
Seketika keadaan Mansion di siang itu begitu hidup, acara makan siang pun terasa sangat menyenangkan, ditambah dengan kehebohan Fian yang sengaja mencari perhatian Naura dan juga Firman.
Hingga kemudian terdengar suara ponsel Zafian yang ternyata dari rekan bisnisnya, memberitakan bahwa ada hal darurat yang harus segera diselesaikan.
"Apa aku harus ke sana?" Ucap Zafian dalam perbincangan lewat ponselnya.
"Iya tuan, harus anda sendiri yang bisa menyelesaikan dan harus berada di sini secepatnya"
"Oh my_, ini sangat menyebalkan" ucap Zafian kemudian langsung menutup handphonenya kembali.
"Ada apa Zaf" tanya Firman yang melihat raut wajah Zafian seketika berubah.
"Aku harus segera terbang ke luar negeri, salah satu perusahaan yang ada di sana mengalami masalah dan harus aku sendiri yang menyelesaikan secepatnya" Zafian menjelaskan Keadaannya.
"Oh God, apa aku harus ikut juga sayang?" Sahut Afita yang juga mencemaskan.
"Aku butuh bantuanmu yang, tapi aku bingung bagaimana dengan Fian, Bunda juga masih bersama dengan Reno" ucap Zafian.
"Tenanglah Kak, masih ada aku, serahkan Fian padaku, aku bisa mengatasinya" sahut Naura dengan senyuman.
"Tapi kamu masih dalam keadaan terluka Nau" ucap Afita.
"Aku sudah tidak apa-apa Kak, dengar sendiri penjelasan dari dokter Firman tadi kan?" Jawab Naura.
"Tenang saja, aku akan ikut mengawasi Naura dan juga Fian di sini, kalian segera berangkat lah dan selesaikan masalah, jangan khawatirkan mereka berdua" Firman memberikan saran, hingga akhirnya Afita dan juga Zafian merasa lebih tenang untuk meninggalkan Naura dan juga Fian.
*
*
Pagi hari terasa tidak biasa Karena Zafian dan Afita telah pergi meninggalkan Mansion menuju perjalanan ke luar negeri untuk menyelesaikan masalahnya.
Fian juga telah berangkat sekolah, Naura merasa kesepian karena hari ini masih harus beristirahat di tempat tidurnya.
"My God, benar-benar membosankan" gumam Naura kemudian perlahan melangkah pergi dengan tetap memperhatikan luka di kakinya.
"Sepertinya keluar sebentar untuk berjalan-jalan tidak ada salahnya, pasti sangat menyenangkan" batin Naura.
Sambil tersenyum, Naura kemudian merapikan baju dan memberi pesan pada salah satu pelayan bahwa dirinya pergi keluar Mansion sebentar.
Baru saja Naura membuka pintu utama dirinya dikejutkan dengan suara seseorang yang sudah berteriak.
BRAK
"Oh sh-it!" Ucap seseorang.
"Astaga, Maafkan aku dokter, sungguh aku tidak tahu kalau kamu ada di depan pintu" sahut Naura yang saat ini sangat terkejut dan segera membantu Firman mengusap bagian kepalanya yang terlihat membiru karena benturan daun pintu.
Firman hanya terdiam menikmati mata indah Naura yang kini tampak cemas melihat ke arah luka yang ada di dahinya.
"Aku tidak apa-apa" jawab lirih Firman.
Tatapan itu beradu, Naura merasa jantungnya berdetak begitu cepat hingga kemudian berusaha menyadarkan dirinya dan satu langkah mundur untuk menjaga jarak kembali.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Firman.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar" jawab Naura kemudian menatap sedikit aneh ke arah tas Firman yang dirasa lumayan besar.
"Kamu sendiri mau pergi ke mana?, keluar kota?" Tanya Naura.
"Tentu saja tidak, kamu lupa tugasku untuk menjaga kalian, dan untuk sementara aku akan tinggal di sini"
"Apa?!" Naura terkejut.
"Bukan keinginanku, Afita yang memberikan saran, dan dirasa di Mansion ini cukup aman karena banyak asisten rumah tangga dan juga para penjaga, bukankah begitu?" Ucap Firman.
"I iya, aku tau, Tapi _"
"Kenapa, apa Kau keberatan?"
"Iya, eh tidak, bukan begitu maksudku, hanya saja apa semua ini tidak merepotkanmu, aku baik-baik saja dokter, kondisiku juga sudah lumayan, menjaga Fian tidak masalah bagiku"
"Sepertinya kamu keberatan, tapi aku tidak peduli, kalau kau merasa tidak nyaman, hubungi afita dan bilang padanya kalau kamu tidak menginginkan aku berada di Mansion, maka aku akan pergi sekarang juga"
"Bukan seperti itu, sudahlah, silakan masuk dan pilih kamar dokter sendiri, aku akan keluar sebentar"jawab Naura yang tidak ingin berdebat lagi.
Firman tidak mengucap apapun, kemudian masuk, dan sesuai dengan yang sudah disampaikan oleh Afita ternyata kamarnya sudah dipersiapkan.
Semua barang yang dibawa oleh Firman segera ditata dengan rapi, satu minggu berada di Mansion zafian untuk menjaga Naura, entah kenapa membuat hidupnya begitu bersemangat kembali.
Sementara Naura mengomel sambil berjalan perlahan menuju minimarket untuk membeli sesuatu yang diinginkan.
Sampai di tempat yang dituju Naura segera masuk dan mencari es krim kesukaannya.
"Oh syukurlah masih ada" ucap lirih Naura saat mendapati barang yang dicarinya hanya tinggal dua batang saja.
Setelah membayarnya Naura memutuskan tidak langsung pulang tapi duduk di kursi yang telah disediakan di depan minimarket, sambil menikmati satu es krim yang sengaja dibukanya.
"Ini sungguh nikmat" ucap Naura lirih sambil tersenyum.
Namun tiba-tiba saja dirinya dikejutkan dengan satu es krim utuh yang masih ada di tangan kirinya sudah beralih ke tangan seseorang.
"Hei, apa yang kau la_"
"Aku juga menginginkannya, boleh kan aku minta?"
"Dokter Firman?" Ucap Naura yang masih nampak terkejut.
"Hem" jawab Firman.
Tidak kembali untuk pulang, justru Firman kini duduk bersama dengan Naura sambil menikmati es krim yang sudah dibukanya.
Tidak ada kata-kata apapun dari keduanya yang keluar, mereka lebih memilih untuk menikmati es krim yang sudah berada di tangannya masing-masing.
"Kenapa dokter Firman ke sini?" Tanya Naura kemudian.
"Ingin melakukan hal yang sama denganmu" jawab Firman yang masih menikmati es krim di tangannya.
"Ck, Itu jawaban yang tidak masuk akal dokter, yang aku tahu jadwal seorang dokter sangat padat, Apa itu tidak berlaku untukmu?" Tanya Naura.
"Waktuku memang sangat padat, tapi bukan berarti aku tidak bisa mengaturnya dengan baik, buktinya Aku masih bisa duduk di sini bersamamu saat ini" jawab Firman.
Naura terdiam, sedikit memutar matanya saat mendengar jawaban Firman, sementara es krim yang berada di tangannya hanya tinggal sedikit lagi dan itu artinya sebentar lagi Naura akan segera kembali.
Seolah mengalami kejadian yang sama di waktu yang berbeda, tiba-tiba saja Naura yang baru saja berdiri dan hendak melangkah pergi bertabrakan kembali dengan seorang wanita.
"Oh my God, Kenapa selalu terjadi hal seperti ini di tempat ini" terdengar Naura mengomel sendiri.
Firman yang mengetahui kejadiannya hampir saja meloncat dan membantu Naura namun melihat sosok wanita yang menabrak, membuatnya mengurungkan niat.
"Naura?" Tanpa wanita itu begitu terkejut.
"Maaf dokter Ana, untuk yang kesekian kali aku tidak sengaja" ucap Naura.
Keduanya saling pandang, dan kali ini Ana mengucapkan kata maaf lalu kemudian melihat ke arah firman dan semakin terheran.
"Dokter Firman, Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya Ana.
Firman hanya melambaikan tangan, lalu kemudian ana segera beranjak dan menuju ke arah Firman, keduanya kini sudah melakukan obrolan.
"Apa kau akan tetap berdiri di sana?" Tanya Firman saat melihat Naura tak bergeming dari tempatnya.
"Apa?, Oh tidak terima kasih, Aku akan segera kembali ke Mansion" jawab Naura setelah melihat sebuah jam dan menunjukkan pukul sembilan.
"Kau keberatan pulang bersamaku?, setidaknya tunggulah aku menghabiskan es krimmu ini dulu" sahut Firman membuat Ana tampak tak nyaman.
Bukannya menjawab Naura hanya tersenyum, lalu kemudian melambaikan tangan, "Aku pergi dulu, nikmatilah waktu kalian" ucap Naura yang kini sudah melangkah pergi dan tidak memperdulikan Firman.
"Apa yang terjadi dengan Naura, aku melihat tatapan matanya begitu tidak nyaman, apa dia juga menyukaimu?"
"Memangnya siapa yang tidak menyukaiku?" Jawab Firman membuat anak hanya tersenyum.
"Benar sekali, bahkan aku menolak banyak pria demi mendapatkanmu, walaupun kenyataannya percuma saja" sahut anak sambil terkekeh.
"Kau jujur sekali, mulai sekarang carilah pendamping agar membuat mu tetap semangat menjalani hidup, aku yakin banyak sekali laki-laki yang sangat menginginkanmu" ucap Firman.
"Sayangnya itu bukan Dokter Firman"
"Aku rasa kata-kataku tempo hari sudah cukup jelas bukan?" Ucap Firman membuat anak kembali tertawa.
"Aku tahu tenang saja sudah aku putuskan tidak akan mengejarmu lagi, tapi untuk mencari kekasih aku harus sangat hati-hati, usiaku tidak mudah lagi"
"Itu artinya kau ingin mencari seorang suami?"
"Tepat sekali" jawab Ana.
Keduanya lalu saling berbagi cerita dan terkadang tertawa, Naura yang sekilas melihat hal itu menghela nafas panjang.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi" ucapnya dalam hati, kemudian pergi.