ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 127



Di tempat lain, seseorang merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang begitu hangat dan lembut, di tengah-tengah kesadarannya yang mulai pulih, perlahan matanya membuka tampak bingung.


"Ssh, aku dimana?" Ucapnya lirih.


"Di tempatku" sahut suara seseorang dan membuat terkejut.


"Zafian!" Teriak Afita ingin segera bangkit namun kepalanya masih begitu pusing.


"Jangan bergerak dulu, maaf aku terpaksa menotok syaraf kesadaran mu untuk bisa membawa mu ke sini" ucap Zafian sambil membantu merebahkan Afita kembali.


"Apa?!, Kau keterlaluan!" Ucap Afita yang justru berusaha untuk bangkit, dan meraih tas nya lalu mencari sesuatu yang tak lain adalah handphonenya.


"Siapapun itu, aku sudah mengirimkan pesan, kalau kamu ada urusan penting yang harus di selesaikan" ucap Zafian.


"Kau gila!" Seru Afita.


"Aku rasa kamu yang lebih gila" sahut Zafian yang kini tersenyum melihat Afita kembali bersandar karena masih menahan pusing.


"Minum teh hangat ini dulu" ucap Zafian lagi.


"Aku ingin pulang"


"Tempat pulang istri adalah di samping suaminya, aku rasa selama ini kau sudah lupa" sahut Zafian sambil memberikan teh hangat yang di buatnya sendiri untuk Afita.


Afita terdiam, sakit di kepalanya membuat tidak ingin berdebat lagi dengan Zafian yang kini sudah ada di dekatnya.


"Minumlah" ucap Zafian menyodorkan.


"Taruh saja di meja, aku akan meminumnya sendiri" jawab Afita.


"Buka mulutmu, dan minum sekarang, atau aku yang akan memaksa air ini masuk dengan menggunakan mulutku?" Sahut Zafian.


Afita terkejut tak percaya, sikap Zafian benar-benar sangat pemaksa, dengan terpaksa menerima minuman hangat itu dan perlahan meminumnya, rasa pusing itu seketika berkurang, hangat di perutnya juga memberikan efek nyaman.


"Aku sangat merindukanmu" ucap lirih Zafian, membuat Afita semakin terdiam.


"Maaf" ucap Afita yang kini mulai beranjak.


"Mau kemana?" Tanya Zafian.


"Zaf, aku harus pulang"


"Maaf, aku tak mengijinkan mu meninggalkanku lagi" ucap Zafian.


"Aku mohon Zaf, aku tidak bisa berada di sini terlalu lama, ada Fi_" Afita segera menghentikan ucapannya.


"Ada siapa?" Tanya Zafian mulai curiga.


"Katakan Afita, ada siapa!" Teriak Zafian terlihat mulai emosi.


"Ada seseorang yang harus aku jaga, dan aku tidak mungkin meninggalkannya terlalu lama" jawab Afita.


"Kekasihmu?" Tanya Zafian dengan sinis.


"Aku akan jelaskan nanti, ijinkan aku pulang dulu" sahut Afita.


"Jawab pertanyaan ku, dia kekasihmu?!" Bentak Zafian tak sabar lagi.


Afita sangat terkejut, menatap lekat mata Zafian, "lebih dari seorang Kekasih, apa kau puas?"


"Afita!" Bentak Zafian.


"Aku tidak suka suara kerasmu!" Teriak Afita membalas perkataan Zafian.


"Kita bahkan masih terikat oleh tali pernikahan, dan kau sudah mempunyai seseorang di sampingmu lagi, apa kau sadar yang kau lakukan!" Ucap Zafian.


"Ck, kau makin berisik!" Afita segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mewah yang di tempati, dan gagang pintu di dorong namun tidak bisa terbuka begitu saja.


"Kamu menguncinya?" Tanya Afita kini menoleh heran menatap Zafian.


"Jangan harap kau bisa keluar dari sini!" Ucap Zafian dengan senyum penuh kemenangan.


"Sesuai perintah mu, aku akan membuka dirimu, bukan pintu itu" ucap Zafian yang tengah di selimuti emosi karena pernyataan Afita yang membuatnya salah sangka.


Zafian berjalan cepat menghampiri Afita, menyahut tubuhnya yang masih tampak lemah.


"Zaf, apa yang kau lakukan, lepaskan!" Teriak Afita terus meronta hingga tubuhnya kini terjatuh di atas tempat tidur.


Zafian segera melepas bajunya, Afita melebarkan mata, terkejut dengan apa yang dilakukan Zafian.


"Jangan macam-macam, apa yang akan kamu lakukan Zafian!" Teriak Afita segera bangkit dan ingin berlari menjauhi Zafian.


Namun tangan Zafian dengan cepat menyambar tubuh Afita, membuatnya tergeletak kembali diatas tempat tidur, dengan gerakan cepat, Zafian membuat rambut Afita terurai dan baju atasan Afita entah pergi kemana.


"Jangan gila Zaf, apa yang kamu lakukan, lepaskan!" Teriak Afita terus meronta, berusaha lepas dari Kungkungan Zafian.


Tenaga Zafian tentu tak sebanding dengan Afita, di bawah pengaruh emosi dan juga sakit hati akan pernyataan Afita, Zafian terus melu-cuti pakaian wanita yang sangat dirindukannya.


Zafian membungkam mulut Afita dengan ciu-mannya yang begitu menuntut, dengan tubuh yang menindih sempurna, Afita tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima apa yang di lakukan Zafian diatas tubuhnya.


Hati begitu kuat ingin menolak, namun sen-tuhan Zafian yang lama tidak pernah dirasakan, membuat reflek yang berbeda, justru tubuh Afita begitu menerima dan menegang karena sensasi yang di dapatkan.


Zafian memberikan ciu-man yang begitu lembut setelah merasakan Afita tidak memberontak, tangan Zafian melakukan tugasnya secara Alami, menyusuri lekuk tubuh Afita dan sesekali mere-mas lembut bagian-bagian sensi-tifnya.


"Emhh" suara lirih Afita mulai terdengar oleh Zafian,


Hatinya sungguh bahagia, kerinduan yang begitu dalam membuatnya tak peduli lagi jika memang saat ini Afita sudah mempunyai kekasih yang lain.


Sisa kain yang masih menempel di tubuh Afita segera di buang begitu saja, has-rat Zafian seolah tak terbendung lagi, berakhir lidah dan bibirnya menyusuri bukit kembar yang begitu nikmat saat di rasakan puncaknya, sementara jari jemari Zafian membelai lembut bagian in-tim yang sudah mulai basah.


"Aku merindukan mu sayang, sshh" ucap Zafian begitu lembut di telinga Afita.


Sementara Afita masih terdiam dengan desa-han yang berulangkali lolos dan tak mampu dia tahan, hingga tiba-tiba saja bayangan sang buah hati terlintas seolah memanggilnya.


"Zaf, hentikan!" Teriak Afita yang tiba-tiba saja memberontak kembali.


Zafian terkejut, seketika menghentikan aksinya dan menatap lekat mata Afita yang berada di bawah kungkungannya.


"Aku tidak bisa, harus segera pulang, aku mohon Zaf" ucap Afita.


"Apa ada yang menunggu mu?"


"Iya Zaf, aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama"


"Kalau begitu, jangan harap kau lepas dariku!" Ucap Zafian penuh penekanan.


Afita terkejut, bukannya di lepaskan, justru Zafian semakin gila menyentuh dirinya, sekuat tenaga Afita menahan has-rat nya.


"Zaf, jangan, lepaskan"


"Akh!" Teriak Afita saat Zafian kini menikmati bagian bawah Afita dengan lidah dan bibirnya.


Tangan Afita berusaha mendorong tubuh Zafian, namun percuma saja, justru Zafian semakin menikmati dan menghisap in-tim Afita, hingga memberikan sensasi luar biasa.


"Zaf, hentikan, aku mohon, Zafian, Ouh!" Teriak Afita, antara ingin menolak dan menahan de-sa-hannya.


Seketika Zafian menghentikan apa yang dilakukan, saat melihat air mata Afita menetes di pipinya.


"Sh-it!"


BRAK


Zafian berlalu pergi sambil membanting pintu kamarnya.


Sementara Afita, segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal sambil mengusap air matanya, perlahan melangkah dan memunguti semua pakaiannya, lalu memakainya kembali.


Menuju pintu yang terbuka, Afita tanpa pamit langsung keluar dari Mansion mewah dan segera memanggil Taksi untuk membawanya kembali ke rumahnya, tak lupa di perjalanan memberi pesan ke Naura bahwa sebentar lagi dirinya tiba.


Makin penasaran dengan kelanjutannya?, Yuk jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.