ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 48



"Ma maaf pak, saya sudah meletakkan berkas-berkas penting itu di brangkas kantor seperti biasanya, dan saya juga bingung kenapa sampai bisa berpindah ke tangan Bimo Trihatmodjo begitu saja" ucap kepala keuangan perusahaan.


"Bukankah hanya kamu dan aku saja yang tau kode untuk membuka brankas itu?"


"Benar pak, sungguh saya tidak pernah mengambilnya setelah hari itu menaruh berkas kedalam brankas" ucapnya.


Sementara Afita hanya terdiam, bukan berati tidak peduli, justru di balik kediaman Afita digunakan untuk mengamati dengan jeli raut wajah kedua orang yang saat ini sedang memberikan penjelasan.


Masih belum nampak di mata Afita ekspresi dari dua orang yang bisa membuat dirinya memberikan kecurigaan berada di pihak siapa.


"Hem, sepertinya aku harus memberikan pertanyaan yang memberikan efek perubahan ekspresi wajahnya" batin Afita lalu segera berdiri dan berjalan perlahan duduk di samping wanita yang sedari tadi asih terdiam.


"Bagaimana dengan Nona Cintia?" Tanya Afita dengan menatap balik tatapan Cintia yang tiba-tiba ditujukan padanya.


"Aku?, Oh maaf Bu Afita, saya tidak mungkin melakukannya karena tidak tau sama sekali soal kode rahasia pak Zafian, jadi mana mungkin saya bisa melakukan hal itu" ucapnya dengan tenang.


"Hem, benar juga" sahut Afita menyetujui penjelasan Cintia.


"Okey, aku akan terus mengusut masalah ini, tapi saat ini yang terpenting adalah bagaimana kita mengatasi hal ini, semua surat dan berkas kepemilikan ada di tangan Bimo Trihatmodjo, dan itu membuat ku tidak bisa berbuat apapun" ucap Zafian.


"Kalau di tempuh dengan jalur hukum kembali bagaimana Pak?" Ucap kepala divisi keuangan.


"Akan sulit, karena semua bukti tidak ditangan kita" jawab Zafian lalu terdiam sejenak untuk berpikir.


Sementara Afita ikut terdiam mengamati ruangan Zafian, sepertinya ada sudut-sudut yang terlewat hingga cctv yang berada dalam ruangannya terbatas akan meng akses seluruh tempat di sana.


"Baiklah, kalian keluar dulu, aku akan memikirkan jalan yang terbaik, sebentar lagi Bimo pasti akan menghubungi ku, aku ingin tau apa yan akan di minta olehnya" ucap Zafian membubarkan rapat internal pagi itu.


Afita menatap kearah suaminya yang tengah berpikir keras, lalu beranjak dan duduk mendekatinya.


"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Afita yang juga masih belum menemukan ide sama sekali.


Zafian menoleh, lalu tersenyum, memeluk istrinya sekejab dan melepaskan kembali.


"Istirahat lah, kamu kelihatan sangat kelelahan sayang" ucap Zafian.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Afita.


"Aku akan di ruangan ini, memikirkan sesuatu, jadi sedikit butuh ketenangan" jawab Zafian.


"Baiklah, bisa aku tau dimana ruangan rahasia nya?" Tanya Afita.


Zafian tersenyum, berdiri menuju kursi kerjanya, lalu membuka laci meja kerja dengan perlahan dan mengambil sebuah remote control, sekali tekan, maka sesuatu yang dianggap hanya sebuah rak besar berisi buku-buku tentang dunia bisnis bergeser pelan dan terbuka.


Nampak sebuah ruangan nan ekslusif didalam sana, lengkap dengan bedroom modern, lemari pendingin, AC dan juga televisi dengan layar yang sangat besar.


Afita terpana, lalu melangkah sambil tersenyum, rupanya ruang itu begitu bersih dan rapi, Tertata dengan desain modern nan cantik.


"Masuklah dan nikmati semuanya nyonya Zafian" ucap sang suami menggoda.


"Terimakasih tuan Zafian, aku tinggal beristirahat dulu, jangan sampai kau merindukanku" ucap Afita lalu masuk dan menutup ruangan itu dengan segera.


"Aku akan memakan mu nanti!" Teriak Zafian sebelum pintu rahasia itu benar-benar terkunci.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang, Zafian segera memerintahkan untuk masuk, dan rupanya ada Cintia yang ingin melaporkan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Zafian.


"Maaf pak, ada tuan Bimo"


"Apa!, Breng-sek!" Sahut Zafian.


"Bersama beberapa orang yang sepertinya para pengawalnya, Bagaimana ini pak?" Tanya Cintia lagi.


"Bawa dia ke ruangan rapat, aku akan menyusul kesana" sahut Zafian.


"Baik pak" Cintia langsung keluar setelah berpamitan.


Sementara Zafian yang masih emosi dengan masalah yang timbul, segera bangkit dan keluar dari pintu ruangan kerjanya, tentu saja menuju ke ruang pertemuan untuk menemui tamu yang ingin sekali di hajar nya saat ini.


Berjalan menuju tempat, Rupanya tamu yang tak lain adalah Bimo Trihatmodjo sudah menunggu, Zafian segera duduk dengan tatapan berusaha usaha tenang walau hatinya bergemuruh saat ini.


"Apa harus membawa anak buah mu juga untuk masuk kesini?" Ucap Zafian setelah duduk dan menatap beberapa anak buah Bimo yang berdiri seolah menjaga keselamatan sang majikan.


"Rupanya kau memata-matai ku sampai sejauh itu, lumayan.." sahut Zafian dengan sinis.


"Maaf, aku hanya mendengar kabar yang sampai di telingaku saja, jangan salah paham"


"Baik, apa yang membuatmu datang kesini?" Tanya Zafian.


"Hanya ingin memberitahu mu, terimakasih karena kau sudah menyelesaikan dan memberikan hotel mewahku, hahaha" ucap Bimo tertawa melihat wajah Zafian yang berusaha mengendalikan emosinya.


"Silahkan saja, saat ini kau mungkin sedang diatas angin, tapi ingat.. apa yang bukan menjadi milikmu dan kau rebut dengan paksa, akan tetap hilang selamanya" sahut Zafian dengan senyum sinis nya.


"Kau mengancam ku?!" Ucap Bimo.


"Tentu saja tidak, aku hanya memperingatkan mu tuan Bimo Trihatmodjo, jaga kewarasanmu di saat kau nantinya akan hancur" sahut Zafian kembali dengan wajah tenang dan membuat Bimo makin resah.


"Kau!, Kurang Ajar!" Ucap Bimo yang merasa terintimidasi.


"Kata itu lebih cocok untuk dirimu sendiri, Jadi silahkan pergi dari sini, kalau hanya kehilangan satu hotel mewah saja, itu tidak akan berpengaruh apapun dengan ku, jangan kau lupa itu!" Ucap Zafian penuh penekanan.


"Sombong sekali kau ha!"


"Sombong dengan orang yang sombong justru akan mendapat pahala, tentu saja aku suka melakukan hal itu"


"Kau_!, Baik, aku juga ingin kau tau, bukan hanya hotel itu yang aku mau, tapi juga wanitamu , bagaimana Hem, kau akan memberikan dengan ikhlas, atau aku yang memaksa mengambilnya?"


"Bang-sat!, Jaga mulutmu!" Sontak Zafian berdiri dan kali ini benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya.


Bahkan Cintia dan satu orang kepala keuangan yang berada di sampingnya langsung ter lonjak ikut berdiri.


"Sabar pak Zafian" ucap anak buahnya.


"Kenapa, kau takut, wanitamu pasrah berada dalam pelukan ku juga" ucap Bimo, dan kali ini Zafian tidak bisa tinggal diam.


Dengan langkah cepat, Zafian melesat menyerang Bimo, ingin memberikan pelajaran yang setimpal akan kata-katanya yang tidak bisa lagi diterima karena menyangkut kehormatan istri tercintanya.


Bimo terkejut menerima serangan Zafian, tidak menduga bahwa sosok musuhnya ternyata mempunyai ilmu bela diri yang mumpuni, hingga pertahanan Bimo pun bobol dan satu pukulan tepat mengenai sudut bibirnya.


"Breng-sek!, Hajar orang ini!" Perintah Bimo dan semua anak buahnya langsung maju, sementara keadaan ruangan sudah tidak karuan, Cintia menjerit keluar ruangan membuat kegaduhan.


"Hentikan!" Suara seseorang mampu membuat semua menoleh.


"Sayang?" Ucap Zafian.


Rupanya Afita sudah berdiri diambang pintu, menatap tajam masing-masing orang yang sudah bersiap menyerang.


"Silahkan kalian pergi, atau Cctv yang merekam apa yang sudah kalian lakukan, akan kami ajukan untuk membuatmu pusing kembali, bukan begitu tuan Bimo?"


"Hahaha, tentu saja tidak, karena suamimu lah yang menyerang ku lebih dulu"


"Oh ya, jangan lupa, cctv ini milik perusahan Suami ku, jadi_ anda tau bukan, kita bisa berbuat apapun sesuka hati dengan rekamannya?"


"Kau!, Selain cantik, rupanya kau juga licik!" Ucap Bimo penuh kesal.


"Jaga ucapan mu Bimo!" Sahut Zafian tak terima, sedang kan Afita yang sudah berada di depannya, langsung menggenggam tangan Zafian untuk menenangkan.


"Terserah apa yang ingin kau katakan, yang jelas, silahkan anda pergi dari sini, kehadiran anda tidak bisa kami terima lagi, mohon maaf tuan Bimo Trihatmodjo" ucap Afita membuat Bimo makin naik darah karena telah di usir.


"Kita pergi, dan ingat wanita licik, aku akan membuatmu bertekuk lutut bahkan kau akan menyerahkan tubuhmu untuk ku nikmati!" Ucap Bimo lalu bergegas pergi.


"Kurang ajar kau Bimo, berani menyentuh Istri ku aku akan membu_"


Cup


Afita langsung menci-um suaminya begitu saja, sontak Zafian terkejut dan menghentikan ucapannya, begitu juga dengan karyawan yang lain, langsung di buat malu-malu gimana, hingga kabur kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Ucap Zafian yang masih belum lepas dari emosinya.


"Menenangkan mu, dan caraku sepertinya cukup efektif" sahut Afita tersenyum dan kini berjalan berdampingan dengan Zafian yang masuk ke dalam ruang kerjanya kembali.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.