
Naura yang saat ini hanya merasakan sakit dihatinya semakin menangis dalam pelukan Firman yang tidak disadarinya, bahkan usapan lembut dari tangan sang dokter dirasakan begitu nyaman dan menenangkan.
"Tenanglah, aku akan membawamu ke Mansion, antarkan kepergian ibu mu dengan ikhlas dan tabah, beliau sudah tenang di alamnya" ucap Firman.
"Terimakasih" jawab Naura yang masih merangkul erat pelukan Firman, seolah enggan melepaskan, hingga sesaat kemudian menyadari.
"Ma maaf Dokter " ucap Naura langsung melepaskan pelukannya, merasa tidak enak dan melewati batas.
"Tidak apa-apa, tenang saja" ucap firman tersenyum kecewa, saat tubuh Naura sengaja menjauh.
"Saya minta maaf, sudah merepotkan banyak orang, saya akan pergi ke Mansion dengan naik taksi saja Dokter" ucap Naura bersiap untuk turun perlahan dari tempat tidur perawatan.
Firman hanya diam mengamati, dalam hati menghitung sampai tiga dan seperti yang di perkirakan, Naura berhenti sambil memegangi kepalanya.
"Kau bisa pingsan di jalan, kalau tidak ada yang membantu mu, menurut lah kata-kata ku, aku seorang dokter, sangat mengerti keadaan mu saat ini" ucap Firman dan langsung memapah Naura untuk duduk di kursi.
Firman berjalan keluar ruangan sejenak dan kembali membawa kursi Roda, lalu Naura berpindah kesana, kini Naura keluar dengan duduk diatas kursi roda yang di dorong oleh seseorang laki-laki yang punya jabatan penting di Rumah Sakit.
Sontak semua mata memandang aneh, dan bisa dipastikan hampir semuanya tidak suka.
"Jangan dengar ucapan mereka" kata Firman saat melihat raut wajah malu dan cemas dari Naura.
"Iya Dokter, maaf membuat dokter tidak nyaman"
"Bukan aku yang tidak nyaman, tapi kamu" sahut Firman dan membuat Naura langsung terdiam.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang sana, Naura masih terdiam, tepatnya tidak berani berkata apapun.
Sedangkan Firman masih membiarkan suasana sunyi, sedikit mencuri pandang melihat keadaan wanita yang berada di sampingnya.
Seolah tau apa yang dirasakan oleh Naura, Firman lalu berhenti di sebuah restoran siap saji dengan pelayanan pesanan cepat tanpa harus keluar dari mobil, hanya butuh waktu lima menit lalu Firman kembali ke jalanan.
"Makanlah, perjalanan kita kurang 15 menitan, cukup untuk mengisi perutmu" ucap Firman.
Naura terkejut dan masih terdiam, perutnya memang sangat lapar saat ini, sedari pagi belum sempat dia isi, tapi rasanya sangat enggan untuk mengambil makanan yang sudah dipersilahkan oleh Firman.
"Berduka itu boleh, Karena itu wajar saat kita ditinggalkan oleh orang yang sangat kita sayangi, tapi menyiksa diri itu tidak dibenarkan, Almarhum Ibu mu pasti akan sedih kalau melihatmu seperti itu" ucap Firman dan membuat Naura tersentak.
"Terimakasih" ucapnya lirih, lalu membuka makanan yang kini sudah berpindah di pangkuannya.
Firman tersenyum senang, membiarkan Naura kini menikmati makanan tanpa mengganggunya, sementara mobil terus melaju dengan sedikit lebih cepat agar sampai di tujuan tidak terlambat.
Makanan terselesaikan, Naura mengucap syukur setelah perutnya kenyang dan kini merasa tubuhnya lebih kuat lagi, dan seperti yang diharapkan, tiba di Mansion dengan waktu yang tidak meleset.
Mansion kini tampak ramai, banyak tetangga juga berada di sana dan berlalu lalang sibuk membantu persiapan Jenazah yang akan di berangkatkan ke pemakaman.
Rupanya jenazah sudah di sholat kan, Naura segera di sambut oleh Afita dan Anita, didampingi dan di papah masuk kedalam untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum sebentar lagi di berangkatkan.
"Terimakasih Fir, sudah mengantarkan Naura sampai disini" ucap Zafian.
"Ck, kau ini bicara apa, aku akan ikut ke pemakaman" ucap Firman lalu segera melepas jaket dan menyingsingkan lengannya.
Zafian melihat apa yang dilakukan sahabatnya, merasakan keanehan akan respek yang sedikit berlebihan bagi Zafian.
"Bukannya kamu jam bertugas?" Tanya Zafian menyelidiki.
"Sudah aku tukar jadwalku, kebetulan ada yang bersedia menggantikan" jawab Firman.
"Ooh, jadi begitu, tumben?" Tanya Zafian lagi.
Spontan Firman menjawab sesuai isi hati, "Aku tidak tega melihat wanita itu, entahlah, hatiku merasa ikut sakit melihatnya menangis, penderitaan yang begitu dalam dan aku_" Firman langsung terdiam saat menyadari sesuatu.
"Aku apa?" Tanya Zafian dengan senyum anehnya.
"Oh Sh-it!" Ucap Firman langsung melangkah pergi, ikut bergabung mengantar kepergian jenazah bersama yang lain tanpa harus melanjutkan kembali ucapannya.
Sementara Zafian sudah tertawa, lalu segera menyusul keberadaan sahabatnya.
*
*
Malam semakin dingin dirasakan, untuk sementara Naura masih berada di Mansion Afita setelah mengikuti acara ngaji bersama hingga tengah malam.
"Bagaimana keadaanmu sayang, kau seharian sangat sibuk, sampai melupakan ku" ucap laki-laki yang kini sudah memeluk tubuh istrinya di tempat tidur dan menciumi wajah ayunya yang dirindukan.
"Hentikan yang, ludahmu sudah rata di seluruh wajah ku" protes Afita membuat Zafian hanya tertawa.
"Maaf, aku kangen"
"Aku juga, tapi apa daya, kita juga tengah merasakan duka Naura"
"Hem, aku tau, bagaimana keadaannya?" Tanya Zafian.
"Alhamdulillah sudah membaik, Bunda sukses memenangkannya dan membuatnya nyaman"
"Syukurlah, apa Naura tidur bersama Bunda?" Tanya Zafian.
"Iya, dia sendiri yang minta dan Bunda tidak keberatan" ucap Afita sedikit manyun.
"Lah kan bagus mereka akrab, kenapa manyun begitu?" Tanya Zafian lagi.
"Jangan berani membiarkan aku tidur sendiri" balas Zafian dengan tegas.
"Ck, sudah kuduga, dasar manja" gumam Afita, lalu masuk kedalam selimutnya.
Zafian tersenyum, menarik kembali tubuh istrinya untuk di bawa kedalam pelukan yang begitu hangat dan membuat nyaman, tentu ada respon saat kontak kulit terjadi, dan Zafian mulai tidak tau diri.
Seolah tangannya memiliki mata, Zafian menyusuri lekuk tubuh Afita perlahan, mencium tengkuk dan leher istrinya yang selalu memabukkan dan kemudian_
"Hentikan, atau aku pindah ke kamar Bunda beneran" sahut Afita.
Zafian tertawa, melihat istrinya mengancam seperti anak kecil yang akan meninggalkan teman bermainnya.
"Iya sayang, sorry, yuk kita istirahat, janji gak akan kelewat batas"
"Okey, aku pegang kata-katanya" sahut Afita.
Kembali Zafian tersenyum geli, mencubit hidung istrinya, memeluknya kembali dan kali ini bersikap aman dan terkendali.
Acara istirahat malam, semua aman dan nyaman, mungkin karena kelelahan fisik dan pikiran karena kesibukan yang melanda, hingga pagi datang menyapa.
Tidak ada yang segera bersiap untuk bekerja, karena hari ini kebetulan tanggal merah di hari Minggu, Zafian membiarkan istrinya tertidur lelap kembali setelah beribadah.
Berjalan menyusuri tangga, terlihat di meja makan sudah siap aneka sarapan pagi, rupanya semua sudah makan pagi kecuali dirinya dan Afita.
Zafian kini duduk di meja makan, secangkir teh yang masih hangat masih ada yang tersisa dalam gelas yang masih penuh, diambilnya perlahan lalu diminum untuk menghangatkan perutnya.
"Alhamdulillah, nikmat sekali" ucapnya Zafian setelah meminumnya.
Berniat untuk mengambil makanan yang akan di bawa kedalam kamar, rupanya tidak ada satu orangpun yang bisa diminta tolong untuk menyediakan di nampan, hingga Zafian beranjak dan berniat mencari keberadaan seseorang.
Tanpa sengaja, Zafian mendengar seseorang sedang berbicara, berharap itu adalah asisten rumah tangga atau sang Bunda, Zafian melangkah kan kaki kembali untuk mendekatkan diri.
Sejenak langkahnya terhenti saat di sadari bahwa ada Naura yang sedang melakukan perbincangan di ponselnya.
"Baik, kali ini cetak ulang semua berkasnya, untuk kerjasama kali ini, kita harus lebih hati-hati, masalahnya tuan Elonar Ricardo adalah sosok yang harus kita waspadai"
Deg.
"Elonar?" Ucap lirih Zafian terkejut dan seketika menghentikan langkahnya, kembali menajamkan pendengarannya.
"Baiklah, laporkan sekecil apapun sesuatu yang tidak biasa padaku, atur sebisa mungkin tuan Elonar tidak melakukan kontak langsung dengan Nona Afita saat harus melakukan kerjasama yang bertemu secara langsung" ucap Naura, lalu segera menutup sambungan teleponnya.
Sementara di balik tembok yang agak jauh dari sana, Zafian memang tidak begitu jelas dengan semua isi percakapannya, hanya sekitar mendengar kata Elonar sudah membuatnya naik darah seketika, rasa penasaran semakin besar hingga dengan cepat Zafian segera menghentikan langkah Naura.
"Astagfirullah, Tuan Zafian" ucap Naura sangat terkejut dengan kemunculan laki-laki yang kini sudah menghadangnya.
"Aku mendengar kau membicarakan soal Elonar, benarkah itu?" Tanya Zafian dengan sorot mata yang tajam.
"Ha, itu, oh.. maaf Tuan, mungkin anda salah dengar" ucap Naura yang kalang kabut dan belum siap menjelaskan, karena jelas sekali kalau suami dari atasannya belum mengetahui hal ini.
"Kenapa kau gugup?" Tanya Zafian bertambah curiga.
"Saya?!, Oh begini tuan, saya tidak_"
"Ada apa ini?" Sahut seseorang yang tiba-tiba sudah berada di belakang Zafian.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Zafian segera berbalik dan mendapat pelukan dari sang istri.
Namun Naura terkejut, disaat yang sama, dengan cepat Afita memberikan kode agar Naura segera pergi dari tempatnya.
"Aku baru bangun, kamu disini yang?" Tanya Afita melepaskan pelukannya saat Naura sudah melakukan perintahnya dengan baik.
"Hem, dan aku tadi mendengar dia_" Zafian tersentak saat menoleh dan mendapati Naura sudah menghilang dari tempatnya.
"Dia?, Siapa?, Naura?" Tanya Afita melanjutkan.
Zafian celingak-celinguk menoleh kesana kemari, mencari keberadaan Naura dan berharap sosok wanita itu mau menjelaskan apa yang ditanyakan nya.
"Ck, kemana wanita ini?" Gumam lirih Zafian.
"Naura sedang berkabung, jangan terlalu di bebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh" ucap Afita yang rupanya juga ikut lega.
Zafian nampak mengerutkan kening, seperti merasakan ada persekongkolan dan sesuatu yang sengaja di sembunyikan dari istrinya dan juga Naura.
"Ada apa lagi yang, aku lapar" ucap Afita manja dan berusaha mengalihkan pikiran suaminya.
Zafian tersenyum, menarik tubuh istrinya dan
Cup
"Morning kiss sayang" ucap Zafian setelah menci-um bibir istrinya dengan lembut dan dalam.
Afita menyambutnya dengan senang tentunya, lalu mengajak Zafian untuk duduk menikmati sarapan pagi yang sudah terlewat, keduanya kini mengisi perut, Afita melayani Zafian dengan telaten, dan Zafian makin bersemangat untuk mengisi tenaganya kembali.
Namun di balik itu, Zafian masih terus berpikir keras, tidak mungkin pendengarannya salah, hingga kemungkinan dia tersenyum penuh arti, merogoh handphonenya sejenak, lalu mengetik sesuatu dan mengirimkannya dengan cepat.
Makin Penasaran?, Yuk kasih VOTE dulu di yang belum ya.. Terimakasih support nya.
Bersambung.