ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 61



Seperti biasanya, saat keduanya datang selalu mendapat sambutan bahagia dari sang Bunda.


"Kalian ingin makan malam apa?" Tanya Anita meminta request menu untuk segera di buatkan.


"Kita terserah Bunda saja, bukan begitu sayang?" Ucap Zafian.


"Yap, tentu saja, masakan Bunda semuanya lezat" sahut Afita dengan senyum manisnya, lalu berjalan dahulu masuk ke kamar untuk membersihkan diri setelah berpamit.


Sedangkan Zafian sengaja untuk duduk disamping sang bunda yang masih mengamati.


"Ada apa?" Tanya Anita ke Zafian.


"Tidak ada Bun" jawab Zafian.


"Jangan membohongi Bunda, aku tau ada yang menganggu pikiranmu saat ini" ucap Anita lalu ikut duduk di dekat Zafian.


"Eliza Bun" ucap Zafian.


"Eliza?" Sejenak Anita terkejut saat Zafian menyebut nama mantan tunangannya. "Ada apa dengan Eliza?" Tanya sang bunda was-was.


"Dia ke kantor dan memintaku untuk membantunya membayar mobil mewah yang baru saja di belinya, aku menyanggupi karena_"


"Hutang Budi mu?" Sahut Anita.


"Hem, seperti itulah" ucap Zafian.


"Heh.. mau sampai kapan mereka selalu memanfaatkan mu?, Bunda juga serba salah, karena bagaimana pun, merekalah yang membantu kita saat kita terpuruk disaat itu, Bunda tidak bisa memungkiri itu, tapi mereka juga memanfaatkan kecerdasan mu untuk kelancaran bisnisnya juga bukan?" Ucap Anita terlihat resah.


"Begitulah, seperti yang Bunda tau, entahlah Bun, aku bingung harus bagaimana, tanpa mereka aku rasa dulu kita akan mati kelaparan di pinggir jalan, namun aku juga tidak berpangku tangan atas kesuksesan bisnis-bisnis keluarga Eliza"


"Itulah maksud Bunda, lalu_, apa Afita tau dengan semua ini?" Tanya Anita.


"Belum, dan secepatnya akan aku beri tau Bun, tidak ada satu hal pun yang ingin aku sembunyikan darinya lagi"


"Syukurlah, kejujuran sangat penting dalam sebuah hubungan Zaf, walaupun itu terkadang sangat pahit di rasakan"


"Aku mengerti Bunda, terimakasih" ucap Zafian lalu kemudian segera beranjak untuk menyusul Afita dan membersihkan dirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Afita yang masuk duluan ke ruangan kerjanya segera disibukkan dengan melanjutkan urusan yang tertunda.


Beranjak dari tempat duduknya, tampak Afita ingin mengambil sesuatu di dalam lemari yang penuh dengan buku-buku dan juga berkas yang sering di bacanya, tengah sibuk memilih sesuatu, tiba-tiba saja dikejutkan dengan tangan yang melingkari pinggangnya dari belakang.


"Astagfirullah, yang?!" Ucap Afita terkejut saat sang suami ternyata sudah mendekap tubuhnya.


"Hem, masih sibuk?" Tanya Zafian yang kini sudah menci-um ceruk leher Afita.


"Hanya melanjutkan pekerjaan saja, tidak begitu sibuk, ada apa, hem?" Jawab Afita sambil mengusap pipi Zafian perlahan.


"Ada hal serius yang ingin aku ceritakan" ucap Zafian.


Afita mengerutkan kening, lalu membalikkan badan dan melihat wajah serius dari Zafian.


"Baiklah, kita bicara disini?" Tanya Afita yang merasakan suaminya merasa penuh beban.


Zafian mengangguk, lalu membawa Afita duduk disebelahnya, masih dengan memasukkan tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Maaf kalau ini nanti membuatmu tidak nyaman bahkan marah padaku, apa kau akan menghempaskan ku?" Tanya Zafian membuat Afita tersenyum geli dengan pertanyaan sang suami.


"Katakan saja yang, jangan buat lelucon disaat kamu ingin berbicara serius" ucap Afita.


"Baiklah, maaf, ini soal Eliza dan keluarganya" Ucap Zafian langsung pada pokok permasalahannya.


"Hutang budi itu?" Tanya Afita.


"Kamu sudah tau?" Tanya Zafian terkejut.


"Sudah, aku tau bagaimana mereka dulu membantumu keluar dari kehidupan di jalanan, dan membuatmu bisa masuk kedalam dunia bisnis bukan?"


"Yang, dari mana kamu tau hal itu?" Tanya Zafian terkejut dengan pernyataan sang istri.


"Tentu saja aku tau yang, bahkan sebelum kita saling menerima seperti sekarang ini, aku juga tau bagaimana mereka setelah itu sangat memanfaatkan otak cerdas mu demi keuntungan bisnis mereka semata, bahkan itu aku juga tau, perusahan mu selalu memberikan support dukungan penuh akan keuangan disaat mereka dengan enteng meminta hal itu, ada lagi yang belum aku tau?" Tanya Afita membuat Zafian sejenak terbengong.


"Oh my God, ternyata keluarga Nugraha memang luar biasa" ucap Zafian.


"Kak Aftan yang memberikan semua informasi tentang dirimu saat itu, yang" sahut Afita menjelaskan.


"Begitulah keadaanku, dan tadi pagi, Eliza datang menemui ku, meminta ku untuk membantunya melunasi pembayaran mobil mewahnya yang baru saja dia beli"


Afita masih terdiam, Zafian semakin tidak enak hati, meng eratkan kembali pelukannya.


"Maaf sayang, Maafkan aku, tidak memberitahu mu dahulu" ucap Zafian Lirih penuh penyesalan.


"Aku memahami apa yang kamu lakukan sayang, tapi aku rasa, ini harus segera di hentikan, aku merasa keberadaan mu sengaja dimanfaatkan, dengan kata lain, mereka membantumu tidak dengan ikhlas, tapi dengan maksud dan tujuan merongrong terus menerus kesuksesan mu"


"Aku tau, dan aku juga ingin menghentikan semua ini" ucap Zafian dengan pasti.


"Sebaiknya memang begitu, kita perlu bertemu dengan mereka dan mengungkapkan semuanya, bagaimana menurut mu?"


"Apa kau siap?" Tanya balik Zafian.


"Mereka bukan seperti keluargamu sayang, papa Eliza sangat temperamental, mamanya adalah wanita yang begitu memuja kemewahan, dan kakak angkatnya_"


"Kakak angkat?" Sahut Afita terkejut, karena seperti informasi yang didapat, bahwa keluarga Eliza mempunyai dua anak kadung.


"Iya, kakak Eliza adalah anak adopsi, dan dia adalah laki-laki yang sangat berkuasa dalam dunia bisnis hitam dan putih di Eropa.


"Bisnis hitam dan putih, maksud nya?" Tanya Afita merasa bingung dan heran.


"Bisnis ilegal dan legal, dia sangat pawai lolos dari jeratan hukum, aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya, dan konon dia adalah laki-laki yang tak tersentuh"


"Tak tersentuh?, Aku semakin tidak mengerti"


"Eliza pernah bercerita padaku, kakaknya adalah sosok manusia setengah dewa baginya, saat aku tanya apa maksudnya, Eliza menjelaskan bahwa dia mempunyai kekuatan aneh yang bisa membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut di hadapannya"


"Wow, benarkah?, Kekuatan seperti apa?" Tanya Afita lagi.


"Aku tidak tau, Eliza hanya menjelaskan sebatas itu, dan dia adalah hal yang paling aku khawatirkan, apalagi kalau ikut campur tangan masalah ku dengan keluarganya" jawab Zafian.


"Kamu takut?" Tanya Afita.


"Bukan takut akan diriku yang, tapi kalian, kamu dan Bunda, aku takut mereka akan mencelakai kalian, itu hal yang paling aku takutkan sayang"


"Apa kamu pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi?" Sahut Afita dengan senyuman.


"Aku tau, wanita di depanku ini mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat dan mengerikan, tapi_, aku tetap tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan mu yang, aku sangat khawatir dengan kalian, aku sangat mencintaimu sayang, sungguh" ucap Zafian makin memeluk Afita seolah takut akan kehilangannya.


Afita hanya tersenyum, lalu membalikkan badan dan beranjak untuk duduk berpangku menghadap Zafian.


"Terimakasih sudah sangat mencintai ku yang, jangan khawatir, niat yang baik akan selalu di berikan jalan" ucap Afita lalu mencium dengan lembut bibir suaminya.


Zafian yang mendapat perlakuan manis terlebih dahulu dari sang istri langsung tersenyum.


"Sepertinya istriku mulai nakal?" Ucap Zafian yang kini mere-mas pan-tat istrinya.


"Ingin melakukan disini?" Tantang Afita.


"Bukankah kita masih berbincang hal serius?" Sahut Zafian masih dengan tangan yang aktif.


"Aku rasa, perbincangan sudah bisa diakhiri, dan kita akan menghadapinya bersama, bagaimana?" Ucap Afita masih membelai lembut pipi Zafian dan menci-umi bibir menggodanya.


"Kesepakatan di setujui" jawab Zafian, lalu segera melepas baju atasan istrinya.


Terlihat dua bukit kembar yang begitu menggoda, Zafian langsung melu-mat dan menggigit kecil puncak ranum yang ada di depan matanya.


Seketika Afita mende-sis, merasakan nikmat yang mulai merayap, tidak tinggal diam tangannya bergerak membuang kain penutup yang mengganggunya untuk melihat pemandangan dada bidang suaminya.


Tak butuh waktu lama, keduanya kini sudah polos dan masih saling menempel dengan duduk di atas sofa, posisi Afita pun masih belum berubah, berpangku diatas pa-ha Zafian, dan keduanya masih aktif melakukan pema-nasan.


Zafian membantu mengangkat Afita saat merasakan miliknya sudah benar-benar basah, dan kemudian sang pusaka di tempatkan tepat di jalan masuk yang begitu nikmat.


"Akh!, Yang!" Pekik Afita saat merasakan sang pusaka sudah menerjang dan masuk kedalam miliknya.


Lalu berikutnya tubuh Afita bergerak mengikuti insting, membuat Zafian benar-benar terkejut merasakan nikmat yang luar biasa, apalagi kali ini sang istri begitu aktif diatasnya.


"Oh.. yang, ini sangat nikmat" ucap lirih Zafian mere-guk semua has-rat dan nikmat yang melebur menjadi satu.


Afita juga merasakan hal sama, pengalaman pertamanya berbuat sesuka hati diatas tubuh suami ternyata menghasilkan rasa yang luar biasa, begitu menancap, penuh sesak tapi sangat nikmat.


"Yang, aku keluar!" Pekik Afita mendapati pelepasannya.


Zafian tersenyum, melihat betapa indah tubuh dan wajah istrinya saat mencapai puncaknya, membiarkan reaksi alami itu terjadi begitu saja, dan selanjutnya Zafian merubah posisinya.


Membawa sang istri duduk diatas meja kerja yang tak jauh dari sana, membuka kaki Afita perlahan, lalu aktif kembali memberikan sen-tuhan di beberapa titik sensitifnya.


Kembali Tubuh Afita bereaksi, tangan Zafian mengusap lembut sesuatu yang sudah basah kembali dibawah sana, dirasa sudah cukup siap, perlahan Zafian memasukkan miliknya dan_


"Emh.. yang" Zafian memejamkan mata, merasakan nikmat saat miliknya terbenam hangat di dalam sana.


Tidak tinggal diam, langkah selanjutnya Zafian mengerakkan tubuhnya, membuat miliknya begitu aktif keluar masuk hingga membuat Afita terguncang hebat.


"Pelan yang, akh!" Ucap Afita saat merasakan Zafian sangat bersemangat.


"Sorry, sayang" ucap lirih Zafian lalu mengurangi serangannya.


Tangan Zafian menahan pinggang sang istri, dengan posisi berdiri saat ini, membuat dorongannya begitu kuat dan cepat untuk mencapai nikmat.


"Yang, Akh!" Teriak Zafian saat miliknya kini menyembur hangat didalam sana, menggapai tubuh Afita untuk di reng-kuh kembali dalam dekapan.


"Sakit yang?" Bisik Zafian.


"Sedikit" jawab Afita yang masih mengontrol nafas memburunya.


"Maaf" ucap Zafian sambil menciumi wajah dan berakhir di kening Istrinya.


Jangan lupa saatnya memberikan VOTE, VOTE, VOTE di hari Senin ya..


Bersambung.