ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 47



Setelah sarapan pagi, keduanya segera berpamitan, Aftan yang sudah menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mengurusi kepulangan sang adik tercinta kini menatap seakan masih belum rela.


"Kenapa harus mendadak seperti ini?" Ucap Aftan lagi-lagi masih belum terima.


"Maaf kak, Zafian sudah menjelaskan alasannya bukan?"


"Iya aku tau, haruskah kau ikut juga?" Tanya Aftan.


"Harus, karena aku tidak bisa jauh darinya" sahut Zafian.


"Ck, kau itu manja sekali" ucap Aftan menatap Zafian.


"Maaf, dia milikku sekarang" ucap Zafian.


"Aku tau, tidak perlu kau jelaskan lagi" sahut Aftan.


Sepasang suami istri itu terkekeh, begitu juga dengan Alex dan Reyna yang sudah memberi restu melepas kepergian anak dan menantunya.


"Kalian harus berhati-hati dalam dunia bisnis, banyak sekali masalah yang tidak kalian duga, dan kalian harus siap menghadapinya" ucap Alex memberi petuah.


"Baik Dad, aku mengerti, semoga saya bisa menghadapi apapun masalah dengan baik, dan mungkin saya juga butuh bimbingan Daddy yang sudah jauh lebih lama bergelut di dunia bisnis" jawab Zafian.


"Hem, silahkan kapan saja datang padaku, aku pastikan Daddy akan membantu kalian" ucap Alex.


"Itupun kalau istrimu mengijinkan" sahut Reyna sambil melirik Afita sang putri kesayangan yang begitu teguh pendirian untuk sekuat tenaga mengatasi masalah tanpa bantuan keluarga Nugraha.


"Ayolah Mom, aku ingin kesuksesan ku sendiri, bukan campur tangan keluarga kita, itu lebih membuat ku puas dan bangga " ucap Afita.


Zafian tersenyum, merangkul bangga akan prinsip istrinya.


"Dan aku pastikan selalu mendukungmu sayang" ucap Zafian lalu mengecup mesra puncak kepala istrinya.


"Sudahlah, apapun yang menurut kalian baik, kami pasti akan mendukung sepenuhnya" sahut Aftan memberikan support.


"Terimakasih Af, aku tidak harus memanggilmu kakak kan?" Gurau Zafian.


"Dasar kau, jangan memanggilku kakak, usiamu lebih tua dariku, aku juga belum menikah!" Ucap Aftan membuat semuanya tertawa.


Dan akhirnya semua masuk ke dalam mobil menuju ke bandara, dalam mobil Reyna sempat mengomel karena Afita menolak untuk naik pesat pribadi milik keluarganya.


Zafian yang melihat hal itu hanya tersenyum, memaklumi bagaimana semua keluarga bertujuan ingin melindungi dan membuat perjalanan menjadi nyaman.


"Hati-hati, ingat waspada dimanapun kamu berada, latih terus tenaga da_"


"Mommy..!, Jangan berisik, iya, aku akan melatih tenaga bela diriku" ucap Afita segera membuat sang Mommy terdiam sebelum keceplosan di depan Zafian.


"Oh iya, sorry, itu maksud Mommy" Ralat Reyna seolah tau apa yang ditakutkan oleh anaknya.


Sementara Zafian yang sebenarnya merasakan keanehan dalam keluarga sang istri hanya tersenyum saja, tidak ingin membuat rasa penasarannya nampak begitu saja dimata semua keluarga.


Setelah memberikan salam perpisahan dan lainnya, kini baik Zafian maupun Afita sudah berada dalam pesawat kelas eklusif yang sudah di pesan oleh Aftan sang kakak tercinta.


"Sayang?" Ucap Zafian.


"Hem, ada apa?"


"Jadi kamu juga menguasai ilmu bela diri?" Tanya Zafian sedikit ragu.


Afita langsung membenarkan posisinya untuk duduk tegak kembali.


"Iya, begitulah, keluarga kami semua menguasai ilmu bela diri, dan itu semua untuk menjaga diri kami, kenapa?" Tanya Afita dengan serius.


"Tidak, aku hanya tidak pernah melihatmu menggunakannya, dan rasanya tidak percaya kalau istri cantikku ini mampu melakukan gerakan menyerang dengan garang" ucap Zafian sambil menatap intens istrinya dari ujung kepala sampai kakinya.


"Ish, apa sih Zaf, aku hanya bisa ilmu bela diri sederhana saja, yang penting bisa untuk menjaga diri"


"Bagaimana kalau nanti kita berlatih bersama?" Ucap Zafian.


"Boleh"


"Satu lagi" ucap Zafian.


"Apa?" Tanya Afita penasaran.


"Bisakah jangan memanggil ku dengan sebutan nama?"


"Maksudnya?" Tanya Afita.


"Aku suamimu sayang"


"Oh itu, maaf, lalu aku harus memanggil apa?" Tanya Afita bingung sendiri.


"Terserah yang penting pantas dan enak didengar telinga" jawab Zafian.


Sejenak Afita berpikir cukup keras, alhasil bingung sendiri, akhirnya memutuskan untuk memakai nama panggilan yang sama dengan suaminya.


"Aku panggil sayang juga ya?" Tanya Afita meminta persetujuan.


Zafian mengangguk sambil tersenyum, menarik tubuh sang istri dalam pelukan, sedikit merusuh mencari bibir yang tidak direlakan menganggur begitu saja.


"Emh.. Zaf, ini di_"


"Akh!, Sakit!" Teriak Afita terkejut saat bibirnya digigit begitu saja, hingga akhirnya dilepaskan kembali oleh kekasih halalnya.


"Aku akan mengigit bibirmu kalau masih memanggilku dengan sebutan nama!" Ucap zafian tegas.


"Iya maaf, tapi bibirku sakit yang.." rengek Afita mode manja sambil memegangi bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Suaminya.


Zafian terkekeh, lalu tangannya meraih wajah sang istri untuk melihat keadaan bibir yang sudah di sakitinya.


"Aman, hanya bengkak sedikit, maaf ya"


Cup


Zafian menyambar bibir Afita kembali, namun kali ini hanya memberi ciu-man yang aman dan nyaman.


"Sedikit yang.." mohon Zafian.


"Gak ada, ini di pesawat, sembarangan!" Ucap lirih Afita memperingatkan.


Zafian hanya mende-sah pelan, membenarkan duduknya dan tersenyum sendiri dengan aksi nekatnya yang tak tau tempat.


Sementara tanpa sengaja ada beberapa pasang mata yang senyum-senyum sendiri melihat kemesraan konyol dari pasangan yang sepertinya sedang menikmati indahnya kebersamaan.


Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di kota Surabaya, dan kini Zafian sudah menggandeng Afita menyusuri koridor jalan keluar dari bandara bersama dengan sopir pribadi yang sudah menjemputnya.


Langsung menuju Mansion perintah Zafian segera dilaksanakan.


"Sebaiknya setelah berganti pakaian, kamu harus segera ke kantor yang" ucap Afita.


"Hem, itu juga yang aku pikirkan" sahut Zafian.


"Baguslah" ucap Afita yang juga nampak cemas dengan masalah suaminya.


"Jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikannya" ucap Zafian.


"Aku tau kamu pasti bisa, hanya saja_" Afita menghentikan kata-katanya.


"Hanya apa?" Ucap Zafian penasaran.


"Entahlah, aku merasa ada yang tidak beres tengah terjadi di dalam perusahaan"


"Aku juga, jelas ada orang dalam yang membuat surat-surat itu hilang dan berpindah tempat di tangan Bimo Trihatmodjo"


"Itulah yang aku pikirkan" sahut Afita dengan wajah seriusnya.


Zafian tersenyum, menarik istrinya dalam pelukan dan mencium puncak kepalanya untuk memberikan rasa nyaman dan ketenangan.


"Sudahlah.. biarkan aku saja yang menyelesaikan semuanya, apa hari ini kamu juga akan ke tempat kerja?" Tanya Zafian.


"Sebaiknya tidak, aku akan beristirahat barang sehari saja"


"Bagaimana kalau istirahat sambil menemaniku?"


"Maksud nya?" Tanya Afita bingung.


"Ikut bersama ku di perusahaan, ada ruangan khusus yang tersembunyi tempatku istirahat saat aku benar-benar butuh tidur di sana, kamu nanti bisa menggunakan itu sayang"


"Oh, begitu, boleh, penasaran juga tempatnya seperti apa, sekalian cek siapa saja yang sudah pernah masuk ke sana" seloroh Afita dengan senyum anehnya.


"Curiga?"


"Boleh dong?"


"Okey, bisa kamu cek nanti di sana, dan aku pastikan hanya Istri cantikku ini saja yang pernah masuk selain aku" sahut Zafian.


Afita merasa sangat senang dengan pengakuan suaminya, sedikit demi sedikit mulai bisa meraba sejauh mana hubungannya dulu dengan mantan kekasihnya Eliza, dan sepertinya Zafian melakukan hubungan itu masih dalam batas normal dengan Norma yang ada.


*


Sang bunda menyambut kedatangan kedua orang yang sangat dicintainya dengan bersuka cita, memeluk Zafian dengan rindu yang mendalam padahal baru beberapa hari ditinggalkan, begitu juga dengan pelukan Afita yang didapatkan sedikit lebih lama dari Zafian.


"Sudah Bun, jangan lama-lama" ucap Zafian nakal.


"Memang kenapa kalau lama, bunda kangen banget sama Afita, jangan bilang cemburu"


"Ya jelas, takutnya nanti Afita menolak aku peluk, karena kekenyangan pelukan bunda"


Plak


Tangan sang bunda memukul lengan anaknya yang ngomong aneh tak masuk akal tanpa melepaskan pelukannya.


Afita hanya tertawa, tak lama kemudian Anita segera melepaskan pelukannya dan membiarkan anak dan menantunya untuk masuk kedalam kamar dan bersiap kembali melakukan tugasnya di perusahaan yang sedang dalam masalah.


"Afita jadi ikut juga?" Tanya sang Bunda.


"Sengaja aku ajak Bun, menemaniku untuk support biar aku lebih Semangat" jawab Zafian yang sudah menggandeng istrinya.


"Hati-hati Zaf, jaga Afita disana!" Ucap sang Bunda.


"Jangan khawatir Bunda, Afita bisa jaga diri, tenang saja" ucap Afita meredakan kekhawatiran Anita.


"Bukan begitu sayang, masalahnya di sana Zafian sedang menghadapi masalah serius, Bunda takut kamu akan terkena imbasnya"


"Jangan khawatir Bun, aku akan menjaga Istriku dengan segenap jiwa dan ragaku" sahut Zafian.


"Ish, sudah, ayo, jangan gombal" ucap Afita.


Sementara mau tidak mau akhirnya Anita melepaskan kedua orang yang membuatnya khawatir beberapa minggu ini.


**


Tiba di perusahaan, Zafian yang dengan posesif menggandeng jari jemari sang istri segera masuk dan di sambut oleh beberapa pegawai yang sudah menunggu nya.


"Masuk ke ruangan ku!" Ucap Zafian memberikan perintah.


"Baik pak" jawab dua orang yang tak lain adalah cintia dan kepala divisi keuangan perusahannya.


Zafian membiarkan Afita duduk kursi kerjanya, sedangkan dirinya sudah beralih di kursi sofa bersama dengan dua orang yang diundangnya untuk rapat tertutup.


"Jadi kapan kalian mengetahui hal ini?" Tanya Zafian.


"Baru tadi pagi Pak" ucap Cintia dengan wajah cemasnya, begitu juga dengan kepala divisi yang takut akan kemurkaan sang bos.


"Aku benar-benar kecewa dengan kalian, kenapa semua ini bisa terjadi!" Teriak Zafian yang tentu saja sudah menahan marah sedari kabar itu didengarnya saat di Jakarta.


Jangan lupa SENIN waktunya memberi VOTE, VOTE, VOTE.


Bersambung.