ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 44



Hijab seketika terbang entah kemana, detik berikutnya Zafian berhasil membuat Afita tidak bisa berontak sedikitpun.


"Zaf, emhh"


Luma-tan lembut menyapu bibir Afita, memberikan sensasi yang lama ia rindukan, sementara Zafian pun menikmati dengan rasa dahaga yang tak terkira, hingga terjadi kembali guncangan yang sangat dirasakan oleh Zafian.


"Sh-it, ada apa ini?" Zafian kembali panik, langsung berdiri dan segera pergi keluar untuk melihat keadaan.


Afita yang terkejut akan apa yang di lakukan Zafian, ikut bangkit.


"My God, gawat, tunggu Zafian!!" Teriak Afita mengejar Zafian.


Tidak mungkin bisa mengejar Zafian lagi, Afita memilih opsi lain, melompat dari jendela dengan ringan dan melesat cepat ke arah Alex dan Aftan yang sedang bertarung untuk melatih tenaga dalamnya.


"Kak, hentikan!" Teriak Afita dengan tergesa-gesa dan kini sudah berada di antar keduanya.


"Kau ini, bahaya Afita!" Teriak Aftan yang masih bisa mengendalikan gerakan menyerangnya.


"Hentikan, aku mohon, ada Zafian" ucapnya dengan nafas yang masih terengah-engah.


Sementara Reyna tertawa melihat wajah panik anak perempuannya.


"Ck, mengganggu saja!" Ucap Aftan kesal.


"Tolong Daddy, hentikan, atau aku tidak mau lagi Daddy cium dan peluk!" Teriak Afita yang kini sudah kembali melesat kearah jendela untuk masuk ke kamar pribadinya.


Alex langsung menyimpan kembali tenaga dalamnya, ancaman dari Afita tentu saja tidak bisa dia terima.


"Oh come on Dad, jangan bilang Daddy takut ancaman Afita ya" ucap Aftan.


"Sudahlah, hormati keinginan adikmu, kasihan, dia belum menyiapkan diri membuka siapa kita ke Zafian" ucap Alex yang kini melangkah dan duduk di samping Reyna.


"Sepertinya Daddy mu takut ancaman adikmu" sahut Reyna sambil tertawa.


"Jangan meledekku honey" sahut Alex yang masih gengsi mengakui.


Reyna makin tertawa, dan sebuah kecupan lembut di bibirnya berhasil membungkam suara tawanya.


"Honey!" Teriak Reyna memperingatkan.


"Ehem, maaf!" Suara seseorang membuat Alex dan Reyna segera menoleh.


Disaat yang sama, Aftan segera berjalan duduk di samping Zafian yang masih berdiri.


"Ada apa Zaf?" Ucap Alex.


"Maaf Dad, apa tadi ada gempa, beberapa kali saya merasakannya" ucap Zafian dengan wajah yang masih panik.


Ketiga orang yang ada di dekatnya hanya saling pandang, Reyna memberikan isyarat biar dia yang menjelaskan.


"Begini_"


"Tidak ada apa-apa, iya kan Mom?!" Sahut Afita yang sudah berlari menyusul sang suami.


"Tapi tadi kita sangat merasakannya beberapa kali kan?" Sahut Zafian.


"Ish, tidak ada" sahut Afita.


"Tapi _"


Alex hanya tersenyum, lalu berdiri dan merangkul Zafian.


"Sudahlah, disekitar kita memang kadang ada getaran gempa, aku juga merasakannya tadi, sedikit, dan mereka sedang berlatih bela diri tadi, jadi tidak merasakannya" ucap Alex menoleh ke sang istri dan anak laki-lakinya, Alex sambil terus berjalan masuk bersama Zafian.


Sementara Afita langsung mengusap dadanya pelan, tanda sudah lega keluar dari masalahnya.


"Ayo masuk!"


Aftan menyambar begitu saja.


"Kak!, Sakit!, Kebiasaan!" Teriak Afita berusaha berontak.


Disaat itu juga Zafian langsung menoleh ke belakang.


"Jangan menyakiti istriku Aftan, atau kau akan berurusan denganku!" Teriak Zafian.


Aftan terkejut dan lalu tertawa.


"Siap, aku tunggu tantanganmu!" Jawab Aftan yang kini sudah melepaskan adiknya.


"Dasar punya suami posesif sekali, besar juga nyalinya" lanjut Aftan lagi.


"Itu tandanya dia Sayang, gak boleh sirik!" Sahut Afita sambil berlalu menyusul langkah suaminya.


"Oh ya, siapa yang sirik, aku hanya ingin menghajar suamimu itu, sanggup sampai sejauh mana" ucap Aftan.


"Awas saja kakak berani melukainya!" Ucap lirih Afita yang kembali berbalik dan berbisik di telinga Aftan.


Sementara Reyna hanya tertawa, melihat tingkah mereka.


Setelah makan malam, Zafian di temani oleh Alex dan juga Aftan berbincang di balkon teras lantai atas, beberapa cemilan ikut menyempurnakan perbincangan yang mengalir begitu saja.


Terus terang Zafian sempat terkejut dengan sikap keluarga istrinya, dan rupanya kabar yang tersebar di luaran sana banyak yang tidak benar menurutnya.


"Maaf Dad, boleh saya bertanya?" Ucap Zafian dengan hati-hati.


"Hem, katakan saja" sahut Alex.


"Kenapa banyak sekali penjaga di Mansion ini, bahkan di setiap sudut rumah ada beberapa orang"


"Oh itu, untuk keamanan kami" jawab Alex singkat.


"Keamanan?, Dengan penjaga sebanyak ini Dad?" Tanya Zafian lagi.


"Iya, sejauh yang aku dengar begitu, apa memang keluarga Nugraha begitu banyak musuh?" Ucap Zafian memastikan apa yang ada dalam benaknya.


"Bukan musuh, tapi tidak suka dengan kami, dengan keadaan kami sekarang ini kamu bisa paham bukan?" Ucap Aftan.


"Hem, iya juga, tapi merasa aneh saja, penjaga disini lebih mirip sebuah pasukan khusus yang terlatih, aku yakin semuanya mempunya ilmu bela diri bukan?" Tanya Zafian lagi.


"Tentu saja, biar keluarga kami merasa Aman" jawab Alex mengambil cemilan dan menikmatinya.


"Oh begitu, Iya Dad, maaf kalau saya lancang bertanya-tanya" ucap Zafian.


"Tidak apa-apa, dengan begitu kau paham, tanggung jawabmu menjaga istrimu sangat besar, seandainya semua tau siapa sebenarnya Afita, untuk itu kami sebisa mungkin menutup jati diri di luaran sana" ucap Alex lagi.


"Oh iya Dad, saya tau, saya akan menjaga Afita dengan nyawaku"


"Terimakasih, kau sudah bersabar dengan Afita, aku peringatkan, dia wanita yang paling tidak suka di bohongi, kau bisa lihat sendiri bukan?" Ucap Aftan.


"Hem, maaf" ucap Zafian tidak enak hati.


"Jangan khawatir, istrimu adalah wanita yang sangat pandai menjaga rahasia rumah tangga, bahkan kami sampai sekarang pun tidak tau ada masalah apa dengan kalian sebelum nya" sahut Alex.


Deg.


Zafian seketika terdiam, merasa sangat berdosa telah membuat hati istrinya terluka.


"Maafkan saya Dad" ucap Zafian lirih.


"Sudahlah, kalau Afita masih mau memaafkan dan menerimamu, kami anggap masalah kalian selesai, jaga hubungan kalian, bahagiakan Afita, hanya itu yang Daddy minta"


Zafian mengangguk, lalu tersenyum saat Aftan menepuk bahunya tanda memberikan support penuh padanya.


Sementara itu di kamar sang Mommy, Afita masih tiduran manja di pangkuan.


"Mom, boleh aku bertanya, tapi aku malu" ucap Afita.


"Malu?, Memang apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Soal, apa ya, malu aku Mom" ucap Afita ragu untuk mengucapkan.


"Kau ini, malu malu terus dari tadi, mana Mommy tau Sayang" sahut Reyna yang gemas sendiri melihat apa yang dilakukan Afita.


"Begini, ini soal malam pertama" ucap Afita.


Sejenak Reyna terdiam dan berpikir, terkadang sikap konyol sang mommy rupanya masih menempel.


"Malam pertama ketemu Zafian?, Bukannya kamu ketemunya siang di waktu kecelakaan?"


"Ish, Mommy, bukan itu"


"Lalu apa, gimana sih maksudnya Af, mommy juga bingung nih"


"Malam pertama itu Mom, kewajiban suami istri buat anak, heh.. ngerti kan sekarang?"


"Hahaha, oh itu, ya Mommy jelas tau lah, sudah keluar juga kamu sama kakakmu Aftan"


"Iya tau Mom, mangkanya Afita tanya, kata orang-orang dan beberapa artikel yang aku baca kok rasanya sakit?" Tanya Afita dengan wajah polosnya.


Reyna tertawa sejenak, lalu terkejut menyadari sesuatu.


"Eh tunggu-tunggu, jadi kalian belum_"


"Hehe.. belum Mom, kan Zafian sakit"


"Astagfirullah Afita, tapi memangnya bisa nahan Zafian saat dekat dengan kamu?"


"Bisalah, yah walaupun kadang hampir kejadian juga beberapa kali"


"Dasar kamu ini, sakit sih memang, tapi beda sakitnya, tidak sama dengan apapun"


"Maksudnya gimana Mom?"


"Ya Sakit, ya Nikmat, ya Enak, ya_ apalagi ya, susah Mommy menjelaskan" jawab Reyna menatap wajah sang anak yang makin penasaran.


"Kok bisa gitu rasanya Mom?" Ucap Afita.


"Ish, sudah, kamu jalani saja, Mommy susah menjelaskannya, yang penting Rileks, jangan tegang, biar rasa sakitnya bisa berkurang, dan cepat berganti nikmat"


"Harus ya Mom semua baju dilepas gitu, aku kan malu"


"Ha, kau ini" ucap Reyna yang makin melongo dengan pertanyaan anak perempuannya.


"Afita kan gak tau Mom, mangkanya nanya"


"Cukup tanya nya, lakukan kewajibanmu sebagai istri, jangan sampai menolak karena itu_"


"DOSA_," sahut Afita.


"Nah itu tau"


"Siap Mom, tapi nanti kalau sakit terus nangis, gak apa-apa kan Mom"


Reyna makin tertawa dengan apa yang didengarnya, lalu kemudian menatap lekat mata Afita.


"Gak apa-apa, tapi Mommy yakin akan banyak mende-sah nya"


Ucapan terakhir sang Mommy membuat pikiran Afita sedikit melayang, teringat bagaimana Zafian membuatnya di buai dengan desiran indah di hatinya.


jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.