
Edward segera keluar dari kamar dan ingin bergabung dengan yang lain, melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan dimana sang istri telah menjalankan pengobatan untuk sang ponakan.
Ceklek
Suara pintu terbuka, semua mata memandang sosok Edward yang kini mendekat.
"Bagaimana keadaan Afita?" Tanya Edward, tak tinggal diam, mengecup kening sang istri yang tampak kelelahan kemudian menggantikan.
"Aku sudah mengembalikan beberapa titik syaraf nya, Racun telah Aman, memudar dengan sendirinya karena kekuatan tenaga dalam yang membawa nya menghilang" jawab Alena.
Tatapan mata istrinya terlihat begitu banyak makna yang tersirat, Edward tau kalau itu semua hanya perlu di bicarakan pribadi saja.
"Istirahatlah Be, tubuhmu terlalu lelah" ucap Edward yang kini melihat keadaan Afita.
"Hem" Alena beranjak dari tempatnya.
Reina dan Alex masih menemani, sementara yang lain kini beristirahat untuk memulihkan tenaga.
"Apa ada yang tidak ingin kalian ceritakan?" Ucap Alex seolah tau ada yang di rahasiakan oleh adik iparnya.
"Tentu saja, aku dan Alena nanti yang akan membicarakan, kalian tenang saja" sahut Edward.
Setelah memastikan keadaan Afita baik-baik saja, Edward berbicara kembali, lebih tepatnya menjelaskan sesuatu yang penting tentang kekuatan Zafian yang sempat di segelnya.
"Kita harus mengatasi masalah ini dengan serius" ucap Edward.
"Maksudnya?" Tanya Alex.
"Zafian" sahut Edward memberikan clue akan apa yang akan di bicarakan selanjutnya.
"Aku tau ini semua salahku, dan aku bersedia menanggung resikonya, sekalipun kau dan klan keluarga kita yang lain akan melumpuhkan kekuatan tenaga dalamku sebagai gantinya" ucap Alex.
Edward menatap terkejut apa yang diucapkan Alex, kemudian berjalan mendekat dan duduk tepat di depannya.
"Lalu, kalau kami semua melakukan hal itu, apa bisa mengembalikan nyawa mereka semua?" Ucap Edward dengan serius.
Alex masih terdiam, Reyna ikut mendekat dan mengusap lembut bahu dan punggung suaminya.
"Semua pasti ada jalan keluarnya honey" ucap Reyna, memandang ke arah Edward seolah meminta dengan sangat akan bantuannya.
"Semua kejadian ini pasti akan sampai di telinga mommy and Dady, bahkan keluarga Eagle pasti juga merasakannya, soal hukuman apa yang patut kau terima, itu urusan nanti, yang terpenting saat ini adalah menantu mu Zafian" ucap Edward.
"Jelaskan yang kamu tau" sahut Alex.
Edward menceritakan tentang kekuatan Zafian, dimana kekuatan hitam begitu kental bercampur dengan raganya, yang di khawatirkan adalah Zafian akan termakan dan berubah menjadi sosok keji yang tidak diinginkan, hingga Edward memberikan solusi yang dia tau untuk sementara ini.
"Katakan saja, kita akan berupaya" sahut Alex yang makin penasaran dengan penjelasan Zafian.
"Zafian membutuhkan Kaisar dan juga diriku, selain itu, juga butuh waktu yang tidak sedikit" ucap Edward.
"Aku tidak begitu paham dengan apa yang kamu ucapkan Ed" sahut Alex.
"Kenapa tidak kekuatan mu saja, itu cukup untuk menyerap kekuatan hitam itu bukan?" Tanya Reyna
"Ck, kalian terlalu mengentengkan, kalau hal itu bisa di lakukan, kenapa Almarhum Kakek tidak melakukannya dari dulu?" Edward berusaha membuka pikiran dari orang yang ada di depannya.
Alex dan Reyna saling pandang, mulai mengerti kemana arah tujuan Edward berbicara.
"Menyerap kekuatannya dengan tenaga dalamku ada dua resiko mengerikan bagi Zafian, pertama dia akan lumpuh atau yang terburuk adalah kematian"
Deg.
Reyna bertanya begitu cepat," lalu adakah solusi yang lain?" Sebuah pertanyaan terlontar dan berharap jawaban yang memuaskan.
Keduanya baru mengerti dan mau tidak mau harus menerima , karena Hany itu jalan terakhir yang harus di tempuh untuk keselamatan semuanya.
Sementara itu, di sebuah kamar yang lain, Seseorang seperti terbangun dari mimpi yang panjang, mata Mai sempurna terbuka, mengernyit aneh sat mendapati Aftan, Ethan dan Evan tertangkap matanya.
"Sshh, apa yang terjadi, dimana aku?" Tanya Zafian berusaha untuk mengingat semua memori sebelum kejadian
Aftan mendekat,tersenyum lega melihat Zafian sudah sadar sepenuhnya.
"Kita ada di Mansion, apa kau merasa jauh lebih baik?" Tanya Aftan.
"Astagfirullah, apa yang aku lakukan, tidak mungkin, itu pasti mimpi kan, jangan bilang semuanya telah menjadi nyata, benarkan Af?" Tanya Zafian di mana mulai resah saat memori pemban-tai an terlihat jelas di otaknya.
"Tenanglah, semua telah terjadi, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menempatkan mereka semua dalam peristirahatan terakhir yang layak" sahut Ethan
Zafian memejamkan mata, setetes air mata tumpah disana, penyesalan dan Dosa yang dipikulnya terasa begitu sesak menghimpit dadanya.
"Aku menjadi pembunuh, akankah dosaku terampuni?"
Semuanya masih terdiam, untuk saat ini Zafian di biarkan saja untuk mengingat semuanya dengan kesadarannya, hingga kemudian datanglah serang wanita cantik membawa kan minuman hangat untuk semuanya.
"Alhamdulillah, kau sudah sadar rupanya?" Ucap Afita yang kini sudah menata jajaran gelas berisi minuman.
"Aku ingin menemui Afita, bukankah seharusnya dia sudah sadar?" Zafian langsung berdiri, dan seketika ambruk kembali.
Namun Zafian berusaha untuk bangun dengan rasa pusing luar biasa.
"Jangan di paksakan , kau akan terjatuh lagi" sahut Aftan kini membantu menahan tubuh Zafian agar tetap berada di posisi sebelumnya.
Zafian terpaksa menurut, karena tenaganya memang sangat lemah di rasakan, tak tinggal diam Ethan dan Evan meminta ijin pada Zafian untuk memberikan bantuan tenaga dalam untuk menyegarkan tubuhnya.
Setelah itu, Zafian segera segera datang menemui sang istri, tepatnya di jam sembilan malam, dia akhirnya bisa melihat wajah Afita yang nampak mulai berseri.
Zafian berlari, memeluk Afita yang masih terdiam, terdengar Isak tangis Zafian memohon kepada sang istri untuk memaafkan dan memintanya segera bangun kembali.
Aftan menarik perlahan tubuh Zafian, khawatir akan pelukan yang terlalu erat akan mempengaruhi keadaan Afita saat ini.
"Tenanglah, kondisi Afita membaik, sebentar lagi mungkin akan segera sadar" ucap Aftan.
Zafian perlahan melepaskan pelukannya, membelai wajah istrinya dan mengecup keningnya sebelum duduk sewajarnya di dekat Afita.
Wajah terkejut begitu nampak pada Zafian saat melihat Wajah asing yang belum pernah di lihatnya, namun dirinya seperti mengingat sesuatu.
"Aku Edward dan istriku Alena" sahut Edward memperkenalkan diri.
DEG.
"I iya, Maaf saya belum memperkenalkan diri dengan baik, saya Zafian Al Faradz, apa kita pernah bertemu?" Tanya Zafian sambil berusaha dengan keras mengingat sesuatu.
"Kita bertemu tadi sore, saat kau _"
"Honey, hentikan" sahut Alena sebelum Edward kebablasan.
Dan Zafian akhirnya berhasil mengingatnya, "Jadi kalian _, maaf aku kira saat kejadian tadi aku sudah mati dan berada di alam lain bersama dengan malaikat dan bidada_" Zafian memutuskan omongannya, merasa tak pantas memuji wanita yang tak lain adalah Aunty nya sendiri.
Kecantikan Alena memang tak jauh dari Ailina, bahkan tampak lebih muda dari usianya, terkadang banyak orang terutama kaum Adam menjadi salah paham.
Alena hanya tersenyum, sudah biasa menghadapi hal seperti ini baginya, begitu juga dengan Edward, walaupun kemudian segera memeluk erat Alena dari belakang. hingga semuanya dikejutkan dengan terdengar nya suara lirih seseorang.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
Bersambung.