
Firman langsung menggendong Naura dan membawa ke kamar ke sofa lalu dirinya segera merobek celana Naura yang terlalu sulit saat di singkap nya.
"Ya Tuhan, luka apa ini?" Firman begitu terkejut dan segera memeriksa luka jahitan yang ada di betis Naura.
Firman kemudian memanggil beberapa staf di sana untuk membantu, lalu dirinya menelpon Ana untuk meminta bantuannya membawakan sesuatu yang di butuhkan dari rumah sakit untuk merawat Naura.
Letak Apartemen Firman yang tak jauh dari perusahan, membuat firman akhirnya memutuskan membawa Naura ke tempatnya.
Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit sampai di Apartemen dan segera menidurkan Kania di Kamarnya.
Tak lama kemudian, Dokter Ana sudah ada disana, terkejut juga saat melihat keadaan Naura.
"Apa tidak sebaiknya dirawat di Rumah sakit saja?" Tanya Ana saat membantu Firman memasang infus di tangan Naura.
"Naura pasti akan menolaknya saat dia tersadar nanti, aku rasa perawatan disini juga tidak masalah, dia hanya butuh tenaga dan istirahat untuk segera pulih" jawab Firman
"Tapi ini kamarmu" sahut Ana.
"Maksud mu?" Tanya Firman.
"Disini masih ada dua kamar kosong bukan, kenapa Naura harus kamu tempatkan di kamar pribadimu?" Ucap Ana yang kini sedang membantu mengobati luka jahit di kaki Naura.
"Biar aku mudah mengawasi, dia tipe wanita yang tak memperdulikan dirinya sendiri demi pekerjaannya" jawab Firman.
Ana terdiam, tak mau lagi berdebat soal ini, baginya juga percuma, karena dia tahu bagaimana seorang Firman akan tetap mempertahankan keinginannya kalau sudah merasa benar.
Setelah semuanya selesai, Ana kembali duduk di ruangan tengah bersama dengan Firman.
"Dia belum sadar juga?" Tanya Ana.
"Pasti sebentar lagi, cairan infus masih baru saja masuk" jawab Firman.
"Bagaimana Naura bisa mendapatkan luka seperti itu, apa dia baru saja mengalami kecelakaan?" Tanya Ana.
"Aku juga tidak tau, bahkan Zafian dan Afita juga belum aku kasih kabar, jelas mereka tidak tau akan keadaan Naura saat ini" ucap Firman.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Ana memberanikan diri.
"Apa?"
"Apa benar seorang Dokter Firman dulu pernah mencintai Naura?" Tanya Ana yang membuat Firman sangat terkejut.
"Dari mana kamu bisa menyimpulkan hal itu?" Sahut Firman.
"Aku hanya menebak saja, Naura terlalu berharga bagimu hingga kamu tidak bisa berpaling sama sekali darinya, benar begitu?" Tanya Ana dengan menatap kedua mata Firman.
"Aku rasa bukan saat yang tepat untuk membahas hal ini Dokter Ana" jawab Firman lalu segera berdiri untuk melihat keadaan Naura kembali.
"Aku rasa sekarang aku mengerti, kamu sangat mencintainya, untuk itu kenapa kamu tidak pernah bisa melihat cintaku untuk mu" jerit batin Ana dalam hatinya.
Saat melihat Naura mulai terbangun, Ana pun segera pamit untuk kembali ke Rumah Sakit dengan membawa kembali semua peralatan yang telah di gunakan.
Sementara itu, Firman kini sudah duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatap mata Naura.
"Jelaskan hal ini" ucap Firman.
"Maaf, aku malah merepotkan mu, sebentar lagi aku pasti baik-baik saja dan akan segera pergi" jawab Naura sambil tersenyum.
"Aku tidak butuh senyumanmu, jelaskan apa yang terjadi" ucap Firman lagi.
"Aku rasa itu tidak perlu, aku akan segera pergi dan tidak menganggu mu lagi" jawab Naura dengan tangan yang sudah meremas kain yang menyelimutinya.
"Sekali lagi, itu bukan jawaban dari pertanyaan ku Naura"
"Aku minta maaf"
"NAURA!"
Firman benar-benar di buat marah, karena Naura yang tak juga mau menjelaskan apa yang di minta.
"Maaf" ucap lirih Naura yang terkejut dan langsung menunduk.
"Oh Sh-it!" Firman segera bangun dan melangkah pergi untuk menahan amarahnya.
Sementara Naura bukannya menjelaskan apa yang sudah terjadi, justru dirinya malah membicarakan hal konyol yaitu ingin segera pergi.
Firman segera menghubungi Zafian untuk menjelaskan keadaan Naura, sekalian meminta ijinnya untuk merawat Naura di tempatnya sementara waktu.
"Kenapa tidak kamu bawa Ke Rumah Sakit saja?" Tanya Zafian dalam sambungan ponsel.
"Naura akan meminta pulang paksa kalau aku lakukan hal itu, kamu tau sendiri bagaimana kerasnya sikap Naura kalau soal pekerjaan" jawab Firman.
"Hem, benar juga, aku hanya khawatir Afita tidak setuju, karena kalian belum muhrim dan tinggal satu atap walaupun cuma beberapa hari saja" ucap Zafian.
"Ck, ini keadaan darurat, lagi pula disini banyak kamar, aku akan menempati kamar yang lain" ucap Firman.
"What!, Itu berarti sekarang ini Naura berada di Kamar mu?" Sahut Zafian terkejut.
"Sorry, terpaksa aku menempatkannya di sana, tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam Zaf, lagi pula Naura juga sepertinya tak tertarik padaku sama sekali" ucap Firman.
"Oh my God, rasanya ingin sekali aku segera menikahkan kalian, benar-benar membuatku was was saja" sahut Zafian.
"Hahaha, lakukan kalau kau bisa, aku akan dengan senang hati" jawab Firman.
"Dasar kau!, Ya sudah, jaga Naura, aku nanti malam akan kesana bersama dengan Afita, pastikan Naura masih dalam keadaan original" ucap Zafian tag membuat Firman terkekeh.
Perbincangan dengan sahabatnya lumayan membuat moodnya membaik, lalu Firman ke dapur untuk membuat makanan karena jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan tentu saja perutnya sudah sangat lapar, juga yang terpenting adalah Naura harus segera makan.
Naura yang masih terdiam dikejutkan dengan suara deringan handphone nya, rupanya Afita yang sedang menghubunginya.
"Menurut lah dengan Dokter Firman, dia dokter dan lebih mengerti akan keadaan mu, aku akan ke sana malam nanti" ucap Afita setelah mendapat semua penjelasan dari Naura.
Tak lama setelah terputus dari sambungan handphone Afita, terdengar kembali suara panggilan masuk, kali ini muncul nama Ibu Farah di layar ponselnya.
"Iya Bu, saya sudah baikan, Dokter Firman sudah banyak membantu saya" ucap Naura sambil melirik Firman yang kebetulan masuk membawa makanan.
Naura kemudian meletakkan handphonenya setelah Farah memutuskan sambungan, kini nampak Firman tengah berada di depannya.
"Terimakasih" ucap Naura menerima pemberian Firman.
"Makanlah, aku juga akan mengambil makananku ke sini" ucap Firman
"Tidak perlu, aku bisa mengurus diriku sendiri" jawab Naura.
"Aku tidak peduli, dan aku hanya ingin memastikan kamu menghabiskan makanan ini lalu meminum obatnya dengan baik, biar luka jahitan mu tidak nyeri dan cepat mengering" sahut Firman lalu segera keluar mengambil makanannya tanpa basa basi.
Kini Firman dan Naura makan di tempat yang sama, seperti dugaan Firman, Naura hanya memakan sedikit saja, tentu saja hal itu membuat Firman mulai terlihat emosi.
"Habiskan makannya, aku tau kamu tidak sempat sarapan sedari pagi, porsi yang aku berikan tidak terlalu banyak, jadi kamu harus memakan semuanya" ucap Firman.
"Tapi aku kenyang, perutku sudah penuh" jawab Naura.
"Itu hanya perasaanmu saja, setidaknya lanjutkan memakan kurmanya, itu bagus untuk kesembuhan lukanya" lanjut Firman.
"Aku kenyang" kembali Naura menolaknya.
Firman tidak bisa menahan diri lagi, diambil nya satu kurma dan dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu di luar dugaan, Firman dengan cepat mendekati bibir Naura dan memasukan Kurma ke dalam mulut Naura dengan mulutnya.
Jantung Naura berdetak begitu kencang, sekejab mata kini kurma itu sudah masuk ke dalam mulutnya, serasa masih shock Naura langsung memegang bibirnya yang baru pertama kali disentuh oleh seorang laki-laki.
Firman tersenyum tipis, lalu kembali memasukkan kurma ke dalam mulutnya, bersiap melakukan adegan yang sama, melihat hal itu sontak Naura mendorong dan menahan dada Firman.
"Hentikan!, Aku akan menghabiskannya sendiri" ucap Naura dengan wajah begitu dekat dengan Firman yang hampir saja menempelkan bibirnya kembali.
"Bagus, lakukan, dan aku akan mengawasi mu" ucap Firman kini tersenyum dan melanjutkan makannya kembali di samping Naura tentunya.
Jangan lupa memberi HADIAH,VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Mampir juga di Novel Author tentang si kembar tiga di THE TRIPLETS.
Yuk bergabung di Channel YouTube: Sinho Novel/Sinho Channel untuk melihat cerita lebih seru.
Bersambung.