
Kedua orang yang tengah terluka terlihat sedang berbaring di masing-masing kamarnya untuk memulihkan diri, sampai pagi menjelang dan matahari mulai meninggi, keduanya masih belum beranjak karena luka yang dialami cukup membuat fisik mereka menderita.
Beberapa pengawal di Mansion itu disibukkan dengan penjagaan ketat yang telah di perintahkan.
Perlahan Elonar menggerakkan tubuh, merasa tenaga harus diisi dengan makanan, diri nya pun duduk sambil meringis menahan sakit di dada dan tubuh yang lainnya.
"Sh-it!, Tenaga mereka sangat kuat, tubuhku seperti mau hancur rasanya" ucap lirih Elonar yang kini sudah perlahan melangkah.
Sementara Dirinya tertatih menuju tempat makan, disaat yang sama pula, nampak Jarred memasuki ruang yang sama.
Elonar masih terdiam, mengunyah makanan perlahan tanpa mau menoleh sedikitpun ke Jarred yang sudah duduk di depannya.
"Aku minta maaf" ucap Jarred.
Elonar masih terdiam, tidak ada respon yang di harapkan dan masih terus menikmati makanannya.
Jarred pun tidak ingin membahasnya lagi, dia menyabarkan diri dengan perlakuan Elonar yang kini begitu dingin dengannya, hingga kemudian seorang anak buah Zafian mendekat dan menyampaikan kabar berita.
"Maaf Tuan, seperti yang anda perintahkan, keadaan Nona Afita masih sama"
"Hem, ada lagi?" Tanya Elonar dengan wajah yang datar.
"Keluarga besarnya sepertinya berkumpul, ada beberapa orang yang datang ke Mansion itu, saya khawatir semua keluarganya mempunyai tenaga supranatural dan _"
"Segera perintahkan yang lain bersiap untuk berpindah tempat sesuai dengan rencanaku, aku masih butuh istirahat memulihkan diri di tempat yang tidak bisa mereka deteksi" sahut Elonar dengan tatapan cemasnya.
"Baik Tuan"
Elonar hanya melihat Jarred sekilas, lalu berdiri untuk melangkahkan kaki.
"Apa aku di perbolehkan untuk ikut?" Tanya Jarred menghentikan langkah Elonar.
"Terserah!" Ucap Elonar lalu pergi begitu saja.
"Tidak bisakah kau bersikap seperti biasanya, aku muak dengan semua ini, setidaknya kau berterimakasih karena bantuanku" teriak Jarred pada akhirnya.
"Kalau kau bisa menyembuhkan Afita, aku akan memaafkan mu" sahut Elonar.
"Kau gila, itu sama saja dengan kau menyuruhku untuk melumpuhkan tenaga dalamku!" Ucap Jarred tak percaya kalau Elonar benar-benar tega.
"Aku tidak peduli!"
"Aku juga tidak akan sudi!" Sahut Jarred dengan amarahnya.
Jarred merasakan hatinya begitu nyeri, tidak disangka bahwa orang yang sangat dia inginkan begitu dalam mempunyai rasa akan sosok wanita yang telah dia lukai dengan racun mematikannya.
"Sh-it!, Aku berharap wanita itu akan segera mati!" Batin Jarred penuh dendam dan sakit hati.
*
*
Beberapa Waktu yang lalu, Pagi hari yang sangat dingin, begitu juga yang dirasakan oleh hati Zafian saat terbangun dan melihat keadaan sang istri masih tetap sama, memejamkan mata seolah tertidur pulas tanpa mau terbangun dari mimpinya.
Zafian menyentuh wajah istrinya dengan lembut, membisikkan kata semangat dan permohonan maaf berkali-kali.
Anita yang melihat hal itu merasa hatinya sungguh terluka dan juga tidak tega, mendekati Zafian lalu menyuruhnya segera mandi untuk menjaga kesegaran badannya.
Keduanya lalu berjalan turun setelah Evan datang menggantikan, "Sarapan sudah ada di meja, Bunda dan kak Zafian sudah di tunggu, biar saya yang menggantikan menjaga kak Afita" ucap Evan dengan sopan di hadapan Anita.
Setelah kepergian Anita dan Zafian, kembali Evan mendekat dan memegang tangan sepupunya, "Bertahanlah Kak, semua akan baik-baik saja" ucap Evan.
Tak tinggal diam, Evan melanjutkan memberikan bantuan tenaga dalamnya karena tenaganya sudah pulih kembali setelah cukup beristirahat, namun dirinya sangat terkejut di tengah perjalanan, karena tubuh Afita begitu kuat menyerap kekuatannya, hingga Evan segera menghentikan apa yang tengah dilakukan.
"Ini aneh sekali, aku harus memberitahu Ailina dan Daddy Alex" Batin Evan segera mengambil handphone untuk menghubungi saudaranya.
Ailina dan Alex segera datang diikuti oleh Reyna dan Aftan di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Alex tergesa-gesa.
"Maaf Dad, aku terpaksa menghentikan bantuan tenaga dalamku"
"Kenapa kak?" Tanya Ailin yang kini sudah memeriksa keadaan Afita.
Evan menjelaskan semuanya, hingga Alex segera membantu Ailina, sementara Reyna dan Aftan tampak cemas dengan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" Tanya Seseorang dari belakang, hampir semuanya menoleh dan mendapati Zafian kini sudah berada di ambang pintu.
Alex berusaha menyatukan tenaga dalam kembali bersama Ailina, terlihat keadaan Afita seperti yang diharapkan, rupanya hanya kekuatan Alex dan Ailina yang mampu menembus diri Afita saat ini.
Hingga sesuatu terjadi di luar dugaan, matahari yang makin meninggi menambah suasana di kamar itu semakin panas, tiba-tiba saja tubuh Afita seolah menolak kekuatan dari Ailina dan Alex, hingga tubuhnya mengejang hebat.
Zafian terkejut dan melompat, hendak memberikan bantuan tenaga dalam ke Afita, namun dengan cepat Reyna menangkisnya.
"Hentikan, jangan di teruskan, ini akan membunuh Afita!" Teriak Reyna berusaha menghentikan apa yang tengah di lakukan.
Zafian terdiam tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Reyna Hinga mencegah dirinya untuk membantu sang istri, sementara Alex dan Ailina segera menarik kembali kekuatan tenaga dalamnya.
Sesaat keadaan kembali aman, Evan dan Aftan melihat keadaan Afita dan bisa bernafas lega karena mulai stabil kembali.
Zafian berlari mendekat dan menggenggam tangan sang istri, nampak begitu ketakutan setelah apa yang baru saja dilihatnya, Alex menepuk bahu Zafian, menguatkan hati agar Zafian kembali tenang.
Berjalan keluar kamar, Alex tampak bingung dengan keadaan Afita, berpikir keras untuk mencari jalan keluar selanjutnya, dan berakhir dengan pemikiran yang sama dengan Ailina.
"Kita berkumpul di kamar" ucap Alex, diikuti oleh Reyna dan Ailina.
Sementara Aftan dan Evan masih berada di kamar Afita menemani Zafian dan berjaga-jaga disana.
"Ada satu solusi yang dipastikan ini tidak akan membahayakan keduanya" ucap Alex serius.
"Hem, pemikiran Daddy sama denganku, aku rasa ini jalan terbaik, dengan meminta wanita yang membuat Kak Afita seperti ini untuk menetralkan racun itu sendiri" sahut Ailina.
"Tapi bagaimana jika dia tidak mau membantu kita?" Tanya Reyna, di sambut dengan Ailina dan Alex saling pandang.
"Oh my God, tolonglah, jangan main rahasia denganku lagi" ucap Reyna merasa di curangi.
"Racun ini akan ikut menghilang jika sang pembuatnya juga melepaskan kekuatan dari raganya" sahut kembali Alex, tentu saja Reyna sangat terkejut.
"Apa!, Itu berarti dia harus mati?!" Tanya Reyna.
"Seperti itulah mom" sahut Ailina.
"Honey, tidak adakah jalan yg lain?" Tanya Reyna memohon ke Suaminya,
"Tidak ada"
"Astagfirullah, mana mungkin kita melakukan hal keji seperti itu" sahut Reyna.
"Aku sempat berpikir, mungkin_"
"Apa?" Sahut Reyna berharap ada solusi yg lain dari Ailina.
"Kekuatan Alena" sahut Alex.
"Kalau begitu hubungi segera dengan kontak batinmu honey!" Ucap Reyna.
"Dia menutupnya" sahut Alex.
"Apa?!" Reyna terkejut.
"Alena dan Edward sedang tidak ingin di ganggu, entah apa yg sedang mereka lakukan, tapi aku sudah mencoba dari kemaren dan tidak bisa" Alex menjelaskan.
"Itulah masalahnya" sahut Ailina.
"Oh my God, tolonglah.. kita harus mencari solusinya, Afita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi bukan?" Ucap Reyna.
"Kita harus menemukan wanita itu dan menyeretnya kesini" jawab Ailina.
Tanpa di sadari semua pembicaraan itu telah di rekam sempurna oleh Zafian yang kebetulan lewat dan tidak sengaja mendengarkan.
Tidak lagi dirinya berpikir apa-apa lagi, selain hanya keselamatan sang istri, hingga dia pun segera melesat pergi.
Bahkan Firman sang sahabat hampir saja terpental di tubrukbya saat berpapasan.
"Brug
"Zaf, mau kemana?!" Teriak firman namun tidak di gubris sama sekali.
"Bukan urusanmu, periksa keadaan istriku, cairan infus yang terpasang hampir habis!' seru Zafian tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya sama sekali.
Apa yang akan terjadi?..Yuk jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA dulu.
Bersambung.