ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
152. Firman _Naura 6



Setelah Memberikan minuman, Naura pamit kembali masuk ke dalam untuk melihat keadaan Fian.


"Dia Naura, wanita yang pernah kamu ceritakan dulu bukan?" Tanya Ana.


"Hem" jawab singkat Firman setelah meneguk minumannya.


"Kenapa kamu tidak menceritakan kalau dia adik dari nyonya Zafian?"


"Apa itu penting?" Ucap Firman.


"Bukan itu maksud ku, aku hanya tak menyangka saja" sahut Ana.


"Tidak usah membahas hal itu, justru aku merasa heran, bagaimana bisa kamu datang kesini?" Tanya Firman.


"Oh, sorry, Karena ada hal penting yang segera ingin aku bahas, secepatnya aku ingin berkonsultasi dengan mu, aku mencoba mengirim pesan ke handphone mu, tapi tak kunjung ada balasan, jadi terpaksa aku menghubungi Tante Farah" sahut Ana.


"Dan Mommy yang memberitahu mu, aku berada disini?" Tanya Firman.


"Hem, katanya kamu ada tugas untuk menjaga putra satu-satunya dari Tuan Zafian" jawab Ana.


Firman hanya menghela nafas panjang, lalu memulai perbincangan mengingat ada hal penting tentang pekerjaannya yang akan di sampaikan oleh Dokter Ana.


Penjelasan di berikan secara berurutan, Firman terkadang mengangguk, namun matanya masih bisa mencuri pandang ke arah Naura yang sedang bermain dengan Fian di ruang tengah tanpa membuat kebisingan.


Sesekali Naura tertawa melihat tingkah Fian yang menggemaskan, bahkan beberapa makanan terlihat berserakan di sana, dengan telaten Naura membersihkan, lalu mengambilkan air minum untuk Fian.


"Cukup Aunty, aku sudah kenyang" ucap Fian.


Naura tersenyum, lalu mengembalikan gelas yang berisi minuman, dan tanpa sengaja kaki Fian menghadang langkah Naura, Sontak Naura terkejut, berusaha menghindari kaki Fian yang hampir terinjak dan alhasil, gelas pun terlepas dari tangannya.


Suara pecahan gelas kaca nyaring terdengar, Firman terkejut dan segera lari masuk kedalam.


"Maaf Aunty" ucap Fian yang berlari mendekat.


Naura panik karena kaki Fian akan menginjak pecahan kaca jika di biarkan mendekat, jalan satu-satunya dia harus mencegahnya.


"Fian berhenti!" Teriak Naura segera berlari.


Fian berhasil di tangkap oleh Firman, lalu segera mengamankan, sedangkan Naura berteriak.


"Akh!" Suara Naura kesakitan menahan pecahan kaca yang sempat menggores telapak kaki kanannya.


"Naura!" Teriak firman lalu segera mendekati dengan berhati-hati.


"My God, kakimu!" Ucap Firman terkejut.


"Aku tidak_" suara Naura tertahan saat firman sudah menyambar tubuhnya.


"Turunkan aku Dokter Firman, aku masih bisa berjalan sendiri" ucap Naura.


"Diamlah, kakimu berdarah" sahut Firman tak peduli, dan kini sudah merebahkan Naura diatas sofa.


"Aunty Sakit?" Fian nampak khawatir.


"Tenanglah, Aunty tidak apa-apa" jawab Naura sambil mengusap pelan kepala Fian yang terlihat cemas.


Ana yang mendengar kehebohan terjadi, segera beranjak dan menyusul Firman, dirinya terdiam melihat bagaimana Firman kini sudah merawat kaki Naura dan membebatnya dengan pelan, tentu saja ada hati yang perlahan sakit dirasakan.


"Maaf Dokter Ana, membuat perbincangan anda terganggu" ucap Naura yang kemudian segera menarik kakinya dari pangkuan Firman.


"Oh, tidak apa-apa, apa lukanya parah Dokter Firman?" Tanya Ana.


"Aku rasa tidak, asal benar perawatannya, akan segera sembuh" ucap Firman yang kini segera berdiri dan kembali bersama Ana, apalagi nampak Naura menolak di urusnya lagi.


Tak lama kemudian, Firman pamit pergi dengan ucapan yang begitu dingin, sementara Naura hanya tersenyum tipis setelah menjawab salam dari kedua orang yang kini sudah keluar bersama.


Setelah kepergian Firman dan Ana, Naura segera mencoba berjalan dengan berhati-hati.


Saat malam menjelang, mata Naura tak bisa terpejam, rupanya perubahan sikap Firman yang kembali dingin sesaat tadi, membuat Naura memikirkannya, perpisahan yang dulu pernah terjadi memang tidak berakhir baik.


Ketika itu Firman masih gencar-gencarnya mengejar Naura dan bahkan mengungkapkan perasaannya, Firman menginginkan hubungan dengan Naura lebih serius, lebih tepatnya bukan sekedar teman, tapi Naura selalu menghindarinya karena merasa tak pantas.


Naura selalu beralasan sibuk dengan pekerjaannya, dan di beberapa waktu, Firman justru melihat Naura berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cafe, sejak saat itu Firman beranggapan bahwa Naura sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Sampai detik ini, Naura sering menghindar saat di dekati oleh Pria manapun, apalagi jika mereka adalah orang-orang kaya, walaupun pada kenyataannya tak sedikit laki-laki yang menyukai Naura karena kecerdasan dan keramahannya.


Malam semakin larut, dan Akhirnya Naura akhirnya bisa memejamkan matanya.


*


*


Sementara Naura kini segera bersiap untuk menyambut teman-temannya yang akan mampir ketempat nya, dan tak lama kemudian salah satunya sudah nampak di balik pintu utama.


"Aku sangat merindukanmu Naura, bagaimana kabarmu?"


"Indonesia sangat panas tentunya bukan?" Sahut Naura sambil berjalan pelan karena luka di kakinya masih sedikit nyeri.


Hahaha


Keduanya tertawa, Liana yang tak lain adalah lulusan universitas yang sama adalah teman Naura saat masih kuliah di luar negeri.


"Aku kira aku terlambat dan dua laki-laki pengagum mu itu sudah tiba di sini" ucap Liana.


"Mereka mengirimiku kabar sudah berangkat, mungkin masih berada di jalan karena macet" jawab Naura.


"Hem, pastinya, karena yang aku tau, mereka berdua tidak akan mungkin mengurungkan niat untuk bertemu denganmu, lebih tepatnya mereka masih bersaing dan belum menyerah untuk mendapatkan mu Naura" ucap Liana.


"Aku belum mau berhubungan dengan siapapun Liana" sahut Naura dengan tangan yang sudah mengambil beberapa kue yang sudah di buatnya.


"Tapi kamu tau sendiri bagaimana kegigihan mereka berdua bukan?"


"Mereka hanya bersikap konyol saja Liana" sahut Naura dan kini tertawa bersama dengan Liana.


Liana tersenyum, lalu menanyakan kaki Naura yang terlihat di bebat oleh perban.


"Kenapa Kakimu?"


"Insiden kecil dan luka goresan kaca yang tidak terlalu dalam" jawab Naura.


"Ya Tuhan, sebaiknya jangan terlalu banyak berjalan, biarkan aku yang membantumu" ucap Liana yang kini segera membantu Naura.


Rupanya dua orang yang dibicarakan telah datang, Leon dan Mark segera masuk dengan senyum lebarnya.


"Biarkan aku membantumu Sweety" sahut Leon yang kini sudah mengikuti langkah Naura.


"Tidak usah Leon, duduk lah dan biarkan aku melayani tamuku" ucap Naura terus melangkahkan kaki perlahan untuk mengambil minuman.


Namun tak kalah cepat, Mark juga sudah ada di depan kulkas saat Naura mau mengambil minuman dingin.


"Yang ini biar aku membawanya, nanti kamu lelah dan luka di kaki mu makin parah" sahut Mark.


"Aku tak lelah Mark"


"Belum" sahut Mark.


"Heh, baiklah, terserah kalian saja" ucap Naura yang berakhir dengan tak membawa apapun di tangannya.


Sementara Liana hanya tertawa melihat interaksi ketiga temannya, dan kini semuanya berbincang di teras belakang sambil mengawasi Fian yang sesekali datang dan ikut meramaikan suasana.


"Jadi kamu sudah mulai bekerja Naura?" Tanya Leon.


"Alhamdulillah, sekretaris di sebuah perusahaan Cosmetic yang lumayan besar"


"Iya, aku juga mendengar hal itu, aku dengar pemiliknya seorang istri dari salah satu milyarder di negara ini" ucap Mark.


"Benar sekali, kebetulan beliau juga sangat mengenal keluarga kak Afita, jadi sengaja mengajakku untuk membantu di perusahaannya" jawab Naura.


"Tunggu-tunggu, dan apa benar pemiliknya adalah ibu dari dokter bedah terkenal yang tak lain adalah Dokter Firman Hamid?" Tanya Liana Kepo.


"Dari mana kamu tau?" Ucap Naura merasa heran.


"Ish, kau ini, kabar sebesar itu tentu saja banyak beredar di media masa, kau saja yang kurang terlalu peka" sahut Liana, sementara Leon dan Mark hanya mendengar kan saja.


Perbincangan berhenti di saat seseorang yang sedang di bicarakan tiba-tiba saja datang dan kini sudah berjalan ke taman menuju ke tempat Fian yang sedang berlarian.


Sementara Liana di buat melongo mendapati sosok Dokter yang sangat dia idolakan, Firman tak melihat ke arah Naura berkumpul bersama teman-temannya, bukannya tak melihat, tapi Firman merasa tidak suka karena mereka seolah berpasangan.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Yuk segera mampir ke channel YouTube : SINHO Channel/ SINHO NOVEL untuk mendapat cerita-cerita seru di sana.


Bersambung.