ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 42



"Zaf?!' ucapnya masih tak percaya, mendapati sang suaminya lah yang mengantar makanan pesanan nya.


"Hai, apa kabar istriku?" Zafian tersenyum dan duduk tepat di depan Afita yang masih menatapnya tak percaya.


Rupanya Zafian sudah tidak bisa lagi tinggal diam, satu bulan baginya bagaikan satu abad tersiksa karena tidak ada Afita didekatnya.


Dan setelah mendapat kabar tentang saat yang tepat untuk mendekat kembali ke Istrinya, semua progres kerja sementara dilimpahkan ke sekretaris dan segera ke Jakarta untuk menyusul Afita.


Niat hati ingin memberi kejutan dan berharap sang istri akan tersenyum senang, justru yang terjadi malah sebaliknya, Afita langsung berdiri hendak pergi, tentu saja Zafian sangat terkejut.


"Af, aku mohon, kita perlu bicara" ucap Zafian berusaha untuk menahan sang istri agar tidak pergi.


"Maaf, minggir!" Ucap Afita begitu dingin dan segera pergi dengan langkah yang cepat.


"Afita, tunggu!!" Teriak Zafian berusaha menyusul langkah sang istri.


Pada kenyataannya memang Afita sesaat sangat merasa bahagia ketika melihat sosok laki-laki yang tanpa disadari membuatnya merasakan kerinduan, namun tidak di pungkiri, disaat yang sama Afita juga merasakan hatinya yang nyeri karena ulah suaminya.


"Nona!, Nona Cantik tunggu, ini pesanan anda!" Teriak salah satu pelayan laki-laki yang bersiap lari untuk menyusul Afita.


Zafian terkejut dan teringat apa yang sudah di pesan oleh sang Istri, telinganya terasa sedikit panas saat mendengar pelayanannya itu memanggil Afita dengan Nona cantik.


"Sini, biar aku yang bayar semuanya, bungkus dan aku tunggu"


"Maaf, Tuan ini_"


"Aku Suaminya!" Sahut Zafian dengan tegas.


"Oh, iya Tuan, maaf" ucap pelayan laki-laki tak enak hati, lalu segera berbalik, namun kemudian Zafian menahannya.


"Tunggu!"


"I iya Tuan?"


"Lain kali cukup panggil Nona, gak perlu di tambah cantik, mengerti?!"


"I_iya Tuan, sekali lagi saya minta maaf"


"Hem, cepatlah" ucap Zafian memberi perintah untuk segera merapikan pesanan Afita, dan terpaksa Zafian tidak bisa lagi mengejar Afita.


Dengan mode tersenyum, rupanya untuk membayar rasa kecewanya dia sudah merencanakan sesuatu, sesaat melihat beberapa pac makanan yang sudah terbungkus rapih, Zafian pergi meninggalkan Resto dengan senyuman yang mengembang.


Sementara Afita kini sudah tiba di Mansion, seketika hati dan wajahnya berubah tak ramah saat memasuki Ruang Utama.


Sang Mommy dan juga Daddy-nya sempat terkejut melihat apa yang di lakukan Afita, saling pandang seolah ingin jawaban dari masing-masing rasa penasarannya.


"Kenapa Afita?" Tanya Alex.


"Mana aku tau, kita juga baru saja bertemu dengan Afita"jawab Reyna dengan wajah khawatir.


Sementara Afita yang sudah berada dalam kamar menata kembali hati dan pikirannya, berusaha untuk tenang dengan keadaannya yang terus terang masih merasakan detakan jantungnya begitu cepat saat bertemu dengan suami yang diam-diam dirindukan.


"Dia sudah bisa berjalan?, Alhamdulillah" ucapnya lirih keluar begitu saja dari bibirnya.


Disaat yang sama, terdengar suara ketukan pintu kamar.


"Afita?!" Seru suara sang mommy menggema dan terdengar jelas.


"Iya Mom, sebentar" sahut Afita segera membuka pintu.


"Boleh Mommy masuk?"


"Tentu saja"


Reyna tersenyum, sejenak menatap wajah anaknya yang terlihat absurt dimatanya, Berjalan dengan pasti sang Mommy kini sudah duduk di pinggiran tempat tidur mewah yang menghiasi kamar Afita.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Reyna kemudian.


"Iya Mom, Kenapa Mommy bertanya seperti itu?" Jawab Afita dengan balik bertanya.


"Benarkah?" Tanya Reyna lagi, kali ini dengan wajah sangat serius.


Afita terkejut dan terdiam tidak berani menatap mata sang Mommy yang ada di depannya.


"Sorry Mom" ucap lirih Afita pada akhirnya.


"Mommy tidak suka anak Mommy hanya memendam masalah tanpa mau menyelesaikannya, kalau kamu benar, hadapilah.. tapi kalau memang kamu yang salah, minta maaflah" ucap Reyna membuat Afita makin merasakan nyeri akan masalah nya.


"Mom, aku_" ucap Afita terpotong, sungguh dia tidak mau masalah keluarganya sampai terdengar oleh sang Mommy dan membuatnya sedih.


"Jangan lupa siapa Keluargamu, karena untuk mengetahui segalanya tentangmu saat ini, bukan hal sulit bagi kami, tapi kami masih menahannya karena menghormatimu sebagai istri yang baik" ucap Reyna membuat Afita kini tak terasa meneteskan air matanya.


"Maaf Mom, maafkan Afita, aku akan menyelesaikan masalahku, janji" ucapnya lirih.


Reyna tersenyum, segera memeluk anak perempuan yang sudah menjadi kuat dan tegar, yang paling membuatnya bahagia adalah Afita mampu menjaga kehormatan keluarganya dengan tidak sembarang menceritakan masalah keluarga yang dihadapi.


"Kalau begitu keluarlah sekarang, ada seseorang yang sudah menunggumu" ucap Reyna.


Deg.


"Apa?!" Tanya Afita dengan wajah terkejutnya yang itu membuat sang Mommy langsung tertawa.


"Apa!, Za Zafian?" Tanya Afita.


Cup


"Iya, memang siapa lagi suamimu, Ayo temui dan selesaikan semuanya" ucap Reyna setelah menci-um pipi Afita dan mencubitnya dengan gemas.


Sementara Afita masih mematung ditempatnya, tak percaya mendapati bahwa kini Zafian telah berada di Mansion.


"Mom, Tunggu!" Panggil Afita sebelum Reyna menjauh.


"Ada apa?" Ucap Reyna segera berhenti lalu berbalik dan kembali mendekat.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Afita.


"Ikuti kata hatimu sayang, maafkan kalau memang itu pantas menurutmu, karena Mommy juga tidak tau masalah kalian"


Afita masih terdiam, mencerna nasehat yang di berikan, hingga kemudian Afita mengangguk dan sebuah pelukan dari sang Mommy membuatnya begitu tenang.


"Thanks Mom"


"Tentu saja sayang, beri pelajaran yang berarti buat suamimu kalau memang melakukan kesalahan, agar dia ingat seumur hidup dan tidak berani melakukan hal yang sama, bagaimana menurutmu?"


"Ha, memang mommy pernah begitu sama Dady?" Tanya Afita.


"Emm.. mungkin"


"What!"


"Ish, sudah, gak perlu bahas Mommy, atasi dulu masalah mu"


"Siap Mom" sahut Afita kini sudah bisa tersenyum, lalu kembali masuk kedalam kamar dan bersiap sebelum bertemu dengan sang suami.


Semenjak itu, Zafian sudah nampak berbincang dengan Alex di Ruang Keluarga, melihat kedatangan Reyna, kedua laki-laki itu tersenyum menyambut.


"Sebentar lagi Afita akan turun, bagaimana kabar Bunda, Zafian?" Ucap Reyna.


"Alhamdulillah sehat Mom, maaf tidak bisa ikut ke sini sekarang ini"


"Kenapa tidak diajak sekalian?" Tanya Alex.


"Maaf Dad, kemaren masih ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, jadi tidak bisa di tinggalkan" ucap Zafian.


"Hem, tidak apa-apa, nanti aku akan menyuruh orang-orang ku untuk menjem_ " sahut Alex begitu saja.


"Dad" sahut Zafian.


"Honey " ucap Reyna.


"Kalian kenapa?"ucap Alex bingung sendiri melihat keduanya hampir bersamaan memotong pembicaraannya.


"Biar saya sendiri nanti yang menjemput Bunda" ucap Zafian tidak enak hati.


"Sebaiknya begitu" sahut Reyna dengan menatap tajam ke arah suaminya, seolah memberitahukan agar tidak terlalu ikut campur urusan menantunya.


Dan disaat itulah Seseorang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, Zafian tersenyum senang segera berdiri menyambut kedatangan Afita yang kini sudah duduk di dekat Reyna.


"Sebaiknya Mommy dan Daddy masuk ke dan dulu, ada yang harus kami urus sebentar" ucap Reyna segera menggandeng Alex yang sudah sigap berdiri untuk ikut pergi.


Kini tinggal Afita dan Zafian yang masih terdiam.


"Bagaimana kabarmu?" Ucap Zafian memulai perbincangan dengan wanita yang sangat dia rindukan.


"Baik, bagaimana kabarmu dan Bunda?"


"Tentu saja baik, Alhamdulillah aku juga sudah bisa berjalan kembali"


"Iya, syukurlah" ucap Afita, lalu terdiam kembali, rasa hati masih belum ingin melanjutkan perkataan.


Sementara Zafian masih mengamati wajah sang istri, ingin rasanya memeluk, mencu-mbu dan bahkan mendekapnya dengan erat, namun itu tidak mungkin dilakukan, mengingat terakhir kali Afita masih belum berkenan dengan kehadirannya.


"Maafkan aku" ucap Zafian memulai perbincangan kembali.


Afita masih tidak menjawab apapun, hanya menatap Zafian sekejab lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Af, aku minta maaf" ucap Zafian sekali lagi.


Masih terdiam Afita hanya mendengarkan, tidak mau mengatakan apapun untuk saat ini, hingga Zafian beranjak duduk mendekat dan bahkan hampir tak berjarak.


"Aku mohon, Maafkan aku" ucapnya lagi, meraih tangan sang istri yang tetap masih terdiam tak berucap.


Semakin bingung, Zafian tidak tau lagi harus berbuat apa, mendapati kediaman Istrinya yang membuat hatinya sangat terluka, hingga akhirnya Zafian harus merelakan harga dirinya sekalipun demi sang istri tercinta.


Zafian Melakukan tindakan yang di luar perkiraan Afita, hingga membuat sang istri terkejut setengah mati.


"Zaf, apa yang kau lakukan!" Teriak Afita terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.