ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
149. Firman-Naura 3



Berakhir dengan Semalaman Firman tidak pulang, pagi hari terlihat Firdaus mengecek beberapa kali Ponselnya.


"Anak ini belum membalas pesanku, apa dia terlalu sibuk hingga tak bisa memegang ponselnya, atau memang_?"


"Ada apa sayang?" Tanya Farah yang berjalan mendekat dari arah dapur dan membawa beberapa cemilan lengkap dengan minuman hangat.


"Aku mengirimi Firman pesan dari tadi malam, tapi sampai sekarang belum di balas, apa dia benar-benar sibuk?" Firdaus menjelaskan dan menerima pelukan selamat pagi dari sang istri.


"Memangnya pesan apa?" Tanya Farah penasaran apa yang dikirimkan oleh Suaminya.


"Soal Naura, aku menuliskan kalau wanita itu sangat cantik dan juga cerdas, aku juga mengirim fotonya" jawab Firman.


"Jadi suamiku ini Ingin membuka biro jodoh?" Tanya Farah sambil pelan dan mencium pipi suaminya.


"Bukan begitu, aku melihat Naura adalah wanita yang berbeda, dia bisa menempatkan dirinya dengan baik, dan terlihat sekali bagaimana dia membawa situasi dengan cerdas tanpa harus menyombongkan diri, berteman dengan wanita seperti itu sangat baik buat Firman bukan?"


"Jadi kamu juga menyukai Naura?" Sahut Farah dengan alis yang di buat mengkerut, seolah curiga.


"Pertanyaanmu Ambigu sayang, hanya wanita yang melahirkan Firman yang aku sukai dari lubuk hati terdalam, dan Soal Naura, aku suka jika dia berada di sekitar pergaulan Firman, bagaimana menurutmu?"


"Tentu saja aku setuju, untuk itu kenapa aku melamarnya?"


"What?!, Apa yang kamu lakukan sayang, jangan ikut campur urusan pernikahan dengan Firman, kamu mau bertengkar lagi?"


"Aku melamarnya untuk menjadi sekretaris sayang" Farah tertawa melihat ekspresi panik suaminya.


"Oh my_, jangan lagi membuatku jantungan" sahut Firdaus segera mengambil nafas panjang.


*


*


Sementara di sebuah Ruang kerja Perusahaan Besar.


"Fir, kau tidak ingin pulang?" Tanya Zafian saat pagi-pagi harus menerima tamu tak diundang.


"Kau mengusirku?"


"Tentu saja, wajah mendungmu itu membuat suasana hatiku ikut terpengaruh, aku butuh mood yang baik untuk memulai pekerjaanku" sahut Zafian.


"Sh-it!, Kau sudah bahagia dan tidak mau peduli padaku" sahut Firman dengan muka masam.


Sontak Zafian tertawa, sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh dan hanya ingin membuat sahabatnya itu lebih santai dan tersenyum.


"Datanglah nanti sore ke rumah, sudah lama sekali kamu tidak main ke Mansion, keponakanmu sering menanyakan mu, dia kangen dengan cerita horor mu seputar mayat dan Rumah Sakit" ucap Zafian sambil melihat beberapa berkas di atas meja.


"Hem, dan Afita akan menghajar ku kalau aku melakukan hal itu lagi pada Fian" jawab Firman di sambut dengan suara tawa dari Zafian.


"Ada Naura juga, apa kau tidak ingin berbicara dengannya, aku lihat kalian dulu begitu akrab" ucap Zafian.


"Itu masa lalu, dan aku tidak lagi berharap" sahut Firman.


"Oh ya, aku seperti mendengar orang yang sedang patah hati?" sahut Zafian menatap sahabatnya.


"Dan aku melihatmu seperti paranormal yang sedang menebak isi kepala seseorang"


"Ish, kau ini!" Sahut Zafian.


Tak lama kemudian terdengar suara ponsel Firman berbunyi, dan seperti biasanya Furman bergegas pergi karena ada panggilan gawat darurat lagi.


"Aku pergi dulu Zaf!" Teriak firman yang dengan cepat sudah menghilang di balik pintu.


"Dasar, selalu saja datang dan pergi begitu saja" gumam Zafian ambil menggeleng melihat tingkah sahabatnya.


Sampai dirumah sakit, dokter Ana sudah menyambutnya, beberapa hasil diagnosa dibacakan dengan cepat dan jelas, Firman mengerti harus berbuat apa, dan segera memerintahkan untuk persiapan operasi sekarang juga.


Dokter Ana yang sudah lama bekerja sama begitu sigap, seakan telah mengerti apa yang diinginkan Firman untuk mengatasi masalah pasiennya.


Hampir dua jam operasi berjalan dengan baik, hasil yang diharapkan juga sangat memuaskan, dan kini saatnya beristirahat, apalagi Firman juga belum sempat sarapan.


"Aku membawakan dokter makan pagi, sebaiknya diisi dulu perutnya" ucap Dokter Ana yang kini sudah ada diruang kerja Firman.


"Hem terimakasih, maaf kemarin aku membentak mu, itu karena aku tidak ingin sampai tejadi sesuatu yang tidak kita inginkan terhadap pasien" Firman membuka makanan yang di bawa oleh Ana sambil menjelaskan.


"Aku tau, kamu kan memang seperti itu, dan bagiku tak masalah, asal di hari ulang tahunku yang sebentar lagi, akan ada hadiah darimu" sahut Ana dengan senyuman yang menawan.


"Hadiah apa yang kamu inginkan?" Tanya Firman.


"Aku akan bahagia kalau hadiah yang kau berikan dari idemu sendiri dokter Firman, dan apapun itu aku akan sangat menghargainya" sahut Ana.


"Ya sudah, nanti aku akan menyuruh asistenku untuk membelikan mu hadiah, aku tidak ada ide untuk memberimu apa"


"Ck, kamu itu sungguh menyebalkan Firman"


"Kau ini menyebalkan Dokter Firman!" Seru Ana dengan muka kesalnya, dan hal itu membuat Firman akhirnya tertawa.


Keduanya segera menyantap makanan sebelum bersiap untuk bekerja kembali, Firman sengaja mengambil Sif siang untuk beristirahat sejenak di tempatnya, karena untuk pulang rasanya waktunya terlalu mepet dan hanya akan kecapekan di jalan.


"Kamu istirahat disini?" Tanya Ana.


"Hem" jawab Firman setelah membereskan sarapan paginya.


"Tidak pulang lagi semalam?" Tanya Ana.


"Tidak"


"Kenapa?, Kalau Aunty menyuruhmu untuk segera menikah, aku bersedia melamar untuk menjadi menantunya" sahut Ana sambil tertawa pelan.


"Jangan bercanda, dan segera keluar, aku lelah dan ingin istirahat" sahut Firman tanpa ekspresi apapun seperti biasanya, bahkan Ana merasa heran, begitu banyak signal yang dia kirimkan seolah tak di pedulikan.


*


*


Sore hari Firman sudah berada di Rumahnya, baru saja turun dari mobilnya, sang Mommy sudah membuka pintu dan tersenyum menyambutnya.


"Kamu belum membuka pesan Daddy-mu?, Anak nakal!" Ucap Farah sambil memukul lengan Firman pelan.


"Sorry Mom, aku ku terlalu sibuk" jawab Firman dengan senyuman.


"Sudahlah, masuk dan segera bersihkan dirimu, nanti kita makan malam, Daddy mu juga ingin berbincang, Karena besok sudah harus kembali ke luar negeri"


"Secepat ini?"


"Iya, ada urusan penting dan mendadak yang harus segera diselesaikan, mommy terpaksa ikut, perusahan disini sudah mommy limpahkan ke orang kepercayaan"


Firman hanya mengangguk, lalu kemudian berjalan masuk ke kamarnya, tak lama kemudian, kini dirinya sudah berada di teras belakang rumah bersama dengan Firdaus.


"Aku suka dengan Naura, dia wanita yang sangat baik, bagaimana menurutmu?"


"Daddy jangan terlalu memaksaku, karena wanita itu belum tentu mau dengan anakmu ini" sahut Firman sambil menyeruput teh hangatnya.


"Oh ya?, jadi sebenarnya kamu juga menyukainya?"


"Percuma Dad, kalau sesuatu itu hanya bertepuk sebelah tangan" sahut Firman.


"Maksudnya tangan mu?" Sahut Firdaus begitu konyol.


"Aku tidak sedang mood untuk bercanda Dad, ayolah?" Ucap Firman merasa sedikit kesal.


"Oke-oke, sorry, Dady hanya ingin membuat mu tersenyum saja, tapi apapun itu, aku yakin kamu adalah seorang pejuang yang tangguh, dari mulai sekolah sampai kuliah, kamu bahkan tidak pernah merepotkan kami sebagai orang tua mu, ingat bagaimana kamu sekuat tenaga untuk mendapatkan beasiswa itu?, Aku sampai kadang berpikir, untuk apa semua hartaku, kalau anakku sendiri tak pernah memakainya"


"Dad, bukan seperti itu maksud ku, aku hanya ingin memperjuangkan cita-cita ku sekuat tenagaku, dan bonusnya aku mendapatkan penghargaan yang lainya"


"Nah itu maksudku, perjuangkan cinta mu, dan Daddy yakin kamu akan mendapatkan bonus yang sangat berharga, bahkan harta seberapapun tak mampu untuk membelinya, bagaimana?"


Firman terdiam, menarik nafas panjang dan kemudian tersenyum menatap mata Daddy-nya.


"Terimakasih saran Daddy, sebaiknya kita segera masuk, sebentar lagi magrib, kita tidak mau Mommy sampai mengomel bukan?"


"Oh tentu saja, jatah kasih sayang Daddy akan di potong jika membuat mommy mu kesal" sahut Firdaus yang membuat Firman ikut tertawa.


Melewati ruang tengah menuju kamarnya, Firman di kejutkan dengan suara Ponsel Farah yang tertinggal di atas meja, setelah mendekati ternyata ada panggilan dari nomor yang tertera di layar.


Firman segera menerima panggilan, khawatir akan ada hal penting, namun betapa terkejutnya saat terdengar suara yang dulu sering mengisi hari-harinya.


"Assalamualaikum Bu Farah, pesan anda sudah saya terima, besok saya akan memulai pekerjaan di perusahaan anda sesuai yang di perintahkan, saya ucapkan Terimakasih banyak atas kepercayaannya Bu"


Tak ada jawaban apapun dari suara Naura yang masih terdengar di telinga Firman.


"Bu, hallo, Bu Farah?!" Suara Naura mengejutkan Firman yang masih mendengarkan suaranya.


"Waalaikumsalam, nanti aku sampaikan" jawab Firman.


"Oh, maaf Pak Firdaus, saya kira Bu Farah, terimakasih pak, nanti tolong di sampaikan, selamat jalan dan semoga sampai tujuan dengan selamat" ucap Naura lalu menutup dengan salam sebelum mematikan sambungan handphonenya.


"Bahkan suaraku saja sudah di lupakannya" gumam Firman menaruh kembali ponsel Mommy nya lalu menghela nafas saat merasakan nyeri di hatinya.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Yang Penasaran dengan Cerpen Author terbaru dan tak kalah seru, bisa mampir di Channel YouTube: Sinho Novel/Sinho Channel.


Bersambung.