati, lalu membelai lembut perut bagian bawah Afita.
"Masih sakit?" Tanya Zafian lirih.
"Perih" jawab Afita.
"Sebentar lagi akan berkurang, yang aku tau air hangat bisa mengurangi rasa tidak nyaman setelah berhubungan" ucap Zafian.
"Hem, aku sangat lelah, dan ini mulai nyaman" ucap Afita merebahkan tubuhnya di pinggiran bathtub.
"Pindah kesini saja, akan terasa lebih enak" ucap Zafian, lalu menarik pinggul istrinya untuk mengalihkan posisi, dan sekarang Afita sudah berada di depan Zafian hingga lebih terasa mudah untuk bersandar di dadanya.
Acara mandi terasa lebih lama, selain tubuh keduanya yang merasa lelah setelah pertempuran yang terjadi lebih dari tiga kali, kebutuhan istirahatnya juga kurang terpenuhi.
Setelah ritual mandi bersama, hampir satu jam kemudian keduanya sudah bersiap, Afita yang masih berjalan dengan pelan dan aneh berusaha untuk menyamankan langkahnya.
"Jangan di paksa bekerja hari ini, sebaiknya istirahat dulu di Mansion, yang" ucap Zafian.
"Tidak apa-apa, aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan ku, dan sepertinya Naura membutuhkan ku segera, kasihan dia terlalu aku repot kan" jawab Afita.
Zafian tersenyum, tidak melarang lagi apa yang akan dilakukan sang istri, karena dia juga tau kalau Afita mempunyai tanggung jawab besar akan pekerjaannya.
Setelah sarapan pagi, keduanya kini berangkat bekerja bersama, tentu restu dari sang Bunda sudah menyertai kembali.
"Hati-hati sayang" ucap Anita sebelum melepaskan kepergian anak dan menantu kesayangan.
*
Pagi itu Zafian tidak langsung menuju ke perusahaan, melainkan ke sebuah tempat untuk menemui seseorang.
Masuk kesebuah perusahaan Trihatmodjo Company, dan tanpa peduli peringatan security maupun pekerja yang lain, dirinya menerobos masuk ke dalam ruangan kerja sang pemilik.
Brak!
"Sh-it!" Teriak seseorang yang terkejut saat pintu terbuka dengan paksa.
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar jelas, rupanya Zafian sudah melempar sesuatu dan hampir mengenai Bimo Trihatmodjo yang sedang bercinta dengan seorang wanita di atas sofa.
"Apa yang kau lakukan Ba-ng-sat!" Teriak Bimo segera membenarkan celananya dan menyuruh sang wanita segera pergi dari tempatnya.
"Aku peringatkan padamu sekali lagi Bimo, jangan berani membuat masalah denganku, aku akan benar-benar membuatmu menyesal karena sudah mengusikku!" Ucap Zafian dengan keras.
"Jangan kau pikir aku buta dan tidak bisa melihat siapa yang sudah menyerang ku kemaren, wajah anak buahmu terekam jelas di ingatanku, mengerti!" Teriak Zafian lagi.
"Hahaha, jangan asal bicara, bukan hanya aku yang menggunakan jasa mereka, ingat itu" sahut Bimo lagi.
"Baik, tunggu saja, apa yang bisa aku lakukan padamu, jangan sampai kau menyesal!" Ucap Zafian lagi dengan tatapan tajamnya.
"Okey, aku tunggu!" Ucap Bimo Trihatmodjo yang sebenarnya takut dan menjaga jarak dengan Zafian.
"Dasar pengecut!" Ucap Zafian lalu segera pergi dari sana dengan membanting pintu cukup keras.
Keributan pagi itu menyita perhatian para karyawan yang sedang bekerja, setelah kepergian Zafian mereka semua kembali ketempat masing-masing dengan amarah Bimo Trihatmodjo.
Sementara Zafian segera masuk kedalam mobilnya yang kali ini sudah ada dua pengawal yang mengikutinya.
"Kita ke tempat kerja!" Ucap Zafian masih berusaha menurunkan emosi nya.
Sampai di tempat kerja, Zafian segera masuk dan meneguk air mineral yang selalu disiapkan diatas meja kerjanya, tak lama kemudian sang sekretaris dipanggil untuk membaca kan schedule hari ini.
"Pak Zafian, anda baik-baik saja?" tanya Cintia.
"Hem, keluar lah, lakukan saja tugasmu, nanti aku akan memanggil mu kalau ada yang harus kamu bantu" jawab Zafian.
"Baik pak" Cintia segera keluar seperti yang diperintahkan oleh atasnya.
Kembali Zafian duduk dan memikirkan sesuatu, di bukanya rekaman Cctv yang telah tersimpan, pikirannya masih terpaut pada pengkhianat yang telah mencuri berkas-berkas penting hingga jatuh di tangan Bimo Trihatmodjo.
"Heeh, menyebalkan, aku harus hati-hati di perusahaan ku sendiri" gumam Zafian masih terus meneliti.
*
Hari berganti siang, kegiatan hari ini sangat menyita waktu Zafian, maklum beberapa minggu perusahaan ditinggalkan untuk menjemput istri tercinta, hingga begitu banyak pekerjaan penting yang tertumpuk dan harus segera di selesaikan.
Hingga pada waktunya untuk pulang, Zafian mengambil handphone, lalu segera menghubungi wanita tersayang untuk Kembali pulang bersama seperti biasanya.
"Jadi kamu akan pulang bersama Naura?" Tanya Zafian dalam sambungan telepon.
"Iya yang, kasihan Naura, nanti akan aku antar ke Apartemennya" ucap Afita.
"Tidak bisakah orang lain yang mengantarkan?, Aku tidak mau terjadi apa-apa kalau kamu mengemudikan mobil lagi" ucap Zafian tampak mencemaskan.
"Ck, ayolah, aku paling jago melakukan hal itu, sebelum bertemu dengan mu, sayang" sahut Afita meyakinkan.
"Hem, aku melihat hal itu, sampai mengakibatkan musibah yang menimpaku" ucap Zafian.
"Hehe, Sorry" sahut Afita teringat akan masa lalu.
Berakhir dengan persetujuan yang sedikit terpaksa dari Zafian, akhirnya perbincangan itu segera dihentikan.
Sementara itu, Afita mengemudikan mobil Naura untuk berangkat mengantar sang sekretaris yang terluka karena kakinya yang keseleo saat beraktifitas.
"Masih jauh?" Tanya Afita.
"Tidak, sebentar lagi Nona, lima menit lagi kita sampai" ucap Naura sambil memberikan petunjuk jalan menuju ke apartemennya.
Dan tak lama kemudian, tiba di tempat yang diinginkan, Afita membantu Naura yang kesusahan untuk berjalan, hingga keluar dari lif menuju ke apartemennya.
"Harusnya Nona tidak usah repot-repot mengantar ku" ucap Naura.
"Sudahlah, sekalian aku ingin tau apartemen dimana kamu tinggal" sahut Afita.
Saat sedang berjalan menyusuri lorong gedung, tiba-tiba saja perhatian Afita dikejutkan dengan seseorang yang melintas dengan jarak agak jauh.
"Tunggu!" Ucap Afita, langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa Nona?" Tanya Naura ikut berhenti, dan menoleh ke arah tatapan Afita.
"Bukankah itu_"
Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA ya.
Bersambung.