ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 80



Ailina dan Evan saling pandang, seolah Evan sedang meminta persetujuan.


Bagaimana?" Tanya Evan menarik turunkan alisnya.


"Ck, tidak usah, itu berbahaya" sahut Ailina lalu duduk di sofa terdekat dengan wajah cemasnya.


"Aku tidak apa-apa, tenaga dalamku masih cukup untuk ku berikan ada Evan, kau jangan khawatir Ai" ucap Aftan meyakinkan.


"Tidak usah kak, itu berbahaya, tubuh Evan paling banyak membutuhkan kekuatan, dia akan menyedot seluruh kekuatan kak Aftan, belum lagi tenaga kakak sudah digunakan untuk membantu kak Zafian tadi, aku tidak mau ambil resiko, biar aku minta tolong Daddy untuk meminjamkan pesawat pribadinya saja" jawab Ailina.


"Kau bukan mencemaskan keadaanku, tapi lebih pada bingung mencari alasan untuk tidak menerima bantuan ku" sahut Aftan dengan penuh kecewa.


"Kak, bukan begitu, Aku_"


"Aku tau, kau berusaha menghindari ku, tapi bukan berarti aku harus diam saja melihat saudaraku kesusahan bukan?, aku sadari perasaanku salah, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk membenarkannya" ucap Aftan.


"Maaf kak" sahut lirih Ailina merasa bersalah.


"Aku terima permintaan maaf mu, asal kau biarkan kali ini aku membantu mu" ucap Aftan yang tidak bisa lagi di tolak oleh Ailina.


"Bagaimana?" Tanya Evan kembali.


"Heh, baiklah, lakukan, tapi jangan terlalu dipaksakan kak" ucap Ailina pada akhirnya.


Evan dan Aftan bersiap melakukan transfer tenaga dalam di sebuah kamar yang masih kosong, sedangkan Ailina melangkah ikut bergabung bersama Ethan dan Alex yang sedang berbincang.


Sementara itu Reyna yang tidak tau akan keberadaan Ethan dan Ailina di buat sangat terkejut.


"Oh my God, bagaimana kalian ada disini?" Tanya Reyna heran.


"Siapa lagi pelakunya kalau bukan Evan" jawab Alex.


"Oh, jadi begitu, maksudnya Evan melakukan teleportasi?"


"Iya Mom, tentu saja dia panik lalu menculik kami" sahut Ailina terlihat sedikit kesal.


Reyna tertawa sejenak, membayangkan kemungkinan Evan membawa kedua saudara kembarnya tanpa permisi.


"Maaf, kalau keadaan Zafian harus memaksa Evan melakukan hal itu pada kalian"


"Tidak masalah Mom, kami senang bisa membantu keluarga sendiri, hanya kak Evan saja yang usilnya setengah mati" sahut Ailina yang kini dengan senyuman.


"Jangan tersenyum seperti itu, akan ada yang semakin jatuh cinta padamu" sahut Ethan membuat Ailina langsung merubah ekspresi wajahnya.


Reyna dan Alex langsung tertawa melihat sikap kedua ponakannya, yg satu begitu dingin dan satunya lagi kadang manja kekanakan, dengan semua pesonanya yang membuat kedua kakaknya terkadang ketar ketir.


Ibu Anita akhirnya menyusul ke ruangan tengah di lantai atas, ikut terkejut mendapati Ailina dalam rumahnya, dan satu lagi laki-laki asing yang belum pernah dia lihat sama sekali.


"Perkenalkan saya Ethan, kakak Ailina, keponakan dari Dady Alex" ucap Ethan memperkenalkan diri.


"Oh iya, selamat datang di sini nak, maaf, Bunda tidak mengenalimu"


"Tidak masalah Bun, kita juga baru saja bertemu" ucap Ethan dengan sopan.


Satu lagi keluarga Nugraha yang di kenal oleh Anita, bahagia rasanya semua bisa berkumpul di Mansion, apalagi untuk membantu putranya.


"Maaf, kalau Zafian merepotkan kalian semua" ucap Anita kemudian.


"Tentu saja tidak Bunda, ini kewajiban kita menolong anggota keluarga" jawab Ailina.


Anita tersenyum, bersyukur akan keluarga Nugraha yang sangat membantu dirinya, lalu berpamitan untuk menengok keadaan Zafian yang tengah beristirahat bersama dengan Afita.


Afita langsung beranjak dari tempat tidur mendapati pintu di ketik dan mendengar suara sang Bunda memanggil meminta ijin untuk masuk.


"Maaf bunda mengganggu, bagaimana keadaan Zafian?" Tanya Anita.


"Alhamdulillah, Zafian baik-baik saja Bun, sedang tertidur pulas" jawab Afita.


Tidak ingin menganggu sang putra, Anita meminta waktu keada Afita untuk menjelaskan sesuatu yang membuatnya masih bingung.


"Ada apa Bun?" Tanya Afita.


"Ada Ailina yang kemaren baru saja berangkat ke Belanda, ada juga kakaknya yang bunda tidak pernah ketemu"


"Ethan?" Sahut Afita.


"Iya, Ethan"


"Memang kenapa Bun?" Tanya Afita tidak mengerti.


"Kapan mereka datang, kenapa Bunda tidak tau, bahkan asisten rumah tangga dan penjaga yang ada di depan juga tidak memberitahu Bunda" ucap Anita, antara bingung dan panik menjadi satu.


Afita sedikit tertawa, lalu segera menjelaskan apa yang telah terjadi, tentu saja Anita sampai membelalakkan mata tak percaya, bagaimana ada kekuatan berpindah tempat sedahsyat yang dimiliki oleh salah satu keturunan keluarga Nugraha.


"Bunda jangan heran, keluarga dan saudara dekat kami, hampir semuanya mempunyai kekuatan khusus, dan itupun bermacam-macam bentuknya" ucap Afita memberikan pengertian.


"Oh, jadi begitu, Bunda benar-benar masih tak percaya"


"Tidak apa-apa, karena bunda masih asing dengan hal-hal seperti ini, nanti juga akan terbiasa saat melihat Zafian juga akan berlatih dan menggunakannya"


"Tentu saja Bun, sebentar lagi Zafian akan berlatih bersama kita semua" ucap Afita merasa senang.


"Bunda tidak menyangka Zafian akan bisa menggunakan kelebihannya dengan baik, aku kira itu sebuah kutukan" ucap lirih Anita sambil menundukkan wajahnya.


"Maaf Bunda, kekuatan Zafian kira-kira dari keturunan siapa?" Tanya Afita.


Anita terdiam, mengingat sesuatu, lalu kembalilah berbicara.


"Bunda tidak tau, hanya saja, ada cerita dari kakek buyut kami dulu, dimana salah satu kakek buyut dari keluarga Bunda ada yang pernah mempunyai kekuatan gaib katanya, itu kenapa keluarga kami dulu sangat disegani penduduk desa"


"Oh jadi begitu?" Ucap Afita berusaha menarik benang merah, bahwa kemungkinan besar kekuatan Zafian berasal dari garis keturunan sang Bunda.


"Cukup menarik" suara seseorang mengejutkan Anita dan Afita yang asik berbincang.


"Mommy?" Afita terkejut melihat keberadaan Reyna sudah ada disampingnya.


Begitu juga dengan Ailina yang berjalan tak jauh di belakang Reyna.


"Saya ijin mohon pamit" ucap Ailina mengejutkan semuanya.


"Loh, kau mau kemana sayang?" Tanya Reyna heran.


"Ailin harus pulang Mom, bahaya kalau sampai Ailina dinyatakan hilang, akan membuat kehebohan di tempat penelitianku" jawab Ailina memberikan alasan.


"Benar juga, sebaiknya segera pergi, apa Evan sudah siap membawamu kembali ke Belanda?" Tanya Reyna.


"Sudah Mom, maaf saya tidak bisa berlama-lama disini, masih banyak tugas menanti" jawab Ailina


Begitu juga dengan Ethan yang bersiap ke bandara karena pesawat pribadi Alex sudah siap untuk mengantarkannya kembali ke tempat semula.


Aftan melepas kepergian Ailina dengan perasaan lega, berlanjut dengan Ethan yang juga diantar oleh Alex dan Reyna ke bandara untuk segera terbang.


*


*


Saatnya latihan di mulai, Zafian yang sudah cukup beristirahat dan memulihkan tenaganya kembali, kini sudah berada di halaman belakang Mansion dan ditempat yang sudah tertata untuk melakukan latihan awal bersama dengan istri dan anggota keluarga lainnya.


Alex mengenalkan tenaga dalam Zafian, perlahan Zafian mempelajari sesuai yang diperoleh, hingga pelan-pelan akhirnya bisa menggunakannya.


Api keluar dari tubuh Zafian, sejenak dirinya panik, namun kekuatan Afita membantunya untuk mengendalikan kekuatan dengan pikirannya, Zafian pun mengerti, dan kini memadukan dengan gerakan bela diri yang telah ada pada dirinya.


Aftan dan Alex mengerang Zafian bergantian, membuat tubuh Zafian lama kelamaan semakin bis mengontrol sejauh mana kekuatan harus di keluarkan sesuai dengan kebutuhan.


Latihan terus dilakukan hampir satu Minggu, setelah dirasa cukup, Alex dan Reyna merencanakan untuk unsur diri dan kembali ke kamar, begitu jug dengan Aftan yang ingin kembali ke Apartemen sementaranya selama ada di Surabaya untuk menyelesaikan bisnisnya.


"Kenapa kak Aftan tidak tinggal disini saja?" Tanya Afita.


"Aku juga punya kebebasan ku sendiri Af" ucap Aftan.


"Kami tidak pernah mengekang mu selama disini" sahut Zafian.


"Bukan itu maksud ku, aku ingin waktu sendiri,.melakukan semuanya seperti yang aku inginkan, aku harap kalian mengerti" ucap Aftan yang akhirnya tidak bisa lagi dicegah oleh Afita maupun Zafian.


"Hati-hati lah kak" ucap Afita melepas kepergian kakaknya.


"Kalian juga, aku masih ada di Surabaya, kalau butuh apapun kalian bisa langsung menghubungi ku, akan aku usahakan segera datang" pesan Aftan.


Anita memeluk sekejab Aftan sebelum melangkahkan kaki keluar dari Mansion, mengucapkan banyak terimakasih atas apa yang sudah dilakukan untuk putranya Zafian.


Sementara itu, Evan sudah berada di depan Mansion dengan mobil sportnya menunggu Aftan untuk segera ikut pergi bersamanya.


"Lama sekali kak?" Tanya Evan tidak sabaran.


"Harus berpamit pada semuanya"


"Sudah siap?"


"Tentu saja"


Wus


Plak


"Akh!, Sakit kak!" Teriak Evan


"Jangan ngebut seperti orang kesetanan!" Jawab Aftan dengan tatapan tajam memperingatkan.


"Hahaha!"


Bukannya takut, Evan makin tertawa kencang sambil melajukan mobilnya lebih sopan dan terkendali, sesuai permintaan Aftan.


Kekonyolan Evan memang tiada duanya.. jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA ya.


Bersambung.