ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 63



Tak hanya Afita, Zafian ikut terkejut dan berbalik arah dengan memegang erat tangan sang istri.


"Kendalikan dirimu sayang, biar aku yang menyelesaikan" ucap Zafian.


Afita menahan emosi nya kembali, tidak ingin membantah perkataan suaminya, kini dia hanya berdiam diri dan tetap mengamati langkah suaminya yang sudah mendekati kembali sosok laki-laki yang telah menyinggungnya.


"Jangan menguji kesabaran saya Tuan Ricardo" ucap Zafian.


"Kau, laki-laki bre-ng-sek yang menjadi tidak tau diri rupanya, saatnya aku memberi pelajaran untukmu" sahut Ricardo dengan geram, detik berikutnya berseru, "Hajar laki-laki ini!" Teriaknya memberi perintah ke beberapa anak buahnya.


Sontak Zafian mundur sejengkal, terkejut dengan apa yang diperintahkan Edric dan segera bersiap menghadapi lawan.


Dua orang maju bersama, menyerang dengan pukulan yang bergantian melayang menuju wajah Zafian, dengan sigap Zafian menangkis bahkan menyerang balik dengan cepat hingga beberapa pukulan berhasil mendarat.


Sementara Afita masih terdiam, berdiri melihat aksi suaminya yang masih cukup lihai menghadapi dua lawan yang rupanya masih bisa di hadapi dengan gampang oleh suaminya.


Begitu juga dengan Edric Ricardo yang dengan santai, kini duduk sambil menatap pertunjukan yang ada di depannya, sesekali menyeringai saat kedua anak buahnya kadang membuat Zafian sedikit kerepotan.


"Kalian majulah!" Ucap Edric menambah lagi anak buahnya untuk menyerang, kali ini Zafian benar-benar marah, dengan sengaja menendang vas bunga yang ada didekatnya tepat melesat kearah Edric Ricardo.


"Ba-ji-ngan!" Teriak edric menghindar dan hampir saja menjadi sasaran.


Zafian tersenyum puas, menoleh ke arah sang istri yang ikut senang melihat pertunjukkan yang dilakukan.


"Bagus sayang, beri pelajaran yang setimpal" batin Afita.


Tidak tinggal diam, kali ini Edric melompat dan maju di hadapan Zafian, "Kalian semua mundur, aku sendiri yang akan menghajarnya kali ini!" Teriak Edric memberi perintah dengan wajah mengeras penuh emosi.


Detik berikutnya, Edric langsung menyerang Zafian dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan satu tendangan hampir saja menyentuh dada Zafian.


"Oh Sh-it!, Gerakannya sangat cepat dan kuat, hampir saja" ucap lirih Zafian kembali mempersiapkan dirinya.


Edric tersenyum miring, merasa bahwa dirinya satu langkah unggul di atas Zafian yang kelabakan menerima serangannya.


"Kali ini aku akan menghancurkan mu di depan istrimu, dasar laki-laki tidak tau diri" batin nya.


Kembali Zafian mendapat serangan, lebih dahsyat lagi dan tidak pernah di sangkarnya, tidak ada kesempatan Zafian untuk menyerang, menghindar saja sudah membuatnya kerepotan, hingga terjadi hal di luar dugaan dimana Edric mengeluarkan senjata api bersama dengan serangannya yang melesat ke arah Zafian.


"Ma-ti kau bre-ng-sek!" Teriaknya.


Terdengar suara tembakan yang begitu keras, Semua bahkan terkejut dengan aksi Edric yang tidak disangka-sangka, semua mengira Zafian kini pasti terkena tembakan dengan jarak yang sangat dekat.


Zafian memejamkan mata, berserah saat butiran peluru dengan cepat menuju ke arahnya, namun apa yang terjadi kemudian?


Semua dikejutkan dengan sesuatu yang di luar nalar kekuatan manusia, tubuh Zafian seolah menghilang dari tempatnya, beberapa detik berikutnya, mereka semua menyadari, rupanya Zafian sudah berpindah tempat menghindari peluru yang kini melesat mengenai salah satu anak buah Edric yang langsung tergeletak tak bernyawa.


"Sayang?" Ucap Zafian saat membuka mata dan terkejut melihat istrinya telah mendekapnya.


"Alhamdulillah, kamu baik-baik saja" ucap Afita melepas dekapannya.


Zafian kembali memeluk sang istri, menyadari bahwa Afita lah yang menyambar tubuhnya secepat kilat dan tak terlihat. "Terimakasih sayang" ucap Zafian lirih.


Edric sedikit melangkah mundur, tangannya menggenggam erat penuh emosi sekaligus terkejut dengan apa yang terjadi. "Bre-ng-sek, bagaimana mungkin mereka dengan cepat berpindah tempat, wanita itu?, mungkinkah dia yang melakukannya?, Siapa dia sebenarnya?" Semua tanya dalam hati Edric Ricardo.


"Kali ini, kita yang harus memberikan pelajaran, ini tidak bisa kita biarkan lagi" ucap Zafian bersiap melangkah maju.


"Tunggu, jangan sia-siakan perlawanan kita sayang, tahu maksud ku bukan?" Ucap Afita.


Zafian terdiam sebentar, menatap mata Afita lalu mengangguk tanda mengerti apa yang dimaksud kan, lalu segera melangkah maju mendekati Edric yang masih memegang senjata di tangannya.


"Kami akan melawan mu kali ini, dengan tidak mengurangi rasa hormatku, terpaksa aku melakukan hal ini tuan Edric, karena anda yang mengharapkan hal ini, dan aku ingin, setelah pertarungan kita berakhir, maka hutang budiku aku anggap lunas, tidak ada ikatan apapun diantara kita, baik di masa lalu maupun sekarang" ucap tegas Zafian.


"Percaya diri sekali kau, baik, kalau itu maumu, jangan salahkan aku kalau aku akan membuatmu cacat seumur hidup bersama dengan wanitamu!" Teriak Edric lalu memberikan perintah ke anak buahnya untuk menyerang bersama.


"Aku menginginkan kedua orang ini merangkak di hadapanku, atau bila perlu habisi mereka dan buang ma-yatnya untuk makanan buaya peliharaan ku!" Ucap Ricardo dengan lantang.


Afita segera bersiap, mendekati Zafian dan merapatkan dirinya. "Bersiaplah sayang, kau ingin melihat siapa istrimu bukan, jangan terkejut" bisik lirih Afita.


Zafian menatap sekejab sang istri, tidak sabar lagi melihat sisi liar yang ada dalam diri wanita tercintanya, hingga dirinya di kejutkan dengan kilatan mata Afita yang sedikit berubah kebiruan.


"Serang mereka!" Teriakan Edric membuat Afita memutus tatapnya dan melompat menyerang maju tanpa di duga oleh musuh-musuhnya, sungguh lompatan yang sangat jauh dan tidak mungkin di lakukan oleh orang normal biasa, hingga detik berikutnya hampir sepuluh orang dapat dirobohkan dengan sekali gerakan tangannya.


"Apa ini?" Ucap Edric kali ini di buat terkejut dan bergetar melihatnya.


Sementara Zafian tengah bergerak aktif mendapati serangan dari sisi yang berbeda, "Jaga dirimu sayang!" Teriak Zafian sekilas mengawasi.


"Jangan khawatir kan aku, hati-hati lah!" Teriak Afita.


Zafian tersenyum melihat aksi istrinya disela-sela perlawanan yang dia berikan terhadap musuh-musuhnya, merasa sangat terkejut tapi juga begitu bangga dengan sosok istrinya saat ini.


Seketika Mansion berubah menjadi lautan manusia penuh luka, darah berada di sana sini, bahkan sebagian ada yang sudah tidak bernyawa lagi, bukan karena perbuatan Zafian maupun Afita, melainkan peluru nyasar yang di tembakkan oleh Edric Ricardo dengan membabi buta.


"Saatnya kau harus menerima perbuatan mu Edric!" Ucap lirih Afita yang kini melayang maju dengan cepat memberikan pukulan dengan tenaga dalamnya.


semuanya sangat terkejut, bahkan Zafian segera menghentikan gerakannya begitu juga dengan yang lain, gumpalan asap menggulung tinggi.


"Sayang!" Teriak Zafian khawatir akan keadaan sang istri yang masih belum terlihat.


Namun detik berikutnya, Afita terlihat seiring dengan gumpalan asap yang perlahan menghilang, kemudian nampak laki-laki tergeletak tak berdaya.


"Semua sudah selesai, kita pulang" ucap Afita saat berjalan mendekati Zafian.


Tak lama terdengar jeritan dari seorang wanita, tak lain adalah Eliza yang tengah berlari menghampiri papanya yang kini sudah tidak sadarkan diri.


Zafian melihat sekilas ke arah Eliza yang menjerit dan menangisi keadaan papanya, kini pertarungan sudah berhenti, anak buah Edric tidak berani bergerak, masih terkejut melihat sang Tuan kini tak berdaya lagi dan bahkan dalam keadaan yang mengenaskan.


"Kita pergi" ucap lirih Afita.


"Hem" sahut Zafian menggandeng tangan sang istri dan terus berjalan meninggalkan Mansion yang sudah porak poranda.


Didalam mobil keduanya masih terdiam, Afita menenangkan dirinya setelah menggunakan tenaga dalam yang cukup menguras energi dalam tubuhnya, sementara Zafian menatapnya dengan lekat.


"Jangan menatapku seperti itu" ucap Afita masih dengan memejamkan mata.


"Apa itu tadi kekuatan tenaga dalam yang kamu miliki?" Tanya Zafian.


"Hanya sebagian" sahut Afita.


"Jadi masih ada lagi?"


"Hem" jawab Afita masih memejamkan mata.


"Aku tadi melihat matamu berubah menjadi biru sayang" ucap Zafian.


"Apa sangat mengerikan?"


"Tidak, sangat cantik" ucap Zafian memberikan kecupan di kedua mata istrinya yang masih terpejam.


"Kekuatanku masih belum ada apa-apanya sayang, kamu belum tau kekuatan kak Aftan dan ketiga saudara kembarku, belum lagi anggota keluarga yang lain"


"Oh my God, aku tidak bisa lagi berucap dan membayangkannya"


"Tidak usah di bayangkan, berdoalah keluarga Nugraha tidak ada yang menggunakan kekuatannya"


"Aku tau sayang, dan maaf, sudah memaksamu untuk membuka jati diri"


"Dan sebentar lagi Daddy akan menghubungi kita"


"Apa!, Kenapa?" Tanya Zafian.


Belum sampai Afita menjawab pertanyaan nya, terdengar suara panggilan dari handphone, ternyata tepat seperti yang di duga, kini sang Daddy Alex telah menghubungi nya.


Terjadi perbincangan dimana Afita menjelaskan dengan hati-hati alasan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, tentu saja karena nyawa tengah dalam keadaan bahaya, tidak lama perbincangan terjadi, setelah mendapat wejangan dari sang Daddy untuk lebih berhati-hati lagi, percakapan segera di sudahi.


"Salam dari Daddy, kita harus lebih hati-hati mulai sekarang"


"Kenapa?, Apa terjadi sesuatu?" Tanya Zafian merasa ada yang tak biasa.


"Sebenarnya masih banyak kekuatan-kekuatan lain diluar sana, dan keluarga kami menjadi incarannya, selama ini kami bisa menyembunyikan diri dari mereka karena membatasi kekuatan tenaga dalam yang kami keluarkan"


"Apa?!, Maksudnya?" Tanya Zafian makin penasaran.


"Kekuatan tenaga dalam mudah di lacak oleh orang-orang yang juga mempunyai kekuatan seperti itu, dan artinya, saat kami menggunakan kekuatan itu, ada orang-orang yang bisa merasakannya, kalau mereka orang-orang yang baik tidak masalah, tapi bayangkan kalau mereka orang-orang yang menggunakan kelebihan itu untuk sesuatu yang jahat, mereka akan memburu kami karena mungkin merasa terancam"


"Astagfirullah, maafkan aku sayang" ucap Zafian langsung memeluk istrinya.


"Tidak apa-apa, Daddy memaklumi apa yang kita lakukan, dan keluarga Nugraha tidak mudah di kalahkan, bahkan masih belum ada yang mampu melakukan hal itu sampai sekarang, kami saling melindungi satu sama lain"


"Alhamdulillah, aku melihat hal itu, kalian sangat menyayangi satu sama lain, dan maaf, aku sempat cemburu dengan sepupu mu Evan, apa dia juga punya kekuatan?"


Afita tertawa kecil, teringat akan kelakuan narsis suaminya saat itu.


"Tentu saja, dia salah satu dari ketiga kembar yang aku ceritakan, kekuatan mereka luar biasa, aku yakin kamu tidak bisa membayangkannya"


"Oh ya, tapi, waktu aku berbuat kasar padanya, kenapa dia tidak membalasnya?" Tanya Zafian terkejut.


"Karena Evan sangat tau, mana musuh dan mana keluarga yang harus di lindunginya"


Deg.


Zafian terdiam, merasa terharu dengan apa yang dijelaskan oleh Afita. Keluarga Nugraha berisi orang-orang kuat dan hebat, namun dengan hati yang sangat lembut dan penyayang, bahkan tidak pernah sembarangan menggunakan kelebihannya, saling melindungi keluarga adalah hal utama di balik kekayaan dan kekuasaan yang setiap anggota keluarga memilikinya, jangan ditanya akan ketaatan kepada sang pencipta, semuanya terbentuk dari kecil akan hal itu.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.