
"Tidak ada yang harus aku jawab dari pertanyaan orang yang masih emosi" jawab Naura.
Firman kemudian menarik tangan Naura untuk membawanya ke dalam kamar, "Aku penasaran sekali apa kamarmu masih seperti yang dulu?" Ucap Firman sambil terus menggandeng tangan Naura.
"Lepaskan, apa yang akan kau lakukan dokter?" Tanya Naura berusaha meronta karena merasa panik.
"Tentu saja memberimu sesuatu agar kau bisa menjawab pertanyaanku" jawab Firman.
Naura juga sangat terkejut ketika melihat satu tangan Firman ternyata sudah memegang sebuah barang pemberian dari sahabatnya.
Firman menunjukkan barang itu dan seolah-olah ingin membuangnya ke lantai.
"Apa yang kau lakukan dokter?, Barang itu adalah pemberian dari sahabatku dan itu cukup mahal" seru Naura berusaha mencegah apa yang akan dilakukan oleh Firman.
"Aku tidak akan peduli, 10 barang seperti ini bisa aku belikan untukmu" jawab Firman yang sudah termakan oleh emosi.
Tiba di dalam kamar Naura, dan dengan sedikit menghentakkan tangannya membuat dirinya dan Naura sudah berada di dalam kamar, dengan cepat Firman menutup pintu dan menguncinya.
"Dokter, ini tidak benar apa yang kau_"
Ucapan Naura terhenti, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Firman, Naura tidak bisa berpikir dan seakan mau pingsan dengan sentuhan bibir Firman yang begitu mendadak.
Kali ini Firman benar-benar nekat mencium bibir Naura, hal yang sudah lama ingin dilakukan tapi selalu ditahan karena di saat itu takut Naura merasa terpaksa.
Sementara Naura tidak bisa melakukan apapun selain terdiam di depan Firman yang kini masih menikmati bibir manisnya.
Firman tahu jika Naura tidak akan membalas ciumannya.
"Cegah aku jika kau tidak menginginkan hal ini" ucap lirih Firman di atas bibir Naura.
Naura masih terdiam dan tidak bisa menjawab, dirinya banget bahkan tidak mengerti kenapa semuanya tidak bisa dihentikan.
Firman menghentikan ciumannya dan mengecup bibir Naura dengan lembut.
"Kau bisa menamparku atau mendorongku jika ingin menolaknya" ucap Firman lagi melihat tidak ada respon apapun dari Naura.
"Aku tidak bisa melakukan hal kasar pada siapapun" ucap lirih Naura dan membuat Firman tersenyum mendengar jawaban di luar perkiraannya.
"Kamu bisa melukai bibirku dengan menggigitnya sampai berdarah jika kau memang ingin menolaknya" ucap Firman masih tersenyum menatap Naura.
Naura masih terdiam dan tidak berani menatap mata Firman yang kini benar-benar dekat di depan wajahnya, jari-jemari Firman mengusap lembut bibir Naura yang terlihat sedikit bengkak karena perbuatannya.
"Bisakah kau melihatku?" Mohon Firman yang kini sudah mengangkat dagu Naura.
Naura mengerjapkan mata dan memfokuskan pandangan, kini tatapannya sudah beradu dengan Firman dan serasa menghipnotisnya.
"Aku bertanya sekali lagi, apa kamu menyukaiku?" Tanya Firman.
Tidak terasa Naura menggigit bibirnya, menandakan bahwa dirinya saat ini semakin resah, dan justru hal itu membuat Firman kembali mencium bibir Naura, dan kali ini bahkan memberikan gigitan lembut di sana.
"Sudah aku peringatkan jangan menggigit bibirmu seperti itu karena itu akan memancing pria ingin mencium bibirmu" ucap Firman lirih.
Lagi-lagi Naura masih tidak bisa berkutik dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, semuanya begitu mendadak dan mengejutkan baginya.
"Tolong katakan sesuatu Naura" ucap Firman yang masih betah menempelkan bibirnya di bibir Naura.
Rasa kelu di bibirnya membuat Naura hanya menggelengkan kepala.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Firman.
Naura hanya kembali menggeleng.
"Apa kamu takut menyukaiku?" Firman mencoba mengerti dan mencari tahu perasaan Naura yang sebenarnya.
Rasanya Naura sudah tidak bisa lagi menutupi semuanya, hingga kemudian mengangguk pelan dan kembali menunduk.
"Kenapa?" Firman meraih wajah Naura lagi dan menatap mata indahnya.
"Aku_" Naura masih menggantung jawabannya.
"Aku tidak berani melakukan hal itu, kita sangat berbeda, dan aku tidak ingin mempermalukanmu, aku sangat tidak pantas untukmu dokter, maaf" ucap lirih Naura yang hampir saja tak terdengar oleh Firman.
Tatapan Firman masih setia ke wajah Naura, dan kemudian jarinya dengan lembut membelai pipi Naura orang yang begitu halus, kembali Firman menyentuh bibir Naura karena ingin menumpahkan semua perasaannya melalui ciu-man lembutnya.
Semuanya terjadi begitu saja, ciu-man yang awalnya begitu lembut kini sedikit menuntut, menyesap kan lidah di sela-sela bibir Naura yang telah terbuka, Naura tidak membalas dan hanya menikmati semuanya.
Pengalaman pertama bagi Naura ini tentu saja membuatnya tidak tau apa yang harus dilakukan, instingnya hanya mengikuti permainan bibir dan lidah Firman.
Perasaan Naura saat ini tidak bisa tergambarkan, di tengah dia tidak bisa berpikir harus apa, jantungnya terasa bekerja cukup keras, dadanya terasa bergemuruh, apalagi tangan Firman kini sudah menyusup masuk, dan mengusap lembut kulit punggungnya.
"Sorry.." ucap lirih Firman.
Naura segera menunduk, Firman hanya tersenyum dan melihat keindahan wajah Naura yang semakin cantik karena pipinya yang tampak memerah.
"Aku rasa saatnya mengobati lukamu dan mengganti perban nya" ucap Firman kemudian membawa Naura ke sofa yang ada di dalam kamar.
"Di mana kotak obatnya?" Tanya Firman lalu kemudian membantu Naura untuk duduk perlahan.
Naura menunjukkan ke arah lemari kecil di mana tempat dia menyimpan apa yang diinginkan oleh Firman.
Lalu Firman segera mengambil kota itu kemudian berjalan kembali mendekati Naura dan perlahan membuka perban yang menempel di lukanya.
"Rasanya aku ingin sekali menemanimu malam ini, tapi sayang, nanti aku ada kepentingan bertemu dengan seseorang untuk membicarakan masalah yang ada di rumah sakit, mungkin kembali kesini agak malam" Firman menjelaskan.
"Pergilah, aku tidak perlu harus selalu kamu temani" jawab Naura sedikit meringis saat perban yang menempel terlepas perlahan.
"Apa ini masih sakit?" Tanya Firman menghentikan gerakan tangannya.
"Sedikit, mungkin karena perbannya yang terlalu menempel" ucap Naura.
Masih terus menggerakkan tangannya untuk mengobati luka Naura, Firman kembali tersenyum dan mengajukan pertanyaan.
"Jadi kamu menyukaiku?" Tanya Firman untuk memastikan kembali.
"Apa?!" Naura terkejut dengan pertanyaannya.
"Aku hanya ingin mendengar langsung dari bibirmu" ucap Firman.
Seketika Naura memutuskan pandangan, kembali menunduk seolah menghindari tatapan Firman.
"Tidak perlu malu padaku" Firman tersenyum menatap Naura sekejap.
"A_aku tidak malu padamu" Naura menjawab dengan tergagap, lalu menggigit bibirnya kembali.
CUP
Naura terkejut dan membelalakkan mata saat Firman kembali menge-cup bibirnya.
"Aku akan menci-um bibirmu setiap kamu mengigit nya" ucap Firman memberikan peringatan.
"Kamu yang membuat ku seperti itu" jawab Naura dengan suara yang sangat pelan.
Firman tertawa dan kembali melakukan pekerjaannya yang kini hampir selesai, luka Naura kini sudah mulai mengering.
Keadaan sunyi saat Firman kembali fokus menutup luka itu, hingga akhirnya selesai dan membereskan kembali semua alat yang sudah keluar dari tempatnya.
"Selesai" ucap Firman.
"Thanks" sahut Naura.
Sebelum mengembalikan kotak obat itu, Firman kembali menatap Naura seolah ingin sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Naura.
"Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku yang tadi, Ayolah aku sangat ingin mendengarnya" mohon Firman.
"Aku lapar, bisakah kita makan?" Jawab Naura dan membuat Firman tak percaya.
"Oh my_ kamu sungguh menggemaskan sayang" ucap Firman yang kini sudah berdiri dan mengembalikan kotak itu ke tempatnya.
Naura sedikit tersentak dan tak percaya saat mendengar firman sudah memanggilnya sayang, namun ada rasa yang menyenangkan di hatinya.
Firman berusaha memahami dan tidak memaksakan lagi apa yang diinginkan, baginya kejadian hari ini, sudah cukup menegaskan bahwa Naura telah menerima dirinya.
Keduanya berjalan beriringan, Firman memegang lengan Naura untuk membantu memudahkannya berjalan.
"Lalu?" Tanya Firman yang tentu saja membuat Naura seketika menoleh ke arahnya.
"Lalu apa?" Sahut Naura yang masih tidak mengerti.
"Apa hubungan kita saat ini?" Tanya Firman yang kini sudah duduk di kursi makan bersama dengan Naura.
"Tolong jangan menghindari pertanyaanku lagi kali ini" mohon Firman sambil menangkup wajah Naura agar tidak berpaling lagi dari tatapannya.
"Tolong katakan perasaanmu padaku Aku sangat ingin mendengarnya" ucap Firman.
Naura kini memberanikan diri untuk menatap mata Firman, seolah sedang mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya yang selama ini selalu terpendam.