ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
174. Firman _Naura 28



Satu Minggu Kemudian, Peresmian kedudukan Naura di perusahaan segera di lakukan, tidak ada protes yang berarti dari semua pihak Karen sebelumnya Farah sudah mengadakan rapat tertutup menjelaskan semuanya.


Di luar dugaan, justru banyak yang mendukung apa yang menjadi keputusan Farah, karena semua bisa melihat bagaimana cara kerja Naura yang sangat banyak membantu para pegawai di Perusahaan.


Sore hari terlihat Naura pulang sedikit terlambat dari biasanya


"Maaf sayang, beberapa hari ini banyak sekali kasus yang harus aku tangani, tidak bisa menemanimu" suara Firman dalam sambungan ponsel.


"Tidak masalah yang, aku bisa mengatasi diriku sendiri, bukan sifatku harus bermanja" jawab Naura sambil tersenyum.


"Tapi aku ingin selalu memanjakan mu selagi bisa"


"Kamu bisa melakukannya nanti, masih banyak waktu yang" jawab Naura dan kemudian segera memutuskan sambungan setelah Firman di panggil untuk melakukan tugasnya.


Kesibukan Firman yang tengah menangani beberapa Operasi di hari itu membuat tidak bisa menemani atau menjemput sang Istri, Naura tidak mempermasalahkan, karena sudah terbiasa hidup mandiri.


"Apa perlu Mommy yang membelikan mu Mobil?" Ucap Farah yang ternyata masih belum pulang dan ada di belakangnya.


"Mommy?" Naura terkejut.


"Istirahatlah, ini sudah melebihi jam kerja mu sayang, dan pakailah mobil Firman yang ada di Apartemennya, bukankah disana kamu bisa memilih mana yang kamu suka?" ucap Farah yang masih berdiri di dekat pintu ruangan kerja Naura.


"Sedikit lagi, soal Mobil nanti saja Mom, kaki ku masih belum begitu kuat, jadi saya naik Taksi saja dulu biar lebih nyaman" jawab Naura sudah kembali duduk saat Farah mendekatinya.


"Pakai mobil Perusahaan saja, sekalian sopirnya, biar Mommy yang nyetir mobil sendiri, atau Firman biar mencari sopir pribadi untukmu?"


"Mom, itu berlebihan, insyaallah saya masih bisa mengatasi hal ini" jawab Naura.


"Baiklah kalau begitu, senyaman kamu saja sayang" ucap Sarah.


"Terimakasih Mom" jawab Naura.


"Jangan terlalu kelelahan, aku memberikan tanggung jawab padamu untuk mengelola perusahaan, bukan untuk membuatmu sakit, Firman bisa memprotes ku habis-habisan nanti" ucap Farah.


Naura tersenyum mendengar perkataan mertuanya.


"Tenang saja Mom, itu tidak akan terjadi, anak mommy akan menghadapi aku dulu sebelum memprotes Mommy"


"Oh syukurlah, jadi kamu ada di pihakku?"


Sontak keduanya tertawa.


Setelah itu Farah segera pulang, sementara Naura melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi selesai.


Hampir pukul lima sore akhirnya Naura memesan Taksi dan bersiap untuk segera menuju ke Mansion.


Seperti biasa, Naura menuruni Lift menuju lantai satu untuk keluar dari pintu perusahaan, tiba-tiba saja dirinya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang kini dengan cepat menghampirinya.


"Lepaskan!" Ucap Naura yang kini sudah di tarik dengan kasar.


"Bagaimana kabarmu Naura, lama kita tidak bertemu, dan rupanya ini hari keberuntungan ku"


"Kenapa kau mencari ku?" Ucap Naura yang tentu saja masih shock melihat salah satu keluarga ayahnya yang dulu sudah membuang dari keluarga besarnya.


"Sopan Lah sedikit, aku Pamanmu Dimas, apa kau lupa itu?!"


"Aku tidak perduli, dan hubungan itu sudah terputus saat kalian membuat aku dan ibu harus hidup di jalanan saat itu" sahut Naura dengan luka yang kini terasa basah kembali.


"Oh begitu rupanya, setelah kamu sekarang ini sudah kaya raya, melupakan dari mana asalmu berada?"


"Cukup, jangan lagi mengganggu hidupku!" Ucap Naura yang benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang yang sama sekali ingin dilupakan seumur hidupnya.


"Sepertinya kau tidak senang bertemu dengan keluargamu" ucap Dimas tersenyum licik.


"Tentu saja aku ku tidak senang melihatmu, Permisi, dan perlu kau ingat, kita tidak ada hubungan apapun lagi" ucap Naura berbalik dengan tubuh yang bergetar.


Tanpa di duga Dimas menarik kembali tangan Naura hingga Naura terbentur dinding karena kakinya yang sakit belum bisa mengimbangi gerakan mendadak tubuhnya.


"Kau berani sekali padaku ha!" Bentak Dimas.


"Sombong sekali, aku tidak akan meminta uang padamu, karena aku juga mulai sukses di kota besar ini, aku dengar kau juga pemilik sesungguhnya dari perusahaan ini" ucap Dimas tanpa memperdulikan Naura yang meringis kesakitan menahan kakinya.


Naura mendorong Dimas dengan keras.


"Kurang ajar!" Dimas tak terima dan menampar Naura dengan Keras.


Seketika Naura merasa shock, teringat kembali bayangan masa lalu dimana sang Ibu dan dirinya yang masih berusia 8 tahun, selalu mendapat perlakuan kasar di rumah mewah milik almarhum ayahnya yang kemudian di kuasai sang Paman dengan keluarganya.


Bahkan Fitnahan keji di buat hingga keluarga besar Ayahnya membuang ibu dan juga dirinya dari daftar keluarga, setelah itu Naura dan sang ibu harus berakhir hidup di jalanan.


"Hei apa yang anda lakukan!" Teriak security perusahaan yang sudah berlari ke arah Naura.


"Ibu Naura?, apa yang terjadi?" Ucap security terkejut saat melihat Naura.


Dimas menatap dengan tajam, lalu kemudian segera pergi karena merasa dirinya tidak aman lagi.


"Aku tidak apa-apa pak, terimakasih" jawab Naura dengan suara yang masih tergetar dan kaki yang terasa lebih sakit.


"Sepertinya kaki ibu masih sakit?" Ucap Security merasa cemas dan mendampingin Naura berjalan kembali.


"Sedikit pak, saya masih bisa jalan pelan-pelan" ucap Naura yang kini berjalan pelan menuju taksi yang rupanya sudah menunggunya.


Naura langsung menuju ke Mansion, beberapa kali dirinya merasa tak tenang dan melihat kembali ke arah belakang Taksi untuk memastikan Dimas tidak mengikutinya.


Naura memejamkan matanya, bersandar di kursi mobil dan berusaha menenangkan dirinya, Trauma masa lalunya begitu mencap kuat di hatinya, sungguh dirinya ingin tidur dan saat membuka mata melupakan semua kejadian masa lalunya.


Naura tidak ingin menjalani kehidupan yang rumit dan kejam jika harus bertemu dengan keluarga dari almarhum Ayahnya. Hidupnya kini sudah merasa tenang dan bahagia.


"Kakiku?" Naura terkejut saat melihat luka di kakinya sedikit bengkak, seketika dirinya panik dan ingin menelpon suaminya, tapi segera diurungkan mengingat tugas penting Firman yang berhubungan dengan nyawa tak ingin di ganggunya.


Tak terasa air matanya pun menetes, antara merasakan nyeri di kakinya dan juga merasa tak tau harus bagaimana menenangkan kepanikannya.


"Apa Nyonya baik-baik saja?" Tanya sang supir.


"Sa-saya baik-baik saja" jawab Naura gugup.


"Saya melihat anda sepertinya kesakitan, apa perlu saya antar ke Rumah Sakit?"


"Tidak pak, saya tidak apa-apa" jawab Naura.


Hampir 40 menit kemudian Naura sudah tiba di Mansion, setelah keluar dari Taksi, Naura segera masuk kedalam kamar dengan kaki yang sakit namun ditahannya karena tidak ingin Bunda dan Afita cemas.


Masih merasa ada yang mengganjal dihatinya, Naura segera menuju ke jendela kamar dan menyibak korden untuk melihat ke jalanan yang berada di sekitar Mansion, dirinya merasa lega setelah memastikan tidak melihat Adak mobil apapun yang membuntutinya.


Setelah memberikan tubuhnya, Naura segera berbaring dan meminum obat pereda nyeri yang dulu pernah di tunjukkan oleh Firman.


"Semoga Firman tidak terlalu malam saat pulang nanti, aku khawatir dengan kakiku" gumam Naura.


Tak lama setelah itu, Naura kembali ke dikejutkan dengan kehadiran Afita yang sudah berada di ambang pintu.


"Kak Afita?" Ucap Naura.


Afita hanya menatap Naura, lalu berjalan mendekat dan duduk di pinggiran tempat tidur.


"Mulai kapan kakimu bengkak seperti ini?" Tanya Afita yang tanpa di sangka sudah menyentuh dengan perlahan kaki Naura.


"Ini, tadi kak, baru saja"


"Dan kau menahan nyerinya saat berjalan?" Tanya Afita yang kini fokus menatap kaki Naura dan meletakkan tangannya tepat disana.


"Ma_maaf kak, aku hanya tidak ingin membuat kalian cemas" ucap Naura yang kini merasakan hangat di kulit kaki yang bengkak.


Tak lama kemudian, rasa nyeri itu perlahan menghilang, Naura tersenyum, Rupanya Afita memberikan tenaga supranatural penyembuhnya untuk meredakan nyeri dan juga bengkaknya.


"Lain kali hati-hati saat berjalan, hindari sepatu hak tinggi dulu, dan ceritakan semua kesulitan yang kamu alami, kami keluargamu bukan orang lain" ucap Afita lalu berdiri dan hendak pergi.


"Iya kak, Maaf"


"Hem, istirahat lah, nanti makan malam biar aku bawa kesini"


"Iya kak, sekali lagi terimakasih"


Afita hanya tersenyum sebelum hilang dari balik pintu.