
Sementara itu tengah terjadi keributan di sebuah Mansion, dimana seorang Eliza kini tengah teriak histeris karena perbuatan suaminya yang sudah menyebar ke berbagai media, tentu saja Eliza tidak terima hal ini, karena kariernya sebagai model papan atas dipertaruhkan.
"Kau benar-benar Ba-ji-ngan Bimo, apa kekurangan ku ha!" Teriak Eliza penuh emosi, tidak perduli lagi kalau saat ini sudah tengah malam.
"Diam!, Kau tau siapa aku dari dulu bukan, aku tidak bisa hidup dengan satu wanita, dan dia hanya alat ku untuk menghancurkan Zafian, jangan berpikir berlebihan!" Teriak Bimo.
"Apa!, Kau benar-benar bre-ng-sek!, Aku berusaha diam selama ini dengan semua yang kau lakukan di luaran sana, bahkan aku tidak melarang mu dan tidak peduli, asal kau tidak merusak nama baik kita, lalu apa yang sekarang kau lakukan!" Ucap Eliza dengan lantang.
"Sh-it!, Mereka menjebak ku!" Sahut Bimo membela diri.
"Oh ya Tuhan, kau benar-benar Sial-an!" Teriak Eliza lagi.
Brak!
Bimo keluar begitu saja, pulang bukannya makin tenang, malah kelakuan sang istri semakin parah mengintimidasi.
Eliza tidak mau tinggal diam lagi, baginya kekayaan Bimo sudah tidak berarti baginya, apalagi dia tau kalau Bimo dalam keadaan yang hampir saja terpuruk dalam perekonomian nya.
"Tidak ada yang perlu aku pertahankan lagi dirimu, saat ini juga aku akan melakukan gugatan ce-rai!" Ucapnya lirih dan segera membereskan semua barangnya untuk pergi dari sana.
*
Afita malam itu tersenyum senang, melihat sebuah berita di televisi dan beberapa media yang lain menampilkan kabar tentang hubungan gelap Bimo Trihatmodjo dan Cintia sekretaris suaminya.
"Kali ini kau akan menikmati perbuatan mu Bimo" ucapnya lirih.
Tanpa disadari Zafian memeluknya dari belakang dan mencium puncak kepalanya.
"Sepertinya kamu sangat menikmati pertunjukannya yang?" Ucap Zafian.
"Sangat" jawab Afita sambil tersenyum senang.
"Duduk yang benar Zaf, sini!" Ucap seseorang yang kini sudah menyeret tubuh Zafian agar tak terlalu nempel dengan sang istri.
Afita terkekeh, melihat sang Bunda mencegah aksi mes-um suaminya yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Apa sih Bun, katanya pengen cepet punya cucu yang banyak" sahut Zafian kini sudah duduk biasa di antara istri dan Bundanya.
"Iya memang, tapi ya kan gak harus seperti itu caranya, banyak penjaga, banyak asisten rumah tangga.. kamu itu benar-benar gak tau malu" jawab Bunda.
"Malah lebih parah Bun" sahut Afita.
"Ya maklum, terlalu cinta" jawab Zafian narsis.
"Nggak ingat dulu gimana" ucap Afita.
"Ya Sorry, aku gak ngerti kalau ternyata kamu sangat nikmat"
"Yang!, Di rem dong ngomongnya, ada Bunda" ucap Afita lirih lalu melayang kan cubitan panas di pa-hanya.
Zafian meringis kesakitan, sementara sang Bunda terkekeh melihat anak dan menantunya, lalu pembahasan berganti dengan apa yang tengah dilihatnya.
Beberapa jam menikmati kebersamaan di ruang tengah, waktunya Zafian mengajak istrinya untuk beristirahat, begitu juga sang Bunda yang sudah pamit duluan beberapa saat.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Zafian ambil mere-ngkuh Afita dalam pelukan diatas tempat tidur.
"Yang jelas, kamu butuh sekretaris bukan?" Tanya Afita mengingatkan.
"Itu gampang, bukan hal yang sulit mengingat tiap tahun banyak yang datang melamar pekerjaan di perusahaan" jawab Zafian.
"Saranku, cari sekretaris laki-laki saja yang, lebih meminimalkan masalah"
"Hem, akan aku pertimbangkan yang" jawab Zafian.
"Dan untuk Bimo, bagaimana?, Apa kamu akan terus melanjutkan kerja samanya?" Tanya Zafian.
"Tentu saja tidak, aku akan memutuskan kontrak, walaupun disana harus membayar ganti rugi yang tidak sedikit" jawab Afita.
"Biar aku yang akan membayar ganti ruginya" ucap Zafian.
"Tidak perlu yang, aku masih bisa mengatasi hal itu, tidak apa-apa aku menolak tawaranmu kan?" sahut Afita.
"Emm.. asal ada syaratnya" sahut Zafian yang sudah menatap istrinya aneh.
"Oh my God, jangan lagi yang, milikku masih tidak nyaman!" Teriak Afita berusaha menghindar namun kalah cepat dengan gerakan Zafian yang sudah mengungkungnya.
Afita memohon dengan wajah memelas agar terhindar dari serangan suaminya malam ini, dan Zafian tertawa melihat wajah lucu sang istri hingga tidak tega untuk membuatnya berkeringat lagi.
"Tidurlah sayang" ucap Zafian lalu menci-um kening Afita.
**
Satu bulan berselang, dan kabar perce-rai-an dari seorang model terkenal akhirnya sampai di telinga Afita dan juga Naura yang tengah menikmati makan siangnya.
"Ternyata suami istri sama saja" ucap Naura.
"Sudah jangan di bahas, makan dulu" sahut Afita.
Masih berada di cafe yang tak jauh dari tempat kerja, Afita duduk menikmati suasana siang bersama dengan Naura.
"Tidak ada jadwal lagi kan?" Tanya Afita memastikan.
"Aman Nona" jawab Naura.
"Saya ikut?" Tanya Naura.
"Tentu saja, sekalian kita jalan bertiga biar rame" ucap Afita.
"Siap Nona" sahut Naura sumringah.
Lalu keduanya segera beranjak dari sana, menuju ke sebuah mall megah untuk berbelanja sepuasnya.
Tak berselang lama, Anita juga sampai di sana, hampir berbarengan dengan Afita yang juga baru sampai.
"Alhamdulillah, sudah sampai, kita langsung jalan sayang?" Tanya Anita dengan senyumannya.
"Siap Bunda" sahut Afita yang sudah mengandeng Anita.
Kegiatan siang itu sangat asik dilakukan, kadang mereka berkumpul di satu tempat, kadang juga berpencar mencari barang yang diinginkan.
Tiba-tiba saja perasaan Afita tidak enak, seperti merasakan akan terjadi sesuatu, lalu teringat akan sang Bunda dan segera mencari keberadaannya.
"Dimana Bunda?" Tanya Afita dalam hati, lalu segera menghubungi.
Panggilan yang dilakuan tidak juga mendapat respon, membuat Afita makin khawatir.
"Nona?" Tanya Naura.
"Kamu melihat Bunda?" Tanya Afita nampak kebingungan melongok ke sana kemari.
"Tidak, saya kira tadi bersama Nona Afita" jawab Naura.
"Oh sial, kenapa aku tadi tidak berada didekatnya saja" gumam Afita masih terus mencoba menghubungi sang Bunda lewat ponselnya.
"Ada apa Nona?" Tanya Naura mulai ikutan panik.
"Perasaan ku tidak enak" sahut Afita.
"Memang tadi tidak membawa pengawal Nona?" Tanya Naura lagi.
"Itulah yang aku khawatir kan, aku menyuruh pengawal pulang, tidak nyaman kalau mereka ikut belanja, oh Sh-it!, Zafian akan membu-nuh ku kalau sampai terjadi sesuatu" ucap Afita lalu berjalan kesana kemari masih terus mencari.
Sedangkan Naura tidak tinggal diam, mengikuti Afita sambil mengamati sekeliling mencari sosok wanita setengah baya yang sedang di khawatirkan.
Tak lama kemudian, Afita mendapat pesan masuk.
"Bre-ng-sek!" Ucap Afita lalu berlari begitu saja meninggalkan Naura.
"Eh, Nona Afita tunggu!" Teriak Naura.
"Jangan mengikuti ku, hubungi suamiku, aku tidak ada waktu!" Terik Afita menjawab sambil terus berlari.
"Oh my God, apa yang terjadi, bagaimana aku bisa menghubungi Tuan Zafian, apa yang harus aku katakan, sial!" Umpat Naura masih bingung sendiri.
Sementara Naura masih berkeringat bingung menata kata, Afita sudah melesat turun ke bawah di tempat parkiran mobil yang sepi.
Dan tak lama kemudian, nampak beberapa laki-laki menghadang jalannya bersama dengan sang Bunda yang berada diantara mereka.
"Bre-ng-sek!, Lepaskan Bundaku!" Ucap Afita geram melihat Anita kini sangat ketakutan.
"Bagus, tidak kusangka cepat juga anda bisa sampai disini Nona Afita, sepertinya apa yang dikatakan anak buahku memang benar, kau wanita yang tangguh rupanya" ucap seseorang yang menyandera Anita.
"Tidak usah banyak bicara, apa mau kalian!" Ucap Afita dengan tegas.
"Kami menginginkan mu, tanpa perlawanan"
"Apa?, Siapa yang menyuruh kalian?!" Tanya Afita berusaha tenang.
"Kau akan segera tau Nona cantik, ikut dengan kami dan wanita tua ini akan aku lepaskan"
Afita masih terdiam, mengamati sekitar, rupanya hampir semua membawa senjata, dan sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk menangkap nya.
"Sial, siapa yang merencanakan semua ini, mungkinkah Bimo, atau Istri gilanya itu, dan aku tidak mungkin membahayakan nyawa Bunda" Afita menduga-duga dalam hati.
"Baik, lepaskan wanita itu, dan aku akan menyerahkan diriku"
"Tidak!, Jangan lakukan itu sayang" ucap Anita sambil menangis.
"Tenanglah Bun, aku bisa mengatasi hal ini, tidak akan terjadi apapun denganku, percaya lah" sahut Afita berusaha menenangkan Anita.
Detik berikutnya, Afita sudah di bawa oleh sebuah mobil hitam dengan meninggalkan Anita di tempatnya.
"Afita!, Tidak!" Teriak Anita.
"Bunda, ada apa Bun?!" Teriak Naura yang berlari mulai mendekat.
"Afita nak, mereka membawanya!"
"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang sedang berlari, rupanya Zafian baru saja datang.
"Istrimu Zaf, mereka menangkap nya" ucap Anita membuat Zafian makin kebingungan.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.