ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 93



Naura ketar ketir melihat apa yang tengah terjadi, tak tinggal diam, dirinya segera menghubungi pihak berwajib untuk mengamankan keadaan.


Dan wanita itu harus kecewa di saat dirinya harus mengurungkan niat menyerang Firman.


"Si-al!" Umpatnya di saat ada mobil pihak keamanan mendekat.


"Kau beruntung hari ini, lain kali, jangan harap!" Ucap perempuan itu, lalu segera masuk ke mobil dan pergi.


Naura segera keluar, mendekati Firman yang sudah mengatur nafasnya kembali.


"Dokter tidak apa-apa?" Tanya Naura.


"Aku baik-baik saja, dari mana datangnya petugas keamanan ini?" Tanya Firman yang tampak heran.


"Maaf, saya yang menghubungi" sahut Naura.


Firman baru mengerti apa yang terjadi, setelah berbincang dengan mereka, lalu dirinya segera mengajak Naura untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Suasana sejenak terasa sepi, Firman menghidupkan musik yang terdengar cukup lirih untuk menemani perjalanan, hingga berakhir dengan pertanyaan dari Naura yang tampak bingung dengan rute yang diambil.


"Ini bukan jalan menuju rumah saya Dokter" ucap Naura yang tampak kebingungan.


"Kita ke Apartemen ku dulu, ganti baju, baru melanjutkan ke tempatmu"


"Tapi Dokter"


"Masih banyak yang membutuhkan bantuanku, jangan sampai aku jatuh sakit, apa kau mengerti?" sahut Firman.


"Ba baik" jawab Naura tanpa berani membantah lagi.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di sebuah Apartemen mewah, berjalan masuk dan tentu saja mendapati tatapan aneh dari beberapa orang yang berpapasan.


Naura menunduk tak tenang, merasa sangat tidak pantas berada di linkungan mewah lingkup kalangan kelas atas, ditambah lagi bajunya yang kotor dan basah kuyup di samping sang Dokter spesialis Bedah yang sangat terkenal.


"Kau kenapa?"


"Tidak ada Dokter, masih lama kah sampai di tempat anda?" Tanya Naura makin risih dengan kondisinya.


Firman terdiam, terus melangkah yang diikuti oleh Naura di belakangnya, sementara banyak pasang mata memperhatikan, tentu saja Firman tak perlu menghiraukan.


Malan menjelang saat tiba di Apartemennya, Firman segera masuk, memberitahukan kamar tamu yang bisa di gunakan oleh Naura untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian.


Firman meminjamkan baju atasan, tak mampu menolak, Naura bingung harus berbuat apa, hingga akhirnya memutuskan untuk mengganti bajunya yang basah dan mengakibatkan tubuhnya mulai menggigil kedinginan.


"Lumayan, untung baju ini sangat longgar, mengamankan asetku biar tak nampak terlihat" ucap Naura lirih, berbicara untuk dirinya sendiri.


Kemudian Naura keluar dari kamar dengan baju kedodoran, namun bagaimana dimata seorang Firman?, Justru pemandangan itu sangat se-ksi baginya, tanpa berkedip dia melihat Naura yang nampak kikuk berjalan menuju ke sofa tengah untuk duduk menunggu perintah.


"Apa kau tidak ingin makan malam?" Tanya Firman.


"Ma maaf Dokter, saya pulang sekarang saja, tidak enak kalau harus disini hanya berdua, saya mohon pengertiannya" ucap Naura yang kini sudah berdiri di depan Firman.


Tidak mungkin untuk menahan Naura di Apartemennya, Kendati dia bukan wanita murahan yang mudah untuk di goda, belum lagi pesan dari sepasang suami istri yang selalu terngiang di telinganya.


"Baik, ayo!" Jawab Firman segera berjalan keluar untuk melakukan apa yang diinginkan wanita yang sekarang ada di dekatnya.


*


*


Ditempat lain, Zafian dan Afita selesai melakukan ritual di kamar mandi, setelah makan malam keduanya kembali merebahkan diri di atas tempat tidur, sedikit berselancar di media sosial, Zafian tersenyum di saat melihat berita tentang saudara sepupunya dan juga kakak iparnya.


"Ada apa?" Tanya Afita memicing curiga.


"Aku membaca kabar Aftan, dan Saudara sepupu kita si kembar tiga" jawab Zafian.


Afita langsung merebut ponsel suaminya, penasaran dengan apa dicari, lalu tersenyum senang saat mengetahui semua kesuksesan ketiga sepupunya.


"Mereka memang luar biasa!" Sahut Afita.


"Hem, keluarga Nugraha benar-benar luar biasa, dan aku bersyukur bisa menjadi anggota keluarganya" sahut Zafian.


"Tapi resiko menjadi keluarga kita sangat besar, kami harus selalu waspada dan berhati-hati di setiap langkah"


"Dan aku akan melindungi mu sayang"


Cup


Zafian menarik tubuh istri ya ke dalam pelukan, merasakan ada yang berbeda dengan berat tubuhnya.


"Sepertinya istriku semakin berisi" ucap zafian.


"Apa kau tidak suka?" Tanya Afita.


"Apapun dirimu aku sangat menyukai, apa perlu aku buktikan lagi?" Kawan zafian dan kini sudah mengerlingkan mata nakalnya untuk berniat yang iya iya.


Afita mengangkat alisnya, lalu dengan wajah memohon berharap Zafian membiarkannya untuk beristirahat dengan tenang jari ini.


Sura Tawa Zafian terdengar, melihat tingkah lucu istrinya membuatnya tidak bisa menahan ras gemasnya, namun dia cukup tau diri untuk tidak membuat sang istri kelelahan hari ini.


Tak lama suara panggilan handphone terdengar, Afita mengambil ponselnya dan terlihat bahagia karena nama Daddy Alex terlihat di sana.


Setelah mengucap salam, perbincangan berlanjut, Zafian ikut mendengarkan setelah Afita me load speaker percakapannya.


"Daddy merasakan ada kekuatan-kekuatan hitam yang bermunculan di sekitarmu, apapun itu, kalian berhati-hati lah" ucap Alex setelah menanyakan kabar keduanya.


"Terimakasih Dad, saya akan menjaga Afita dengan baik" jawab Zafian setelah mendengar kekhawatiran Alex.


"Aku percayakan hal itu padamu Zafian, terus berlatihlah mengendalikan dan menggunakan kekuatan mu" sahut Alex.


"Siap Dad, jangan khawatir" ucap Zafian.


"Banyak keluarga Nugraha yang siap saat kalian butuhkan, jangan memaksakan diri kalaupun kalian tidak bisa mengatasi, setiap kekutan yang kita punya ada batasannya, dan kita tidak tau pasti sebesar apa kekuatan lawan yang kita hadapi, karena diatas langit masih ada langit Zafian" Alex memberikan nasehat.


"Iya Dad, terimakasih petuahnya" ucap Zafian sebelum kemudian perbincangan di hentikan.


Tampak Afita berpikir sejenak, lalu Zafian merangkul istrinya yang nampak cemas.


"Tenanglah, kita akan baik-baik saja, dan menghadapi semuanya bersama-sama" ucap Zafian berusaha menenangkan.


"Hem, iya sayang, hanya saja, insting Daddy masih belum pernah salah, aku merasa akan ada sesuatu yang besar sebentar lagi" ucap Afita.


"Perlukah aku menambah pengawalan mu?" Zafian menawarkan saran.


"Tidak usah, dua pengawal itu sudah cukup yang, justru aku mengkhawatirkan mu" sahut Afita menoleh ke suaminya dengan wajah cemasnya.


"Aku akan lebih berhati-hati, tenanglah, sekarang kita istirahat saja dulu" ucap Zafian, lalu beranjak untuk melihat email pekerjaan yang masuk.


Sementara itu, Bunda Anita yang malam melihat sesuatu yang kurang untuk membuat kue untuk esok pagi, seperti biasanya menyempatkan diri keluar dari Mansion dengan mengendarai sepeda motor untuk membeli sesuatu di minimarket terdekat.


"Saya antar nyonya!" Seru salah satu pengawal yang bertugas di gerbang masuk.


"Tidak usah, aku hanya ke minimarket dekat sini saja" sahut Anita, dan segera berlalu keluar dari pintu gerbang yang sudah terbuka.


"Hem, udara yang lumayan dingin" ucap Anita dalam hati, walaupun sebenarnya sudah memakai pakaian hangat lengkap dengan pengaman kepala dan sarung tangan.


Sampai di tempat tujuan semua masih tampak normal dan biasa-biasa saja bagi Anita, tanpa disadari ada bahaya besar yang sedang mengintainya.


Hingga waktu terus berlalu, satu jam sudah di Mansion itu tidak ada tanda-tanda Nyonya besarnya kembali, beberapa pengawal mulai resah dan akhirnya salah satu nya melaporkan karena takut salah.


Sontak Zafian terkejut, begitu juga Afita, segera keduanya memerintahkan para pengawal untuk menyusul dan mencari sang Bunda.


"Lakukan sekarang!" Perintah Zafian.


Afita pun tidak tinggal diam, bersiap untuk pergi keluar menuju minimarket yang biasa di datangi oleh Anita.


"Jangan kemana-mana yang, aku dan para pengawal yang akan mencari Bunda"


"Tapi yang_"


"Percaya padaku yang, dengarkan aku dan turuti kata-kata ku, okey?!" Sahut Zafian tidak ingin berdebat.


Afita terpaksa dengan berat hati menyetujui permintaan suaminya, untuk tetap berdiam diri di rumah walaupun kakinya sangat resah dan ingin melangkah.


Zafian Baru saja keluar dari pintu utama Mansion, lalu dikejutkan dengan suara deringan ponselnya, segera diangkat tanpa melihat siapa yang menghubungi lebih dulu.


Saat menerima panggilan, terdengar suara seseorang yang asing di telinganya, masih mendengarkan dengan seksama, Zafian langsung mengeratkan rahangnya.


"Bre-ng-sek, jangan berani menyentuhnya!" Teriak Zafian.


Hari Senin nih, VOTE nya dong..semoga hari ini bisa Update dobel.


Bersambung.