
Afita berjalan masuk kembali ke dalam ruangan rahasia yang baru saja dia tempati, sedangkan Zafian hanya memandang sang istri hilang di balik pintu rahasia yang mulai tertutup kembali.
Zafian duduk di kursi kerjanya, melihat beberapa berkas, namun hatinya masih belum tenang, sedikit memutar kursi menerawang jauh di baik tatapan matanya yang tengah memperhatikan pusat kota di mana terlihat dari gedung yang ditempati nya.
"Siapa sebenarnya yang sudah mengkhianati ku?" Batin Zafian masih keras berfikir.
Tak lama dirinya teringat akan sesuatu, memutar kembali kursi dan segera beranjak dari tempatnya, tiba di suatu ruangan dimana ada beberapa orang disana yang menyambutnya dengan hormat.
"Pak Zafian, ada yang bisa kami bantu?" Ucap beberapa staf keamanan yang mengamati monitor Cctv di semua gedungnya.
"Siapa disini yang paling menguasai IT?" Tanya Zafian.
Dan mereka akhirnya menunjuk salah satu anak muda yang nampak cekatan dalam mengendalikan semua peralatan yang ada di sana.
"Apa yang bisa saya bantu pak?" Tanya laki-laki muda itu.
"Ikut aku ke ruangan ku" ucap Zafian.
Dan kemudian, keduanya segera berjalan menuju ruangan kerja yang di maksud, Zafian segera duduk dan memulai pembicaraan serius.
"Aku ingin kau mengamati dan melaporkan semua gerak gerik karyawan yang tidak biasanya dan mencurigakan dalam satu minggu ini, aku tunggu nanti sore sebelum aku pulang" ucap Zafian.
"Ba baik pak, maafkan kami kalau tidak bisa membantu pak Zafian sebelumnya"
"Tidak apa-apa, sepertinya orang ini sangat tau seluk beluk kamera keamanan disini, untuk itu tidak nampak di layar monitor pribadiku saat mengambil berkas penting perusahaan "
"Apa?!, Jadi ada pencurian berkas perusahaan pak?" Tanya laki-laki itu sangat terkejut.
"Hem, Rahasiakan semua ini, dan ingat tugas penting mu, apa ada pertanyaan lagi?"
"Oh, baik pak, tidak ada, sebaiknya saya permisi dan segera melaksanakan tugas dari anda pak"
"Hem, kalau begitu kau bisa keluar" ucap Zafian memberikan perintah.
Laki-laki muda itupun segera melakukan apa yang diperintahkan, mengingat begitu penting apa yang di bebankan padanya, dengan serius amanat sang bos segera dikerjakan, bahkan beberapa teman turut membantu.
Hingga siang menjelang, Zafian mengerutkan kening saat melihat layar cctv di handphonenya, rupanya sang istri tengah tertidur lelap diatas tempat tidur.
"Ternyata dia sangat cantik walaupun tertidur tidak karuan, kasihan, Afita sangat kecapekan" batin Zafian mengamati wajah ayu istrinya yang masih terpejam.
Melangkahkan kakinya, Zafian membuka pintu rahasia dan masuk ke dalam sana, tersenyum melihat pemandangan nyata dan begitu indah yang ingin di bangunkannya.
Sedikit merusuh, Zafian mencium dan mengigit hidung bangir istrinya pelan saat membangun kan.
"Bangun sayang, Ayo makan siang" ucap Zafian saat Afita mulai memperlihatkan reaksinya.
"Emm, masih ngantuk yang, sakit, jangan menggigit hidungku" ucap Afita protes sambil menggosok bekas gigitan suaminya.
Zafian terkekeh, masih tidak percaya wanita yang didepannya ini adalah sosok wanita kuat dari keluarga Nugraha.
"Ayo bangun sayang" ucap Zafian lagi, namun respon dari sang istri alah tidak didapatkan.
Zafian tersenyum seiring dengan otak nakalnya yang ikut bekerja, memasukkan tangannya kedalam baju sang istri, perlahan merayap kan jari jemarinya dan kini tepat di area yang dituju, perlahan mere-mas kedua bukit kembar yang sangat menggoda itu dengan lembut.
"Akh, sayang!" Teriak Afita terkejut dan langsung membuka matanya.
Zafian terkekeh, menghentikan sejenak aksinya. "Kenapa hem?" Tanya Zafian menggoda dan selanjutnya membelai puncak nya dengan lembut.
"Oh God, Sayang hentikan?!" Ucap Afita langsung menahan tangan suaminya yang semakin membuatnya merasakan rasa aneh yang menjalar ditubuhnya.
Sekali lagi Zafian tertawa, lalu menghentikan aksi nakal tangannya.
"Kalau begitu cepat bangun dan ke kamar mandi, kita akan cari makan siang di restoran terdekat, bagaimana?"
"Ck, aku malas sekali yang, ngantuk dan capek, bagaimana kalau kita makan disini saja" ucap Afita memberikan ide.
"Hem, baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi sekretarisku untuk memesankan makanan dan segera membawa kesini" ucap Zafian.
"Biar aku saja" ucap Afita langsung menyahut handphone Zafian begitu saja, lalu segera mencari nama sekretaris di dalam handphone suaminya.
"Siapa namanya disini?" Tanya Afita yang rupanya nampak menyelidik.
"Oh, jadi nyonya Zafian sedang mengecek handphone suaminya?" Sahut Zafian tersenyum, sekaligus merasa senang dengan perlakuan Afita.
"Tentu saja, sekretaris mu itu membawa hawa panas dengan baju yang mini dan serba ketat, mataku saja sampai sakit melihatnya" sahut Afita dan terus mengetik sebuah pesan ke kontak nama yang bertuliskan Cintia sekretaris.
Zafian terkekeh, lalu merusuh kembali dengan membuka hijab sang istri, mengecup leher jenjangnya disana sini, walaupun beberapa kali Afita sempat menepis karena mengganggunya menuliskan pesan.
"Hentikan yang" ucap Afita setelah meletakkan handphone suaminya kembali.
Bukannya berhenti, Zafian makin sembarangan menggigit kulitnya hingga meninggalkan beberapa bekas disana.
Zafian tertawa kembali, tidak merusuh lagi, namun kini ikut berbaring memeluk istrinya.
"Kita nanti mungkin pulang agak sedikit telat, ada beberapa hal yang masih aku urus" ucap Zafian.
"Tidak masalah, istirahatku juga cukup tadi disini" ucap Afita.
Zafian terdiam, sebenarnya dengan posisinya saat ini, ingin sekali matanya terpejam karena rasa kantuk yang mulai menyerang, namun Zafian segera bangkit saat terlihat dari layar monitor sang sekretaris sudah tiba di depan pintu masuk sambil membawa makanan yang di pesan.
Afita ikut berjalan keluar di belakang Zafian,
"Biar aku yang membawa makanannya" ucap Afita mengambil alih kotak box yang dibawa suaminya.
Keduanya makan siang di tempat privat dengan nikmat, sesekali Zafian menyuapi istrinya tanpa diminta, begitu juga sebaliknya.
Hingga waktu berlalu, kini Zafian sudah menunggu hasil yang di perintahkan untuk anak buahnya, dan ternyata ada dua orang yang mencurigakan dan kemungkinan telah mengkhianati nya.
"Sebaiknya kita lihat saja dua orang ini sayang" ucap Afita memperhatikan.
"Hem, sudah aku duga, feeling ku juga dari awal ke mereka, tapi aku harus punya bukti yang kuat untuk semua ini" sahut Zafian.
"Kita harus sedikit lebih bersabar" ucap Afita lagi.
Keduanya segera melangkah keluar karena hari sudah senja, dan semua pekerja hampir tidak terlihat lagi di sana.
Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sang sopir seperti biasa memberikan rasa yang nyaman kepada kedua majikan nya, hingga tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip dan berhenti mendadak di depannya, diikuti satu mobil berikutnya.
CIIT..
"Astagfirullah!" Teriak sang sopir terkejut dan mengerem mendadak, Afita dan Zafian tak kalah kaget, beruntung keduanya masih bisa menguasai tubuhnya hingga tidak terjadi benturan yang berarti.
"Ada apa pak!' teriak Zafian
"Itu pak, ada dua mobil menghadang kita!" Ucap Sang sopir yang masih terkejut.
"Breng-sek, siapa mereka!" Ucap Zafian di buat marah dengan siapapun yang berani menghadang perjalanannya.
"Sayang hati-hati" seru Afita saat Zafian membuka pintu mobil dan ingin memastikan apa yang tengah terjadi.
Sang sopir ikut turun dan mendampingi Zafian, tidak di duga hampir sepuluh orang kini sudah keluar dari mobil dan sepertinya memang sengaja menunggu kedatangan Zafian.
"Kalian siapa, kenapa menghadang perjalanan ku?" Ucap Zafian dengan tegas.
Salah satu dari mereka sedikit maju, sepertinya salah satu pimpinan dari mereka, melihat apa yang di pakainya, Zafian sedikit mengerutkan kening untuk berpikir, mengingat ulang memorinya.
"Tunggu, kalian anak buah Bimo Trihatmodjo bukan?!" Ucap Zafian kemudian.
"Hahaha, benar sekali, ingatanmu bagus juga, dan kami ingi memberikan balasan atas apa yang sudah kau lakukan kepada Tuan kami tadi pagi!" Ucapnya dengan tatapan mengancam.
Detik berikutnya, dua orang segera melesat maju dan menyerang Zafian, dua orang bagi Zafian masih mudah untuk diatasi, beberapa kali gerakan menghindar dan menyerang, nyatanya bisa membuat dua orang itu terkapar tak berdaya"
"Jangan macam-macam denganku, kalian benar-benar kurang ajar!" Teriak Zafian kini bersiap kembali.
Empat orang kini maju menyerang secara bersama, Zafian masih menata ketajaman instingnya kembali, kali ini bekerja lebih ekstra untuk menghadapi.
"Kalian benar-benar minta di hajar!" Teriak Zafian dan kini kekuatan bela dirinya sudah melumpuhkan tiga orang lagi.
Tidak tinggal diam, kini musuh-musuhnya menyerang bersamaan, ada empat orang yang sudah berkali-kali melakukan pukulan yang cepat hingga Zafian kini hanya bisa menghindar tanpa ada kesempatan untuk menyerang.
Tentu Zafian masih bisa mengatasi, namun tenaga yang di forsir untuk meladeni akhirnya berkurang, melihat kelemahan Zafian yang mulai nampak melambannya gerakan pukulannya, salah satu dari mereka berhasil melayangkan tendangan, beruntung sang sopir segera menghadangnya.
"Apa yang kau lakukan, kembali ke mobil dan lindungi Istri ku!" Teriak Zafian.
"Maaf tuan, ba baik, anda tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, ini hanya akan sedikit lama, mereka terlalu banyak"
"Baik tuan, hati-hatilah" ucap sang sopir yang kemudian segera berlari masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Afita masih terdiam mengamati apa yang di lakukan oleh suaminya yang tengah berlompatan kesana kemari melawan musuhnya bersamaan.
Tanpa di duga, datang satu mobil lagi membawa beberapa orang yang langsung ikut menyerang zafian.
"Sial!" Ucap Afita segera melesat membuka pintu.
"Nyonya, jangan keluar!" Teriak sang sopir terkejut mendapati Afita hengkang dari tempatnya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.