
Firman segera bersiap setelah makan malam, saat ini dia mendapat tugas jaga di malam hari karena sudah meminta ijin tidak bisa masuk di pagi dan siang hari karena menjaga Naura tentu saja.
Baru saja Firman menginjakkan kaki di Rumah Sakit, tiba-tiba saja terdengar suara handphonenya, lalu segera di lihat yang ternyata dari sahabatnya, yaitu Zafian.
"Aku melihat kau masih sangat menyukai nya" ucap Zafian.
"Entahlah" jawab Firman.
"Jangan terlalu dingin padanya Fir, dia akan menjauh darimu kalau sikapmu seperti itu" ucap Zafian lagi.
"Aku masih bingung dengan semuanya, terus terang aku hanya ingin membantunya saja saat ini, kau tau sendiri, dia masih menjaga jarak denganku" jawab Firman.
"Naura hanya tidak pede dengan mu, kalian berdua benar-benar rumit, jika kau masih menyukainya, dekati dia terus dan yakinkan hatinya, itu hal yang mudah bukan?" Ucap Zafian.
"Bicara itu gampang Zaf, Naura masih menutup dirinya dan aku kerepotan dengan hal itu"
"Dia hanya merasa tidak pantas untuk mu Fir, bukan menutup dirinya" sahut Zafian.
"Oh iya, jadi dari dulu kamu menyukai Naura?" Tanya Zafian lagi
"Iya tentu saja"
"Hahaha, wah, ternyata cinta lama masih bersambung kembali" ledek Zafian.
"Kau mentertawakan ku?, dasar!"
Ceklek, Firman yang mulai jengkel dengan Zafian langsung mematikan ponselnya.
Kini pergantian shift segera di lakukan, Sengaja Ana tidak segera pulang karena ingin mengatakan sesuatu ke Firman.
"Jadi kamu benar-benar menyukai Naura?" Tanya Ana yang kali ini dengan wajah seriusnya.
"Kamu yakin ingin membahasnya sekarang?" Tanya Firman yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.
"Tentu saja, kamu tau akan perasaan ku bukan?" Jawab Ana yang duduk di depan Firman dengan tenang.
"Soal aku menyukai Naura atau tidak, sebenarnya bukan urusanmu" jawab Firman.
"Aku tau, tapi jawaban itu aku butuhkan untuk aku memutuskan sampai sejauh mana harus mengejar mu" ucap Ana dengan terang-terangan.
"Baiklah, aku hanya bisa berpesan padamu untuk kesekian kalinya, jangan lagi mengharap apapun dariku, aku tidak bisa memberikannya padamu, walaupun tidak ada Naura di hatiku, karena aku hanya punya sebuah pertemanan saja untukmu" jawab Firman cukup jelas.
Ana terdiam sesaat, lalu memaksa tersenyum untuk menghibur hatinya sendiri.
"Sepertinya aku harus mencari kandidat pria lain untuk aku jadikan kekasih, tapi aku tak menutup pintu pendaftaran untuk seorang Dokter Firman, seandainya nanti Naura tidak mau menerima mu, okey, aku pergi dulu" Ana segera keluar dengan senyum manisnya.
"Carilah pria yang akan menjadikanmu seorang Ratu" teriak Firman.
"Wow, sepertinya aku benar-benar tertolak olehmu" sahut Ana yang kini sudah menutup pintu ruangan itu kembali.
*
*
Sementara itu, di sebuah Apartemen yang sepi, Naura terbangun, dirinya lalu mengingat kalau malam ini terpaksa Firman meninggalkannya karena pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan.
"Oh my God, kaki ku masih sakit dan aku harus segera ke kamar kecil" ucap Naura yang kini dengan berhati-hati berjalan perlahan sambil berpegangan.
Sebenarnya Firman sudah menitip pesan agar Naura memanggil asisten rumah tangganya kalau membutuhkan sesuatu, karena Firman menempatkan Asisten Rumah tangannya selama dirinya tidak ada, namun begitulah Naura, yang sering tidak enak hati merepotkan orang lain.
Berhasil dengan kamar kecilnya, kini Naura menghela nafas karena mendapati air minumnya yang telah habis, dan rasa dahaga itu begitu kuat hingga terasa tenggorokannya kering.
"Aku akan berusaha mengambilnya sendiri" batin Naura sambil berjalan perlahan, beruntung sekali Firman juga menyiapkan Kursi Roda untuknya.
Kini Naura sudah berada di dapur untuk mengambil air minumnya, melihat dari jendela yang masih terbuka kordennya, nampak pemandangan taman di Area apartemen itu begitu indah.
"Aku ingin melihatnya, indah sekali di malam hari" ucap lirih Naura dan kini mencoba untuk keluar dari Apartemen.
Naura sudah berada di di taman saat ini, menyusuri jalanan dengan kursi Rodanya dan tak hentinya tersenyum melihat cantiknya lampu yang berkelap kelip sepanjang jalan yang dilewatinya.
Naura merasa senang dan tenang, walaupun kini dirinya hanya duduk dan berdiam diri menatap indahnya pemandangan yang terhampar di depan matanya.
"Nona, maaf, apakah anda Nona Naura?" Tanya seorang laki-laki yang menyapanya dari samping.
"Benar, bagaimana anda mengetahui Namaku?" Tanya Naura waspada.
"Oh ya Tuhan, syukurlah kalau begitu, kebetulan saya salah satu pegawai yang bekerja di Restoran di area Apartemen ini Nona Naura, dan tadi Dokter Firman meminta tolong saya untuk mencari anda"
"Dokter Firman mengawasi anda dari Cctv yang bisa di lihat dalam handphone nya, dan khawatir saat anda keluar dari Apartemen"
"Oh, jadi begitu, katakan padanya, aku hanya ingin melihat keindahan Taman ini saja" jawab Naura.
"Baiklah Nona, bagaimana kalau anda menikmatinya dengan segelas minuman hangat?" Laki-laki itu menawarkan.
"Boleh juga, terimakasih, oh ya, namamu siapa?" Tanya Naura.
"Namaku Matio, biasa di panggil Tio" jawabnya.
"Okey, terimakasih Tio" ucap Naura.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana Nona Naura, sebentar lagi saya akan kembali membawakan minuman hangatnya" ucap Tio
Naura mengangguk dan tersenyum ramah, Tio sempat di buat salah tingkah melihat wajah cantik Naura yang tentu saja menarik laki-laki yang berada didekatnya.
Lalu segera bergegas pergi setengah berlari untuk kembali ke resto dan membuatkan minuman hangat untuk Naura, disaat Tio ingin membawa minumannya terdengar suara panggilan masuk.
"Bagaimana Tio, apa kau sudah menemukannya?" Sebuah pertanyaan dari Firman yang berada dalam panggilan Video Call nya.
"Oh iya Dokter semua aman, Nona Naura sedang menikmati pemandangan dan mencari angin segar"
"Apa?, Angin segar?, Ini udara dingin, cepat perintahkan dia untuk segera masuk!" Teriak Firman dalam percakapan ponselnya.
"I iya Dokter"
"Tunggu!" Ucap Firman.
"Ada apa lagi dokter?"
"Apa yang ada dalam nampan mu itu?" Tanya Firman curiga.
"Ini minuman hangat Dokter, baik untuk tubuh, dan saya berniat memberikannya ke Nona Naura"
"Apa?!" Teriak firman lagi hingga membuat Tio sedikit kaget.
"Memangnya kenapa lagi Dokter?"
"Kamu jangan macam-macam, suruh saja Naura masuk ke Apartemen sekarang juga, minuman hangat mu tidak perlu!" Jawab Firman dengan nada ketus, dan segera mematikan handphonenya.
Tut Tut Tut
"Ya Tuhanku, ada apa dengan Dokter Firman, apa dia sedang mengalami kegagalan dalam operasinya?, Sampai harus menyemprot ku dengan kata-katanya, ada-ada saja" ucap Lirih Tio yang tentu saja tetap kekeh memberikan minuman itu ke Naura dan sekarang sedang berjalan ke arahnya.
"Ini Nona Naura" ucap Tio dengan Ramah.
"Terimakasih Tio" sambut Naura dengan hati yang senang, lalu segera mengambil minuman dan meletakkan kedua telapak tangannya di minuman itu agar ikut menghangat.
Tio hanya berdiri, tak juga bersuara dan hanya memandang apa yang Naura lakukan saja, rasanya tak tega menyampaikan pesan dari Firman di saat Naura sedang menikmati indahnya malam.
"Ada apa?, Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Naura.
"Maaf Nona Naura, ada pesan dari dokter Firman dan harus saya sampaikan" ucap Tio.
"Apa lagi?" Tanya Naura.
"Anda harus segera masuk ke Apartemen, dokter Firman mungkin khawatir karena suhu udara semakin dingin" ucap Tio.
"Oh, baiklah, aku tidak ingin kamu di marahinya karena aku, jadi aku akan masuk kembali"
"Terimakasih pengertian Nona, Maaf, saya hanya tidak ingin Dokter Firman menyangka saya tidak amanah" ucap Tio.
"Aku tau" jawab Naura yang kini sudah membalikkan kursi rodanya dan bersiap kembali ke Apartemen.
"Apa boleh saya membantu anda Nona?" Tanya Tio dengan senyuman.
"Tentu saja Tio, terimakasih ya"
"Sama-sama" ucap Tio yang kini sudah mendorong kursi roda Naura, lalu segera membawanya masuk kembali ke Apartemen.
Sampai di pintu utama Apartemen, keduanya dikejutkan dengan sosok yang juga baru sampai disana.
"Dokter Firman?!" Bareng Tio dan Naura bersuara.
"Kalian kompak sekali, hebat juga" sahut Firman dengan tatapan tak ramah sama sekali.