ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 146



"Maaf Bu, saya panik, Suhu tubuh Tuan Reno sangat panas, dan saya hendak mengambil air untuk mengompres nya"


"Apa?!, Lakukan cepat" ucap Anita yang tanpa sadar ikut khawatir dengan keadaan Reno dan masih berdiri di depan pintu kamarnya.


Saat asisten Rumah tangga tiba membawa air dalam ember kecil, Anita kemudian ikut masuk kedalam sana.


"Astagfirullah, badannya panas sekali Bu" ucap asisten rumah tangganya.


"Benarkah?" Sahut Anita yang kini ikut memegang kening Reno, dan seketika ikut panik saking panasnya.


"Panggil saja dokter keluarga seperti biasanya, sementara aku akan mengompresnya, lakukan cepat, jangan membangunkan anggota keluarga yang lain, mereka semua butuh istirahat" ucap Anita yang kini sudah meletakkan handuk kompresnya di dahi Reno.


"Baik Bu" sahut asisten rumah tangganya dan segera keluar untuk melakukan perintah.


Anita menatap Sendu Reno yang masih terbaring lemah, ada getaran aneh saat tiba-tiba saja Reno memegang tangan Anita perlahan.


"Maaf kan kami" ucap Reno lirih dan Rupanya baru saja tersadar.


"Kamu_" sahut Anita terkejut.


"Maafkan kami" ucap Reno lagi.


Anita seketika berdiri, hanya terdiam dan mundur beberapa langkah menjaga jarak, tatapan Reno begitu mirip dengan suaminya, dan itu membuat kebencian menyeruak begitu saja.


"Terimakasih sudah merawat ku, aku akan segera pergi dari Mansion ini, maaf kalau membuat Ibu dan Zafian tidak nyaman" ucap Reno kesekian kali.


"Kamu masih Demam, sebentar lagi dokter akan datang" ucap Anita, lalu pergi meninggalkan Reno begitu saja.


Tak lama kemudian seorang Asisten Rumah tangga datang dan membawa dokter keluarga untuk segera memeriksa Reno, memberikan beberapa obat untuk segera di minum dan beristirahat kembali karena efek obat yang lumayan membuatnya ingin segera tidur kembali.


*


*


Satu Minggu telah berlalu, suasana Mansion lebih ramai karena semua masih berd disana, begitu juga dengan Reno yang keadaannya sudah mulai membaik.


Sarapan pagi sudah di persiapkan, kali ini Reno ingin ikut berada di sana sekalian untuk berpamitan, bahkan beberapa anak buahnya sudah tiba tadi malam untuk menjemputnya.


Kedekatan Fian dengan Reno semakin di rasakan, bahkan sehari saja tidak bertemu dengannya, pasti Fian akan cerewet untuk menanyakan.


"Maaf, hari ini saya akan segera pergi, dan terimakasih sudah merawat saya disini dengan baik, sekali lagi maafkan saya sudah membuat masalah besar dalam kelurga mu Zafian, aku sangat menyesali hal itu" ucap Reno.


"Om Reno mau kemana, Fian ikut" ucap lirih Fian yang kini tengah menarik-narik baju Reno.


"Om Reno akan mengunjungi Fian nanti, jangan khawatir Ok, kita akan bermain sepuasnya" ucap Reno berusaha menenangkan.


Afita mendekati Fian dan menggendongnya, lalu membawa ke sisi Zafian untuk mendengarkan lagi apa yang ingin Reno sampaikan, sementara Anita masih terdiam di tempatnya.


"Atas nama kedua orang tuaku yang sudah berpulang, saya juga meminta maaf, Tolong Bunda Anita dan Zafian mau memaafkan, dari lubuk hati saya terdalam, Terimakasih" ucap Reno lalu berdiri dan menundukkan badannya.


Suasana begitu hening, tak ada yang berani bersuara, karena mereka tau semua keputusan yang paling berhak ada di tangan Anita.


Reno tersenyum kecut, berusaha menyadari kalau seandainya permintaan maafnya tak diterima, lalu dirinya membalikkan badan dan bersiap melangkah.


"JANGAN PERGI!" sebuah kalimat yang keluar dari Anita membuat semua orang terkejut.


Reno menghentikan langkahnya dan terdiam seketika.


"Tinggallah disini beberapa Minggu lagi sampai keadaanmu benar-benar pulih kembali, Zafian akan membantumu" ucap Anita lagi.


"Maksud Bunda?" Tanya Zafian tak percaya dan juga merasa bersyukur karena sang Bund mau berdamai dengan hatinya.


"Aku masih ingin mendengar apa yang malam itu mau di ceritakan padaku olehnya, bukan begitu Reno?" Ucap Anita membuat alasan.


Reno tersenyum, lalu mengangguk.


"Jadi ada yang kalian rahasiakan dariku?" Sahut Zafian sambil memicingkan mata.


"Tidak, aku akan menceritakan nanti ke Bunda dan juga dirimu Zaf, maaf aku tidak bisa memanggilmu kakak" ucap Reno dengan senyuman.


"Ck, aku juga belum menginginkan hal itu" sahut Zafian.


"Baguslah" ucap Reno.


"Tapi ingat, jangan terlalu dekat dengan istriku, kau harus tau itu!" Ucap Zafian memperingatkan.


"Hei, tenanglah, dia kakak iparku, dan aku sangat tau diri akan hal itu, kalau cuma berbincang tidak masalah bukan?" Goda Reno ingin mencairkan suasana.


"Jangan berani!" Zafian segera pergi sambil menyambar tangan Afita dan membawanya.


Alex, Reyna dan Kaisar tersenyum


"Sepertinya menantu mu itu sama posesifnya dengan dirimu" sahut Kaisar.


"Kau ini, selesaikan saja makan mu, sebentar lagi kita akan segera kembali ke Jakarta" sahut Alex.


Reyna dan Anita saling pandang dan tersenyum, sementara Fian kini sudah berada dalam pangkuan Reno dengan riang.


"Jangan menggangu Om Reno, Fian makan sendiri ya?" Ucap Anita.


"Tidak ada yang terganggu Bun, biarkan Fian bersamaku, sepertinya kedua orang tuanya ingin membuatkan adik lagi buat Fian" ucap Reno.


"Asik, Fian mau adik Om!" Suara teriakan itu membuat semua tertawa.


Setelah sarapan pagi, kini Zafian dan Afita bersiap mengantar kepergian kedua orang tua dan Paman nya untuk kembali ke Jakarta, karena cara yang kurang bersahabat, Fian tidak diperbolehkan oleh Reyna untuk ikut ke Bandara.


Anita hanya tersenyum, mengangguk lalu memegang tangan Reno dengan lembut.


"Tidak ada yang bersalah disini, mungkin takdir sudah digariskan seperti ini, berdamai dengan hati membuatku semakin tenang, aku iklhas menerima semuanya, dan bersyukur karen Zafian punya saudara" ucap Anita.


"Terimakasih Bunda" hanya itu kata-kata yang bisa terucap dari mulut Reno, karena saat ini dirinya menahan semua air mata yang ingin keluar begitu saja.


*


*


Sementara itu, hari ini juga digunakan oleh Zafian mengantar Afita untuk kembali aktif dengan pekerjaannya, di tambah dengan telah kembalinya Naura di sisinya, walaupun terkadang masih terlihat dengan kursi rodanya karena kekuatan kaki ya belum pulih sepenuhnya.


"Aku ingin kamu melanjutkan kuliahmu yang dulu sempat tertunda" ucap Afita dan tentu saja mengejutkan Naura.


"Apa!, Maksud Nona Afita?" Tanya Naura yang ternyata sudah pulih semua ingatannya.


"Ck, dua tahun lebih aku sudah nyaman dengan panggilan kakak, kenapa kau merubah nya lagi?"


"Ma maaf, ingatan saya sudah kembali, dan saya merasa tidak sepantasnya memanggil seperti itu"


"Kau ini, keras kepala sekali, ya sudah terserah, yang penting persiapkan dirimu, besok segera berangkat, semua sudah aku persiapkan, jangan khawatirkan apapun terutama uang, aku sudah mempersiapkan semuanya"


"Apa?!, Ta tapi Nona_"


"Kamu bisa membayarnya dengan kelulusan terbaikmu" sahut Afita.


"Tidak, aku akan membayarnya nanti kalau sudah kembali membantu Nona Afita dan mendapat gaji kembali" ucap Naura.


"Terserah, yang penting kau segera berangkat, ingat hati-hatilah di negeri orang, kehidupan di luar negeri sangat bebas, jaga diri baik-baik"


"Iya, aku akan selalu mengingat itu, terimakasih Nona" ucap Naura.


"Kamu tidak mau memelukku?" Tanya Afita.


"Tentu mau, sangat ingin malah" sahut Naura, dan Afita segera menarik tubuhnya lalu memeluk dengan erat, disaat yang sama seseorang masuk dan melihat hal itu terasa aneh.


"Pelukan seperti itu harusnya hanya untukku" sahut seseorang mengejutkan keduanya.


Naura tertawa kecil, lalu segera melepas pelukan Afita.


"Maaf, saya harap Tuan Zafian tidak cemburu pada saya" ucap Naura lalu berjalan keluar ruangan dengan senyum karena merasa lucu dengan sikap Zafian.


"Kau ini yang" ucap Afita hendak melangkah menuju kursi kerjanya.


Namun Zafian dengan cepat nyambar tubuhnya hingga kini begitu menempel dalam pelukan.


"Aku merindukanmu" ucap Zafian.


"My God yang, masih beberapa jam lalu kita berpisah"


"Tapi bagiku begitu lama, mungkin efek hampir tiga tahun kau meninggalkanku" Alasan Zafian.


"Jangan di bahas lagi, aku minta maaf, dan sangat bersyukur semuanya sudah selesai dengan baik yang"


"Hem, dan aku tak mengijinkan kau jauh dariku, aku akan sering menemui mu, walaupun saat sedang bekerja"


"Itu terlalu posesif sayang"


"Aku tidak peduli" ucap Zafian.


"Baiklah, terserah saja, asal kamu bahagia" sahut Afita menyerah.


"Aku akan lebih bahagia kalau saat ini kita membuatkan saudara buat Fian" Zafian langsung menggendong tubuh Afita dan membawa masuk ke ruangan khusus yang tersembunyi disana.


"Yang!" Teriak Afita sebelum akhirnya berhasil di bawa masuk oleh Zafian.


Berikutnya terjadi pergulatan panas di dalam sana, Zafian begitu menginginkan penya-tuan saat ini, Afita di buat menjerit tertahan saat milik suaminya berhasil masuk dengan sempurna.


"Yang, pelan, sshh" ucap Afita menahan sebuah rasa yang begitu nik-mat kini tengah mendera tubuhnya.


Tubuh polos Afita yang nampak begitu indah dalam terpaan sinar yang tak terlalu banyak masuk dalam ruangan membuat Zafian semakin tidak bisa mengendalikan has-rat nya.


Seolah begitu candu hingga tidak merasa puas kalau hanya melakukan sekali, hingga teriakan mencapai puncak terdengar hampir bersamaan di akhir permainan.


"Kau sangat Nik-mat sayang" ucap Zafian yang kini sudah berbaring memeluk Afita.


"Dan kau berhasil membuat kakiku gemetaran Zafian Al Faradz" sahut Afita.


Terdengar suara tawa Zafian, lalu menggoda Afita kembali dengan menggesekkan miliknya di bagian belakang Afita.


"Hentikan yang!" Teriak Afita hendak menghindar.


Zafian kembali terkekeh dan mengeratkan pelukannya, "Jangan kemana-mana, istirahat dalam pelukan ku sejenak, setelah itu kita mandi" bisik Zafian.


Selanjutnya akan kita lanjutkan tentang kisah Naura dan Dokter Firman di episode berikutnya.


Jangan lupa untuk melihat kisah "THE TRIPLETS" sebelum nanti akan launching Novel terbaru tentang kisah Ethan Eagle Nugraha, yang tentunya semakin Seru dan mendebarkan.


Yuk semangat berikan dukungan dengan cara LIKE, HADIAH, VOTE, KOMEN dan Tonton IKLAN sebanyak-banyaknya.


Bersambung.