
Kedatangan ketiga Sahabat membuat Naura begitu bahagia, setidaknya hatinya akan terhibur dengan celoteh dan canda mereka semua.
"Ayo kita ke ruang tengah saja" ucap Naura mengajak ketiga sahabatnya tanpa memperdulikan Firman yang memutar matanya tak percaya.
"Apa kalian sudah menjadi pengangguran sampai bisa main kesini?" Tanya Naura yang kini sudah berada di ruang tengah sambil menonton Film dan ngemil makanan ringan dengan santai bersama ketiga sahabatnya.
"Nona Afita yang memberi tahu kami, kamu mengalami kecelakaan tunggal dan sementara harus di rawat insentif" ucap Liana.
"Maksudnya?" Sahut Naura.
Liana tertawa, begitulah Naura yang kadang lucu dengan wajah polosnya, bahkan guyonan yang di berikan sering dianggapnya serius.
"Ish, kau ini, kenapa malah tertawa?" Ucap Naura kesal.
"Perawatan intensif di bawah kendali dokter Firman Nau, masak gitu aja dianggap serius sih" ucap Liana yang tentu saja di sambut tak suka oleh Leon dan Mark.
"Kalian ini, bercanda saja sukanya" ucap Naura sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana bisa kamu berada di Apartemen ini?" Tanya Leon penasaran akan hubungan Naura dan Firman.
"Aku hampir pingsan saat bekerja, lukaku belum kering, namun aku harus melakukan tugas penting, dan dokter Firman yang menolongku, akhirnya membawaku kemari, karena letak tempat kerjaku tak jauh dari sini" jawab Naura.
"Dokter Firman membuka cabang pelayanan pasien di perusahaan mu juga?" Tanya Liana yang masih tidak mengerti.
"Ck, bukan, kebetulan pemilik perusahaan tempatku bekerja adalah Mommy nya dokter Firman, namanya ibu Farah"
"Farah?, Tunggu, sepertinya aku tak asing, apa mungkin beliau adalah Farah Hamid, istri dari Milyarder Firdaus Hamid?" tanya Liana.
"Iya, nama lengkap dokter Firman itu FIRMAN HAMID, kalian paham kan?"
"Oh my_, saingan kalian benar-benar bukan orang sembarangan, semangat ya!" Ucap Liana lalu terkekeh setelah mendapat tatapan tajam dari Leon dan Mark.
Sementara Naura hanya menggelengkan kepala saja.
"Apa kalian punya hubungan?" Tanya Leon kemudian.
"Hubungan?" Tanya Naura terlihat bingung.
"Iya, kekasih misalnya" sahut Mark menambahkan.
"Oh tentu saja tidak, aku cukup tau diri Mark, dia siapa dan aku ini siapa, kalian jangan bercanda" jawab Naura.
"Sayang sekali, Dokter Firman adalah laki-laki yang banyak diidolakan oleh kaum hawa" sahut Liana.
"Jadi kamu juga suka, bilang saja, tu mumpung orangnya lagi santai di balkon" sahut Naura.
"Heh, jadi kau menginginkanku berse-ling-kuh dari suamiku?" Ucap Liana.
Semua ikut tertawa melihat wajah melas Liana sambil memakan kue dan menatap Firman dengan raut yang begitu putus asa.
"Lalu sampai kapan kamu akan berada di sini?" Tanya Leon nampak kurang suka berada di Apartemen Firman.
"Mungkin dua hari lagi, sampai lukaku benar-benar sembuh, dibawah pengawasan dokter langsung itu sangat tidak menyenangkan, aku tidak bisa melakukan apapun dan harus disiplin dalam segala hal agar lukaku cepat membaik" jawab Naura sambil menghela napasnya.
"Sebenarnya melihat keadaanmu sekarang kamu bisa saja pergi dari sini bukan, aku bisa mengantar kalau kamu mau" ucap Mark.
"Kamu akan berhadapan dengannya kalau sampai melakukan hal itu" jawab Naura.
"Kamu kira aku takut?" Sahut Mark.
"Kalau kamu ingin berkelahi, bukan disini tempatnya" sahut Liana memperingatkan Mark yang notabene sangat menyukai pertarungan di atas Ring.
Naura hanya tersenyum, Leon menatap kearah Firman sekejab, begitu juga dengan Mark, namun berbeda dengan Liana yang memandang begitu suka dan takjub dengan keberadaan Firman di sana.
"Kalian ini benar-benar sahabat yang aneh" ucap lirih Naura sambil menggelengkan kepala.
Cukup lama mereka berbincang dan bercanda, tak terasa hampir dua jam telah berlalu.
Firman yang sebenarnya dari tadi menahan diri, merasa tak tahan lagi, segera beranjak karena sudah menemukan cara untuk membuat dua laki-laki itu tidak terlalu mendekati Naura lagi.
"Sudah sore, saatnya kamu mandi, luka di kakimu juga butuh di bersihkan" ucap Firman yang tentu saja membuat pikiran ketiga temannya traveling kemana-mana.
"Kalian mandi bersama?" Tanya Liana terbengong.
"Apa?, Tentu saja ti_"
"Naura butuh bantuan untuk melepas semua bajunya dan juga membersihkan lukanya, tentu saja aku membantunya, apa itu aneh?" sahut Firman sengaja memotong perkataan Naura.
"Apa?!" Teriak ketiga sahabat Naura hampir bersamaan.
Firman masih terdiam dan kini duduk begitu dekat dengan Naura yang tak bisa beranjak Karena kain dari bajunya yang tergerai sengaja di tahan oleh tangan Firman.
Keadaan dirasa semakin tak kondusif, hingga ketiganya segera pamit undur diri karena merasa tak enak hati.
Setelah kepergian mereka, Naura menatap tajam Firman yang masih duduk di sampingnya seolah tak mau beranjak.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Ucap Firman cukup Santai.
"Kenapa dokter Firman berbuat seperti itu?" Tanya Naura balik.
"Berbuat apa, aku tak menyentuhmu sama sekali" ucap Firman sambil mengangkat kedu telapak tangannya.
"Tapi kata-kata dokter tadi pasti membuat mereka sudah salah sangka" jawab Naura.
"Salah sangka apanya, lagian itu juga bukan hal yang perlu kita ributkan" ucap Firman.
"Ish, bagaimana kalau mereka sampai bercerita dan Kak Afita tau, dan salah paham juga?" Sahut Naura yang semakin kesal dan mendorong Firman untuk sedikit menjauh karena bajunya tertahan.
"Kasar sekali" ucap Firman.
"Dokter menindih bajuku dari tadi, aku tak bisa bergerak bebas" sahut Naura dengan wajah juteknya.
"Ck, kenapa kamu terlihat marah sekali, lagi pula aku hanya mengatakan mandi bersama, bukan polos berdua di kamar mandi kan?"
"Terserah Dokter saja, percuma juga saya ngomong, kalau nanti kak Afita dan Kak Zafian sampai tau, Dokter Firman harus menanggung akibatnya!" Teriak Naura yang kini berdiri dan berjalan perlahan ingin pergi dari sana.
Firman segera berdiri dan membantu Naura, takut terjadi apa-apa lagi dengan luka di kakinya yang sudah mulai membaik.
"Gak usah di bantu, saya bisa" ucap Naura dengan ketus.
"Kau ini kenapa?, Aku berniat membantumu" ucap Firman.
"Iya, tapi Dokter Firman tadi sudah keterlaluan!" Seru Naura yang sudah tak tahan lagi.
"Keterlaluan apanya?" Sahut Firman yang tak kunjung mengerti.
"Sudahlah, percuma saja, Dokter juga tidak akan mau mengerti" sahut Naura.
"Mengerti apa?, Soal yang tadi, kalau seandainya Afita dan Zafian salah paham?, Begitu maksud kamu?"
"Ya iyalah"
"Gampang, paling juga kita disuruh Nikah"
"Dokter!" Teriak Naura makin kesal dan membuat firman terjingkat kaget.
"Kamu ini berisik sekali, ada apa lagi, ini sudah hampir sampai di kamarmu, itu berarti lukanya makin membaik dan otot kakimu sudah tak menganggu lagi, jadi tidak usah berteriak-teriak" jawab Firman yang masih terus memegangi lengan Naura untuk berjalan sampai tujuan.
Naura masih terdiam, berusaha untuk mengontrol rasa kesalnya yang sudah naik ke ubun-ubun, rasanya Naura sungguh malas untuk berbicara lagi, dan membiarkan Firman terus berbicara sendiri.
"Kenapa dim saja?" tanya Firman mulai merasa ada yang aneh dengan Naura.
Sebagai dokter, tentu saja Firman Cemas, lalu segera menempelkan punggung tangan ke dahi Naura.
"Apa sih dokter!" Ucap Naura menepis tangannya.
"Aku hanya memeriksa mu, takut kalau kamu demam lagi, sampai tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali"
"Aku baik-baik saja, dan nanti ijinkan aku pulang, di Mansion Kak Afita juga aman" ucap Naura membuat Firman terkejut.
"Tidak, lukanya belum cukup sembuh, dua hari lagi aku akan mengantarmu pulang"
"Kita terlalu lama bersama Dokter, itu tidak baik" jawab Naura dengan nada sedikit keras.
"Apanya yang tidak baik, kita tidak melakukan apapun, dan disini juga banyak orang, bukan hanya kita saja, ada asisten rumah tangga, kamar juga kita sendiri-sendiri, lalu apa yang membuatmu berpikir tidak baik?"
"Percuma, dokter tetap saja tidak mau mengerti"
"Aku mengerti, kalau Afita dan Zafian marah karena salah paham, kita Nikah!"
Gubrak
"Naura!" Teriak Firman.
Dan rupanya Naura terkejut hingga tidak bisa menahan keseimbangan kakinya, hingga terhuyung menabrak meja di dekatnya.