ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 118



Afita menghela nafas panjang, ada hati tersayat tak berdarah, remuk yang tak berbentuk, Namun semua baik-baik saja saat terlihat wajah bahagia seorang bocah yang kini sudah berusia 3 tahun.


"Mommy akan memperjuangkan mu sayang, walaupun kebahagiaan dan nyawa menjadi taruhannya" ucapnya lirih.


Naura sempat melihat apa yang di perbuat Afita, dan entah untuk yang kesekian kalinya, dirinya tidak mengerti dengan apa yang di gumam kan oleh wanita yang sudah dianggapnya kakak sendiri.


Naura segera melajukan kursi rodanya untuk membantu mencari Fian yang sudah tak nampak dalam pandangan, karena makan malam yang sederhana tapi nampak begitu lezat sudah terhidang di atas meja.


Tak lama keduanya kini sudah kembali di meja makan dan duduk memulai doa sebelum akhirnya menikmati makan malam bersama.


*


*


Di tempat lain, ada tangan yang sedang mengecek sesuatu, pendapatan di Minggu ini lumayan pesat dari perusahaan yang dimiliknya.


"Saatnya berpesta" batin laki-laki itu yang kini sudah menghubungi wanita yang beberapa Minggu ini sudah mengisi hari-hari nya untuk melampiaskan hawa lak-nat dalam dirinya.


Begitulah seorang Reno Trijaya, laki-laki yang tidak mau ambil pusing dengan yang namanya Cinta dan kesetiaan, semuanya hanya omong kosong yang baginya bisa di beli dengan uang dan kekuasaan.


Tak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian sang wanita datang dengan pakaian se-ksi yang tentu saja diminati para lelaki yang haus akan sentuhan tubuh wanita.


"Hello Baby, I Miss you" ucap wanita itu yang kini sudah duduk sambil menyilang kan kaki seolah menantang Reno untuk beraksi.


Dan kemudian, bagai ikan yang sudah termakan umpan, Reno tersenyum miring, lalu menggapai ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.


"Oh Sh-it!, Kau akan melakukan ini lagi Beb?" Ucap wanita itu seolah sudah tau apa yang akan di lakukan oleh laki-laki yang ada di depannya.


"Aku ingin berpesta malam ini, tentu harus meriah bukan?" Ucap Reno yang kini melemparkan sebuah tas branded wanita dengan harga ratusan juta, tentu saja wanita itu menerima dengan senang hati.


"Baiklah Beb, terserah kau saja, aku siap melayani" ucap sang wanita.


Terdengar bunyi bel Apartemen mewah yang di tempati Reno, tanpa diminta wanita itu segera beranjak untuk membuka pintu dan melihat tiga laki-laki yang membawa wanitanya masing-masing masuk.


Ruang tengah yang luas dan mewah menyambut kedatangan mereka, seperti biasa yang mereka lakukan, minuman mema-bukkan sudah ada untuk menemani malam panjang pesta yang diinginkan.


Perbincangan di awal dan membuat mereka tertawa pada awalnya mulai nampak dalam percakapan, sebelum berakhir dengan para wanita yang siap melancarkan aksi nakalnya.


Ketiga teman Reno sudah polos dengan sempurna, tak ada satu benangpun yang menempel di tubuhnya begitu juga dengan wanita pasangannya, pergulatan terjadi, pesta se-ks tak terhindarkan lagi, mereka bahkan menikmati, sungguh gila, bahkan saling bertukar pasangan sesuai keinginan hati.


Berbeda dengan Reno malam ini, saat wanitanya mulai mende-sah di bawah kungkungannya, tiba-tiba saja wajah seseorang terlintas begitu saja.


"Sh-it!" Sontak konsentrasi Reno untuk menikmati tubuh wanita itu terpecah.


Bahkan na-fsu nya yang membara untuk menikmati semuanya tiba-tiba menyurut, walaupun tubuhnya terus bekerja menghujamkan senjatanya memasuki lubang yang semakin lama tak terasa nikmat seperti sebelumnya.


"Akh!" Reno mengakhiri dengan pencapaian puncak nikmat yang tak sempurna.


Plak


Tangannya memukul pan-tat wanita itu lalu mengeluarkan senjatanya begitu saja.


"Si-al!" Terdengar Reno mengum-pat dengan penuh kecewa, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara wanita yang tentu saja belum merasakan puas, beralih untuk bergabung bersama dengan yang lain untuk melanjutkan pesya se_, bahkan jeritan kenikmatan dan de-sa-han dari mulut mereka semakin ramai bersahutan, semakin menikmati dengan sesuatu yang gila.


Reno terduduk di kamarnya, mengumpat beberapa kali untuk menghilangkan wajah Afita yang lewat begitu saja di benaknya berulang tanpa permisi.


"Bre-ng-sek!, Kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu, dan sialnya wajahnya begitu sempurna tanpa kacamata yang mengecoh wajah aslinya selama ini" ucapnya berbicara dengan diri sendiri.


Hingga dengan minuman yang sudah beberapa kali di tenggak, berakhir dengan dirinya yang tertidur dengan posisi yang tak pasti.


Berakhir di pagi hari semua badan terasa pegal, namun tak menyurutkan keinginan untuk bekerja, karena baginya mencari pundi-pundi uang adalah segalanya.


Tiba di kantor lebih pagi dari biasanya, dan berujung dengan Bu Tiwi yang datang hampir bersamaan.


"Pagi pak" sapa Bu Tini dengan senyuman seindah mentari pagi, walaupun bagi sang Bos hanya hiasan yang tidak perlu di perhatikan.


"Oh ya Ampun" ucap Bu Tiwi yang kesal sendiri karena mendapat respon yang tak pasti.


"Ehem,!"


Brug


"Astaga, Fita!"


Teriak Bu Tiwi, seketika tas yang di bawanya melesat turun tanpa permisi karena terkejut.


Afita tertawa, senang rasanya melihat apa yang sudah di perbuat olehnya berdampak lucu baginya.


Namun berbeda dengan seseorang yang seketika menghentikan langkah mendengar jeritan Bu Tiwi yang menyebutkan nama Fita.


"Jangan bertingkah konyol, ini tempat kerja!" Teriknya langsung membuat tawa Afita menghilang, seperti Bu Tiwi yang seperti kehilangan nyawa juga saat ini, di mematung seolah berhenti bernafas.


Bahkan beberapa pegawai yang baru datang juga terkejut mendengar teguran keras sang Bos yang tidak biasanya.


"Ma maaf pak' sahut Afita langsung menyela.


"Masuk dan segera bekerja, kau itu membuatku pusing!" Teriak Reno lagi, yang tentu saja sudah untuk di mengerti dan resapi oleh Afita saat ini.


"Saya pak?" Tanya Afita menukik dirinya sendiri dengan heran.


"Sudah, ayo!" Bu Tiwi langsung menarik Afita masuk ke ruangannya.


"Maaf pak, permisi_" ucap Bu Tiwi sebelum akhirnya masuk ke ruang kerja bersama Afita yang masih di genggam erat lengannya.


"Bu, saya_?"


"Diam!" Sahut Bu Tiwi


"Tapi Bu, saya mau_"


"Diam dan bekerja saja!" Ulang Bu Tiwi.


"Iya Bu Saya tau, lah kalau tangan ibu menahan saya tetap di ruangan ini, lalu saya harus bekerja gimana?" Sahut Afita sambil menaikkan alisnya.


"Oh iya, lupa, sana keluar ke ruangan kamu sendiri" ucap Bu Tiwi sambil nyengir gak jelas.


"Heh, pagi yang aneh, semua Bos pada senewen" ucap lirih Afita tapi berhasil di tangkap telinga Bu Tiwi dengan sempurna.


"Fita!"


"Hehe, maaf Bu!" Sahut Afita segera melesat masuk ke ruangan untuk menyelamatkan diri.


Sama halnya yang terjadi di ruang direktur utama pemilik perusahaan JAYA ABADI, Reno melempar tasnya dan merasa kesal dengan melihat Afita, apalagi semalam membuatnya tidak merasakan kepuasan dan menghantui pikiran, bahkan minuman yang di konsumsi tidak juga mengenyahkan wajah yang sedari kemarin sore menghantui.


Duduk sebentar lalu menerima suara panggilan dari handphonenya, Reno mengerutkan kening saat temannya sedang pamit pulang dari Apartemennya yang berantakan saat dirinya berangkat kerja.


"Kau itu aneh, sepertinya tak ada yang bisa membuatmu puas semalam?" Ucap salah satu temannya.


"Hem, bukan urusanmu" jawab Rena sambil memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa berdenyut di kepala.


"Kalau ada wanita yang menganggu mu, sekalian nikmati saja, beres!" Teriak teman-teman lak-natnya.


Tut Tut Tut


Panggilan segera dimatikan oleh Reno, celoteh teman-temannya bukan memberikan tenang malah membuat runyam.


Hingga kemudian terbesit kata terakhir yang di dengar dari teman-teman gilanya, lalu bibirnya tersenyum, seolah menemukan ide cemerlang seperti iklan sabun cuci.


Kalau mau macam-macam dengan Afita, kita lihat saja, Yuk saatnya beri HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.