ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
178. Firman_Naura 31



Dimas tersenyum sinis, lalu dirinya menatap tajam Naura seolah ingin mengintimidasinya.


"Oh ya, kau ingin bermain-main denganku, atau kamu lupa bagaimana aku bisa membuatmu keluar dari keluarga besar dengan mudah" ucap Dimas.


Naura terdiam dan melihat mata Dimas dengan dalam, rasa benci dan juga ingin sekali membalas dendam muncul dalam benaknya, namun kembali Naura merasa trauma akan penderitaan yang disebabkan oleh pamannya.


"Aku akan memikirkannya, dan aku rasa pertemuan hari ini sudah cukup"ucap Naura


"Lalu tanda tangan berkas itu?" Tanya Dimas sebelum Naura beranjak dari tempatnya.


"Tidak bisa aku lakukan sekarang, jadi jangan memaksaku, kamu tentunya tahu siapa keluarga besar suamiku bukan?" Naura tersenyum miring.


"Cih, kau sengaja menikahi laki-laki kaya hanya untuk hal seperti ini rupanya" jawab Dimas.


"Terserah apa yang kau pikirkan tidak penting bagiku" jawab Naura menatap sebentar ke arah Dimas kemudian segera berjalan meninggalkan tempat itu dengan dua pengawal yang berada di belakangnya.


Sampai di dalam mobil Naura menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya, sungguh bertemu dengan Dimas kembali membuat kenangan masa lalunya menyelimuti pikiran dan tentu saja menimbulkan ketakutan yang tidak diinginkan.


"Ke mana kita selanjutnya nyonya?" Tanya sang sopir yang membuat Naura seketika tersadar.


"Kembali ke Apartemen" jawab Naura singkat kemudian mobil melaju ke arah yang diinginkan.


Sementara itu Firman yang merasa tidak tenang sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh istrinya segera berpamit pulang setelah menyelesaikan semua tugasnya.


"Ada apa, sepertinya kamu begitu terburu-buru?" Tanya Ana yang hampir saja bertabrakan dengan Firman.


"Sorry ada hal penting yang harus segera Aku selesaikan, untuk sementara kamu bisa menggantikan ku bukan?"


"Tentu saja, jangan khawatirkan pekerjaan di rumah sakit ini" jawab Ana lalu kemudian Firman segera melambaikan tangan dan sedikit berlari menuju mobilnya.


Di tengah perjalanan, Firman merasa tenang di saat sebuah pesan dari Naura telah diterimanya.


"Syukurlah Naura sudah ada di apartemen sekarang" batin Firman.


Tidak lama kemudian pintu Apartemen terbuka di saat Firman sudah berada di depan dan menekan tombol agak terburu.


"Yang!, Kau di mana!" Teriak Firman sambil terus berjalan mencari sosok Naura.


"Aku di sini, kenapa?" Naura segera menoleh ke sang suami yang kini berjalan cepat menuju ke arahnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Firman setelah memeluk dan mencium kening istrinya.


"Tentu saja, laki-laki itu tidak akan berani menyentuhku, karena aku sekarang ini adalah sesuatu yang sangat berharga baginya" jawab Naura.


"Apa ada sesuatu yang belum kamu ceritakan padaku?" Tanya Firman sambil mengerutkan kedua alisnya.


Naura tersenyum kemudian berjalan perlahan menuju sofa ruang tengah sambil membawa minuman untuk suaminya, Firman mengikuti dari belakang dengan rasa penasaran.


"Aku akan menceritakan sesuatu yang, dan hal inilah yang membuat laki-laki itu berusaha dengan keras mencariku selama ini"


"Aku akan mendengarkan sayang" jawab Firman lalu menarik tubuh Naura untuk lebih dekat dengannya.


Naura menceritakan segalanya, tentang bagaimana almarhum kakeknya merubah sebuah surat wasiat di mana hampir sepertiga kekayaan yang dimiliki diserahkan atas nama dirinya, namun di sana juga dijelaskan bahwa harta itu bisa beralih ke siapapun dengan persetujuan ahli waris pertama yaitu Naura.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sayang?" Tanya Firman ingin mendengar pendapat istrinya.


"Sungguh, Aku tidak ingin kembali di keluarga itu, apalagi sampai berurusan dengan harta warisan dan juga kekayaannya, sudah cukup aku sekarang bahagia denganmu Sayang, tidak perlu lagi aku ke sana dan terbayangi oleh masa lalu yang begitu menyakitkan bagiku" jawab Naura.


"Apa itu berarti kamu akan menandatangani surat peralihan itu?" Tanya Firman.


"Bagaimana menurutmu, Aku sangat bingung untuk memutuskan hal itu, di sisi lain Aku juga ingin memberikan pelajaran pada mereka semua, tapi aku juga tidak ingin berurusan dengan masa laluku" jawab Naura nampak gamang.


"Aku yakin, surat wasiat itu dibuat oleh almarhum kakekmu bukan tanpa Alasan, mungkin dia tahu bahwa apa yang diberikannya memang adalah hakmu, di sisi lain saudara dari orang tuamu sudah merencanakan hal-hal kotor untuk menguasai seluruh harta, Jadi sebelum almarhum kakekmu meninggal beliau merubah surat wasiat itu" Firman memberikan beberapa pertimbangan.


"Lalu aku harus bagaimana yang?" Tanya Naura dan terlihat kecemasan di sana.


"Aku tidak berhak memutuskan apapun di sini hanya saja perlu kamu tahu, sekarang ini kamu tidak sendiri, ada aku dan juga keluarga besarku, Apa kamu juga lupa ada Afita dan juga Zafian?, mempertahankan hakmu sudah menjadi kewajiban, setidaknya itu menjadi pengganti permintaan maafmu terhadap almarhum kakek yang belum sempat kamu lakukan" ucap Firman.


Naura berdiam, rasa penyesalan dalam hatinya membuat air matanya menggenang, Firman perlahan menghapus air mata yang akan menetes, dan Naura memberikan senyuman tipis sebagai ungkapan terima kasih atas kasih sayang sang suami.


"Terima kasih untuk semuanya sayang, Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" ucap Naura dengan pasti.


"Dan aku akan mendukungmu sepenuhnya sayang" jawab Firman kemudian mendekati bibir merah Naura yang dari tadi begitu menggoda baginya.


"Apa kau sudah merindukanku?" Tanya Naura yang mulai berpancing has-ratnya.


Firman segera membawa sang istri masuk ke dalam kamar, setelah membersihkan diri sebentar, dirinya segera keluar dan mendekati sang istri yang rupanya sudah bersiap.


"Rupanya istriku sudah semakin pintar?" Ucap lirih Firman saat Naura berhasil membuat semua kain yang menempel di tubuhnya terbang begitu saja.


"Tentu saja, aku adalah murid yang cerdas dari guru yang sangat profesional" jawab Naura sambil tersenyum saat Firman membalas dengan membuatnya polos seketika.


Kegiatan yang penuh dengan keringat terjadi di sore yang sedikit mendung, Firman membuat sang istri merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga beberapa jeritan didengar saat dirinya menghentakkan miliknya.


"Akan sedikit sakit yang, boleh aku melakukannya?" Ucap Firman di saat mengenalkan posisi baru yang belum pernah di lakukan sebelumnya.


Naura mengangguk pelan, has-rat yang sudah melambung justru menimbulkan rasa penasaran.


Firman terus menci-umi tubuh sang istri, dan posisi Naura me-nung-ging sempurna membuat Firman menjelajahi bagian yang terpampang apik dengan jila-tan lidahnya.


"Sshh, yang" desah Naura lirih saat sensasi luar biasa dia dapatkan.


Satu jari dimasukkan oleh Firman, memastikan milik sang istri sudah memproduksi lendir yang cukup untuk proses selanjutnya.


"Akh!, Yang!" Teriak Naura saat jari sang suami yang menyusuri miliknya berganti dengan sesuatu yang besar, keras dan membuatnya begitu sesak di dalam miliknya.


"Sakit?" Tanya Firman menghentikan gerakan tubuhnya yang mendorong sang pusaka untuk terus masuk walau di rasa cukup sulit.


"Iya, pelan yang, sshh" jawab Naura dengan de-sa-han Nik-mat nya.


Tangan Firman membelai lembut pan-tat sin-tal Istrinya, memberikan remasan yang membuat Naura spontan melebarkan pa-hanya untuk mencari kenyamanan.


Firman mencoba sedikit hentakan.


"Akh!, Sshh!" Terdengar ******* yang membuat hasratnya seketika melambung.


Bahkan Firman memperhatikan bagaimana miliknya kini berlumur cairan licin alami yang berasal dari sang istri, dan detik berikutnya memulai membuat gerakan keluar masuk pusakanya hingga terdengar suara indah disana.


Tubuh Naura semakin terguncang, lalu kemudian m menge-rang saat sesuatu ingin keluar melepaskan has-ratnya.


"Yang, aku ingin_"


"Kita bersama yang, oohh" sahut Firman yang juga hampir mencapai puncaknya.


"AKH!" Teriakan keduanya hampir bersamaan, lalu benih menyembur kuat dengan sempurna masuk ke dalam milik Naura.


Firman tersenyum puas, bergerak perlahan sebagai kegiatan terakhir sebelum denyutan nikmat berakhir.


*


*


Malam yang terasa begitu dingin, disaat akhirnya hujan pun membasahi bumi, Naura membereskan meja makan bersama dengan Firman yang sesekali menggodanya.


"Sepertinya aku mulai ketagihan, malam nanti aku boleh minta lagi?" Ucap Firman.


"Apa?, My God, apa kamu benar-benar ingin membuatku susah berjalan?" Sahut Naura yang tentu saja membuat Firman terkekeh.


Namun tak lama kemudian terdengar suara panggilan di handphone Firman.


"Dari dokter Ana" ucap Naura saat melihat ke layar ponsel milik suaminya yang kebetulan berada dekat dengannya.


"Oh ya?" Sahut Firman segera mendekat dan mengambil ponsel yaang sudah d sodorkan oleh Naura.


Terjadi perbincangan serius, seperti yang biasa terjadi pada seorang dokter dimana tenaganya harus dibutuhkan sewaktu-waktu jika ada gawat darurat, maka Firman segera meminta ijin untuk pergi ke Rumah Sakit karena ada keadaan genting dimana dokter Ana tidak mampu mengatasinya.


"Hati-hatilah yang, jalanan licin, apalagi hujan deras begini" pesan Naura sebelum Firman akhirnya pergi.


Baru saja pintu Apartemen di tutup oleh Naura, beberapa menit kemudian bel berbunyi.


"My God, adakah yang ketinggalan?, Tunggu sebentar yang!" Teriak Naura segera berlari menuju pintu dan membukanya.


"Apa yang kalian-!"


BRUG


Naura terjatuh, saat sebuah sapu tangan sudah membekapnya.