
Eliza tersenyum, kemudian mendekati Reno dan menjelaskan sesuatu, sontak hal itu membuat Reno terkejut sekaligus bersemangat sekali mendukung rencana yang sudah di susun oleh Eliza.
"Aku menginginkan rencana ini segera" ucap Reno.
"Begitu juga aku" sahut Eliza.
"Aku akan menyiapkan semuanya, dan beberapa orang akan aku bayar untuk melakukan rencana ini dengan baik, bersiaplah" ucap Reno segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Sementara Eliza tersenyum senang, rupanya rencananya mendapat dukungan penuh dari sahabatnya dengan tujuan yang sama.
*
*
Hampir menjelang malam dan Naura di buat cemas karena Afita belum juga berada di rumah, beberapa kali mencoba menghubungi juga tidak bisa, hingga suara ketukan pintu mengagetkan dirinya.
Naura segera membuka pintu rumahnya, dan terkejut melihat siapa yang sudah berada di depannya saat ini.
"Dokter Firman?" Ucap lirih Naura.
Firman mengucap salam, setelah Naura menjawab lalu menanyakan kepentingannya, sengaja Naura tak mempersilahkan masuk karena tidak ada orang lain lagi di rumah.
"Maaf, saya hanya bisa menyambut kedatangan anda disini saja, Apa yang membuat dokter Firman datang kesini?" tanya Naura.
"Ingin memberi tahumu sesuatu"
Afita terdiam, dadanya berdetak lebih kencang, begitu cemas takut akan kabar buruk yang akan di sampaikan.
"Apa terjadi sesuatu dengan kak Afita?" tanya Naura yang penasaran.
Firman mengangguk, dan membuat Afita seketika terkejut.
"Apa yang terjadi Dokter?, Kak Afita di mana sekarang?" Sahut Naura dengan segera.
"Tenanglah, Nona Afita baik-baik saja, dan menyuruhku untuk menjemput mu, kita akan segera bertemu dengannya" jawab Firman.
"Ba baik, sebentar saya masuk dulu Dokter" sahut Naura tanpa bertanya apapun lagi, di pikirannya saat ini hanya keadaan Afita dan harus segera melihat keadaannya.
Naura sudah kembali keluar dari kamar dengan membawa beberapa pakaian dalam tasnya, begitu juga pakaian Afita yang tak lupa dia bawakan sekalian.
Firman segera membantu Naura, membawakan tasnya walaupun awalnya mendapatkan penolakan, lalu Firman juga perlahan mendorong kursi rodanya hingga sampai di dekat mobil.
"Aku bantu" ucap Firman yang sudah bersiap memapah Naura dengan semangat.
Tentu saja Firman kini sudah merengkuh Naura, membantunya untuk masuk ke dalam mobil dengan senyuman kerinduan yang begitu dalam di rasakan.
"Sudah?" Tanya Firman memastikan.
"Hem, terimakasih Dokter, maaf merepotkan" sahut Naura.
"Tidak masalah, aku sangat suka kamu repot kan" jawaban yang membuat Naura mengerutkan keningnya.
Tak berapa lama kemudian, keduanya sudah berada di jalan menuju tempat dimana Afita kini sudah berada.
"Maaf, apa kita akan ke rumah sakit dokter?" Tanya Naura.
"Tidak, sudah aku katakan, Nona Afita baik-baik saja" jawab Firman dan tentu saja membuat Naura merasa lega.
Perjalanan yang begitu sepi, Naura begitu menjaga sikapnya, bagaimana pun Firman adalah seorang dokter yang harus Naura hormati.
Sementara Firman merasakan Naura begitu asing, sikapnya bahkan berubah sama sekali, tampak begitu formal dan tidak bisa santai sama sekali.
"Apa ingatanmu yang sebagian hilang, tidak bisa muncul sama sekali?" tanya Firman.
"Apa?" Tanya Naura terkejut dengan pertanyaan Firman.
"Ingatanmu, sebagian hilang bukan?" ucap Firman.
"Oh iya dokter, maaf, saya masih belum mengingatnya"
"Bahkan padaku?"
"Maaf, maksud dokter apa kita pernah pernah kenal sebelumnya?" Naura justru ganti bertanya.
"Hem, begitulah, kita dulu hampir begitu dekat"
"Apa?!" Sahut Naura terkejut dengan apa yang dikatakan Firman.
Firman terdiam, menunggu reaksi Naura berikutnya, dan ternyata benar apa yang di khawatirkan, tampak Naura memegangi kepalanya ketika berusaha mengingat sesuatu.
Mobil segera berhenti, dan Firman seketika menggapai wajah Naura, "Hei, berhentilah memaksa ingatanmu!" Ucap Firman yang kini sudah meluruskan pandangan, hingga keduanya saling menatap dengan dalam.
"Aku tidak pernah memaksamu untuk mengingatku, jangan terlalu keras berusaha hingga membahayakan dirimu sendiri, kau mengerti?" Ucap Firman lalu hendak membelai wajah yang sudah banyak berubah.
Namun Naura segera melepaskan diri dan menjaga jaraknya kembali, Firman menghela nafas, lalu melanjutkan perjalanan.
Hingga akhirnya sampai juga di Mansion, Afita menyambut kedatangan Naura dengan hati yang senang.
"Akhirnya kamu bisa menemaniku disini" ucap Afita lalu mereka saling berpelukan.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Naura tampak khawatir.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja"
"Tadi dokter Firman memberitahu bahwa telah terjadi sesuatu dengan kakak" ucap Naura.
"Iya, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, jangan khawatir" jawab Afita yang kini sudah mengajak Naura masuk dan memberitahu kamarnya.
"Apa kita akan tinggal disini?" Tanya Naura yang masih terkesima dengan rumah mewah yang sangat besar dan megah.
"Iya, kita akan tinggal disini, mungkin untuk sementara waktu, kamu tidak keberatan bukan?" Tanya Afita.
"Apa ini Mansion Tuan Zafian?" Sahut Naura.
Afita tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku tidak keberatan kak, justru bahagia bisa melihat kakak dan tuan Zafian bersama lagi" ucap Naura yang kini sudah merapikan tas dan beberapa bajunya ke dalam lemari.
Afita ikut membantu, dan mengambil baju miliknya yang di bawakan oleh Afita.
"Maaf kak, aku tidak membawa semua baju kita" ucap Naura.
"Tak masalah, kita bisa mengambilnya nanti" jawab Afita.
Lalu keduanya segera bergegas untuk melakukan ibadah karena waktu yang sudah menunjukkan, setelah itu keduanya melanjutkan perbincangan di kamar Naura.
"Rupanya masih disini" suara seorang mengejutkan.
"Sayang, maaf, Naura baru saja datang" jawab Afita mendapati Zafian sudah ada di depan pintu.
"Tidak apa-apa, tapi sebaiknya ngobrol nya di tunda dulu, makan malam sudah siap, ayo kita ke bawah" ucap Zafian, lalu berjalan menghampiri dan menggandeng istrinya.
Tak lama kemudian, semua sudah berkumpul, dan di saat makan malam selesai, Zafian memberikan kabar, bahkan besok pagi akan melakukan perjalanan luar kota bersama Afita untuk menemui sang putra tercinta.
"Tenanglah, aku akan menjaga Naura disini" ucap Firman di akhir penjelasan, di saat Afita mencemaskan Naura saat nanti di tinggal pergi.
"Terimakasih dokter Firman, tapi saya bisa melakukan aktifitas dengan mandiri, walaupun dengan keterbatasan saya ini" sahut Naura.
"Iya kita tau Nau, tapi bagaimana pun kamu harus ada yang mengawasi, tidak keberatan bukan kalau dokter Firman akan membantumu?" tanya Afita.
Naura hanya tersenyum, menatap sejenak Firman yang masih berada disampingnya, lalu mengangguk perlahan tanda setuju.
"Sampaikan salam ku ke Fian kak, aku sangat merindukannya" ucap Naura.
"Tentu saja, jangan khawatir, apa kau ingin ikut bersama kami juga?" Ucap Afita menawarkan.
"Sebaiknya jangan dulu kak, kalian perlu konsentrasi untuk mengatasi masalah besar itu dulu, dan semoga menemukan jalan keluar dengan segera, kasian Fian kalau harus lama jauh dari kakak" sahut Naura.
"Hem, terimakasih pengertian mu Naura" ucap Afita.
"Jangan khawatir, aku sudah berjanji akan ikut menjaganya" sahut Firman yang sedari tadi terdiam.
*
*
Sementara di suatu tempat, dua orang yang baru saja datang dari perjalanan hampir 8 jam tidak menyia-nyiakan waktu, langsung melakukan gerakan mengintai di salah satu rumah.
"Ini benar rumah yang harus kita datangi bukan?" Sebuah pertanyaan terlontar.
"Tentu saja, karena ini sudah malam, aku tidak bisa melihat dengan jelas" sahut satu orang itu lagi.
"Tunggu, bukankah itu laki-laki yang Kita cari?"
"Tepat sekali, dan anak itu pasti bersamanya saat ini"
Begitulah perbincangan dua orang yang tengah serius meneliti keadaan hunian seseorang untuk memastikan sasaran yang diinginkan tidak salah.
Jangan lupa mampir juga di Novel Author terbaru, THE TRIPLETS, kisah Muda Ailina, Evan dan Etha, di tunggu ya..
Bersambung.