
Afita melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit lagi akan sampai ke tempat yang di tuju, sambil memegang pergelangan tangannya dia pun rupanya merasakan sesuatu.
"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya salah satu pengawalnya.
"Hem, aku baik-baik saja" jawab Afita.
Masih berkutat di pikirannya, Afita nampak mengerutkan kening, dalam hatinya bertanya, Sepertinya kekuatan gelap yang ada pada wanita tadi cukup kuat di rasakannya.
Hingga tak terasa tiba di tempat kerjanya sedikit lebih terlambat dan kembali dirinya disibukkan dengan pekerjaannya.
Sebuah pesan singkat dari sang suami membuatnya tersenyum, merasa senang dan bahagia karena masalah dengan Elonar akhirnya telah terselesaikan.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Saat Afita masih melanjutkan membawa beberapa email yang masuk, terdengar suara langkah kaki mendekat tanpa dia menyadarinya, hingga kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya.
"Astagfirullah, Yang!" Ucap Afita langsung mendongak.
Zafian tersenyum, mengucap salam lalu duduk diatas meja kerja istrinya.
"Rupanya istriku terlalu sibuk hari ini, Hem?" Ucap Zafian.
"Tinggal sedikit lagi yang, boleh kan?"
"Lanjutkan saja" jawab Zafian sambil mengamati wajah ayu istrinya yang semakin berseri-seri.
Afita segera menyelesaikan tugasnya, tentu saja merasa tidak enak saat terus di perhatikan oleh sang suami.
"Sudah puas melihat ku?" Tanya Afita setelah menutup laptopnya.
Zafian tertawa kecil.
"Tentu saja tidak, sebelum menyentuh mu sayang" sahut Zafian, dan kini menarik istrinya perlahan untuk berdiri tepat berhadapan dengannya dengan jarak yang begitu dekat.
Bibir Zafian segera menyapa dengan lembut, tangannya menekan tengkuk sang istri serasa enggan melepaskan luma-tan nya.
"Jangan di sini?" Ucap Afita memperingatkan, saat tangan Zafian mulai beraksi di tubuhnya.
"Kenapa?"
"Ini sudah jam untuk pulang sayang, kita lanjutkan di rumah, okey?" Ucap Afita berusaha melepaskan diri dari perbuatan rusuh suaminya.
Zafian mengangkat alisnya, tangannya mengusap lembut bibir yang sudah basah dan sedikit bengkak karena perbuatannya, merasa tidak rela melepaskan, tapi benar apa yang dikatakan, sudah saatnya untuk pulang, dan tentu saja dirinya senang karena sudah ada jaminan kalau sang istri akan siap melayani.
Afita tersenyum, lalu mencium Zafian sekali lagi.
"Jangan memancingku, aku sudah menahan diriku yang" ucap Zafian.
"Tidak, terimakasih sudah menyelesaikan masalahku yang, maaf kalau aku merepotkan mu" ucap Afita dengan tatapan mata penuh cinta.
"Sama-sama, terimakasih kamu sudah jujur padaku, dan hati-hati saat bekerja, kamu segalanya bagiku yang" ucap Zafian.
Afita tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat, begitu juga dengan Zafian, entah mengapa merasakan tubuh istrinya begitu hangat lebih dari biasanya.
Keduanya segera keluar dari ruangan, menuju ke mobil yang sudah menunggu untuk mengantar kan mereka kembali pulang.
Didalam mobil tidak biasanya Afita selalu sibuk dengan buah yang sedang di cicipi satu persatu, terlihat Zafian memperhatikan dengan aneh.
"Enak?" Tanya Zafian.
"Hem, lezat dan segar"
"Kapan membelinya?" Tanya Zafian.
"Tadi, di minimarket"
"Oh, biar aku kupas kan" ucap Zafian saat melihat istrinya sibuk membuka kulit jeruk yang ada dalam tangannya.
Sesaat kemudian Afita langsung teringat akan sesuatu
"Yang, aku tadi bertemu dengan seorang wanita saat membeli buah itu"
"Teman lama?" Tanya Zafian.
"Bukan, aku tidak mengenalnya dan baru pertama kali melihatnya"
"Lalu?"
"Wanita itu menyambar lenganku, dan_"
"Tunggu, kenapa wanita itu menyambar lenganmu?" Zafian was-was, langsung menghentikan apa yang dilakukan dan melihat lengan Istrinya.
"Aku tidak apa-apa yang, dengarkan dulu ceritaku" ucap Afita sedikit kesal karena penjelasannya ter jeda.
Lalu Zafian kembali duduk dengan tenang di samping istrinya, mengupas dan menyuapi Afita sambil mendengarkan apa yang tengah di ceritakan oleh istrinya.
Zafian berpesan untuk tetap waspada, tidak tau niat orang itu baik atau buruk, apalagi orang-orang yang di beri kelebihan kekuatan supranatural terkadang banyak khilaf dan sombong, akhirnya bisa salah mengambil langkah menggunakan kekuatannya.
Percakapan segera terhenti saat keduanya sudah sampai di Mansion, Zafian mengusap bibir Afita yang sedikit ada sisa bekas makanan, lalu keduanya turun dan masuk dengan sambutan hangat dari sang Bunda.
Melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar, dengan niat hati ingin membersihkan diri, Afita masuk ke dalam bathroom, merasa tubuhnya begitu lengket karena mengeluarkan keringat seharian dengan aktifitas yang cukup tinggi.
Namun apa yang terjadi, rupanya ada serigala yang tengah kelaparan sekali, shower yang sudah membasahi tubuh Afita tiba-tiba saja terhenti, dan pelukan hangat di rasakan dari arah belakang tubuhnya.
"Yang?" Ucap Afita saat menyadari tangan suaminya sudah merayap di pinggang menuju ke aset berharganya.
"Aku meminta janji mu" ucap Zafian lirih tepat di telinga Afita, lalu menggigitnya.
Sontak Afita langsung merasakan tubuhnya tersetrum dengan tegangan yang sangat tinggi, remasan tangan suaminya begitu nikmat dirasakan, kecupan yang menyerang tengkuk dan punggungnya membuatnya tidak kuasa untuk tidak men-de-sah.
"Yang..emh.." alunan indah suara Afita akhirnya terdengar juga.
Zafian tersenyum senang, sepertinya niat hatinya ter sambut dengan baik, dan perlahan tangannya menuju ke lembah milik istrinya.
Memeriksa keadaan disana, rupanya Zafian telah berhasil dengan misinya, terbukti dengan milik sang istri kini mulai basah, Zafian berinisiatif memasukkan perlahan dengan posisi berdiri dari belakang, namun dirinya sangat terkejut saat Afita tiba-tiba saja menolaknya.
"Kenapa?" Tanya Zafian kaget dan bingung.
Afita malah tersenyum, dan meminta untuk di gendong.
Zafian bersiap mengungkung tubuh Afita, namun nyatanya terbalik, Afita segera mendorong tubuh suaminya, perlahan naik dan memberikan ciu-man di dada bidang suaminya.
"Wow, apa yang terjadi denganmu yang?" Ucap lirih Zafian.
"Aku ingin yang memimpin kali ini" ucap Afita semakin nampak profesional saja.
"Okey, lakukan" sahut Zafian.
Dan kemudian, Afita langsung menyerang suaminya, entah kenapa keinginan untuk ber cinta dengan suaminya begitu mendominasi, bahkan Afita mulai memasukkan milik suaminya kedalam inti nya.
"Ouh.. yang.. sshh" ucap lirih Afita saat pusaka suaminya perlahan masuk dan terasa penuh di dalam miliknya.
Zafian memperhatikan keindahan tubuh istrinya yang mulai meliuk-liuk diatas tubuhnya yang begitu se-ksi.
Afita menggerakkan pinggu-lnya perlahan, namun makin lama makin kencang.
"Yes..ooh..." De-sa-han Zafian merasakan miliknya Ter urut nikmat di dalam sana.
Hingga merasakan sesuatu berdenyut dan menjepit kuat miliknya, tak lama Afita menjerit merasakan tubuhnya membara saat mencapai puncaknya, Zafian merespon dengan aktif namun juga menjaga tubuh istrinya agar tidak sampai terlalu capek dengan tingkahnya.
Brug
Afita menelungkup kan tubuh nya diatas tubuh Zafian.
"Kenapa malah aku yang begitu menginginkanmu yang?" Ucap Afita dengan nafas yang berusaha di kontrol kembali.
Zafian terkekeh, mengusap dengan lembut punggung polos istrinya.
"Tidak apa-apa, aku menyukainya" sahut Zafian.
"Aku tau, kamu belum keluar kan?" Ucap Afita.
"Apa aku boleh melanjutkan?" Tanya Zafian yang masih belum mencapai puncaknya.
"Hem, lakukan yang, aku juga menginginkan" jawab Afita.
Zafian segera memindahkan posisi, membiarkan tubuh sang istri menelungkup diatas kasur dengan nyaman, lalu Zafian menyentuh dan menciumi punggung Afita berulang kali, bahkan tanda yang di tinggalkan cukup fantastis tercetak di sana.
Afita mulai menyambut has-rat suaminya, tubuhnya ber reaksi kembali, sedikit me-nung-ging dan Zafian segera meletakkan bantal di bawahnya untuk mengganjal.
Kini lembah itu bisa di lihatnya merekah dengan indah, tidak langsung memasukan miliknya begitu saja walaupun sudah ingin, Zafian mengusapnya dengan lembut, lalu digantikan dengan lidah dan bibirnya yang bekerja disana.
"Ahh, yang...!" Terik Afita tidak kuat menahan lagi.
Zafian segera memposisikan miliknya untuk masuk perlahan, selalu sempit baginya walaupun sudah digunakan berulang kali.
"Sakit yang?, Ooh,. Hemh.." Zafian merasakan nikmat yang luar biasa.
Afita tidak lagi bisa berkata, hanya de-sa-han tak tertahan keluar dari mulutnya, Zafian pun segera melakukan aksinya, membuat sang pusakanya keluar masuk berulang kali dengan dorongan kuat dan semakin cepat.
"Akh!" Teriakan Zafian tak lama kemudian terdengar, begitu juga dengan Afita yang merasakan puncak kenikmatan mendatanginya untuk yang kedua kali.
Rupanya satu kali tidak cukup bagi Zafian saat ini, tubuh Afita di balik dan memasukkan kembali pusakanya.
"Masih kuat yang?" Tanya Zafian yang sudah menancapkan miliknya.
"Hem" Afita mengangguk, sedikit meringis saat milik suaminya tiba-tiba masuk begitu saja.
"Sakit?" Tanya Zafian, sambil perlahan menggerakkan miliknya.
"Sudah tidak"
Jawaban yang membuat Zafian tersenyum senang, melanjutkan kembali apa yang baru saja dimulai, menikmati kedua bukit kembar sang istri sambil terus membuat pusakanya keluar masuk dengan tempo yang semakin cepat, hingga keduanya mencapai puncak bersama-sama.
*
*
Rupanya ada yang sedang melakukan pemanasan juga di tempat lain, tapi kali ini berbeda, Elonar tengah menggunakan tenaga dalam untuk mengasah kemampuannya.
Keringat bercucuran, Elonar tersenyum senang, merasakan kemampuannya semaki luar biasa, namun sesaat kemudian dirinya di kejutkan dengan sebuah serangan dari seseorang dengan berpakaian serba hitam.
"Bre-ng-sek, siapa kau ha!" Teriak Elonar yang berhasil menghindar.
Namun detik berikutnya, orang itu segera menyerang dengan cepat, Elonar kembali menghindar dan tampak berpikir sepertinya mengenali gerakan yang dipakai oleh musuh nya saat ini.
"Kau_!" Ucap Elonar berusaha menebak, namun harus bergerak kembali melompat sana sini untuk menghindari serangan lawan.
Elonar makin bisa menebak siapa sebenarnya sosok yang sedang di hadapi, dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, sengaja Elonar menyerang.
Hingga orang itu ambruk terkena pukulan Elonar, dan apa yang terjadi kemudian?
"Dasar, kau ini tega sekali Elonar!" Ucapan lantang dari musuh yang ada di depannya.
Mendengar suaranya, Elonar langsung tertawa, berjalan maju dan meraih tangan orang itu lalu membantunya untuk berdiri kembali.
"Aku sudah menunggu mu" ucap Elonar.
"Dan lagi-lagi kau mengalahkan ku"
Elonar tertawa, lalu keduanya segera duduk untuk berbincang, minuman segera datang bersama dengan cemilan yang menemani.
"Lepaskan bajumu itu, kau tidak panas?"
"Sungguh menyebalkan, kenapa aku tidak pernah bisa mengalahkan mu"
"Hahaha, bersabarlah" sahut Elonar sambil melihat orang itu melepaskan baju penyamarannya.
"Ini membosankan"
"Tapi kau punya sesuatu yang aku tidak punya, aku kalah telak dalam hal itu" ucap Elonar.
Yang penasaran..Yuk merapat, KOMENnya dong..jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.